Tak melihat Sri keluar dari kamar, Safka berdiri di depan kamar istrinya itu setelah mempertimbangkan. Sri sudah bilang kalau dirinya ingin beristirahat. Namun, Safka penasaran kalau tidak memastikan keadaan Sri.
Dia yang melihat Sri dilecehkan saja masih merasa ngeri sampai sekarang. Sudah tentu, Sri jauh lebih merasa ngeri. Diketuknya pintu kamar, kemudian ia membukanya. Pintu kamar Sri tidak terkunci.
“Sri?!” ucapnya, seraya mencondongkan wajah ke dalam. Ia langsung mengedarkan pandangan. Kemudian tertuju hanya ke arah ranjang saja. Sri ada di sana. Istrinya itu sedang berbaring.
Tak mendapati jawaban, Safka pun berjalan pelan menuju ranjang. Ia berdiri di samping Sri kemudian duduk di tepi sana. Wajah Sri terlihat begitu lelap seperti tanpa beban. Bahkan berseri meski dalam keadaan tertidur.
Safka tersenyum tipis melihatnya. Bersyukur karena ternyata, apa yang ia takutkan tak terjadi. Sri terlihat baik-baik saja. Istrinya itu seperti tidak terganggu oleh pikiran-pikiran buruk yang menimpanya kemarin pagi.
Namun, ketika tangannya itu refleks mengusap kepala Sri, istrinya langsung membuka mata. Sri terkejut sampai berdebar jantungnya hebat. Tubuhnya pun gemetar dan berkeringat. “Kamu ngapain?” tanyanya seketika. Sri menelan ludahnya dengan susah payah tanpa bisa menggerakkan tubuh. Ia merasa kaku.
“Kaget?” Safka justru balik bertanya. Ia tertawa kecil sembari menggaruk pelan hidungnya yang tiba-tiba berasa gatal.
“Iyalah. Gimana nggak kaget, lagi tidur tiba-tiba ada sentuhan?” Sri pun berdeham, merasa semakin kikuk karena Safka berada dekat di hadapannya. Membuat ia seketika berpaling, menghindari tatapan Safka. Namun, tubuhnya masih saja sulit ia gerakan.
“Maaf. Tadi aku hanya ingin mastiin kamu baik-baik aja, Sri. Eh, ternyata kamu udah tidur. Jadi ya aku duduk di sini aja bentar. Kali kamu msu bangun. Dan ternyata bangun.” Safka pun sama. Ia mengalihkan tatapannya sembari mengubah posisi duduk, di mana tadi menghadap Sri, sekarang membelakangi istrinya itu. Ia menatap pantulan dirinya sendiri dalam cermin.
“Emang kalau aku bangun mau ngapain?” Sri masih menghindar. Ia tak mau melihat Safka.
Namun, detik berikutnya, saat Safka tiba-tiba berbalik dan menumpukan kedua tangannya di kedua sisi tubuh Sri, istrinya itu langsung terperanjat. Ia terpejam kuat sebelum akhirnya membuka mata perlahan. Safka berada tepat di hadapannya. Bahkan, hampir tanpa jarak, sehingga helaan napas suaminya itu terasa hangat di wajah Sri.
Sri menelan ludahnya lagi. Selain kesulitan bergerak, ia kesulitan bicara juga, sehingga ia merasa begitu susah untuk menyingkirkan Safka dari hadapannya. Namun, yang lebih dikhawatirkannya adalah rona di wajah. Ia merasa kepanasan sehingga yakin kalau wajahnya sudah semerah tomat.
Safka tersenyum melihat kegugupan Sri yang kentara di hadapannya. Ia tahu kalau Sri pasti sedang merasakan debar di d**a, juga panas di sekujur tubuh. Sama seperti dirinya yang memang merasakan hal demikian. Cinta! Begitu Safka menyebut perasaan yang dirasanya terhadap Sri.
Karena Safka tak kunjung bicara, juga dirinya yang pegal karena kelamaan gugup, wanita berbaju seksi itu pun berdeham. Safka tertawa kecil mendengarnya. Ia bahkan langsung mencubit hidung bangir istrinya itu.
“Kalau kamu bangun, aku mau ajak kamu makan. Aku lapar soalnya,” ucap Safka pada akhirnya. Ia lantas menarik diri, menjauh dari tubuh istrinya lagi. “Kamu lapar juga nggak” tanyanya.
Sri langsung menghela napas lega. Dirinya bahkan langsung beranjak duduk dan menutupi kedua kakinya yang seksi dengan bantal, sambil bersila. Ia berdeham-deham. “Lapar, sih. Tapi kan udah malam. Tidur aja, sih!” timpalnya.
“Kalau lapar, mana bisa tidur, Sri? Aneh kamu tuh.” Safka menggeleng sambil tertawa lagi. Berada di dekat Sri, hari-harinya penuh dengan canda dan tawa, sehingga ia merasa perutnya terus dikocok.
“Iya, juga, ya. Ya, sudah ayo kalau gitu!” timpal Sri yang memang lapar juga. Seingatnya, mereka makan jam satu siang tadi. Sampai runah6 langsung males-malesan, dengan dalih beristirahat.
Safka pun mengangguk dan seketika berdiri. Kemudian ia menyodorkan tangannya, mengajak Sri bergandengan tangan. Perlahan, Sri pun menerima uluran tangan suaminya itu. Ia berdiri dan seketika ikut berjalan saat Safka menariknya dari depan.
“Eh, tapi memangnya mau makan apa?” tanya Sri, keheranan. “Kamu masak?” tanyanya lagi.
“Nggak. Aku nggak masak.” Safka menimpalinya seraya membuka pintu kamar. Lalu keduanya pun keluar beriringan dari sana.
“Lha terus, masak dulu nih?” Sri bertanya lagi, ketika langkah keduanya tiba di anak tangga. Ia turun, dengan dituntun Safka.
“Nggak juga.” Safka menjawab lagi sambil menyengir. Senang betul kalau sudah menghidupkan istrinya itu.
“Dih! Masa kita mau makan angin?” Sri masih saja bawel bertanya. Sebab bingung dengan jawaban Safka.
Safka berbalik, menghadap Sri tanpa aba-aba sehingga membuat Sri terperanjat kaget. “Bisa diem dulu nggak? Terpenting kita makan aja, kan?” tanyanya, sembari memasang wajah serius.
“I-iya, iya!” timpal Sri, kaget.
***
“Waw!”
Sri menarik kedua belah sudut bibirnya begitu keluar dari halaman rumah berpagar Safka. Hari sudah begitu gelap, dan jalanan pun begitu sepi dari lalu-lalang kendaraan. Ia mengedarkan pandangan, melihat ke sekeliling. Tak seorang pun ada di sana, selain satpam kompleks yang berada di pertigaan jalan.
“Kenapa?” Safka mengernyit heran melihat ekspresi Sri. “Kek nggak pernah liat malam aja kamu. Padahal, jika dibandingkan dengan di kampung, di sana jauh lebih sepi. Padahal masih jam sembilan malam,” sambungnya.
“Nggak. Cuma heran aja aku tuh.” Sri tertawa kecil sembari memeluk dirinya dengan kedua tangan. Sedangkan pandangannya, sekarang beralih pada Safka.
“Heran kenapa?” Safka langsung bertanya. Wajahnya masih sama heran seperti tadi.
“Kita kan udah keluar rumah dari tadi, ya. Tapi kok aku baru berasa dingin setelah keluar dari pintu pagar!” jawabnya, yang seketika memecah keheningan.
Safka tertawa, bahkan sampai terbahak. Istrinya itu konyol. “Kamu ini benar-benar, ya!” umpatnya, seraya meraih sebelah tangan Sri. “Kita jalan sekarang lah. Kebanyakan ngobrol malah makin lapar,” sambungnya lagi.
