Bagai Teriris

1104 Kata
Hening. Di sepanjang jalan menuju pulang, tak sepatah kata pun keluar dari mulut Sri mau pun Safka. Hanya helaan napas berat yang berulang kali Sri lakukan, karena sesuatu masih mengganjal dalam pikirannya. Namun, ia tak bisa mengabaikan Safka yang memang harus segera pulang. Mendengarkan musik yang Safka putar, Sri duduk bersandar dengan santai. Tatapannya kadang lurus ke depan, tak jarang pula menatap ke arah samping. Namun, tak sekalipun ia melihat ke arah Safka. Buka benci seperti apa yang selalu ia rasakan sebelumnya. Bukan pula kesal karena dirinya terpaksa pulang, dan meninggalkan bapaknya yang belum pulih betul. Ia hanya merasa tidak nyaman dengan situasi dan suasana baru di antara mereka sendiri. Safka berhasil membuatnya merasa aman dan nyaman. Suaminya itu pun berhasil membuat Sri melepas rasa bencinya. Akan tetapi karena demikian, untuk sekadar melihat diam-diam saja Sri tak bisa. Apalagi memulai sebuah perbincangan. Berulang kali Sri bicara dalam hati. Apa yang harus ia katakan lebih dulu. Obrolan apa yang sekiranya tidak membosankan. Juga bagaimana dirinya harus bersikap, sedangkan Safka saja tidak berucap sepatah pun sejak berangkat. “Apa dia marah? Tapi kenapa? Perasaan, tadi masih baik-baik aja. Aku juga nggak ngerasa ngelakuin kesalahan.” Sembari memijat keningnya yang mulai terasa pening, Sri berucap dalam hati. Ia mengira-ngira, apa gerangan yang membuat suaminya itu diam seribu bahasa. Padahal, Safka adalah type lelaki bawel. Sama seperti dirinya. “Atau, orang kayak memang hobinya bikin bingung? Sebentar-sebentar bikin bahagia. Sebentar-sebentar bikin sedih.” Sri menggeleng sambil berdecak pelan. Ia benar-benar tak mengerti dengan sikap lelaki di sampingnya itu. Tidak seperti Bima, yang selalu menujukan sikap yang sama. Mengingat nama Bima dalam pikirannya, kepala Sri seketika terasa semakin sakit. Ia meringis, mengaduh kesakitan seraya memeganginya dengan kedua tangan. Sontak, Safka yang kurang fokus menyetir karena memikirkan Sri juga itu langsung merespons. “Kamu kenapa?” tanyanya seraya meminggirkan mobilnya ke trotoar. Ia memarkirkan mobilnya di sana, untuk memeriksa keadaan Sri. “Apa kepalamu sakit lagi?” Ia pun membuka sabuk pengamannya agar leluasa menghampiri Sri di sampingnya. “Iya, Om. Kepalaku sakit lagi ini. Nggak tau deh kenapa.” Sri mencengkeram kepalanya erat sambil berbohong. Ia jelas tahu, alasan apa yang membuat kepalanya tiba-tiba terasa sakit. Menyebut nama Bima dalam hati membuatnya kembali mengingat aoa yang dilakukan mantan kekasihnya itu pagi kemarin. “Kita Istirahat dulu kalai gitu. Cari tempat sekitar sini, kayaknya ada deh.” Safka pun langsung mengedarkan pandangannya. Ia sudah melewati tol yang panjang sehingga dapat melihat ruko, toko, dan tempat-tempat untuk mengisi perut. “Nggak apa-apa. Lanjut aja jalan, Om. Sakit kepalanya pasti hilang kok nanti. Lagian, kayaknya udah nanggung. Bentar lagi kita sampai, kan?” tanya Sri sembari melirik Safka. Suaminya itu sedang menatap kasihan padanya. “Mana ada bentar lagi. Masih satu jam lebih lagi buat kita sampai. Jadi, sebaiknya kita istirahat dulu deh. Cari makan apa minum dulu gitu.” Safka langsung memakai sabuk pengamannya lagi. Lantas ia menyalakan mesin mobil dan segera melajukannya kembali. Di daerah itu, ia ingat pernah singgah di salah satu restoran yang menyajikan makanan enak nan lezat. “Serah kamu, deh, Om. Aku bisa apa memangnya yakan?” Sri mendesis pelan saat bicara. Ia juga menarik napas panjang dan membuangnya kasar sambil mengalihkan tatapan. Jangankan memberi saran, menolak apa yang tak diinginkannya pun ia tak mampu. “Bukan gitu, Sri. Aku