“Jadi, lu sekarang udah baikkan? Nggak sakit lagi kepala?”
Ucok baru saja tiba di kamar Bima. Ia yang sudah tampil rapi dan wangi itu memang buru-buru pergi menengok teman satu pekerjaannya itu. Khawatir, karena Bima belum juga mengaktifkan ponselnya.
“Ya, lumayan aja, sih. Sakitnya berkurang. Eh, tapi makasih, ya. Kalau lu nggak ada, entah deh nasib gue gimana. Mungkin, gue udah mampus kali.”
Bima tertawa kecil saat menimpali temannya itu. Namun, ia memang benar. Lewat seorang pemulung, akhirnya Ucok datang atas izin Allah tentunya. Padahal, Bima telah berbuat zalim terhadap orang lain. Tapi Allah, masih memberinya kesempatan untuk hidup.
“Gue kan gitu emang. Selalu ada untuk siapa saja yang membutuhkan. Eak!” timpalnya seraya melebarkan tawanya. Namun, yang dikatakannya pun memang benar. Tak sekali dua kali, Ucok datang di waktu yang tepat ketika Bima kesulitan. Entah saat Bima terlilit hutang, atau saat Bima jatuh dari motornya. Ucok terbatuk. Ia pun langsung menyeruput minuman yang disuguhkan Fatimah.
“Bisa aja lu. Tapi lagi nih, lu tau kabar tentang Sri nggak? Gue sampe kepikiran sumpah. Takut dia kenapa-kenapa.” Bima berbisik, sedikit memelankan suaranya agar tak terdengar sampai keluar kamat.
“Lah, emang si Sri kenapa? Gue aja nggak tau lu kenapa.” Ucok yang baru saja selesai minum pun meletakkan gelasnya lagi. Ia haus karena belum sempat minum setelah selesai mandi. Air dalam gelasnya sampai habis tak bersisa.
“Gue dipukul lakinya, Bro.” Bima berbisik lagi. Tatap matanya bahkan mengedar seketika, melihat ke arah pintu. Barang kali, ibunya sedang menguping. Namun, ibunya itu justru sedang memasak.
“Ah, yang bener? Emang kenapa kok bisa dipukul? Lu tadi beneran nemuin si Sri?” Ucok pun balas berbisik. Paham kalau Bima sedang ingin bicara dari mata ke mata. Namun, selesai minum, tangannya tak langsung diam. Alih-alih membawa buah tangan, ia justru asyik memakan makanan Bima yang disediakan Fatimah.
“Ia, Bro. Bodohnya lagi, gue nggak bisa ngendaliin diri.” Bima langsung menyengir. Meski dirinya amat sangat menyesal, ia juga tak bisa menyembunyikan kebegoannya. Bima mengedarkan pandangannya kembali, memastikan keadaan. Sedang raut wajahnya menunjukkan penyesalan.
“Aih! Lu ngapain emang? Jan bilang lu ngelakuin yang nggak-nggak sama si Sri?” tanya Ucok, penasaran. Ia sampai menghentikan kunyahannya barang sedetik. Kemudian mengunyah makanan lagi karena mulutnya telah kosong.
“Nggak, sih. Tapi mungkin hampir.” Wajah Bima langsung merengut. Ia menyesal betul karena sudah membuat Sri akan menjauh darinya. Diraihnya stoples berisi kacang goreng. Ia memakannya sembari menahan tangis penyesalan.
“Ya, elah lu. Jadi, lu dipukul suaminya Sri karena lu ketahuan?” tanya Ucok kembali. Jika tadi dirinya berhenti mengunyah, sekarang, mulutnya sengaja ia penuhi sampai susah mengunyah. Saking kaget mendengar apa yang dikatakan Safka.
“Betul banget. Tapi sih gue yakin kalau si Sri nggak kenapa-kenapa.” Bima yang sedari tadi duduk menunduk sambil mengunyah kacang goreng itu pun mendongak, melihat Ucok.
“Kenapa lu yakin gitu? Coba lah jelasin lebih banyak biar gue nggak penasaran, Bro!” Ucok mencondongkan kepalanya ke arah Bima. Sebelah alisnya ia gerakkan seiring dengan wajah menyeringai.
Bima tertawa. Tangannya refleks mencomot wajah Ucok seraya mendorongnya sampai kembali duduk tegak. “Tapi biasa aje muka lu, Oncom!” ucapnya saat itu juga, yang kemudian mencipta gelak di antara mereka.
“Rame banget, ngomongin apaan?” tanya Fatimah dari luar kamar. Ia berdiri di ambang pintu, seraya mencondongkan kepala ke dalam. Ia curiga terhadap obrolan anak dan sahabatnya itu.
“Aih, Ibu.” Ucok dan Bima masih tertawa, meski kemudian mereda karena malu juga. “Ini loh, Bang Ucok lagi curhat. Katanya, dia ini udah kebelet kawin. Tapi calonnya belum ada!” sambung Bima. Ia menyengir pada ibunya itu.
“Ya, ampun Ucok ... Ucok. Cari lah dulu calonnya. Baru ngebet kawin. Dah lah, kalian mau makan nggak? Ibu udah beres masak tuh.” Fatimah melangkah maju barang sejengkal. Posisinya sudah di dalam kamar sekarang. “Kalau mau, biar Ibu bawa ke sini makanannya.”
“Wah, kebetulan sekali, Bu. Setelah curhat panjang lebar masalah dunia perkawinan, Ucok lapar. Ucok belum makan dari siang soalnya.” Pria berkumis tipis itu menyengir lebar pada Fatimah. Ia memang merasa lapar setelah bekerja seharian. Tidak ada Bima di bengkel, membuat ia sibuk sendiri tanpa sempat mengisi perut.
“Ah, itu sih memang kamunya aja yang sengaja datang buat minta makan. Iya, kan?” Fatimah lantas berbalik, keluar dari kamar sembari menertawakan sahabat anaknya itu.
“Si Ibu. Suka bener kalau ngomong!” Ucok tertawa juga. Hidup seorang diri setelah ditinggal mati oleh ibu dan bapaknya itu, ia memang lebih sering makan di rumah Bima. Bukan karena tidak ada biaya, atau tak bisa masak. Melainkan karena ia tak pernah merasa nikmat setiap kali makan sendirian.
“Lu serius belum makan dari siang, Bang?” tanya Bima, setelah ibunya hilang dari pandangan. Sedang tangannya sibuk mengupas jeruk.
“Serius lah. Lu pikir aja sendiri, Bim. Ada lu aja kita sering keteter sama pelanggan yang datang bawa motor apa mobil butut mereka. Lah, dah dua hari ini gue kerja sendiri. Bayangin!” timpal Ucok seraya mengambil jeruk yang telah dikupas Bima. Ia membelahnya menjadi dua bagian. Satu bagian ia makan dengan sekali hap, satu bagian lagi ia kasih kembali pada Bima.
“Sama-sama!” singgung Bima, karena Ucok telah mengambil jeruk yang baru saja dikupasnya. Lantas, ia memakan bagiannya satu per satu. Ucok tergelak. “Eh, tapi ... kan di bengkel lu ditemenin Bang Temi. Masa nggak sempet makan?!” sambungnya.
“Jah! Lu pikir Bang Temi ngebantu banget? Kagak!” Ucok menghentikan tawanya. Ia kembali mencondongkan wajah ke arah Bima. “Dia itu, mentang-mentang anak bos, kerjaannya banyakan molor!”
Mendengarnya, Bima pun langsung tergelak. Betapa ngenes nasib temannya itu. “Ya, sudahlah. Terima nasib aja. Lu kan ahli. Jadi ya masih bisa lah sibuk sendiri,” ucapnya, tak berapa lama.
“Ya, mau gimana lagi gue? Kalau males-malesan udah pasti dipecat lah jadi calon menantu.” Ucok menimpali kembali, diiringi dengan senyuman malu-malu.
“Dih! Lu naksir si Nisa? Ah, yang bener aja lu. Masa naksir sama anak bos? Kagak bakal mau dia sama lu!” balas Bima, menggodanya. “Udah kismin, jelek, dekil pula.”
“Wah, jan ngeledek lu. Gini-gini, gue manis.” Ucok langsung bergaya. Ia menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari tangan. Lantas membentuk jempol dan telunjuk menyerupai huruf L. Ditempelkannya kah di dagu, sembari menyeringai kembali. Tingkat kepercayaan dirinya begitu tinggi.
“Ya, memang. Tiap hari dikerubuti oli, lama-lama jadi manis kek gulali!” Bima masih tergelak. Sampai-sampai ia pegangi kepalanya yang sedikit sakit. Ia terbatuk.
“Hati-hati lu. Jan ketawa mulu napa? Ngeri gue liatnya kalau lu megang-megang kepala gitu. Sakit banget, kah?” Wajah Ucok yang tadinya menyeringai lucu, sekarang menyeringai tegang. Ia bahkan langsung mendekat dan ikut memegang kepala Bima perlahan.
“Nggak. Cuma jeletit sedikit doang.” Bima melepas tangannya dari kepala. Tersenyum lagi setelah sebelumnya meringis menahan nyeri. “Lagian, lu juga nggak bisa banget kalau nggak ngerusuh. Kan gue pen ketawa terus!” sambungnya setelah merasa baikkan.
“Rusuh apa?” tanya Fatimah yang baru saja masuk, tanpa mengetuk pintu kamar sebab dibiarkan terbuka sejak tadi. Ia membawa nampan berisi dua porsi makanan dalam piring.
“Eh, Ibu lagi.” Ucok menoleh, mendongak melihat ibu dari sahabatnya itu. “Kalau datang suka ngagetin, ya?” Sambungnya.
Fatimah pun duduk bertekuk lutut di samping Bima. Lalu, ia meletakkan nampan di lantai beralaskan karpet, perlahan-lahan. “Udah jangan bercanda mulu. Kalian makan, deh. Ibu nau bersih-bersih di dapur!” katanya seraya bangkit berdiri.
“Oh, iya, Bu. Makasih sebelumnya.” Ucok kembali menimpali. Ia bahkan langsung mengambil jatah makanannya. “Gue makan duluan!” ucapnya lagi setelah Fatimah pergi.
“Gue juga lah!” timpal Bima seraya mengambil piring berisi makanannya. Ia lantas melahap sayu suapan, menyusul Ucok. Sambil mengunyah, rasa ingin tertawa membuatnya tergelitik geli.
“Sambil cerita masalah tadi lah, Bro.” Ucok meminta, di tengah-tengah mulut penuh. Ia mengunyah dengan susah payah.
Namun, Bima menolak. “Lain kali aja gue cerita. Sekarang keburu lupa!” katanya, dengan diselingi tawa pelan.