Bertingkah Lucu

1761 Kata
Fatimah pulang dengan langkah tergesa. Tubuhnya gemetar, jantungnya berdebar. Betapa ia malu setelah mendengar apa yang dikatakan Siti tentang sesuatu yang terjadi pada Bima. Anaknya itu telah melecehkan Sri, sehingga dipukul Safka dengan balik kayu. Wanita bertubuh kurus itu bahkan lupa akan niatnya. Ia tak sempat berbelanja, padahal kebutuhan rumah sudah menipis. Apa yang ia dengar membuat dirinya ingin segera pulang untuk bertanya langsung pada Bima. Meski, sekalipun anaknya salah, ia tetep merasa Sri lah yang paling salah. “Iyalah. Coba kalau si Sri nggak kawin sama lelaki lain, si Bima juga nggak bakal nekat begitu!” ucapnya pada diri sendiri begitu sampai di teras rumah. Ia lantas bergegas masuk, dan bahkan langsung menuju kamar Bima. Anak gadisnya sedang duduk menonton televisi di ruang tengah. Fatimah melewatinya tanpa berucap. Bahkan, ia sama sekali tidak melihat adanya Fitri di sana, saking hanya fokus terhadap Safka saja. “Bu?” tanya Fitri kemudian. Ia menoleh, heran melihat Ibunya yang tergesa-gesa. Ia juga heran karena ibunya tidak membawa apa-apa. “Warungnya tutup?!” tanyanya lagi. “Eh, kamu?!” Fatimah sampai terkejut begitu mendengar suara Fitri. Ia berhenti, menoleh melihat Fitri mendongak. “Ibu lupa tadi, mau beli apa aja,” jawabnya seraya melangkah lagi. Ia langsung masuk ke kamar Bima. “Lah?!” Fitri semakin heran. Karena penasaran, ia pun langsung menyusul ibunya itu menuju kamar Bima. “Nak?!” Fatimah sedang membangunkan Bima yang lagi-lagi sedang beristirahat. Anaknya itu membuka mata perlahan, kemudian menoleh melihat ibunya itu. “Ibu mau nanyain sesuatu sama kamu!” katanya. “Iya, Bu. Ada apa?” Bima yang sama herannya dengan Fitri pun beringsut bangun sekaligus mundur. Ia duduk bersandar di tempat tidurnya. “Tadi Ibu ketemu bapak juga adiknya Sri. Mereka ngomong yang nggak-nggak tentang kamu. Apa bener?” tanyanya, seketika. Ia benar-benar tidak mau menundanya pertanyaannya saking merasa penasaran. “Bu!” seru Fitri dari belakang. Ia yang mengira Bima masih belum stabil, takut kalau ucapan ibunya itu akan membuat Bima kembali pingsan. Namun, Bima langsung mengangkat tangan ke arah Fitri. “Nggak apa-apa,” katanya seraya melempar senyum. “Itu benar kok, Bu. Memang aku yang salah kan kataku juga.” “Nggak. Ibu nggak percaya. Kamu pasti begitu karena ingin melindungi Sri aja, kan? Padahal, kamu yang udah digodain sama perempuan murahan nggak tahu diri itu!” “Bu ... sudahlah. Aku bilang, semua ini salahku. Ibu kenapa terus saja menyalahkan Sri? Dia nggak salah apa-apa sama aku, Bu.” Bima menyela, agar Fatimah mau berhenti bicara. Ibunya itu terlalu mengada-ada. “Tapi Ibu nggak terima, Nak. Masa kamu sampai pingsan aja mereka nggak ada nengokin kamu? Bener-bener nggak ada empatinya sama sekali deh.” Fatimah berdecak kesal. Ia juga langsung mendengkus kasar. “Ya, gimana mau nengok, Bu. Aku aja yakin kok kalau Sri ketakutan. Dia nggak bakal mau ketemu aku lagi.” Bima mendengkus pelan. Kesal akan dirinya sendiri. “Baguslah. Itu memang yang Ibu mau dari dulu. Kalian itu memang harus dipisahkan.” Fatimah tertawa kecil di hadapan Bima dan Fitri. Puas mendengar Sri ketakutan. “Emang Kakak ngapain? Kenapa Kak Sri sampai takut?” Fitri yang sedari tadi hanya mendengarkan, kemudian bertanya karena ada sesuatu yang ia penasaran. Ia ingin tahu, apa dan kenapa kakaknya melakukan sesuatu yang barangkali merugikan orang lain. Namun, Bima tak menjawab sepatah pun. Ia bahkan tak berani barang mengatakan apa yang telah dilakukannya pada Sri pagi kemarin. Selain karena itu adalah hal paling memalukan, adiknya pun adalah seorang perempuan. Ia yakin, Fitri tak kan mendukung apa yang telah dilakukannya. Fitri yang lagi-lagi hanya menyimak itu pun tahu, juga paham atas apa yang dilakukan Bima terhadap Sri, meski kakaknya itu tak bicara. Sebagai seorang wanita, sekaligus teman baik Sri, Fitri pun tak menyangka kalau kakaknya akan berbuat segila itu. “Aku nggak nyangka Kakak bisa kayak gitu. Aku bahkan membenci Sri karena udah mencampakkanmu, Kak. Tapi sekarang, aku justru lebih membenci kamu!” seriusnya seraya beranjak bangun. Marah betul Fitri pada kakaknya itu. “Fitri!” bentak Fatimah. Ia tak suka dengan gaya bicara anak bungsunya yang seolah lebih mendukung Sri. “Walau bagaimana pun, Bima itu kakakmu. Dia sudah pasti hanya sedang berbohong demi untuk melindungi Sri.” “Aku tau, Bu. Tapi aku benci Kak Bima. Aku nggak suka dengan caranya yang udah kek orang gila! Karena dengan begitu, Kak Bima nggak bakal bisa menghargai kita sebagai perempuan, Bu. Nggak skan6!” timpal Fitri sebelum akhirnya ia pergi, meninggalkan kakak juga ibunya sendiri. “Astaga anak itu!” bentak Fatimah lagi, karena Sri baru saja membanting pintu. “Sudah lah, Bu. Biarkan aja dia marah padaku. Aku memang salah,” ujar Bima, dengan suara serak dan parau. Ingin rasanya ia menangis. Tapi tidak jika harus di hadapan ibunya itu. Ia menahan air matanya yang sudah terasa menggelitik. “Kamu ini, sama aja!” bentak Fatimah pada akhirnya. Ia lantas beranjak bangun, berdiri setelah sedari tadi duduk bersila seiring dengan perasaan tak keruan. “Dah lah. Mending juga tidur siang daripada debat masalah ini!” ucapnya lagi. Bima mengangguk, setuju. “Istirahatlah, Bu. Tidur yang nyenyak.” Ia berucap sesaat setelah ibunya itu melangkah menuju pintu. Kedua belah sudut bibirnya menyungging. Sedang matanya berair. Is hampir menangis. *** “Dah siap berangkat lagi?” Safka menarik diri dari duduk bersandarnya, duduk tegak sembari meletakkan kedua tangan di paha kiri dan kanan. Ia melihat ke arah Sri sembari menyunggingkan senyum dari bibirnya yang seksi. Barulah setelah itu ia melihat jam di pergelangan tangan, waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. “Kalau kamu udah nggak capek sih ayo. Lagian aku dah mau cepet-cepet sampai,” timpal Sri seraya menarik diri juga dari duduk santainya. Ia merapikan rambut, membenahi tas, dan kemudian berdiri lebih dulu. Safka pun menyusul sembari menghela napas panjang. Ia menghembuskannya perlahan sembari menggandeng tangan Sri. “Yakin mau langsung pulang?” tanyanya kemudian, sembari siap melangkah. Sri menoleh, melihat Safka dengan tatapan heran. “Ya, iya dong. Emang mesti ke mana dulu? Udah mau sore juga!” balasnya, kecut seperti biasa. Ia menarik wajahnya lagi, lurus ke depan sembari mulai melangkahkan kaki. “Iya, sih. Tapi ya kali mau ke mall apa nonton dulu gitu?” Safka kembali menggoda Sri dengan menawarkan beberapa tempat, di mana mereka bisa jalan-jalan sebentar. “Hm ... nggak usah, deh. Aku capek sumpah!” balas Sri, tanpa menoleh sama sekali. Ia terus berjalan, keluar dari restoran. Diedarkannya pandangan, ia lupa, di mana mobil suaminya terparkir. “Eh, mobil kamu yang mana, sih, Om? Banyak banget jadi bingung aku,” katanya sambil tertawa datar. “Ish! Masa nggak hafal mobil suami sendiri? Yang ini loh!” Safka langsung menuntun Sri, menggiringnya ke arah di mana ia memarkirkan mobil. “Afalin!” ucapnya lagi begitu tiba di samping mobil. Tawanya menggelegak saat ia membuka pintunya. “Dih!” Sri berdecih seraya menonjok pundak Safka. Hal pertama yang ia lakukan setelah beberapa hari menikah. “Males banget kudu ngafalin mobil!” sambungnya. “Ya, kan biar nggak salah masuk mobil orang, Sri.” Safka pun mempersilahkan istrinya itu untuk masuk ke mobil. “Ya, nggak mungkin juga dong! Mana bisa masuk, orang mobilnya udah pasti dikunci!” balas Sri setelah masuk dan duduk. Ia mendongak, melihat Safka disertai delikan mata tajam. Suaminya itu amat sangat bawel. Sampai-sampai, sedari di restoran tadi tak berhenti bicara. Sedangkan saat di perjalanan, mereka sama sekali tak berucap. “Iya juga, ya. Tumben pinter!” Safka tertawa kecil sembari menutup pintu. Membuat Sri yang mendengarnya seketika mendongak lagi. Sayang, suaminya sudah terlanjur melengos, masuk ke pintu sebelahnya. “Apaan sih nih orang. Nyebelinnya kumat!” *** “Pas pergi bawa badan doang, pulang pun tetep. Tapi masih untung ding si badan kebawa pulang lagi. Kalau nggak kan berabe!” Sekeluarnya dari mobil, Safka kembali mengucapkan ocehan-ocehan penuh kelucuan. Ia segera menutup pintu dan berlari menuju pintu di mana Sri baru saja keluar. Sri yang melihatnya pun menggeleng, paham dengan apa uang dimaksud suaminya itu. “Kenapa geleng-geleng kepala gitu? Aku kan belum nawarin gandengan tangan,” ucapnya lagi, bahkan sebelum sempat Sri mengomentari ucapannya yang tadi. “Nggak apa-apa. Cuma tau aja kalau kamu mau nawarin gandengan tangan. Jadi aku nolak duluan,” timpal Sri sembari memperlihatkan sederet gigi putih nan rapi, saat menyengir dingin. Lantas, ia pun mendorong pundak Safka sampai suaminya itu mundur selangkah. “Aku duluan, ya. Jangan ganggu. Mau langsung tidur soalnya.” “Lah?!” Safka langsung mengejar. “Tunggu dulu kenapa? Sebelum istirahat kan bisa minum apa makan dulu gitu?” Ia berusaha menahan, agar waktunya bersama Sri semakin panjang. “Nggak. Aku masih kenyang. Kalau Om mau, ya makan dong. Jangan tunda lapar hanya karena aku nggak mau makan, ya. Kalau sakit kan pasti aku yang repot.” Sri tak menoleh. Ia terus berjalan setelah menunggu Safka membuka kunci rumahnya itu. “Aih! Kalau gitu sih mending aku sakit. Kan enak kalau bisa ngerepotin kamu?” Safka pun tergelak di belakang Sri. Tawanya pecah, sampai-sampai ia terbatuk. “Dih! Males banget.” Sri menolak tanpa ragu. Meski ingat, kalau Safka telah merawatnya saat sakit karena syok pagi kemarin. Namun, mendengar Safka tertawa, ia pun ikut tertawa pelan. “Dah, ah. Aku mau mandi. Abis itu shalat. Kamu jangan ganggu, ya.” “Tadi katanya mau tidur? Nggak konsisten banget, sih!” Safka memprotes. Keduanya yang telah sampai di anak tangga pun naik dengan hati-hati. “Tadinya, sih. Tapi nggak liat kamu, jam berapa sekarang?” Sri masih berjalan di hadapan Safka. Sesekali ia menunduk, lalu kembali mengangkat wajahnya lurus. “Udah sore banget, kan? Tanggung! Takut digangguin jin!” “Wah, ngatain!” Safka pun langsung mencubit pundak Sri dari belakang. “Dasar kang kulkas. Kalau udah dingin, beku dah! Suami ganteng gini dikata Jin. Terlalu emang!” “Lah, yang bilang kamu Jin siapa, Oncom!” Sri pun berbalik badan begitu sampai di lantai atas. Ia memelak pinggang sembari menghadapi Safka. Dilihatnya suaminya itu, ia merasa tak boleh kalah telak. “Itu barusan. Katanya takut digangguin Jin. Siapa lagi kalau bukan buat aku.” Safka balas menatap sembari memelak pinggang juga. Tak terima, tapi bibirnya tetap terlihat ingin tertawa. “Lah emang buat nyinggung si Jin. Kenapa malah kamu kesinggung? Merasa?” Sri berlaga songong. Kedua belah sudut bibirnya bahkan berdecih. “Ya, nggak, sih. Aku kan manusia.” Safka pun lepas kontrol. Tawanya pecah lagi meski tak seperti tadi. “Ya, sudah kalau gitu. Nggak usah ngamuk juga!” Sri langsing berbalik usai bicara. Ia melepas senyum sembari membelakangi Safka. Sungguh, hatinya merasa senang tiap kali beradu argumen dengan Safka. Suaminya itu selalu bertingkah lucu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN