Bima tak bersuara. Ia sama sekali tak menjawab saat Sri bertanya lagi dan lagi. Dilangkahkannya kakinya itu lebih cepat seiring dengan jantung berdebar kencang. Sesuatu telah mempengaruhi hati juga perasaannya.
Kedua mata bermanik hitam kecokelatan itu memperhatikan sekitar dengan telaten. Memastikan ada dan tidaknya orang di jalan yang sedang Bima jalani. Sejak tadi, ia sudah memasuki tempat yang sepi. Hanya saja, ia ingin mencari tempat yang aman.
Sri meringis kesakitan sebab tangannya dicengkeram kuat oleh Bima. Langkah kakinya pun tak dapat ka kontrol sebab Bima menariknya dengan kasar. Dalam hati Sri sudah merasa takut, tetapi juga yakin kalau Bima adalah lelaki baik yang tak mungkin melukainya.
“Bang!” Sri berucap lagi. Ia sudah tak sabar, ke mana hendaknya Bima melangkah. Perjalanan mereka seolah tidak ada tujuan.
Bima masih menutup rapat mulutnya. Ia hanya fokus pada jalan dan juga keadaan sekitar. Langkahnya bahkan semakin kencang sehingga Sri merasa sedang terkatung-katung. Entah apa yang merasuki hati juga pikiran Bima, Sri merasa mantannya itu kerasukan setan.
“Kalau kamu nggak jawab, aku bakal teriak!” seru Sri pada akhirnya.
Langkah Bima langsung terhenti. Ia berdiri tegak di hadapan Sri sembari mengatur napas. Wanita dalam genggamannya itu mulai mengancam. Cepat Bima berbalik dan melepas cengkeramannya. Namun, tangannya itu beralih memegang pundak Sri.
“Aku mencintaimu, Sri. Sangat!” Bima terengah-engah saat bicara demikian. Kedua matanya fokus menatap Sri yang seketika ketakutan, sebab Bima terlihat beda. Tak ada kelembutan di wajahnya.
Sri menelan ludahnya dengan susah payah. Ia pikir, dirinya harus pergi sebelum sesuatu terjadi. Namun, baru saja kakinya mulai lakukan ancang-ancang, Bima mendorong dan membuat Sri sedikit terpelanting ke dinding sebuah bangunan. Sri terperanjat, meringis seiring dengan mata terpejam kuat barang sebentar.
“Kamu ini kenapa, Bang? Sakit tanganku!” seru Sri seraya berusaha melepaskan diri dari tahanan tangan Bima. Ia mendelik, mulai kesal dengan Bima yang sudah bersikap keterlaluan.
Bima tak menjawab lagi. Ia hanya membalas tatapan Sri sembari mendekatkan diri. Wanita di hadapannya itu melebarkan tatapan, mengernyit bahkan sampai berpaling menghindari Bima. Namun, Bima yang kepalang kerasukan setan itu tak gentar dengan ancaman Sri. Ia mencengkeram dagu lebah menggantung milik Sri. Lantas, ia menarik sehingga dirinya kembali bersitatap.
“Bang!” Sri bicara parau, tak jelas pula karena mulutnya serupa mulut ikan akibat cengkeraman tangan Bima. “Sadar, Bang. Kamu kenapa kayak gini? Kita bisa bicara baik-baik bukan? Please!” pintanya dengan sangat. Air mata Sri pun bahkan mulai merembes. Ia ketakutan setangkai mati.
Namun, Bima yang berdiri di hadapannya itu malah menempelkan kedua belah sudut bibirnya di bibir Sri. Perlahan sebelum akhirnya ia bermain dengan kasar. Sri meringis lagi dan lagi. Ia bahkan berontak dan berusaha melepaskan diri dari ciuman Bima. Ini adalah kali pertama Bima melakukan hal tersebut, sehingga Sri benar-benar dibuat kaget.
“Kamu kenapa jadi kasar gini, Bang?!” batin Sri, seiring terus berusaha menghindar. Namun, semakin dirinya itu menghindar, Bima semakin kasar.
Kedua tangan Sri mendorong, memukul bahkan mencubit pinggang Bima keras-keras. Namun, lelaki yang sedang mencumbunya itu tak gentar. Bima terus mencium, bahkan mulai menurunkan tangannya dari dagu Sri, ke belakang tubuh Sri. Bima mencengkeram tubuh Sri erat.
Lepas dari ciuman Bima, tubuhnya kini dalam dekapan Bima. Sri kesusahan untuk bergerak barang mendorong Bima. Ia terimpit, tercengkeram bahkan sampai susah untuk bernapas meski tak lagi ada dalam kecupan Bima.
“Lepasin aku, Bang. Aku harus pergi!” ucap Sri semakin parau. Tubuhnya terasa begitu remuk sebab cengkeraman juga usahanya untuk melepaskan diri. Pun dengan penampilannya yang tak lagi serapi tadi. Rambutnya berantakan, begitu juga dengan pakaian.
Bima menggeleng. “Sebentar lagi saja, Sri. Sebentar lagi!” bisiknya tepat di telinga Bima. Ia menyusup, menenggelamkan wajahnya di Antara leher dan pundak Sri. Ia tak berniat jahat. Hanya saja, rasa tak ingin kehilangan membuatnya berbuat demikian.
“Nggak, Bang. Aku sudah ditunggu Bapak. Bapak belum makan apa-apa karena aku harus belanja dulu,” pinta Sri kembali. Ia terpaksa berbohong agar Bima mau melepas pelukannya.
Namun, alih-alih melepaskan pelukan, Bima justru bertingkah. Ia menyusupkan kedua tangannya itu ke balik baju Sri. “Aku nggak pernah melakukan ini sebelumnya, kan? Please! Aku hanya nggak mau kehilangan kamu!” ucapnya seraya menahan tubuh Sri dengan kedua kaki. Sedang tangannya terus menyusup, menyentuh tubuh bahkan mengusapnya penuh ingin.
Tangis yang semula hanya berupa kaca, sekarang deras keluar dari pelupuk Sri. Ia terisak ketakutan. “Apa maksudmu, Bang? Lepaskan aku!” Sri kembali berusaha mendorong tubuh lelaki di hadapannya itu. Namun, tenaganya tak cukup kuat melawan Bima.
Kedua kaki Bima kuat mengimpit kaki Sri. Sedang kepalanya kuat menahan tubuh bagian atas Sri, agar tangannya dapat menjangkau apa yang ingin disentuhnya. Bima mulai membuka satu per satu kancing baju juga celana Sri, sehingga mudah bagi tangannya masuk ke sana.
Namun, baru saja dirinya hendak melakukan hal tak senonoh, panggilan masuk berulang kali membuat ponsel Sri berdering. Sri ingin meraih ponselnya itu dalam tas yang ia pakai. Akan tetapi susah karena lagi-lagi Bima menghalanginya.
“Sebentar saja, Sri. Temani aku sebentar lagi saja!” bisik Bima seraya hendak melakukan apa yang ingin ia lakukan.
Akan tetapi, baru saja Bima hendak melakukan hal senonoh, satu pukulan mendarat tepat di kepalanya. Ia terperanjat seiring dengan denging juga sakit seolah menusuk sampai ke jantung. Kepalanya seolah berputar, sehingga tubuhnya itu ambruk begitu saja.
Sementara itu, Sri yang ketakutan hanya bergeming dengan tubuh bergetar. Ia mematung, melihat Bima yang telah jatuh. Namun, ia sama sekali tak dapat gerakkan tubuh. Tubuhnya seolah masih saja ada dalam cengkeraman Bima.
Barulah saat Safka mendekat dan memeluknya, tangis Sri semakin pecah di sana. Ia balas memeluk, bahkan memukuli Safka karena menyesal telah memutuskan pergi sendiri. Ia tak mengira kalau Bima akan melakukan hal yang gila.
“Maafin aku.” Sri berucap parau di tengah-tengah tangisnya yang belum juga mereda. “Aku nggak tau kalau ini akan terjadi,” sambungnya.
“It’s ok. Ada aku di sini. Kamu akan baik-baik saja!” ucap Safka, sebagai upaya menenangkan Sri. “Kamu akan baik-baik saja.” Safka mengulang apa yang baru saja ia katakan berulang kali. Lagi dan lagi sampai akhirnya Sri berhenti sesenggukan.
“Dia membawaku ke sini dengan paksa. Sungguh!” ucap Sri seraya menarik diri. Ia takut kalau Safka akan berpikir yang tidak-tidak. “Kamu nggak marah, kan?” tanyanya seraya menatap Safka, dengan tatapan sendu. Wajahnya telah kusut, basah oleh air matanya juga.
Safka menggeleng. “Sudah, sudah. Jangan bicara lagi. Sekarang sebaiknya kita pulang, ya?” ucapnya seraya menyapu air mata juga keringat di wajah Sri. Ia juga merapikan rambut Sri yang berantakan sambil tersenyum manis. “Bapakmu nanyain kamu terus dari tadi.”
Sri mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Safka barusan. Namun, sebelum membawa Sri, Safka yang juga sama cemasnya seperti Sri itu langsung mendaratkan kecupan hangat di kening Sri. “Lain kali, aku akan mengantar ke mana pun kamu pergi,” ucapnya setelah menarik diri.