Bahagia Karena Kamu

1090 Kata
“Itu mantan kamu kan, Om? Cantik.” Lama setelah Dian meninggalkan tempat itu, juga setelah Sri dan Safka selesai makan, ia bertanya karena merasa sangat penasaran. Kedua tangannya ia lipat di d**a, kemudian ia bersandar sembari melihat Safka. Suaminya itu menggeleng. “Ih, mana ada. Fia cuman temen aja, kok,” jawabnya seraya balas menatap Sri. Dilihat dari tatapan Sri, Safka rasa istrinya itu tak percaya. “Tapi emang cantik, sih,” lanjutnya, disertai tawa kecil. “Dih!” Sri langsung berdecih, tertawa sampai terbatuk. “Bohong banget kamu, ya. Orang kelihatan kok kalau dia itu cemburu sama aku. Gini-gini, aku pengamat yang baik loh!” ucapnya lagi. Ia langsung memasang wajah songong. “Cantik kalau nggak bikin hati tertarik, masa iya harus dipacari? Aneh kamu ini. Tapi, kalau emang kamu itu pengamat yang baik, kenapa belum juga bisa terima aku? Aku tulus loh sayang sama kamu.” Safka langsung menggunakan kesempatan tersebut untuk mengatakan isi hatinya. Bahwa, ia sudah tidak begitu sabar. Menunggu sampai satu bulan lamanya itu membuat otak dan hatinya pegal. “Sabar lah. Belum juga seminggu dari kita bikin perjanjian. Meski dapat mengamatimu dengan baik, aku masih perlu waktu untuk merasa yakin. Itu pun kalau aku yakin, ya? Ha-ha!” balas Sri, diiringi gelak tawa. “Lagian, kamu tau sendiri kalau sebelum ini, aku jatuh cinta sama siapa kan? Nggak mudah dong buat aku berpaling gitu aja?” tanyanya. “Iya, sih. Tapi setelah Bima hampir melecehkan kamu, apa iya kamu masih cinta? Heran aja kalau masih!” Safka pun sedikit kepanasan. Selain karena cemburu, ia masih merasa kesal akibat Bima yang hendak melecehkan istrinya itu. Wajah ceria Sri seketika berubah sayu. Ia bahkan langsung berpaling, menghindari tatapan Safka. Sebab, matanya itu mudah sekali berkaca-kaca, sehingga dirinya harus menahan emosi agar tak lekas menangis. “Maaf. Tapi aku harus ngomong itu, biar kamu sadar, Sri. Lelaki kayak gitu, apa pantas kamu cintai? Nggak! Dia itu b***t!” ucap Safka kembali. Ia meraih sebelah tangan Sri dan menggenggamnya erat. “Aku ingin kamu bahagia. Bersamaku saja,” sambungnya. “Dia bukan orang yang jahat, Om. Meski aku sendiri nggak tau, kenapa dia bisa kayak gitu. Sebelumnya, tak sekalipun Bima pernah menyentuh aku.” Sri berucap parau. Tak kuat dirinya menahan sedih, sehingga air matanya tetap keluar. “Hei, kamu kok nangis?” Mendengar suara Sri, Safka pun yakin kalau istrinya itu sedang menangis. Lebih jelas lagi saat ia menarik dagu lebah menggantung itu, sehingga Sri melihatnya kembali. “Aku minta maaf. Aku nggak ada maksud buat ingetin kamu lagi,” sambungnya seraya mengusap lembut air mata Sri dengan kedua ibu jarinya. Ia ikut merasa sedih. “Nggak apa-apa. Aku nangis karena nggak bisa nahan sedih aja.” Sri berucap parau sambil tersenyum. Ia juga mengedarkan pandangannya, melihat ke beberapa penjuru. Di sana masih banyak orang. Namun, mereka asyik sendiri-sendiri sehingga Sri tidak perlu merasa malu. Tidak ada yang memperhatikannya di sana. “Ya, sudah. Karena kita dah selesai, mending sekarang jalan bentar ke sana, yuk?” ajak Safka, seraya menunjuk ke seberang jalan. Di sana ada sebuah minimarket. Sri mengangguk dan seketika menyunggingkan senyuman. Ia tahu kalau dirinya tidak perlu berlama-lama bersedih. Karena menangis sebanyak apa pun, kejadian yang menimpanya sewaktu di kampung tidak dapat diputar untuk dihilangkan. Berdiri bersama, berjalan bergandengan, Sri dan Safka pun keluar dari warung sate tersebut. Mereka langsung menuju jalan, dan menunggu lalu-lalang sepi. Keduanya melihat ke sisi kiri dan kana berulang kali. Memastikan jalanan sepi, untuk segera menyeberang. Namun, karena masih saja ramai, butuh waktu sampai beberapa menit lamanya mereka bisa menyeberang. Sri terkocar-kacir dalam genggaman Safka. Buru-buru karena takut kalau sampai ada kendaraan yang tiba-tiba datang. Sedangkan Safka hanya tertawa saja melihat tingkah laku Sri yang lucu. “Mau beli apa emangnya kamu, Om?” Sesampainya di depan pintu mini market, Sri baru bertanya. Ia mendorong pintunya itu, kemudian masuk lebih dahulu. Dingin dari semburat AC seketika menyergap tubuh setelah sebelumnya diterpa angin malam. “Kamu maunya apa? Beli lah sana!” timpal Safka seraya melepas genggamannya. Ia sudah tiba di mini market sehingga merasa Sri sudah aman meski dilepaskan. “Apa aja? Beneran?” Sri memastikan. Ia menoleh, sampai sedikit mendongak demi melihat wajah Safka. Tingginya memang jauh dibanding Safka. Jika berdiri sejajar, kepalanya berakhir di bawah pundak Safka. “Bener dong. Dah, ayo keliling!” ajak Safka seraya melangkah maju menuju rak di mana isinya makanan semua. Ia memimpin, berjalan lebih dulu agar tak perlu berjauhan dari Sri. “Kamu suka cokelat?” tanyanya. “Suka pake banget. Makanan apa pun, aku lebih suka yang ada cokelatnya. Kalau stroberi, blueberry, nanas dan semacamnya mah nggak suka. Acem!” balas Sri seraya melihat-lihat, makanan apa yang hendak ia pilih. “Acem kek sikap kamu ke aku.” Safka tertawa kecil usai berucap. Ia bahkan langsung menjauh dari Sri, karena takut akan serangan istrinya itu. Biasanya, Sri akan memukul, atau kalau nggak pasti mencubit. Namun, kali ini, Sri justru ikut tertawa. “Perasaan aku manis, deh. Mana ada kecut?!” Ia membalas. Sedangkan tangan juga matanya fokus pada makanan saja. Ia sudah memilih beberapa, sehingga kedua tangannya penuh. Melihat itu, buru-buru Safka kembali ke depan untuk mengambil keranjang yang lupa ia bawa. Sri terenyak seraya mengikuti ke mana Safka melangkah dengan tatapannya. “Mau ke mana?” ia bertanya. “Ambil keranjang. Tunggu bentar, ya?!” Safka pun sempat menjawab. Sri mengangguk-angguk. Tangannya memang sudah tak bisa mengambil makanan lagi karena penuh. Ia tersenyum, terharu oleh kebaikan Safka. Meski satu detik berikutnya, ia langsung menepis apa yang tiba-tiba ia rasa. “Jangan tertipu dulu, Sri. Kamu belum tau betul, siapa laki-laki dewasa itu.” Sri langsung bicara pada dirinya sendiri dalam hati. Meski sudah bisa menerima kehadiran Safka dalam hidupnya, ia merasa masih perlu waktu. *** Membawa tiga kantung keresek berisi penuh dengan makanan dan minuman, Sri merasa senang betul. Ini adalah kali pertamanya berbelanja sebanyak itu. Ada pun dulu saat Bima membawanya belanja, lelaki yang hampir saja melecehkannya tidak membelikan Sri makanan sebanyak itu. Kembali berjalan kaki, menerobos kelebat angin di tengah malam, Sri dan Safka berjalan bersampingan. Keduanya berucap silih berganti, membicarakan banyak hal dengan diiringi candaan sehingga membuat kesedihan di hati Sri sedikit terobati. “Makasih belanjaannya, ya.” Meski sedari tadi bicara, Sri baru sempat mengucapkan terima kasih. Ia menyengir seraya melihat Safka sekilas. “Sama-sama. Aku senang kalau kamu senang,” balas Safka seraya menekan bel pada tiang pagar. Lantas menunggu sampai satpam keluar untuk membuka pintu pagarnya itu. “Aku bahagia. Sangat!” ucap Sri pelan. “Dan itu berkat kamu,” lanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN