Sri yang takut melihat lurus ke depan itu memang memejamkan matanya erat, tepat ketika Safka mendorong wajahnya tadi. Ia menyengir begitu Safka melihatnya terpejam. Namun, belum juga mau membuka mata.
“Kamu tuh, ya. Buka dulu kenapa? Aku nggak bohong. Kita udah sampai di jalan depan.” Safka yang beralih ke hadapan Sri pun menyentuh kedua mata istrinya itu dengan tangannya. Ia memaksa kelopak Sri agar terbuka, dengan menarik-nariknya pelan menggunakan telunjuk dan ibu jari.
“Iya, iya, ish!” Sri pun tergelak dan segera membuka mata, setelah menyiapkan mentalnya terlebih dahulu. Barangkali, Safka memang bohong dan ia akan terkejut dibuatnya.
Namun, begitu Safka menyingkir dari hadapan Sri, istrinya itu langsung melebarkan pandangan. Apa yang dilihatnya, sesuai dengan apa yang dikatakan Safka. Ia menyengir lagi seraya melihat Safka barang sekejap. Sebab ia kembali melihat lurus ke depan.
“Jadi, kita mau ke mana ini?” tanya Sri setelahnya. Karena sudah melihat suatu tempat dengan banyak lampu penerangan, Sri pun berani melangkah lebih dulu. Ia mendahulukan Safka.
“Terserah kamu. Aku ikut mau kamu apa aja, Sri.” Safka menimpali istrinya itu sambil mengekor. Sedang bibirnya tidak berhenti tersenyum lagi dan lagi.
“Ya, nggak bisa terserah dong. Kita pasti punya selera yang sama.” Sri bicara lagi tanpa menoleh. Ia terus saja berjalan sembari mengamati apa yang ada di hadapannya. Saat malam, tempat masuk perumahan itu memang selalu ramai oleh pedagang dan pembeli.
“Bisa lah. Tapi kalau memang kamu nggak yakin kalau aku bisa ikut apa yang kamu makan. Nanti, kamu pesan dahulu. Baru aku akan tentukan, makan dengan menu yang sama atau beda.” Safka mengejar Sri. Sebab ia ketinggalan beberapa langkah sampai harus berteriak saat bicara pada Sri.
Sri mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan Safka barusan. Namun, di sisi lain, seorang gadis bari saja memperhatikan Safka. Wanita itu sedikit kesal karena Safka sedang bicara akrab dengan seorang perempuan. Ia yang seketika penasaran pun langsung beraksi, beranjak turun dari mobil yang ditumpanginya menuju pulang. Ia adalah Dian Ahmad, mantan Safka, dan rekan kerja di perusahaannya. Ia biasa dipanggil Dian.
“Mau ke mana? Aku antar, ya?” pinta lelaki paruh baya yang berada dalam mobil yang sama dengan Dian Ahmad. Namanya Fauzy Anwar. Ia adalah pemilik dari salah satu perusahaan besar di ibu kota.
“Eh, nggak usah, Mas. Aku turun di sini aja nggak apa-apa, ya? Ada yang harus aku beli dulu soalnya buat Ibu di rumah. Makasih loh udah ngajak makan.” Dian yang baru saja mengeluarkan sebelah kakinya itu pun menoleh barang sebentar ke samping. Lelaki yang ‘katanya’ mencintainya itu tampak kecewa.
“Kan bisa aku tungguin. Aku kan nggak ada rencana ke mana-mana dulu. Ya?” Fauzi pun memohon. Ia yang tadi hanya sempat mengajak Dian makan malam, masih merasa rindu dan ingin bersama.
“Nggak usah, Mas. Besok-besok lagi aja kamu anterin aku pulang, ya? Lagian, tadi, istrimu udah nelepon, kan? Pulang lah.” Dian tersenyum, seiring dengan ucapan kembut dari mulutnya. Ia tahu kalau Fauzi telah mempunyai istri dan juga anak yang berumur tak jauh darinya. Namun, demi kelancaran hidupnya, ia rela menjadi teman dekat. Teman di mana harus selalu siap saat dimintai datang. Juga harus selalu lemah lembut saat bertutur kata. Sekalipun Diana sedang dalam keadaan kesal seperti sekarang.
Pasalnya, ia baru saja melihat Safka dengan seorang wanita cantik. Wanita yang ia yakin kalau itu adalah istri Safka. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa tidak Setuju. Sebab dirinya lah yang pantas menjadi istrinya Safka.
“Ya, sudah kalau gitu. Tapi kamu, hati-hati, ya?” Fauzi pun mengizinkan keinginannya itu ditolak oleh Dian. Ia merengut sedih, karena harus berpisah dari Dian.
“Huum. Kamu juga, ya?” balas Diana setelah turun dan mencondongkan badannya saja ke dalam mobil. Lalu ia meminta Fauzi untuk mendekat. “Besok kita jalan lagi, ya. Kalau perlu kita nginap di hotel!” lanjutnya, sebelum kemudian ia mengecup bibir keriput, merah kehitaman nan tebal juga. Yang jika di mana Dian tidak membutuhkan uang, hal itu tidak akan pernah is lakukan.
“Wah, kamu memang yang paling bisa deh. Berarti, besok kita ketemu, ya? Janji, kan?” Fauzy memastikan. Sebab dirinya takut kalau Dian Ahmad hanya sedang berpura-pura, seperti waktu dulu di mana mereka batal ketemu karena Dian yang ingkar janji.
“Iya. Kali ini aku nggak bakal ingkar. Dah, ya. Bye!” balasnya seraya cepat menutup pintu mobil. Bahkan tanpa mendengar Fauzi bicara dulu lagi. Dian pikir, Lelaki yang bersamanya itu terlalu lebai.
Lepas dari ATM berjalannya itu, Dian langsung berlari menuju tempat di mana Safka dan Sri sempat berdiri. Namun, Dian kehilangan jejak mereka. Pasangan pengantin baru itu menghilang dari jangkauan.
Dian tak menyerah. Ia langsung mencari, memeriksakan satu per satu pedagang kaki lima. “Ke mana, sih? Perasaan tadi mereka di sini, deh. Kok sekarang ilang?” tanyanya pelan. Ia berkeliling, mengedarkan pandangan berulang kali sampai akhirnya menemukan orang yang ia cari.
“Nah, itu dia.”
Kedua belah sudut bibir merah meronanya itu menyungging lebar. Dian langsung bergegas menuju pedagang sate. Tempat itu ramai pembeli sehingga tadi, ia tak melihat Safka sama sekali. Padahal, sedari datang, Safka langsung duduk di antara pembeli lain.
“Hei!” sapanya begitu tiba di samping Safka. Dia tersenyum palsu begitu Safka dan Sri menoleh melihat kedatangannya.
“Eh, hei?!” Safka pun membalas sapaan Dian. “Kebetulan banget ketemu kamu di sini. Kamu mau makan juga?” tanyanya.
“Um, nggak, sih. Tadi aku beres makan di sana!” balas Dian sembari menunjuk pedagang soto. Ia berbohong. “Cuma karena lihat kamu di sini, jadi aku ke sini aja. Nggak ganggu, kan?” tanyanya. Ia tersenyum lagi pada Safka dan Sri.
“Nggak lah. Kita baru aja mau makan. Kamu kalau mau ikut makan lagi ya ayo.” Safka pun langsung meraih sebelah tangan Sri. Ia mengepalnya erat sambil tersenyum. “Kenalin, ini istriku. Sayang, ini temen aku pas lagi kuliah,” lanjutnya seraya memperkenalkan kedua wanita di sampingnya itu.
“Udah ngira, sih. Kenalin, aku Dian. Namamu?” Wanita berpenampilan jauh lebih seksi daripada Sri itu mengulurkan tangan, meminta salam. Ia menelengkan wajahnya ke arah Sri sembari melempar senyum.
“Sri.” Gadis kampung itu menjawab dengan satu kata saja. Ia balas tersenyum, malu-malu. Pasalnya, wanita di samping suaminya itu benar-benar cantik. Dia juga manis dan seksi. Beda jauh dengan dirinya yang bahkan hanya memakai daster.
“Oke.” Dian mengangguk-angguk sembari menarik wajahnya lagi. Ia kembali melihat Safka. “Istrimu cantik juga, ya. Sama dengan namanya lah. Cantik. Tapi, aku lihat tadi kalian jalan kaki. Padahal kan lumayan jauh dari rumahmu ke sini. Mana malam juga.”
“Lagi pengen lama-lama di luar aja, Dian. Kalau naik mobil kan cepat. Jadi, ya gitu lah.” Safka menjawab sebenar-benarnya. Ia memang sengaja karena ingin berlama-lama bersama Sri.
“Romantis banget sih kalian. Padahal nih, ya, Mbak Sri, dulu itu Safka orangnya dingin. Aku yang cantik aja sering dianggurin.” Dian mulai membicarakan masa lalu. Sri hanya tersenyum sama menanggapinya.
“Itu kan dulu. Sekarang dah ada peningkatan lah.” Safka pun tersenyum lepas, karena tidak mengetahui niat jelek Dian sama sekali. Ia memang selalu berpikir positif pada setiap orang. Barulah setelah beberapa saat, dirinya akan sadar.
“Dasar. Coba dari dulu kamu kaya gini. Yang jadi istrimu pasti aku “
Apa yang diucapkan Dian barusan seketika membuat Safka dan juga Sri terkejut. Jika Safka kaget karena takut kalau Sri akan berpikir yang tidak-tidak, Sri kaget karena tak mengira saja akan bertemu wanita yang dikiranya mantan pacar suaminya itu.
“Eh, maaf bercanda.” Dian pun langsung melanjutkan ucapannya. “Maaf, ya.” Ia berucap lagi pada Sri.
“Nggak apa-apa, Mbak. Santai aja,” balas Sri sembari membalas senyuman Dian juga. Padahal, jauh di dalam lubuk hatinya, ada rasa tak nyaman. Ia tak suka melihat Dian berada dekat dengan Safka. Namun, ia yang belum menyadari perasaannya itu buru-buru menepis setiap rasa yang muncul, sehingga redam rasa tak nyamannya itu dengan sendirinya.
“Dahlah. Daripada ngobrolin masa lalu, mending kita makan.” Safka langsung mengalihkan pembicaraan mereka, karena pesanannya memang baru saja datang. “Kalau mau, biar aku pesankan. Nanti aku yang bayar.”
Namun, meski berhasil membuang rasa tak nyamannya, sekarang, Sri merasa tidak berselera makan. Rasa laparnya seolah hilang bersamaan dengan rasa tak nyamannya tadi. Padahal, sebelum Dian datang, ia begitu merasa amat lapar.
“Nggak, Mas. Aku dah kenyang kok.” Dian memanggil Safka dengan sebutan Mas. Sengaja untuk membuat Sri kian cemburu. Sebab sebagai seorang wanita berpengalaman, ia tahu dari raut wajah Sri, kalau istri dari lelaki yang disukainya itu sedang terbakar api cemburu.
Safka terbatuk. Ia kembali dibuat kaget oleh Dian. Segera ia pun mengadap Sri tanpa menghiraukan ocehan Dian. “Sini biar aku kupas dan potongin lontongnya, ya. Makan yang banyak,” katanya.
“Iya, O—“ Sri hampir memanggil Safka dengan sebutan Om. Namun, karena sadar akan situasi, ia pun urung memanggil suaminya dengan sebutan itu. Namun, ia juga tak memanggil Safka dengan sebutan lain. Ia hanya mengiyakan saja pada akhirnya.
“Setelah ini, nanti kita jajan.” Safka berucap lagi, seraya berusaha menyenangkan hati Sri. Sebab ia juga tahu kalau Sri merasa tidak nyaman dengan keberadaan Dian. Namun, caranya itu sudah seperti membujuk anak SD saja, sehingga membuat Dian tersenyum diam-diam.
Wanita berbaju hitam dengan panjang hanya sepaha itu pun berdiri. “Aku pamit pulang dulu, deh, Mas. Udah malam dan, rasanya kalian terganggu oleh kehadiran aku di sini,” katanya.
“Eh, nggak. Iya kan, Sayang. Kita nggak ngerasa keganggu.” Safka berbohong. Padahal, ingin rasanya agar Dian segera pergi. “Tapi kalau memang mau pulang sih nggak apa-apa. Udah malam emang. Tapi, kamu sendiri?” tanyanya.
“Iya. Kenapa, mau nganterin?” goda Dian, sengaja membercandai temanya itu.
“Nggak lah. Aku kan nggak bawa mobil.” Safka tertawa kecil sembari mulai melahap makanannya.
“Oh, iya. Tapi kalau kamu bawa mobil, pasti nganterin aku dong?” Dian berucap julid kembali. Ia harap, Sri kian cemburu.
“Nggak juga. Terkecuali kalau Sri memberi izin. Itu pun kalau Sri ikut mengantar.” Safka tersenyum pada istrinya itu. “Iya, nggak?” tanyanya.
Sri hanya mengangguk. Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
“Ok. Kalau gitu, aku permisi ya. Selamat makan,” ucap Dian yang akhirnya mengaku kalah. Ia lantas berlalu meninggalkan tempat tersebut setelah mendapati anggukan dari Safka dan Sri. “Tapi gue nggak bakal nyerah! Safka harus aku miliki. Tak peduli, meski aku menjadi selingkuhannya!” Dian membatin.