Mengusapnya Lembut

1202 Kata
Sepulang dari tempat di mana Sri dan Safka makan bersama, Dian merutuk dalam taksi yang ditumpanginya. Ia kesal, marah, juga tak terima akan pernikahan Safka yang menurutnya tak cocok. Bagi Dian, yang pantas untuk menjadi istrinya itu hanyalah ia sendiri. Tidak dengan yang lain. Dalam duduk bersandar sembari melipat kedua tangannya itu Dian menghela napas panjang. Ia menghembuskannya kasar, seraya mengalihkan tatapan. Jika sebelumnya Dian menatap lurus ke depan, sekarang ia melihat ke arah kiri. Tiba-tiba, semburat kilat membentang jauh di atas sana. Dian melihat dengan jelas sampai dirinya terperenyak kaget. Lebih kaget lagi saat suara guntur menyusul. Hujan, sepertinya akan segera turun. Dian beringsut lebih ke tengah. Dirinya takut akan sambaran kilat, seperti yang kerap terjadi di beberapa tempat. Katanya, semburat kilat itu mematikan jika mengenai makhluk hidup. Ia juga semakin memeluk erat tubuhnya. “Agak cepetan dikit, ya, Pak. Sebentar lagi hujan kayaknya.” Ia berucap pelan pada sopir yang mengendarai taksinya. Dian tampak gelisah. Selain karena takut akan semburat kilat, pikirannya pun masih tertuju pada Safka. Lelaki yang sewaktu kuliah diincarnya, bahkan setelah mereka lama tidak bertemu, Dian masih menaruh perasaannya terhadap Safka. Ia tidak pernah menerima cinta orang lain, dan terus meminta agar dipertemukan kembali Safka. Hanya saja, ia tak pernah menolak ajakan seorang kaya yang ingin jalan-jalan dengannya, dengan memberinya bayaran. Namun, begitu dipertemukan oleh sebuah kabar, orang yang diharapkannya itu justru sudah menikah. Untuk beberapa saat, Dian kecewa berat sehingga berpengaruh pada pribadinya. Ia mengurung diri selama satu minggu, juga hampir tak pernah makan dalam sehari. Kerjaannya pun hanya menangis dan berteriak memanggil Safka. Tapi untungnya, kesadarannya cepat kembali sehingga ia aktif bekerja dan dipertemukan betulan dengan Safka dalam sebuah rapat. “Dia itu buta apa gimana, sih? Cewek cantik yang dari dulu mencintainya ini malah dianggurin hanya demi untuk menikahi seorang gadis kampung? Cih!” umpatnya, sambil berdecak jengkel. Betapa menyebalkan pernikahan Safka baginya. “Jangankan fisik, dari segi materi pun jelas ... aku lebih baik dari pada gadis kampungan itu. Tapi, tapi kenapa coba? Apa yang salah dengan aku? Baik sudah, kalem sudah, berusaha untuk menjadi wanita pintar dan sukses pun sudah.” Dian merutuk lagi dan lagi, seiring dengan raut wajah kian semerawut. Sesekali ia berdecih, sesekali juga menyelipkan rambutnya yang berantakan ke balik telinga. Hati juga jiwanya panas. Sedang tubuhnya bergetar tak terima. Namun, sadar kalau ada yang menertawakan ocehannya itu, Dian berdeham. Ia merapikan rambut sembari membenahi posisi duduk, sebagai upaya mengendalikan rasa malu. “Kenapa, Pak?” tanyanya seraya melihat ke arah kaca spion yang menggantung di tengah-tengah kendaraan bagian depan. Dari sana, biasanya, para sopir melihat ke belakang. “Nggak apa-apa, Mbak.” Sopir itu berucap untuk yang pertama kalinya setelah Dian masuk. Ia tersenyum melihat raut wajah Dian dari balik kaca spion tengah. Tampak jelas dari wajahnya, Dian merasa begitu malu. “Nggak apa-apa kok ketawa? Bapak ngetawain saya?” tanya Dian kembali. Kali ini dirinya tidak melihat ke arah kaca spion. Melainkan memalingkan wajahnya dari sana ke arah jendela samping. Ia kesal dan juga malu karena sudah ditertawakan. “Bukan, Mbak. Kenapa saya harus menertawakan Mbak? Emang Mbak barusan ngapain?” tanyanya pura-pura. Sopir taksi bernama Dion itu pun kembali tertawa kecil. “Tuh, kan ketawa lagi!” tuduh Dian. Namun, mengingat cara bicara si sopir taksi, ia pun menjadi ragu kalau lelaki di hadapannya itu adalah seorang bapak-bapak. Ia lantas berdeham. “Kamu bukan bapak-bapak?” tanyanya. “Bukan. Tapi mungkin sebentar lagi akan menjadi bapak-bapak.” Dion menjawab lagi, sembari menahan tawa. Ia yang memakai topi itu menyembunyikan tawanya dengan hanya menyunggingkan senyuman lebar. Wanita yang duduk di belakang masih juga belum menyadari apa pun. “Dih!” Dian pun berpikir. Ia merasa ada sesuatu yang aneh. “Saya kok ngerasa ada yang aneh. Kamu, jangan-jangan culik, ya? Astaga! Turunin saya di sini aja cepat!” Ia melanjutkan ucapannya, seiring dengan perasaan takut. “Sembarangan!” timpal Dion dengan tegasnya. Ia bahkan langsung menoleh barang sekejap. “Gini-gini, saya orang yang jujur. Ngapain jahatin orang kalau ujung-ujungnya masuk kantor polisi?” Ia pun melanjutkan seraya kembali fokus pada perjalanan. Suasananya memang sudah tidak begitu ramai. Jalanan sedikit lengang sehingga mereka tidak terjebak macet. “Astaga!” Dian langsung menangkup mulut. Tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat dan dengar. “Kenapa, Mbak?” tanya Dion sambil tersenyum. Ia melirik Dian dari kaca spion. Wanita di belakangnya itu tampak terkejut. “Pantesan gue kaya nggak asing. Lu Dion? Dion temen gue pas SMA kan? Wah ... nggak nyangka banget bisa ketemu kamu di sini. Kamu dah lama jadi sopir taksi? Cerocosnya seperti biasa, sambil berdiri setengah membungkuk dan melingkarkan kedua tangannya di sandaran kursi yang diduduki Dion. Ia mencondongkan wajahnya ke sebelah kiri Dion untuk memastikan. “Tuh, kan bener!” sambungnya seraya mencubit pipi Dion. Gemas Dian dibuatnya. Dion langsung meringis. “Maen cubit-cubit aja, sih. Sakit tau, An!” omelnya seraya mengusap pipi yang baru saja Dian cubit. Namun, ia senang dibuatnya. “Ya, lagian. Lu pake acara pura-pura segala. Tapi, ini kebetulan, kan?” Dian bertanya lagi. Sungguh, ia dibuat tak mengerti karena sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Tapi, Dion masih mengenalinya. Pun dengan dirinya yang dapat mengenali Dion. “Iya. Gue kan nggak tau kontak atau pun kabar Lu. Jadi, ya ... memang kebetulan. Tadi, Gue juga sempet kaget dan nggak percaya sih tadi. Tapi setelah Gue perhatikan, Gue emnsg nggak salah orang.” Dion menjelaskan, panjang kali lebat tanpa mengurangi fokusnya ke jalanan. “Ish! Kenapa nggak langsung nanya, sih? Gue seneng banget tau bisa ketemu Lu. Secara kan dulu kita nih bestie.” Dian pun mencubit pipi Dion kembali. Ia masih ingat, itu menang yang selalu dilakukannya pada Dion. “Eh, tapi ... lu pasti udah nikah?” tanyanya, setelah berhasil membuat Dion meringis kesakitan. “Belum lah. Lu kali yang udah nikah. Eh, atau ditinggal nikah?” Usil, Dion pun menggoda Dian. Sebab ia, mendengar jelas apa yang dikatakannya Dian saat meracau. Temannya itu benar-benar marah karena ditinggal nikah. “Dih! Lu nguping, ya?! Dasar, ih. Nggak boleh itu.” Kali ini Dian menjitak kepala Dion. Lagi-lagi, itu adalah yang selalu dilakukannya dahulu. Bahwa Dion adalah sasaran empuk tiap kali dirinya merasa tidak baik-baik saja. Entah dibully, atau ditinggal pacar. Dion lah yang selalu bersedia menjadi bahan amukannya. “Ya, gimana nggak kedengaran. Lu ngomongnya udah kayak sealas lagi promosi barang dagangan. Selain keras juga kenceng!” balas Dion, yang tak mau disalahkan begitu saja. Meski tetap, dirinya akan salah di mata Dian. “Ya, harusnya Gue tutup telinga rapat-rapat. Nggak boleh dengar pokonya!” Dian langsung kembali duduk dan menyilang sebelah kakinya. Ia juga melipat kedua tangan di perut. “Tapi, kali ini gue maafin. Dan, apa yang lu bilang itu bener. Gue ditinggal nikah,” sambungnya yang seketika diiringi tangisan. Ia termehek-mehek seperti anak kecil minta dibelikan permen. “Lah, dia nangis. Nggak tau aja dia, kalau gue juga ngerasain sakit saat dirinya itu malah jatuh cinta sama yang lain.” Dion langsung membatin, sembari memelankan laju mobilnya. Ia lantas menepi ke pinggir jalan lengang dahulu. “Cup-cup-cup. Sudahlah jangan nangis. Yang udah ya udah aja. Jangan ditangisi kaya gini,” katanya seraya berbalik, menghadap Dian dan meraih tangan temannya itu. Ia mengusapnya lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN