“Bapak istirahat aja, ya. Jangan banyak pikiran.”
Alih-alih menjawab apa yang ditanyakan bapaknya itu, Siti justru menyuruh Sudirman untuk beristirahat. Kondisi bapaknya memang belum pulih benar. Ia takut kalau Sudirman sampai syok dan ambruk.
“Dijawab dulu lah pertanyaan Bapak, Siti. Apa bener, yang kamu bilang tadi itu?” Sudirman tak mau mendengarkan hal lain selain jawaban dari pertanyaan. Ia bahkan berhenti berdiri saat Sri menuntunnya masuk ke kamar. Ia menghela napas panjang, melihat Siti. “Bapak hanya ingin tahu saja,” sambungnya.
Siti yang melihat kesungguhan di wajah bapaknya itu pun sama panjangnya saat menghela napas. Ia menghembuskannya perlahan sebelum kemudian mengangguk. “Kak Sri sakit karena kena syok. Dia kaget sampai demam. Tapi, Kak Sri maupun Kak Safka nggak mau kalau hal ini diketahui Bapak. Mereka bilang, takutnya Bapak marah.”
“Astagfirullah. Benar kan kata Bapak, Siti. Si Bima itu bukan lelaki baik-baik. Beruntung karena Bapak sudah menikahkan kakakmu. Jadinya ada yang melindungi Sri. Tapi, sepertinya, wanita itu harus diberi pelajaran!”
Sudirman pun menoleh melihat ke arah luar. Fatimah sudah tidak ada di sana. Wanita itu kucar-kacir karena merasa malu sendiri. Sudirman lantas menepuk pundak anaknya yang masih berdiri berdampingan di depan pintu kamar.
“Biar Bapak masuk sendiri. Bapak mau langsung istirahat,” katanya seraya melengkungkan senyuman. Ia marah, tapi kembali mempertimbangkan apa yang dikatakan Siti barusan. Sri tak mengizinkannya untuk berbuat sesuatu yang akan merugikan.
“Baiklah, Pak. Siti juga lagi belajar tadi,” katanya sebelum kemudian pergi setelah Sudirman mengiyakan. Ia langsung menuju kamarnya di mana ada Fahmi yang sedang asyik bermain game. Adiknya itu pun ia pukul menggunakan bantal. “Maen teros!” singgungnya.
“Lah, suka-suka dong. Ngerjain tugasnya udah ini!” balas Fahmi, yang tak bereaksi sama sekali meski dipukul. Tanggung karena apa yang sedang dimainkannya itu lagi seru-serunya.
“Hilih! Dasar males!” umpat Siti, seraya meraih bukunya lagi di meja. Ia lantas melanjutkan belajarnya.
Sementara itu, di luar, Aris yang masih dibayar untuk memperhatikan keluarga Sudirman pun melapor pada Safka. Ia mengetik sebuah pesan, sebelum kemudian kembali masuk ke rumah. Keributan yang diciptakan Fatimah memang sudah kembali aman.
***
Ting!
Mendengar sebuah pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya itu pun, Safka langsung merogohnya dari saku jas. Ia lantas membacanya dalam hati, agar tak perlu didengar Sri. Istrinya itu sedang menikmati es kelapa muda setelah menghabiskan satu porsi soto babat spesial.
“Bos, barusan ada ibunya Bima. Dia ngamuk-ngamuk, marahin bapaknya Sri karena katanya, Sudirman sudah memukuli Bima. Tapi, Siti bilang, Bima dipukul sama si Bos karena Bima sudah melecehkan Sri.”
“Astaga!” Bisa bergumam, kesal terhadap orang yang telah diberinya kesempatan hidup. Padahal, kemarin, ia ingin sekali menghabisi Bima kalau saja Sri tak menyuruhnya untuk tidak berbuat apa-apa.
“Apa, Om?” Sri yang sedari tadi menundukkan pandangannya itu pun melihat Safka. Matanya menyiratkan pertanyaan yang sangat ingin ia ketahui jawabannya.
“Aku baru dapat laporan. Ibunya Bima ngamuk-ngamuk di rumahmu. Tapi, sekarang sudah pulang katanya.” Safka pun menjelaskan dengan hati-hati. Sebab, ia ragu untuk memberitahu Sri. Takut kalau istrinya itu minta kembali juga.
“Serius?” Sri pun langsung merogoh ponselnya dari dalam tas. Setelah melihat Safka mengangguk, segera ia pun menelepon Siti.
Panggilannya diangkat. Sri langsung menyapa lebih dulu. “Bapak nggak apa-apa?” tanyanya setelahnya. Ia langsung berwajah pucat, saking khawatirnya.
“Loh, kenapa memangnya, Kak? Bapak kan dari sebelum Kak Sri pulang juga udah baik-baik aja,” jelas Siti yang tak mau membuat kakaknya itu bersedih.
“Jangan coba-coba berbohong dan kamu harus melaporkan apa pun jika sesuatu terjadi.” Sri bicara lagi. Kalo ini, matanya sempurna basah. Ia sedih karena tak dapat berada di sisi bapaknya saat Sudirman dicaci maki.
“I-iya, Kak. Tapi, Kakak tau dari mana kalau tadi ada kejadian?” tanya Siti yang seketika merasa kikuk. Maksud hati ingin menyembunyikan apa yang terjadi agar Sri tidak sedih. Tapi, kakaknya itu justru sudah mengetahuinya.
“Nggak penting, dari siapa aku tau. Tapi lain kali, aku ingin mengetahui apa pun darimu. Bukan dari orang lain. Paham?” tanyanya, menegaskan.
“Iya, Kak, iya. Tapi, Kakak udah sampek emang?” Siti pun langsung mengalihkan pembicaraan. Ia tak mau membebani kakaknya itu.
“Belum. Ini lagi istirahat dulu sambil makan. Kamu sama Fahmi udah makan? Tadi aku udah bikin masakan enak buat kalian. Semoga suka,” ucapnya seraya menahan haru. Biasanya, Sri selalu menyiapkan makanan untuk adik juga bapaknya. Tapi sekarang, ia berada jauh dari mereka.
“Sudah, Kak. Tadi, sepulang sekolah, bareng Bapak. Kak Sri udah makannya?” tanya Siti balik. Ia sedikit lega karena Sri nyatanya dapat mengontrol emosi.
“Sudah. Ini baru aja selesai.” Sri menimpali adiknya itu, disusul dengan menyeruput es kepalanya lagi. “Sebentar lagi aki juga jalan. Kamu baik-baik di rumah, ya. Jangan terlalu banyak main. Belajar yang fokus.”
“Iya, Kak. Kakak hati-hati, ya? Salam buat Kak Safka. Bilangin juga kalau aku nitip emas berlian padanya. Jadi, dia harus menjaganya dengan baik dan benar.”
“Siap, Bos. Nanti aku sampaikan. Bye dulu, ya. Assalamualaikum.” Lantas, telepon pun terputus setelah Siti membalas salam. Sri yang menutupnya.
“Apa katanya? Apa dan pada siapa kamu harus menyampaikan sesuatu?” tanya Safka seketika setelah panggilan terputus. Ia menoleh sesekali, demi melihat wajah juga senyum Sri.
“Dia bilang, dia nitip emas berlian sama kamu. Jadi, kamu harus menjaganya dengan baik!” balas Sri. Ia langsung tersipu, karena emas berlian yang dimaksud Siti adalah dirinya itu.
“Wooah, itu sih udah pasti dan nggak perlu dipertanyakan lagi. Emas berlian yang aku bawa ini, sudah pasti kujaga dengan baik. Kalau perlu, aku bawa ke mana-mana. Mau nggak?” tanyanya.
“Dih! Tapi ya kalau ngajaknya ke mall, atau apa gitu yang seru dan indah, aku mau dibawa-bawa. Tapi kalau akunya dibawa segala ke kamar mandi, ogah!” balas Sri, diselingi tawa menggelegak. Ia yang semula merasa sedih, seketika merasa senang. Bersama Safka, ia memang mulai merasa nyambung.
“Ya, itu sih salah satunya. Aku ajak kamu ke kamar mandi, buat mandiin aku. Gimana?” Safka pun akhirnya menggoda Sri. Ia menggerakkan sebelah alis, sambil menyengir lebar. Ia harap, Sri akan semakin terhibur.
“Wah, otak m***m dasar!” umpat Sri pada akhirnya. Ia langsung memalingkan wajah, melihat ke arah lain demi untuk menghindari tatapan Safka. Namun, sebenarnya, itu adalah caranya menyembunyikan semu di wajah. Sebab, ia yakin kalau pipinya sudah semerah saus tomat jika dibandingkan.