The Best

1200 Kata
Di persimpangan jalan, Dion yang tak tega melihat Dian menangis itu memang sengaja menghentikan kemudinya dahulu. Ia hendak menenangkan temannya, sekalian agar bisa mengobrol lebih banyak setelah lama tidak bertemu. Lelaki bertopi juga berkaca mata itu pun ikut merasa sedih. Sebab Dian, bukannya meredakan tangis, tangisnya justru kian histeris. “Ya, ampun. Dikata jangan nangis malah makin kenceng. Ntar dikira aku apa-apain kan repot juga, Dian. Udahlah. Yuk, berhenti nangis, yuk. Biar akunya bisa jalan lagi gitu.” Dion sampai menggeleng-gelengkan kepala melihat Dian menangis, persis serupa anak yang mainannya direbut orang lain. Ia sedih, tetapi juga merasa lucu. Dian, kalau sedang menangis memang terlihat lebih manis dan cantik. Sekarang malah terlihat semakin lucu. “Kalau mau jalan ya jalan aja, sih. Gue kan pengen nangis. Gimana bisa berhenti?” cerocos Dian seraya merogoh tas selendang yang ia geletakkan di jok. Ia mengambil tisu dan menggunakannya sebagai penyapu air mata, sekaligus penyapu ingus. Ia mengeluarkan ingusnya itu dengan sekali dorongan. Dion mengernyit ngeri begitu mendengar Dian membuang ingus. Ngeri-ngeri sedap, pikirnya sambil tertawa-tawa. “Jorok banget, sih?!” ucapnya. “Ya dari pada kemakan, mending gue lap dong. Kek lu mau aja ingus gue!” Dian mendelik ke arah Dion yang masih menghadap padanya. Lantas ia melanjutkan tangisnya yang sempat terjeda. “Yah, malah nangis lagi??” Dion pun menepuk kening. Ia menggeleng lagi sambil tersenyum lebar. Temannya itu masih seperti dulu. Konyol, tapi nyebelin. Namun, itu lah yang membuatnya sempat merasa suka terhadap Dian. “Udah deh nggak usah protes. Buruan jalan lagi juga! Gue udah ngantuk banget!” titah Dian. Ia mengangkat wajahnya itu setelah sebelumnya menunduk melihat ke kedua kakinya yang terasa dingin. Ia memang hanya memakai gaun selutut. “Iya, iya ... Tuan putriku!” balas Dion, dengan kata-kata yang selalu dilakukannya dahulu. Bahwa, Dian memang kerap menyuruh teman-temannya untuk melakukan apa pun, termasuk pada Dion juga. Dion langsung menyalakan mesin taksinya. Dan, kendaraan itu pun melesat. “Masih inget aja lu!” Di sela-sela isak tangisnya, Dian tertawa mendengar ucapan Dion. Betapa temannya itu masih ingat akan kata-kata apa yang selalu mereka katakan. Meski, tawanya itu tidak membuat Dian segera hentikan tangis. Yang ada malah makin histeris. “Sesakit itu kah? Nangis udah kayak ditinggal mati!” tanya Dion. Ia yang sudah menjalankan mobil taksinya itu pun meledek Dian. Barangkali, itu akan membuat Dian lekas menghentikan tangisnya. “Bukan sakit lagi. Perih!” timpal Dian, diiringi dengan jerit tangisnya lagi. Padahal, air matanya telah mengering. Ia hanya sedang mencari perhatian saja. “Wah, sama dong!” Dion tersenyum tanpa mengalihkan fokus berkendara. Ia hanya melirik Dian sesekali dari kaca spion tengah. Gadisnya itu langsung berhenti nangis. Ia bahkan sampai tercengo. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Emang pernah pacaran? Yakin? Hah! Gue pikir lu belok, Dion. Dari semenjak kita temenan, lu kan nggak pernah punya cewek meski tampan!” balas Dian, yang tak mau kalah sama sekali. Ia yang tadinya menangis histeris pun seketika tergelak. Bukan karena senang. Hanya saja, ia sedang berpura-pura puas karena sudah meledek Dion. “Emang suka sembarangan ya kalau ngomong. Gue tuh lempeng kali. Mana ada belok. Mau bukti?” Dion pun kembali melirik Dian dari kaca spion. Ia tersenyum julid. Berharap, Dian menginginkan bukti darinya. “Boleh. Apa memang buktinya?” tanya Dian, seolah menantang. Ia percaya kalau Dion tidak belok. Namun, itu hanya candaan saja baginya yang sedang merasa galau. Sungguh, memikirkan Safka membuatnya pusing dan sedih saja. “Ada. Tapi nanti kalau kita udah nyampe rumah kamu.” Dion pun berdeham usai bicara. Perjalanannya itu sudah lebih sari setengah jam, sehingga mereka akan segera sampai. “Baiklah. Meski nggak penting-penting banget, aku bakal nunggu sampai kita sampai. Tapi, awas aja kalau cuman tipu-tipu!” timpal Dian, seraya menajamkan pandang matanya yang sembap ke arah kaca spion. Sebab ia tahu, kalau Dion memperhatikannya dari sana. “Siapa takut?! Aku kan lempeng. Udah pasti berani!” balas Dion. Ia lantas hanya fokus menyetir agar lebih cepat sampai, karena ia naikkan laju kecepatan. “Jangan ngebut-ngebut, ini udah malam. Kamu pasti ngantuk!” ucap Dian, yang menyadari laju taksi naik sedikit. Ia berpegang pada sandaran kursi di hadapannya, karena takut “Nggak. Mana ada aku ngantuk? Seger gini!” Dion mengerakkan tubuhnya, sebagai tanda kalau dirinya itu tidak merasa ngantuk sama sekali. “Kamu kali yang ngantuk!” ucap Dion kembali. Ia tersenyum. “Eh tapi ngomong-ngomong, kamu kayaknya mabuk ya?” tanyanya. “Dikit doang. Tadi abis jalan sama temen soalnya.” Dian tak menampik.. dirinya memang mabuk karena minuman, juga kepayang karena Safka. Alhasil, sikapnya sudah seperti orang gila. Sadar tapi nggak sadar. “Temen apa temen?” Dion pun menggoda temannya itu kembali. Meski tak bermaksud apa-apa karena pertanyaan itu muncul begitu saja. “Temen tapi mesta!” balas Dian. Ia tergelak dan kemudian tubuhnya oleng. Gadis yang baru saja kehilangan kesadarannya itu pun ambruk, jatuh sampai terguling ke jok sebelah kiri. “Aduh, sakit banget sih ini kepala?” ucapnya sembari meringkukkan badannya di sana. Ia kedinginan. “Ya, ampun. Nih cewek benar-benar emang. Temen tapi mesra apaan coba? Tadi katanya patah hati karena ditinggal kawin. Tapi dia sendiri punya TTM. Astaga!” omel Dion. Ia hanya melirik Dian sekejap dan kemudian kembali fokus pada perjalanan. Namun, tak lama setelah Dian meringkuk di jok belakang, Dion pun sampai di depan rumah temannya itu. Ia memarkirkan mobilnya di depan gerbang. Lantas, ia membuka sabuk pengaman. “Hei! Kita udah sampai!” katanya lada Dian yang masih ada dalam kesadaran, meski pun kurang. “Sampai?” Dian membatin seraya berusaha duduk dari meringkuknya. Namun, lemas tubuhnya itu membuat Dian kesusahan untuk bergerak. Dion hanya menganggukkan kepala seraya membuka pintu taksi yang dibawanya. Lantas, ia membuka pintu belakang. Namun, alih-alih membantu Dian turun, dirinya justru masuk dan duduk di samping Dian yang masih meringkuk lemah. “Hei! Ayo, bangun. Tadi, katanya mau bukti kalau aku ini lempeng!” ucap Dion. Ia lantas menarik sebelah tangan temannya itu sampai Dian akhirnya bisa duduk kembali. “Makasih, ya, Dion. Kamu emang the best deh!” Dian pun melempar senyum, dalam kondisi memprihatinkan. Wajah kusut, hidung merah dan meler, mata pun sayu, lengkap dengan lingkaran hitam di sekelilingnya. “Sama-sama. Tapi, mau nggak liat bukti kalau aku nggak belok?” tanyanya lagi, memastikan sembari memperhatikan kondisi Dian. Sungguh, temannya itu begitu cantik dan manis. “Mau,” bisik Dian sambil menjatuhkan kepalanya di pundak Dion. Ia sudah merasa begitu lemas. “Nanti aja, deh. Kamunya juga mabuk!” Dion pun merasa belum tepat. Waktunya tidak pas karena Dian sedang berada di bawah pengaruh alkohol dan kesengklekan. “Yah, PHP banget sih kamu!” Dian langsung mengangkat wajah. Ia mendongak menatap tajam ke arah Dion. Lelaki di hadapannya itu tak kalah tampan dari Safka. Namun, mendengar apa yang dikatakan Dian barusan, Dion yang telah lama menantikan hal seperti itu pun langsung meraih kedua pipi Dian dengan kedua tangannya yang lembut. Ia membuat wajah di hadapannya itu terheran-heran. Hanya saja, ia tidak peduli akan apa yang dipikirkan Dian. Yang ia ingin hanya mencium bibir merah muda yang seksi itu. Dion menelan ludahnya seketika sebelum kemudian ia mencium bibir mungil itu, setelah memikirkannya baik-baik. Bahwa, Dian belum tentu ingat akan kejadian barusan karena mabuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN