Ucok langsung menghambur begitu menemukan di mana Bima terbaring tak sadarkan diri. Ia duduk bersimpuh di samping temannya itu seraya mengecek, ada luka apa saja di sana. Diangkatnya kepala Bima ke pangkuan, Ucok menyapu debu yang bercampur darah.
“Bim, bangun, Bim! Lu kenapa elah?!” seru Ucok, di tengah-tengah rasa khawatir. Ia menepuk-nepuk pipi Bima, juga mencolek-colek pinggang temannya itu.
Bima tak berubah. Temanya itu masih tidak sadarkan diri, meski Ucok berulang kali memanggil, menepuk dan mencolek Bima. Khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk jika terlalu lama dibiarkan, Ucok pun meminta Kasim untuk membantunya menggendong Bima.
Ucok meletakkan kepala Bima lagi di lantai. Lantas ia duduk berjongkok membelakangi temannya itu. “Tolong naikkan temanku itu ke pundak, Pak. Biar dia aku gendong ke depan,” pintanya sembari mendongak melihat Kasim.
“Tapi kan berat, Nak. Apa nggak mending minta tolong orang aja buat bantuin?” Kasim pun mempertimbangkan apa yang dititah Ucok padanya. Sebab, ia melihat tubuh Bima yang tinggi kekar.
“Nggak apa-apa. Biar nanti saya minta tokong orangnya di depan. Kelamaan kalau harus kita irang datang ke sini dulu!” timpal Ucok yang bersikukuh dengan keinginannya itu.
Kasim pun mengangguk dan segera mengangkat Bima dengan susah payah. Ia yang tubuhnya jauh lebih kecil dari Bima, jelas tak kuat. “Berat banget, Nak. Nggak ke angkat!” ucapnya sembari terus berusaha mengangkat Bima.
“Ok-ok nggak usah dipaksa.” Ucok pun berbalik menghadap Bima kembali. Ia berpikir barang sejenak, apa yang harus dilakukannya untuk bisa membawanya Bima keluar dari gang sempit itu.
“Apa saya panggil orang dulu aja?”
Kasim kembali memberi usul. Namun, lagi-lagi Ucok menggeleng. Ia bilang, “Bapak mau bantu aku buat bopong Bima? Soalnya, kalau dibopong berdua, kayaknya bakal jauh lebih mudah.” Ia pun meraih tubuh Bima yang sudah dalam posisi duduk tertunduk. Lemas tanpa kesadaran.
“Iya, atuh, Nak. Masa Bapak nggak bantu?” Kasim pun berucap sigap. “Bapak gandeng tangan sebelah kirinya. Kamu sebelah kanannya, ya?”
Ucok mengangguk, setuju dengan apa yang dikatakan Kasim baruan. Lantas segera dirinya mengangkat Bima bersamaan dengan Kasim. Beban yang tadinya berat, sekarang berubah menjadi lebih ringan. Tubuh Bima pun berhasil Ucok dan Kasim angkat. Lebih-lebih saat Ucok memimpin, berjalan lebih dulu, Bima yang tadinya pingsan, tiba-tiba sadar.
“Bang Ucok? Lu ngapain di sini?” tanyanya, parau dan tidak begitu jelas terdengar. Namun, suaranya itu berhasil membuat Bima terkejut sekaligus senang.
“Dah lah nggak usah banyak tanya dulu. Yang penting sekarang, lu harus diobati!” timpal Ucok seiring dengan perasaan senang. Ia juga sempat menghela napas lega karena ternyata, Bima tak kenapa-kenapa.
“Oh, iya. Tadi gue ketemu sama Sri. Tapi kok bisa ada lu sama bapak ini? Bapak siapa?” tanya Bima seraya melirik pelan kedua orang di sampingnya itu bergantian. Padahal, Ucok sudah melarangnya untuk bicara.
“Dibilangin ngeyel banget sih lu. Kan, gue bilang jangan banyak omong dulu. Kepala lu ini berdarah, dan lu baru aja sadar dari pingsan. Jelas?” Ucok pun akhirnya menjelaskan. Ia tahu bagaimana bawelnya Bima kalau tidak segera diberitahu.
