Pulang

1304 Kata
“Rencana pulang kapan, Pak. Besok ada rapat penting yang harus dihadiri.” Di samping Sri, setelah Safka menyuapi istrinya itu, ia membuka pesan dari Firman. Manajernya itu memberi info perihal pekerjaan yang tidak bisa dihandle. Safka tak langsung membalasnya. Ia justru memasukkan ponselnya itu ke dalam saku jas. Diletakkannya pula piring kosong yang sedari tadi ia pegang di meja samping ranjang. Ia hendak membicarakan apa yang baru saja ia dengar kepada Sri. Dengan harap, istrinya itu mau pulang bersama. “Minum dulu, ya.” Safka membantu Sri duduk bersandar di sandaran ranjang. Lalu mengambil gelas berisi air putih di meja. “Pelan-pelan,” katanya lagi sembari membantu istrinya itu minum. “Udah?” ia bertanya. “Sri mengangguk dan sedikit mendorong tangan Safka. “Udah. Makasih, ya, Om.” Ia masih saja memanggil Safka dengan sebutan itu. “Tapi kamu sendiri sudah makan, kan?” tanyanya. “Dah, jangan khawatirkan soal aku. Aku dah makan kok.” Safka melempar senyum sembari menyimpan gelasnya lagi di meja. “Tapi, aku mau ngomong sesuatu,” katanya lagi. Ia sudah kembali menghadap Sri, dan bahkan menggenggam tangan istrinya itu. Sri sedikit terkejut. Ia melirik sentuhan tangan yang dilakukan Safka sembari menelan ludah dengan susah payah. Lalu, detik berikutnya ia melihat Safka kembali. “Apa?” tanyanya, kikuk. Apa yang dilakukan Safka, akhir-akhir ini jerap membuatnya merasa tidak nyaman. “Barusan aku dapat kabar.” Safka menjeda ucapannya. Ia ragu untuk membicarakan hal itu, karena keadaan Bapak Sri masih belum sehat betul. Sedang, dirinya ingin Sri ikut pulang. “Iya?” Sri bertanya lagi. Tatapannya semakin fokus melihat Safka yang biasanya selalu ia hindari. “Aku harus menghadiri meeting penting. Nggak bisa dihandle atau dibatalin.” Safka menundukkan kepalanya sejenak. Bernapas lega karena akhirnya dapat bicara. “Kamu harus pulang?” tanya Sri yang akhirnya membuat Safka kembali mengangkat wajah. Ia memalingkan wajahnya barang sekilas seraya menyunggingkan senyuman setelah itu. Ia tahu, itu mungkin sangat mengganggu pikiran Safka. Safka mengangguk tanpa berucap. Ia hanya memandang wajah istrinya yang manis saat tersenyum itu. Lantas, detik berikutnya ia mengelus punggung tangan Sri dengan begitu lembut. Sri bukan lagi merasa kaget. Melainkan langsung merinding bulu roma. “Pulang lah kalau memang harus pulang. Itu kan kerjaan kamu, Om. Jangan hanya karena kamu di sini, urusan pekerjaan jadi terabaikan.” Sembari menarik tangannya dari elusan Safka, Sri berucap lagi. Ia berdeham, sebagai upaya menghilangkan debar di d**a. “Tapi Bapak? Beliau kan belum sembuh. Masa dah aku tinggal? Aku juga nggak mungkin ninggalin kamu di sini, Sri. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu lagi.” Safka kembali meraih jemari Sri. Tak peduli meski dirinya tahu kalau istrinya itu merasa risi. Ia justru ingin menciptakan kemistri di antara mereka, agar hubungannya berangsur baik. Baik dalam segi apa pun. “Astaga! Nggak tau orang lagi gugup apa, ya?” Sri membatin, seiring dengan jantung berdebar. Ia berdeham seraya mengedarkan pandangan sebelum kemudian menjatuhkan tatapannya ke tangan. Safka sedang mengelus punggung tangannya lagi dan lagi. “Bagaimana kalau dia datang ke sini? Aku nggak bakal bisa tenang, Sri.” Safka melanjutkan bicaranya, sembari menepuk-nepuk tangan yang ia genggam. Jantungnya sama berdebar hebat seperti Sri. Perasaannya semakin terasa dalam. “Aku ikut.” Sri menjawab cepat, seraya memejamkan matanya erat dalam waktu yang singkat. Lantas ia mengangkat wajah sembari menyunggingkan senyum di bibirnya yang tipis lagi seksi. Setelah kejadian di pasar hari kemarin, ia sendiri tidak yakin akan bisa tinggal di kampung dalam bayang-bayang ketakutan terhadap Bima. “Benarkah? Itu yang aku takutkan sebelumnya, Sri. Aku takut, kamu memilih tinggal di sini.” Safka berseru senang setelah mendengar pernyataan Sri. Ia sama sekali tak mengira kalau wanitanya itu akan kembali ikut ke kota. “Tapi ada syaratnya.” Sri pun berucap lagi. Ia memiliki satu keinginan sebelum pergi meninggalkan bapak juga adik-adiknya. “Apa, Sri. Katakan!” pinta Safka segera. Ia tak kan segan untuk mengabulkan permintaan Sri, kalau itu akan membuat istrinya ikut ke kota dalam keadaan senang dan tenang. “Pastikan Bapak dan adik-adikku hidup dengan nyaman dan aman di sini,” timpal Sri, tanpa ragu. Meski, dalam hatinya terbersit rasa takut. Namun, untuk saat ini, ia merasa kalau itu adalah sesuatu yang harus dilakukan. Sebelumnya, Sri marah besar pada diri sendiri karena tak bisa melawan apa yang telah ditakdirkan. Ia hidup di bawah kuasa seorang Safka, karena telah ditukar oleh bapaknya sendiri. Tapi sekarang, Sri harus terbiasa dan menerima semua itu dengan sepenuh hati. “Aku akan melakukan itu untukmu. Kamu tenang saja, Sri. Jangankan untuk membuat Bapak dan adik-adikmu tenang, untuk membuat warga sekampung tenang pun, aku bisa!” balas Safka, tanpa ragu. Ia yang yakin akan kekuasaan juga kekayaannya itu, merasa mampu untuk melakukan apa pun dengan uang. “Baiklah.” Sri pun kembali menarik tangannya dari genggaman Safka sembari menghela napas panjang. “Sebaiknya, sekarang kita kasih tau bapak dan adik-adikku. Habis itu siap-siap!” sambungnya seraya merapikan anak-anak rambutnya. Ia juga langsung menurunkan kedua kakinya ke lantai. “Eh, emang kamu udah baikkan?” Safka pun kaget, sehingga takut kalau tubuh Sri akan tumbang. Kedua tangannya sigap memegang kedua pundak Sri dengan erat. “Udah lah, Om. Kan, tadi aku juga udah bilang, aku udah sehat. Kamunya aja yang kekeh mau suapin aku?” balas Sri sambil tersenyum lebar. Ia lantas melepas kedua tangan Safka dari pundaknya perlahan-lahan. “Yuk?!” ajaknya kemudian sembari menatap lekat wajah Safka. “Oh, iya ayok!” Safka pun seketika mengerjap. Ia lantas berdiri sembari menggandeng tangan istrinya itu. Sri langsung ikut berdiri, kemudian berjalan mengikuti Safka yang berjalan lebih dulu. Pertama-tama, mereka akan menemui Sudirman. Bapaknya itu memang belum sehat betul. Tapi, setelah Safka membawanya berobat kemarin sore, Sudirman sudah jauh lebih baik. Ia tak lagi hanya berbaring sepanjang hari. Tak juga tidur sepanjang waktu. Sekarang saja, Sudirman sedang berbaring menonton televisi di ruang tengah. “Pak,” sapa Sri yang kemudian duduk di samping bapaknya itu. Begitu juga dengan Safka, yang seketika duduk bersila bersebelahan dengan Sri. “Eh, Sri. Nak Safka.” Sudirman langsung beranjak duduk. “Kamu udah baikkan juga?” tanyanya pada Sri. “Sudah, Pak. Alhamdulillah. Tapi, ada yang mau Sri omongin.” Wanita berhidung bangir itu pun mulai ancang-ancang untuk bicara, dengan kata-kata sopan nan halus. “Iya, Sri. Ada apa? Kalian kok kayak gugup gitu? Bapak jadi takut.” “Masa, sih, Pak? Biasa aja perasan.” Sri pun tertawa kecil agar suasana di antara mereka tidak setegang tegangan listrik. “Sri mau ngomongin itu kok, pekerjaannya Safka. Dia harus pulang hari ini.” “Ya, ampun, Sri. Kamu ini, kirain Bapak ada apa. Tapi pertama-tama, kamu ini kok nggak ada sopan-sopannya sama suami sendiri? Kemarin Bapak dengar kamu manggil dia Om. Sekarang manggil nama.” Safka dan Sri seketika menyengir tanpa berucap apa-apa. Hanya saja, keduanya saling menatap barang sekilas. Apa yang dikatakan Sudirman memang benar. Sri juga tahu kalau itu adalah sesuatu yang tidak sopan. Tapi, Safka pun memakluminya. “Baiknya ya manggil apa gitu biar kesannya nggak kasar.” Sudirman menyambung ucapannya. Meski dirinya itu adalah seorang pejudi akut, ada hal-hal yang ia ingin benar dalam hidup anaknya. “Iya, Pak. Nanti Sri coba.” Wanita yang juga berambut panjang itu pun menimpali, masih seiring dengan tawa kecil. “Jangan nanti-nanti, tapi kenyataannya masih sama aja.” Sudirman kembali mengingatkan. “Iya, iya. Sri nurut apa kata Bapak. Tapi soal Safka yang mau pulang, nggak apa-apa, kan?” Sri bertanya lagi sambil menyengir. Karena faktanya, ia masih saja memanggil Safka dengan sebutan nama. Sudirman menggeleng menyadari hal itu. “Iya, nggak apa-apa. Lagian Bapak udah sehat gini, kok.” “Alhamdulillah. Tapi, ada yang masih Sri cemaskan, Pak.” “Soal apa itu?” Sudirman pun menatap lekat wajah beserta mata anaknya itu. “Bapak jangan judi lagi, ya?” pintanya, seiring dengan kedua mata berkaca-kaca. Sedih jika mengingat hal tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN