“Sri ... maafin aku, Sri. Maafin aku.”
Dalam tidurnya Bima bergumam. Ia terus saja memanggil nama wanita yang hampir saja dilecehkannya. Bima benar-benar tak tahu kenapa dirinya bisa sampai kalap. Ia menyesali apa yang telah ia lakukan sampai terbawa dalam mimpi.
Ibundanya yang baru saja kembali masuk ke kamar, setelah menemani para tamu itu pun langsung menghadap Bima. Diusapnya rambut anaknya itu seiring dengan kedua mata berkaca-kaca. “Kamu ini sebenarnya kenapa, sih, Nak? Ada apa sebenarnya?” Ia bergumam sembari membiarkan air matanya jatuh.
Bima tak menjawab, karena memang sedang dalam keadaan tidak sadar. Anaknya itu justru kembali menyebut-nyebut nama Sri dengan suara parau dan hampir tak terdengar. “Aku sayang sama kamu. Itu kenapa, aku ... aku—“
Aoa yang dikatakan Bima tak sampai selesai. Menggantung sampai ibundanya kian tak paham. Ia meraih sebelah tangan anaknya itu. Menggenggamnya erat seraya menciumi punggung tangan anaknya itu, seiring dengan bercucuran air mata.
“Sadarlah. Lalu katakan semuanya sama Ibu. Ibu akan memberikan mereka pelajari, kalau itu memang perbuatan mereka!”
Wanita berusia hampir lima puluh tahun itu bicara dengan nada sinis. Yakin betul kalau dirinya bisa membuat keluarga Sri tersakiti juga. Meski tak mempunyai apa-apa, dirinya mempunyai keberanian untuk melawan.
“Bu.” Seorang gadis berambut keriting tiba-tiba datang dan memanggil ibunya itu. Kemudian dirinya duduk di samping ibu juga kakaknya. “Jangan berpikir yang tidak-tidak dulu. Kita nggak tau apa yang telah terjadi. Jadi sebaiknya jangan katakan apa pun sampai nanti Kak Bima sendiri yang jelasin sama kita,” katanya.
Ibundanya yang bernama Fatimah itu pun menangis kian histeris. Dilepasnya tangan Bima, laku ia beralih menghamburkan diri ke dalam pelukan anak gadisnya. “Tapi ibu nggak tega liat keadaan Kakakmu ini, Nak. Nggak pernah sekalipun dia mengalami hal semacam ini selain bukan karena ulah bapaknya Sri. Kamu ingat bukan, dulu, bapaknya Sri pernah memukuli Bima sampai bonyok?” ucapnya.
“Aku tau, Bu. Aku juga ingat “ Gadis bernama Fitri itu memeluk ibunya erat sembari mengelus punggung ibunya itu. Ia juga merasa sedih dan kasihan dengan kakaknya itu. Namun, belum ada keterangan pasti tentang apa yang terjadi pada Bima. “Tapi kita harus sabar dulu, Bu. Kak Bima pasti lekas pulih. Dan dia pasti bilang, apa yang udah terjadi nanti,” sambungnya, sebagai upaya untuk meyakinkan ibunya itu.
Fatimah pun mengangguk. Ia yang tak lain seorang single parents itu pun takut, kalau tulang punggung keluarganya itu akan cedera parah. Sedangkan biaya hidup saja Bima yang tanggung. Ia memang tidak lagi memiliki suami, karena ditinggal mati tujuh tahun silam. Suaminya itu meninggal karena kecelakaan saat menyetir sebuah truk.
“Kalau gitu kamu jagain kakakmu ini, ya. Ibu mau mandi sekalian shalat dulu.” Fatimah pun melepaskan diri dari pelukan Fitri. Lantas ia beranjak bangun, dan segera pergi ke dapur setelah Fitri mengiyakan.
Anaknya itu sudah melakukan shalat sebelum masuk ke kamar Bima. Ia beringsut, mendekat ke arah Bima yang terbaring lemah di kasur lantai. Sebelah tangan kakaknya itu ia genggam, ia cium sebagai tanda sayang.
“Cepatlah sadar, Kak. Kasiha. Ibu tiap hari nangis terus karena takut kakak kenapa-kenapa,” ucapnya diiringi derai air mata. Di hadapan ibunya, ia sama sekali tak menunjukkan air matanya itu. Sebab tak mau membuat Fatimah semakin sedih. Namun, begitu ibunya itu keluar, tangisnya pecah tak tertahankan.
Jemari yang digenggamnya itu tiba-tiba bergerak pelan. Fitri terenyak dan seketika memandangi tangan Kakaknya itu. Lantas ia juga melihat wajah Bima seketika. Sang kakak rupanya bangun dan sedang membuka mata perlahan.
“Fit?!” Kakaknya itu berucap parau. Sama seperti sebelumnya, Bima sadar tapi tak mampu membuka matanya lebar. Sesekali ia membuka mata, kemudian terpejam lagi.
“Kakak dah bangun lagi? Alhamdulillah, Kak. Gimana keadaanmu sekarang?” Fitri langsung mencecar dengan beberapa pertanyaan yang intinya sama saja. Ia ingin tahu keadaan sang Kakak.
“Masih terasa sakit. Tapi nggak apa-apa. Kakak kayaknya udah sembuh.” Bima sedikit menyunggingkan bibirnya. Ia tersenyum pada Fitri seraya melihatnya dengan kedua mata menyipit.
“Alhamdulillah wa syukurilah. Aku harap kakak benar-benar sembuh sekarang. Jangan pingsan lagi!” Fitri tertawa kecil sambil menangis. Rasa sedihnya itu bercampur dengan rasa bahagia.
“Pingsan? Kayaknya kakak itu tidur, Fit. Bukan pingsan.” Bima tersenyum lagi, melihat raut wajah adiknya lucu. Mereka selai bertengkar hebat, tapi kali ini tampak jelas kalau adiknya itu memiliki kasih sayang yang sangat.
“Ya tidur tapi udah kayak orang pingsan!” Fitri memprotes. Ia kesal dan sedih betul karena kakaknya itu tak kunjung bangun.
“Sudah, sudah. Sekarang kan aku dah bangun. Jangan nangis lagi ih. Jelek!” goda Bima dengan meledek Fitri. Ia bahkan tertawa sedikit keras, sembari menahan sakit.
Namun, kali ini Fitri tak marah meski diejek. Ia memaklumi Kakaknya itu karena sedang sakit. “Iya, Fitri memang jelek. Sama lah kayak kakaknya.” Ia membalas sambil tertawa renyah. Bahagia karena kakaknya sudah bisa bercanda.
“Dih! Aku mah cakep, Fit. Kamu aja yang jelek!” balas Bima kembali. Ia terkekeh sampai terbatuk.
Fitri yang mendengarnya pun panik. Ia langsung mengambil segelas air yang sudah di sediakan. “Baru sembuh juga! Jangan ketawa dulu kenapa?!” omelnya seraya membantu Bima duduk terlebih dulu.
“Aku nggak apa-apa loh. Santai aja.” Bima bersikukuh kalau dirinya sudah sehat. “Tapi, omong-omong, Ibu ke mana? Kok, nggak kedengaran?” tanyanya.
“Ibu shalat, Kak. Sebentar lagi pasti ke sini. Ibu itu nggak mau ninggalin Kakak kalau saja nggak aku paksa buat gantian. Tapi untungnya, Ibu masih nafsu makan.” Fitri pun langsung tertawa setelah menceritakan keadaan ibunya yang selalu sedih. Tapi, tidak mengurangi nafsu makan.
“Dosa kamu ngomongin ibu sendiri. Ibu masih nafsu makan karena nggak mau sakit pas lagi nungguin kakakmu ini!” balas Fatimah yang baru saja mendengarkan ocehan Fitri. Ia yang baru saja selesai shalat memang langsung bergegas menuju kamar Bima karena mendengar suara. Ia lantas mendekat dan menghampiri Bima segera. “Syukurlah kamu udah sadar, Nak. Ibu sampai khawatir,” katanya seraya mengusap lembut pundak anaknya itu. “Tapi, omong-omong, kamu ini kenapa? Siapa yang udah mukulin kamu?” tanyanya lagi.
“Bu.” Fitri pun menyikut ibunya itu. Menanyai seseorang yang baru saja bangun dari pingsannya itu sungguh tidak etis. “Seenggaknya biarin Kakak makan dulu.” Ia bicara lagi.
“Nggak apa-apa. Aku tau kalau ibu pasti khawatir dan penasaran.” Bima membela ibunya itu sambil tersenyum. “Tapi, Bu ... siapa pun yang membuat aku kayak gini, itu adalah kesalahanku. Jadi, ibu nggak boleh marah,” sambungnya.
“Jangan berusaha melindungi mereka lagi, Nak. Ibu tau, ini pasti ulah bapaknya Sri bukan? Dia emang keterlaluan! Dalam keadaan sakit aja bisa-bisanya nyakitin kamu!” Fatimah marah. Yakin betul kalau tuduhannya itu tak salah.
“Bukan, Bu. Bagaimana mungkin, orang yang lagi sakit bisa mukulin orang lain?” Bima balik bertanya. Berharap, ibunya itu tak lagi marah.
“Lalu siapa kalau bukan bapaknya Sri? Kamu punya musuh?” Fatimah masih berusaha mencari tahu, siapa yang sudah membuat anaknya itu tidak sadarkan diri dari kemarin.
“Ini salahku, Bu. Aku pantas menerima perlakuan seperti ini. Tolong, aku mohon jangan tanyakan soal ini lagi. Aku lapar,” timpal Bima sembari menyunggingkan senyumnya.
“Ya, Allah. Kenapa anakku ini sangat baik hati? Dia seharusnya membenci orang yang sudah membuat sakit. Tapi, dia malah melindungi orang tersebut!” omel Fatimah seraya mengambil makanan yang dikirim oleh tetangganya.
Bima tertawa kecil mendengar ibunya itu merutuk. Begitu juga dengan Fitri. Adiknya itu bahkan sampai terbatuk-batuk. “Aku minta buah apelnya, ya?” pintanya pada sang Ibu.
“Kan, tadi udah Ibu kasih. Ini itu jatahnya kakak kamu yang lagi sakit. Yang lagi sehat mah nggak usah banyak mau!” Fatimah lantas membuka rantang berisi bubur kacang hijau. Buburnya sudah dingin. Tapi dari aromanya tercium sangat lezat.
“Dih! Ibu pelit banget. Masa, aku mau buah-buahan harus nunggu sakit dulu?!” Fitri tak terima. Ia tetap merogoh kantong keresek berisi buah apel di samping Bima.
Namun, Fatimah langsung memukul tangan anaknya itu. “Ibu bilang jangan ya jangan. Bandel banget, sih udah gede juga!” omelnya.
Bima tertawa. “Udah sih, Bu. Kasih aja!” katanya.
“Tuh, kakak bilang juga boleh!” balas Fitri seraya tetap mengambil apel dari wadahnya. Lantas, ia pun kabur dari kamar sambil tertawa puas.
“Astaga anak itu!” Fatimah pun berdesis seraya menyodorkan sesendok bubur manis pada Bima. “Buka mulutnya lebar-lebar. Jangan malas kalau makan!” omelnya lagi.
“Iya, Bu, Iya!” timpal Bima setelah melahap suapan pertama. Ia mengunyahnya cepat dan menelannya karena memang merasa lapar.
***
Mendapati banyak kebutuhan dapur yang habis, Fatimah pun langsung berangkat menuju warung grosir yang tempatnya berada tepat di seberang jalan rumah keluarga Sri. Namun, bukan hanya ingin membeli kebutuhan saja dirinya pergi. Ia juga ingin melihat apakah ada yang mencurigakan atau tidak dalam rumah Sudirman.