Cuma mau kita istirahat dulu aja. Selain kamu yang merasa pusing, aku juga lelah menyetir. Aku perlu kopi biar nggak ngerasa ngantuk,” ujarnya seraya tertawa kecil. Lucu dengan apa yang diucapkan Sri barusan. Istrinya itu pasti merasa terkekang dengan keputusan yang selalu diputuskan secara sepihak. “Iya, iya. Aku bilang kan juga iya, Om.” Sri berdeham. Sebenarnya, ia baru terpikir akan hal itu. Menyetir mobil selama lebih dari empat jam itu bukan sesuatu yang mudah. Safka pasti merasa lelah, pikirnya. “Gitu, dong. Aku suka kalau kamu udah berpikir positif tentang aku.” Safka tertawa kecil kembali sembari melihat ke sisi kiri dan kanan lewat kaca spion. Restoran yang ia tuju ada di seberang jalan. Ia harus menyeberang menggunakan mobilnya itu. “Nyeberang?” tanya Sri yang sadar kalau mobil yang ditumpanginya itu mulai berbelok. Karena dirinya parno terhadap lalu-lalang kendaraan, matanya langsung terpejam. “Iya!” Safka membalas sembari fokus dan hati-hati. Mobilnya sudah membelok dan segera melaju menuju seberang jalan. “Hati-hati!” Sri bicara lagi. Masih sambil menutup mata. Ia bahkan menangkup mulut karena takut. Sampai-sampai, tubuhnya juga gemetaran. “Udah nyampe juga.” Safka lantas mencabut kunci mobilnya setelah parkir di depan restoran. Lantas segera dirinya keluar dari mobil demi membukakan pintu untuk Sri. Sedangkan istrinya itu justru tercengo, di antara rasa takut dan juga kagetnya. Ia menurunkan kedua tangan perlahan dari wajah. Lantas melihat ke sekeliling. Safka benar, kalau mereka telah sampai. “Ayo!” ajak Safka setelah membuka pintu mobilnya itu. Sri pun mendongak, masih dikuasai rasa takut juga kagetnya. “I-iya!” katanya sembari lekas beranjak turun dari mobil. “Aku pikir, tadi masih di sana!” sambungnya sembari menunjuk jalan yang ramai. “Hmm. Dah lah ayo,” ajak Safka kembali. *** Terbaring lemah selama dua hari di rumah, Bima yang sebelumnya dirawat di klinik itu pun masih belum sepenuhnya sadar. Ia masih banyak tidur karena pengaruh obat juga sakit di kepalanya. Bangun pun hanya untuk mengisi perut dan juga makan obat. Ucok yang tak lain adalah sahabatnya itu berkunjung setelah menyelesaikan pekerjaannya di bengkel. Pulang setelah larut dan kembali datang sebelum berangkat kerja ke bengkel. Tadi, saat dirinya datang membawa bubur pun, Bima belum bangun dari tidurnya. Sehingga ia tinggal kembali karena harus segera bekerja. Sekarang, Bima tinggal bersama Ibu juga adiknya saja. Dua wanita yang merupakan anak dan ibu itu belum mengetahui, apa yang membuat Bima sampai sekarat. Ucok belum memberitahu karena tak ingin salah bicara. Tak hanya itu, karena Bima adalah pemuda baik lagi rajin, tetangga dekat maupun jauh berdatangan silih berganti. Dari pagi ke pagi, ada saja tamu yang datang membawa buah tangan. Entah itu masakan lezat, bubur dan juga buah-buahan. Sekarang pun, ibu-ibu yang kebanyakan berusia di atas empat puluh itu sedang mengobrol di ruang tengah. Mereka sedang membicarakan perihal kondisi Bima yang memprihatinkan. Segala perkiraan terucap sampai pada kalimat, “Mungkin karena Bima melihat Sri pulang dengan suaminya. Kalian tau sendiri bukan, bagaimana Bima sangat mencintai anak dari pejudi itu?” Ibunda Bima yang mendengarnya pun merasa risi. Ia berdeham dan kemudian berdiri setelah sedari tadi duduk berdiam diri mendengarkan obrolan. “Minumannya habis. Sebentar, biar aku ambilkan lagi, ya?” ucapnya seraya melempar senyum. Ia sungguh bagai teriris. Hatinya perih dan sakit, jika sudah mendengar pernikahan Sri. Pasalnya, di hari saat Sri menikah, Bima benar-benar meluapkan kesedihannya sepanjang hari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN