Menjelang dzuhur, seseorang berpakaian kusut lagi butut menjinjing sebuah karung di sebelah tangannya. Sedang sebelah tangan yang lain memegang besi sepanjang satu meter setengah. Ujung besi tersebut memiliki pengait yang sudah ditajamkan.
Lelaki yang tak lain adalah seorang pemulung itu berjalan menyusuri gang. Ia memungut setiap cangkang minuman gelas berbahan plastik, tiap kali menemukannya. Namun, karung yang ia bawa belum terisi penuh. Hanya setengahnya, setelah sedari matahari menampakkan wujud
Karena lapar, si pemulung pun membeli sebungkus nasi dengan uang yang didapatinya hari kemarin. Ia tak langsung memakannya di sana, tahu diri kakau dirinya bisa saja membuat selera makan orang-orang menjadi buruk. Sebab selain bajunya yang butut, tubuhnya pun tak seharum orang-orang pada umumnya.
Si pemulung pergi menuju sebuah gang, di mana dirinya memang tinggal di sana. Di belakang sebuah bangunan-bangunan, yang memang lumayan jauh dari jangkauan orang. Sebab selain luasnya yang sempit, jalannya pun buntu..
Namun, betapa terkejut dirinya begitu melihat seseorang tergeletak begitu saja di sana. Tempat di mana dirinya tidur hanya beralaskan kardus bekas, seseorang menidurinya juga. Akan tetapi yang membuatnya heran adalah karena orang yang ia lihat, tampak seperti orang tidak sadarkan diri. Lebih-lebih setelah ia melihat adanya sedikit darah.
“Siapa dia? Kenapa bisa ada di sini? Mana ada darah pula? Astagfirullah.”
Si pemulung langsung merasa takut sendiri. Ia celingukan, melihat ke sana-kemari mencari seseorang. Nihil. Tempat di mana dirinya berdiri di antara tumpukan kardus dan barang loak lainnya itu tidak ada siapa-siapa selain hanya dirinya juga pemuda yang tergeletak.
Terpaksa, si pemulung pun mendekat. Lantas dirinya melepas karung juga sebatang besi dari tangannya sambil duduk berjongkok. Pemuda di hadapannya itu ia sentuh, ia guncang perlahan sembari memintanya untuk bangun. Namun, Pemuda itu masih belum sadarkan diri.
“Hei, bangunlah! Kamu kenapa?” tanyanya untuk ke sekian lagi. Lantas ia menyentuh pergelangan si pemuda sebagai upaya mengecek denyut nadi. Ia juga mengecek napas pemuda tersebut dengan tangan gemetar. “Alhamdulillah. Ternyata kamu masih napas!” sambungnya seiring dengan menghela napas lega. Sebab, yang ia takut adalah fitnah untuk dirinya.
Bingung karena tidak ada siapa-siapa di sana, si pemulung pun berencana untuk melapor pada siapa saja yang ada di depan sana. Namun, baru saja dirinya hendak berdiri, ponsel dalam saku celana si pemuda berdering.
“Wah, iya bener!” ucap si pemulung yang seketika terpikir akan sesuatu. “Kalau ada ponsel, lebih baik menghubungi kerabat atau temannya saja, ya?” ia menambahkan.
Segera si pemulung pun mengambil ponsel yang masih berdering itu. Dan, ia langsung mengangkatnya tanpa berpikir lagi. “Halo!” sapanya lebih dulu.
“Loh, ini siapa?” tanya seorang Lelaki di seberang telepon. Ia yang sudah hafal betul dengan suara si pemilik ponsel pun seketika tahu kalau yang baru saja menyapa bukan temannya.
“Saya Kasim. Ini dengan siapanya yang punya ponsel, ya?” Pemulung yang bernama Kasim itu pun ingin memastikan terlebih dahulu. Namun, selama bicara dalam sambungan telepon, tatapannya tak beralih dari pemuda di sampingnya itu
“Aku Ucok, temannya Bima. Dia ke mana emang? Kok bisa orang lain yang angkat?!” Ucok yang baru saja istirahat dari kesibukannya di bengkel itu pun keheranan. Pikirannya bahkan langsung berpikir jelek.
“Pemuda ini sepertinya habis berantem. Soalnya, pas saya datang, dia udah tidak sadarkan diri. Kepalanya juga berdarah.” Kasim pun menjawab yang sejujurnya. Ia sama sekali tak berbohong, tapi tetap saja merasa takut kalau dirinya akan disalahkan.
“Astaga!” Ucok pun terkejut. “Terus di mana dia sekarang? Bisa kirim alamat atau share lokasi aja biar cepat!” Sambungnya, seraya buru-buru bersiap. Ia meraih kunci motornya di dalam laci, kemudian segera meninggalkan bengkel setelah meminta izin pada bosnya.
“Saya nggak tau caranya, Dek. Bapak cuman seorang pemulung kok. Bisa angkat telepon saja, rasanya kebetulan.” Kasim kembali bicara jujur. Ia yang sudah setengah itu tak pernah sekalipun mempunyai ponsel. Ia hanya sering melihat bagaimana orang-orang memakainya.
“Ya, ampun. Ya, sudah. Sebutkan garis besarnya saja. Tapi Bapak jangan ke mana-mana. Nanti aku telepon kalau sudah sampai pasar.”
Kasim langsung memberitahu tempat di mana dirinya sedang bersama Bima. Lantas, panggilan diputus oleh Ucok.
“Ada-ada saja, sih? Baru kali ini aku berusaha dengan orang, karena masalah seperti ini.”
Selesai menerima telepon, Kasim pun meletakkan ponsel itu kembali. Namun, karena susah, ia menyimpannya di samping Bima saja. Barulah setelah itu, dirinya ingat akan seporsi nasi yang tadi ia beli.
“Dari pada kesal nunggu yang datang, mending makan dulu lah. Dah laper pula ini.” Kasim tersenyum sendiri sembari membuka kantong keresek berisi nasi. Ada dua potong tempe dan tahu goreng di sana.
Kasim makan dengan lahap sampai akhirnya ia mengingat sesuatu. “Namamu Bima? Mau makan nggak, nih. Kalau mau, bangun dong!” ucapnya. Berharap, pemuda yang masih meringkuk di hadapannya itu bangun, sebelum Ucok datang.
Namun sayangnya, Bima masih saja hilang kesadaran.
***
Ucok bergegas menyetir motornya. Tak peduli meski dirinya masih memakai pakaian kerja yang dipenuhi minyak dan oli. Yang ia khawatirkan sekarang hanya tentang keselamatan Bima saja. Yang Ucok tahu, Bima pergi untuk menemui Sri dipasar. Namun, dari kabar yang ia dengar, Bima justru sedang tidak sadarkan diri.
Selain takut kalau Bima kenapa-kenapa, Ucik pun penasaran dengan apa yang terjadi. Seandainya Bima bertemu Sri, wanita itu tidak akan mampu melakukan apa yang bisa membuat Bima celaka.
“Apa mungkin kena rampok? Ah, tapi masa ponselnya masih aman?”
Ucok membatin tanpa mengalihkan fokus berkendara. Ia tetap melihat lurus ke depan, dengan sesekali menengok melihat kaca spion. Jarak antara bengkel dan pasar lumayan jauh. Ia harus menempuh waktu sekitar setengah jam lamanya.
“Apa iya si Bima ketahuan sama lakinya si Sri?!” Ucok membatin lagi. “Mampus dah tuh bocah kalau iya. Dibilangin jangan juga masih aja ngeyel!” sambungnya seraya menarik gas. Laju motor yang ia bawa, ia kencangkan kecepatannya sehingga tiba di pasar kurang dari setengah jam.
Buru-buru Ucok memarkirkan mobilnya itu di sana. Lantas ia menelepon nomor Bima kembali. “Halo!” sapanya lebih dulu begitu teleponnya diangkat.
“Iya, Nak. Sudah sampe mana?” Si pemulung bernama Kasim itu pun berdiri dari duduknya sedari tadi. Pemuda di hadapannya masih tidak sadarkan diri sehingga ia merasa cemas sekali.
“Aku udah di parkiran, Pak. Dari sini ke mana, ya?” Ucok pun mengedarkan pandangan. Ia melihat ke sekeliling, memperhatikan jalan. Tidak ada yang mencurigakan di sana.
“Masuk gang yang di depannya bada warung kecil, Nak. Lurus aja dulu dari sana. Kalau ketemu pertigaan, belok kiri.”
Usai mendengarkan arahan, Ucok yang tak sabar ingin segera melihat Bima pun bergegas. Ia berlari, menuju tempat sesuai dengan instruksi.