“Sri!”
“Maafin aku, Sri.”
“Sri ... jangan pergi, Sri. Aku minta maaf!”
Bima meracau begitu melihat Sri dibawa pergi oleh Safka. Kesadarannya baru saja kembali setelah beberapa menit bleng setelah mendapatkan pukulan. Ia mengerjap-ngerjap, beringsut dengan susah payah meski akhirnya tetap ambruk.
Kepala Bima sedikit berdarah karena benda tumpul yang digunakan Safka saat memukul. Ia merabanya pelan, kemudian melihat cairan merah itu menempel pada jemari. Sakit, Bima pun merasa begitu pusing. Pandangannya kembali meremang sampai akhirnya gelap.
Setelah merasa bleng, sekarang Bima pingsan di tempat sepi. Tempat di mana jarang sekali orang-orang melewati kawasan itu. Safka dan Sri pun tak peduli. Mereka terus saja berjalan sampai akhirnya mereka tiba di parkiran.
“Kamu masuk dulu. Tunggu aku di dalam, ya.” Safka membuka pintu mobil, membantu Sri masuk sampai duduk. Rasa takut dan khawatir masih menghinggapi dirinya. Ia juga tak tega melihat Sri yang juga masih ketakutan.
“Mau ke mana?” tanya Sri yang baru saja duduk bersandar di sandaran jok. Ia menoleh melihat Sri dengan gerakan lemas. Sekujur tubuhnya itu terasa begitu sakit dan ngilu sampai-sampai ia merasa sedang dipukuli.
“Beli minum dulu di sana tuh. Tunggu, ya?” pinta Safka kembali. Melihat keadaan Sri, ia memang takut kalau istrinya itu mengalami depresi. Di mana orang depresi, tak jarang selalu melarikan diri.
Sri mengangguk pelan. Lantas ia kembali menarik wajah, menatap lurus ke depan. Jalanan masih sama ramainya seperti tadi. Namun, ia tak paham kenapa tempat yang didatanginya bersama Bima begitu sepi.
“Aku nggak ngira, Bang. Kamu kenapa bisa kayak gitu? Jahat banget tau nggak, sih? Aku ... aku tau, aku salah. Tapi nggak gitu juga caranya!”
Sendiri di dalam mobil, Sri terbayang kejadian yang menimpanya barusan. Ia terpejam kuat sembari menangkup wajah dengan kedua tangan. Kakinya pun ia tarik ke jok, kemudian ia tekuk di sana seraya memeluknya. Sedangkan wajah yang telah kembali basah, ia susupkan di antara kedua lutut dan lipatan tangan.
“Aku pikir, kamu nggak bakal pernah setega itu, Bang. Tapi kenyataannya, kamu justru lebih jahat daripada Safka!”
Sri meraung, tangisnya semakin pecah karena merasa dirinya telah kotor. Ia memukul betisnya berulang kali, lalu beralih ke kepala. Ia bahkan menjambak rambutnya kencang-kencang. “Bodoh! Kamu memang bodoh, Sri! Seharusnya, kamu menolak pergi. Atau, setidaknya kamu teriak saat hati mulai merasa terancam. Tapi kamu? Kamu malah diam!” racaunya. Lantas, ia mengentakkan kepala ke arah depan, sampai terantuk bagian depan mobil.
Meski sakit, rasanya tak sesakit saat Bima memaksanya untuk melakukan sesuatu yang menjijikkan. Sri meraung lagi, bahkan menjerit begitu melihat kancing bajunya yang belum terkancing semua. Tadi, sebelum pergi, Safka memang sempat mengancingkannya dahulu dengan tangan gemetar. Lantas menyelimuti Sri dengan jasnya.
“Tega kamu, Bang! Tega!” ucap Safka seraya memukuli tubuh bagian depannya itu. Tubuh yang baru saja dijamah orang tak bertanggung jawab.
Beruntung, Safka pun datang saat Sri memukuli tubuhnya berulang kali. Ia bahkan langsung meraih dan memegang kedua tangan istrinya itu erat-erat setelah masuk dan duduk bersebelahan. “Kamu ngapain mukulin diri sendiri hah? Nggak sayang sama tubuh sendiri?!” bentaknya kemudian.
Sri masih saja menangis. Tatapannya pun semakin sendu sehingga Safka ikut berkaca-kaca saat memarahi Sri yang sudah bertingkah bodoh. “Aku benci diriku sendiri. Aku benci!” jawabnya.
“Jangan bodoh! Orang yang seharusnya kamu hukum itu bukan tubuhmu, tapi dia! Dia yang udah bikin kamu kayak gini!” Safka pun melepas kedua tangan Sri dari genggamannya. Lantas ia beralih memegang kedua pipi Sri sambil berkata lagi. “Kalau ku mau, aku bisa menghukumnya sekarang juga!”
Namun, Sri justru menggeleng. Ia tak mau kalau Safka melakukan apa pun pada Bima. Pukulan yang dilakukan Safka, baginya sudah cukup karena ia tak mau membuat orang-orang mengetahui kabar tadi.
“Kenapa nggak boleh?” tanya Safka seraya menyapu air mata Sri. “Dia itu harus diberi pelajaran biar kapok!” Lantas, ia menarik kepala Sri agar jatuh di pundaknya.
“Biar Allah aja yang menghukumnya. Aku nggak mau, gara-gara kamu menghukumnya, orang-orang jadi tau masalah ini. Aku malu,” ucap Sri seraya menarik diri. Tangisnya telah berhenti. Hanya isak yang masih sesekali terjadi.
“Kamu benar juga, Sri. Tapi ... aku nggak tenang kalau dia belum mendapatkan hukuman!” Safka tetap pada keinginannya, meski ia akan tetap menuruti apa yang diinginkan Sri.
“Sudah lah nggak apa-apa. Sekarang mending kita pulang. Bapak pasti udah nungguin dari tadi.” Sri menoleh barang sekilas. Ia melihat Safka yang sedang sibuk menyetir, tapi masih sempat-sempatnya memberikan perhatian.
“Ide bagus! Aku emang udah nggak sabar buat pulang. Tapi, sebaiknya kamu rapiin lagi rambutnya. Jangan berantakan, biar mereka nggak ngira kita ini aneh-aneh.” Safka pun langsung memberi usul.
Sri mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan Safka sembari langsung merapikan rambut. Lantas, setelah rambutnya sedikit lebih rapi, ia beralih merapikan wajahnya lagi dengan make up yang ia bawa dalam tas. Namun, begitu melihat cermin bedak, tangisnya kembali menjadi.
Dalam cermin, yang Sri lihat bukanlah wajah dirinya. Melainkan bayangan tentang apa yang terjadi barusan. Bima sedang mencumbunya dengan kasar, sehingga tanpa sadar, cermin itu dilempar ke bawah sampai pecah.
“Sri?!”
Safka pun kebingungan. Ia tak tahu dengan apa yang terjadi pada Sri, karena fokusnya hanya pada menyetir. Sri tak menjawab. Ia masih saja menangis. Ingat akan minuman dan makanan yang Safka beli, segera ia mengambil salah satunya.
“Minum dulu, Sri. Pelan-pelan biar tubuhmu nggak lemas-lemas banget!” ucap Safka seraya menyodorkan sebotol minuman dingin dan manis.
Sri menerimanya. Ia bahkan langsung membuka saking lapar dan hausnya. Minuman yang baru saja ia ambil dari Safka, diminumnya sampai habis. “Makasih,” ucapnya setelah itu. Ia lantas menyapu bibirnya yang basah.
***
“Loh, Kak Sri kenapa?”
Siti yang baru saja pulang dari sekolah itu terheran -heran melihat keadaan Sri yang berantakan. Meski rambutnya sudah dirapikan, juga wajahnya kembali dipakaikan riasan, tetap saja Sri terlihat kusut dan lemas. Terlebih, ada satu kancing bajunya yang hilang.
Safka yang baru saja membantu Sri turun dari mobil pun menyadari kedatangan Siti karena pertanyaannya itu. “Nanti aku cerita. Sekarang, bisa tolong bantu ambilkan makanan di mobil?” tanyanya balik. Safka melempar senyum sedih pada adik iparnya itu.
“Oh, iya, Kak.” Siti pun sigap mengambil satu kantong keresek berisi makanan yang Safka beli di Mini Market. Lantas segera membawanya ke dalam, menyusul Sri dan Safka. Dalam hatinya terus bertanya, apa gerangan yang terjadi sampai Sri harus dipapah.
“Ini, Kak. Aku simpan di sini aja nggak apa-apa?”
Siti yang baru saja masuk pun menunjuk meja di ruang tamu. Safka mengangguk tanpa menoleh, sebab masih memapah Sri ke dalam kamar. Kakaknya itu terlihat begitu lemas dan ketakutan.
“Ok!” Siti pun mulai semakin bingung. Ia sampai kikuk, dan tak tahu harus melakukan apa setelah menyimpan kantong keresek yang dibawanya. Barulah setelah ingat kalau dirinya baru saja pulang dari sekolah, ia bergegas ke dalam kamar untuk mengganti baju.
“Hei!” Siti menepuk tubuh bagian belakang Fahmi, yang sedang tengkurap dan bermain game di ranjang. “Main game mulu, sih! Belajar dong. Bentar lagi ulangan loh,” singgungnya seraya mengambil pakaian dari dalam lemari. Adiknya itu bergeming, dan tak menghiraukan Siti sama sekali.
“Diajak ngomong malah diam! Lihat tuh, Kak Sri sakit kayaknya!” ucap Siti kembali setelah melepas seragam kemudian memakai kaos juga celana kolor. Ia lantas berbalik membelakangi cermin lemari.
“Kak Sri sakit? Kok, bisa? Tadi kata Bapak, Kak Sri sama Kak Safka pergi ke pasar.” Fahmi pun langsung beranjak duduk dari berbaringnya begitu mendengar tentang Sri. Sayang betul memang dirinya pada kakaknya itu.
“Ya, nggak tau. Aku kan baru balik, Mi. Nanya Kak Safka katanya nanti dia cerita.” Siti pun merebut ponsel dari tangan Fahmi sambil menyeringai. “Hp-mu aku sita dulu. Aku kasih kalau sudah belajar!” sambungnya sambil lalu.
“Dih, Kak. Tunggu!”
Fahmi pun turun dari ranjang, sembari terus mengejar Siti ke luar kamar. Namun, kakaknya itu sama sekali tak terkejar karena langsung masuk ke kamar Sri. Ia ikut masuk ke dalam dengan langkah pelan.
Dilihatnya Safka sedang mengompres kening Sri. Sedangkan Siti tengah duduk di tepi ranjang, sembari memijati kaki Sri. Fahmi beranjak masuk, melangkah menghampiri ranjang di mana kakaknya itu tengah berbaring.
“Kak Sri sakit apa, Kak?” tanyanya pada Safka. Kemudian dirinya duduk di samping Siti.
“Demam, Mi. Kamu udah pulang sekolah juga? Kakak kira belum.”
Safka yang baru saja mengompres kening Sri langsung menunjukkan wajah baik-baik saja. Seolah tidak terjadi apa-apa agar tak harus membuat adik-adiknya itu merasa cemas. Terlebih, mereka pasti akan membenci Bima. Sebelumnya, Sri telah mewanti-wanti agar Safka tak perlu menceritakan masalah tadi kepada siapa pun. Ia menurut.
“Udah dari tadi, Kak. Kan hari Jumat. Bentar doang sekolahnya.” Fahmi pun ikut memijat kaki Sri yang memang terasa panas di tangannya.
“Wah, iya. Kalau begitu, nanti kita shalat Jumat bareng, ya. Biar Kak Sri dijagain Kak Siti.” Safka langsung melirik. Pun dengan Siti yang seketika melihat juga mengangguk kepadanya.
“Tapi aku lapar, Kak.” Fahmi merengek. Dirinya memang belum sempat sarapan pagi tadi, karena bangun kesiangan.
“Oh, iya. Karena tadi Kak Sri keburu sakit, dia belum sempat beli bahan masakan. Tapi aku ada belikan makanan, kok. Kalau mau makan kue dulu, boleh. Mau goreng naget ayam juga boleh.” Safka pun kembali melihat Siti. “Bantu masakin ya, Ti?” pintanya.
“Iya, Kak.” Siti mengangguk lagi. Lantas ia menoleh melihat Fahmi. “Mau makan apa dulu, Dek? Kue apa makan nasi? Atau mau dua-duanya?” Sri pun tertawa kecil. “Tapi setelah itu belajar, ya!? Awas aja kalau males. Aku kasih lagi ponselnya ke Kak Safka.”
“Dih! Si Kakak ancamannya gitu banget. Biasa juga aku belajar. Kak Siti aja jarang liat. Liatnya Cuma pas aku main game doang.” Fahmi langsung merutuk, mengomeli Siti.
“Eh, malah berantem. Ini Kak Sri lagi tidur. Kalian makan aja dulu, gih. Biar Kak Sri istirahat.” Safka pun balas mengomel, mencandai adik-adiknya itu.
“Iya, Kak. Iya!” balas Siti dan Fahmi, hampir bersamaan. Lantas, keduanya beranjak meninggalkan kamar seiring dengan dilanjutkannya pertengkaran khas seorang adik dan kakak.
Safka menggeleng seraya menyunggingkan senyumnya tipis. Dulu, ia pun kerap bertengkar dengan adik semata wayangnya. Namun, sejak adiknya itu meninggal, ia tak lagi merasakan bagaimana hangatnya rumah karena pertengkaran mereka.
Pintu kamarnya ditutup Siti. Tinggallah Sri dan Safka di dalam kamar. Lelaki berpenampilan necis itu pun kembali mengambil handuk di kening Sri, untuk dicelupkan ke air dalam baskom yang ia bawa tadi. Ia memerasnya di sana, kemudian kembali ia kompreskan pada kening Sri.
Tubuh Sri memang mendadak panas. Safka pikir, itu pasti karena Sri sangat takut juga terkejut. Namun, ia tak bisa langsung membawa Sri berobat, sebab bidan desa bukanya hanya pagi dan sore saja.
“Kamu harus tenang, Sri. Jangan panik apalagi merasa takut kembali. Kamu sudah aman bersamaku sekarang,” ucapnya, meski tahu kalau istrinya itu tak kan mendengar. “Lelaki seperti itu, jangan lagi kamu simpan di hati atau pikiran. Kamu harus membuangnya jauh agar tak jadi penyakit kayak gini.”
Disentuhnya jemari Sri. Safka benar-benar menyesal karena tak dapat berbuat apa-apa terhadap Bima. Sri melarangnya, dan ia tak bisa melanggar apa yang dilarang Sri. Ia lantas mengecup jemari halus nan lembut itu.
“Istirahatlah. Aku harus melihat adik-adikmu dulu. Takutnya, mereka masih bertengkar,” ucapnya. Pamit meski tahu kalau Sri tak kan menjawab juga. Lantas, segera ia pun pergi meninggalkan kamar.
Namun, setelah Safka pergi, kenyataannya tidak seperti yang ia duga. Sejak tadi Sri tak tidur. Ia hanya berpura-pura tidur untuk membuat semua orang meninggalkannya di dalam kamar. Bukan apa-apa. Sri hanya ingin sendiri saja untuk saat ini.
“Makasih, ya, Om. Meski aku selalu bersikap buruk padamu, kamu tetap memperhatikan aku. Kamu tetap mencintai aku,” ucapnya parau. Seketika, cairan bening pun menetes dari ujung matanya.
Sri masih merasa sedih. Ia menangis meski tak sehisteris saat di perjalanan tadi. Ia hanya masih saja menyayangkan sikap yang dilakukan Bima padanya. Padahal, Sri mempunyai maksud di mana nanti, satu bulan ke depan, ia akan kembali kepada Bima.
“Tapi sekarang, aku kecewa!” ucapnya lagi.