“Darah?” Ingatan Bima seketika berputar. Ia berpikir, apa yang sebenarnya telah terjadi. Lantas, seketika, bayangan beberapa jam lalu pun berputar di kepalanya. “Astaga!” gumamnya, kaget. Ia telah melakukan kesalahan terhadap Sri.
“Ada apaan? Kok, lu kaget banget kayaknya?” Ucok yang mendengar gumaman Bima pun bertanya seraya melirik temannya itu sekilas. Ia penasaran, setelah sebelumnya menyuruh Bima untuk diam.
“Kagak! Nanti aja kalau luka-luka gue udah diobatin!” Bima membalas perbuatan Ucok, di mana temannya itu telah bersikap resek. Di tengah-tengah rasa sakit, pusing juga lemasnya itu, Bima tertawa pelan.
“Dih!” Ucok langsung menyeringai. Namun, langkah kakinya tetap bergerak, sampai akhirnya ia sampai di depan gang.
Orang-orang yang melihatnya pun langsung menghambur, berusaha membantu. Riuh suara kendaraan pun terdengar memekakkan telinga Bima maupun yang lain. Ditambah lagi dengan suara mereka yang bicara bertanya-tanya. Ada apa? Kenapa? Pertanyaan itu terus terlontar dari mulut-mulut mereka yang melihat Bima dalam keadaan lemas tak berdaya.
“Ini mau dibawa ke mana, Bang?” tanya salah seorang lelaki yang membantu Ucok. Ia melihat bergantian ke arah Bima, Ucok dan Si Pemulung.
“Ke klinik aja kayaknya.” Ucok menimpali sembari terus membawa Bima ke arah di mana motornya terparkir.
“Pake mobil?” tanya lelaki itu kembali. Ia sempat mengedarkan pandangan mencari benda yang disebutkan. Di sana, adanya angkot.
“Pake motor, Bang. Itu motornya.” Ucok pun langsung menunjuk motornya dengan gerakan kepala.
“Oh, didempet gitu?” Si lelaki pun mengangguk-angguk. “Ya, sudah ayo. Dikit lagi,” katanya seraya terus membantu.
Lantas, begitu sampai, Bima pun mereka dudukkan di tengah-tengah jok. Ucok di depan dan si Pemulung Kasim pun duduk di belakang. Mereka sudah siap berangkat.
“Hati-hati,” ucap lelaki yang tadi. Ia lalu melepas pundak Bima yang dipegangnya dengan hati-hati.
Dengan penuh kehati-hatian, Ucok langsung menarik gas motornya. Ia melaju di antara kendaraan roda dua dan empat. Perlahan sebelum akhirnya sedikit cepat karena memasuki jalanan lengang. Dari pasar ke klinik jaraknya tidak begitu jauh. Ia akan sampai hanya dalam waktu sepuluh menit saja.
“Alhamdulillah nyampe juga. Bentar, biar Bapak turun duluan.” Kadim yang akhirnya ikut membantu sampai ke klinik itu pun turun dari motor. Lantas, ia segera membantu Bima untuk turun.
“Pelan-pelan!” ucap Ucok yang takut kalau Bima sampai ambruk. Ia lantas segera menyusul turun setelah Bima berdiri di samping motor. “Ayo, jalan pelan-pelan lagi.”
Bima mengangguk pelan. “Makasih, ya,” ucapnya pada Ucok dan Kasim, sembari menahan pusing. Kepalanya terasa begitu sakit, bernyut-nyutan akibat benturannya.
“Dah nggak usah banyak omong!” Lagi-lagi Ucok melarang Bima untuk bicara. “Lu duduk dulu di sini sama Pak Kasim. Biar gue daftar dulu,” ucapnya kemudian.
Bima tersenyum tipis menanggapi temannya yang over perhatian itu. Senang meski sebenarnya kesal juga. Ia ingin bicara, tapi selalu saja dilarang. “Dasar si Ucok!” umpatnya sembari menahan sakit.
Bima sedikit meringis, tapi berhasil ia tahan rasa sakitnya itu. Yang tak dapat ia tahan saat ini hanyalah perasaan bersalahnya terhadap Sri.