“Benar-benar apa?” tanya Sri yang mengikuti ke mana pun Safka membawanya. Ia berjalan cepat, karena langkah kaki Safka yang lebar.
“Benar-benar cantik, baik, dan konyol.” Safka menoleh tanpa menghentikan langkah kakinya. Ia terus berjalan sampai akhirnya tiba di pertigaan. Ada pos di sana. Dan, empat satpam berjaga setiap malam.
“Dih!” Sri pun pura-pura hendak menonjok. Membuat Safka seketika kian tergelak. “Berisik, ih!” lanjutnya seraya memperhatikan sekitar. “Meski pun sepi, kita kan nggak tau, hantu apa yang sedang berkeliaran di daerah sini.”
“Jiah. Penakut, berani ngomong hantu? Hantunya ngikut ke mana pun kamu pergi, baru tau rasa, ya!” timpal Safka, dengan sengaja balik menakuti Sri. Pasalnya, Sri yang takut kegelapan sudah berani menakuti Safka.
“Apaan, sih?! Nggak lucu, deh!” umpat Sri yang seketika memfokuskan tatapannya ke depan saja. Safka benar. Ia lupa, kalau dirinya itu adalah seorang penakut. Tepatnya adalah takut kegelapan.
“Lucu lah. Masa nggak? Eh, tapi ... Kalau nanti beneran ada hantu yang ngikutin kamu, kamu nggak usah nyari aku buat minta tolong, ya? Awas aja!” Safka menoleh, melihat Sri dengan tatapan julid.
“Udah deh. Ngapain bahas hantu? Kita mau ke mana ini sebenarnya malam-malam keluar rumah jalan kaki? Punya mobil juga!” Sri balas mengejek. Ia bahkan langsung menirukan ekspresi Safka saat menyeringai padanya barusan tadi.
“Dih! Ini tuh namanya romantis. Coba deh liat drama-drama Korea. Mereka itu justru lebih banyak jalan kakinya dari pada naik mobil.” Usai bicara, Safka langsung menyentuh kening Sri dengan telunjuknya saja. “Dasar! Ketahuan deh nggak pernah nonton Drakor!” lanjutnya seraya menoyor pelan kening istrinya itu sambil tergelak.
“Lah, daripada kamu. Cowok kok nonton Drakor? Nggak maco!” Ledek Sri kembali. Ia puas sehingga langsung tertawa.
Safka menggeleng menanggapi ocehan Sri barusan. Ia kalah telak sehingga tidak lagi menjawab. Namun, begitu melewati beberapa rumah gedongan, ia pun mulai melihat peradaban. Di hadapannya, sebuah gapura besar terbentang tinggi membatasi kedua sisi pintu masuk perumahan. Di sana, di kedua sisi bagian depan gapura, para pedagang menjajakan dagangannya sampai melewati larut malam.
“Tuh, liat!” titahnya, pada Sri yang sedari tadi menundukkan kepala.
“Apaan?” Sri justru melihat Safka karena tak berani melihat ke depan yang ia pikir sangat gelap.
“Bukan liat ke sini. Tapi ke sana tuh!” ucap Safka kembali sembari meraih dagu Sri. Lantas, ia mendorong wajah istrinya itu sampai lurus ke depan. “Kelihatan?” tanyanya.
“Kelihatan apaan, sih? Yang ada gelap tau!” balas Sri sambil cemberut.
“Masa, sih?” Safka langsung memastikan kembali kalau di hadapannya itu tampak ramai. Orang-orang berlalu-lalang dengan kendaraannya. Belum lagi para pejalan kaki Seperti dirinya itu. “Itu kelihatan, Sri. Rame banget di depan!” sambungnya seraya melihat Sri. “Astaga!” Ia langsung mengacak rambut istrinya itu. “Ya, gimana mau kelihatan, Sri. Kalau matanya kamu tutup gitu!”