Fatimah yang yakin kalau Bima sakit karena dipukul bapaknya Sri itu ingin memastikan, apa benar kalau Sudirman masih sakit sehingga tidak mungkin melakukan kekerasan. Akan tetapi, begitu melihat Sudirman ada di teras depan rumahnya, gejolak marah dalam hatinya langsung mencuat.
“Heh, aki-aki bau tanah! Berani-beraninya ya kamu mencelakakan Bima? Dia itu sebenarnya ada salah apa sama kamu, heh?! Si Sri kan udah kawin. Masa kamu masih nggak suka sama si Bima!” omelnya begitu sampai di depan rumah Sudirman.
Sudirman yang sedang duduk bersandar sembari menikmati segelas kopi itu langsung tercengo, kaget mendengar ocehan Fatimah yang tak ia mengerti. “Apaan, sih? Kalau datang ke rumah orang itu yang sopan. Salam dulu kek!” katanya.
“Halah! Kamu nggak usah banyak ngeles, ya! Jadi orang kok nggak ada tanggung jawabnya sama sekali?!” teriak Fatimah sehingga mengundang beberapa tetangga. Mereka melihat langsung, ada pula yang mengintip dari dalam rumah.
“Loh, tanggung jawab apa toh?” Sudirman memang tak tahu mengena Bima atau pun Sri. Yang ia tahu, anaknya itu sakit kemarin.
“Pura-pura bego dia! Samperin noh si Bima. Dia nggak sadarkan diri dari kemarin karena kepalanya dipukul sama kamu. Iyakan?” Fatimah pun menjelaskannya tanpa mengurangi rasa marah. Tak peduli meski di sekelilingnya terdapat banyak orang yang menyaksikan.
“Aku? Mukul si Bima? Kapan?” Sudirman pun beranjak bangun dari duduknya. Perlahan karena tubuhnya masih terasa ngilu.
“Kemarin lah. Dia baru sadar satu jam lalu. Tapi kamu nggak ada itikad baik sama sekali. Jangankan membantu biaya berobat, datang saja nggak!” Fatimah meracau lagi. Ia bahkan menunjuk-nunjuk wajah Sudirman.
“Maaf, Bu Fatimah.” Siti yang mendengar keributan dari dalam pun keluar. Ia langsung menghadap Fatimah. “Ibu datang-datang kok nggak ada sopan-sopannya? Ibu pikir, Bapak saya ini yang mukulin Kak Bima?! Ck!”
“Iya lah. Siapa lagi?” Fatimah masih saja keras kepala. Ia yakin atas tuduhannya itu.
Siti yang mendengarnya pun seketika tergelak. Ia merasa lucu dengan sikap orang tua di hadapannya itu. “Asal Ibu tau, ya! Kak Bima dipukul karena dia salah,” katanya.
“Tuh, kan. Berarti betul kalau bapakmu itu yang mukul Bima!” Fatimah pun semakin marah.
“Nggak, Bu. Yang mukul Kak Bima itu bukan Bapak. Tapi Kak Safka! Kenapa? Karena Kak Bima berusaha untuk memperkosa Kak Sri di tempat sepi saat di pasar!” timpal Siti, tanpa segan.
“Apa? Nggak! Nggak mungkin.” Fatimah menggeleng. Tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Fatimah langsung berdeham sembari melihat ke sekeliling. Orang-orang seketika menggunjing, tak menyangka dengan ucapan Siti juga. “Bima nggak mungkin kayak gitu. Paling-paling, si Sri yang menggodanya duluan. Mereka bukannya saling cinta?! Dan Bapakmu malah mengawinkannya dengan orang lain!” Ia pun beralibi.
“Benar-benar orang tua ini!” Siti menggeleng sambil berdecih. “Jelasnya, tanyakan saja semuanya pada Kak Bima. Aku yakin dia nggak bakal bisa bohong!” Siti berucap lagi. Namun, kali ini sembari menghampiri bapaknya. Dan, ia langsung membawa bapaknya itu masuk ke rumah.
“Benarkah itu, Siti?” tanya Sudirman, dengan suara parau.