Menuju Lantai Bawah

1007 Kata
Menggeliat merenggangkan otot-ototnya, Dian yang semalam tidur dengan begitu nyenyaknya pun membuka mata juga. Dikedip-kedipkannya kedua mata berbulu palsu itu perlahan, ia terheran-heran memikirkan dirinya sendiri. Dalam sekejap, ingatan tentang apa yang terjadi semalam tergambar dalam bayangan. Dian terpejam kuat, mengernyit malu sendiri. “Sial! Gue kok bisa-bisanya nyamperin Safka dalam keadaan mabuk? Mana ucapan gue ke mana-mana pula!” umpatnya seraya menutup mata dengan kedua tangan. Sedang kakinya ia entak-entakkan bergantian. “Huaaaaa!” Ia menangis histeris. Dian langsung berbalik badan, tengkurap dari yang sebelumnya telentang. Ia kembali mengentak-entakkan kaki. “Eh, tapi bentar. Semalam gue pulang naik taksi, kan?” gumanya sembari mengangkat wajah. Tatapannya tajam ke arah dinding kamar, sedangkan pikirannya melayang mengingat kejadian setelah bertemu Safka. “Astaga!” umpatnya seraya kembali menenggelamkan wajah ke bantal. Ia menjerit sekuatnya, tapi tertahan oleh tekanan sehingga hanya terdengar pelan. “Gue ketemu Dion? Dan, dia ... Ash!” Dian mengumpat lagi. “Tapi bentar!” Dian pun beranjak bangun, duduk bersila seraya mengingat apa yang terjadi setelahnya juga. Di mana semalam, ia diboyong Dion karena mabuk dan tidur dalam taksi. “Dia yang antar gue sampai ke kamar deh kayaknya. Tapi, dia kek ada ngomong apa, ya? Duh ... lupa gue!” Dian langsung mengacak-acak rambutnya yang berantakan dari semalam. Ia juga menyusupkan kepalanya lagi ke bantal, dalam posisi yang sama, yaitu duduk bersila. “Kacau, kacau, kacau! Ya, masa dia nyium gue? Kenapa dan apa alasannya coba? Apa iya otaknya tiba-tiba menjadi m***m? Perasaan dulu nggak gitu deh dia.” Dian kembali duduk. Matanya melotot tajam ke langit-langit sambil mendongak. Betapa ia tak paham, alasan apa yang membuat Dion berani menciumnya. Dahulu, sewaktu berteman di bangku SMA, teman yang namanya seperti kembaran dengan dirinya itu selalu bersikap sopan pada wanita. “Ah, tapi dia kan udah dewasa Sekarang. Isi otaknya udah pasti berubah.” Dian mengumpat temannya itu sambil berdecak. Ia harus melakukan sesuatu untuk memberi pelajaran pada Dion. Diturunkannya kedua kaki ke lantai. Dion menghela napas panjang, dan menghembuskannya seketika. Ia berusaha untuk kembali merasa tenang, setelah dibuat kaget oleh dua kejadian sekaligus. Di mana ia bertingkah keterlaluan pada istrinya Safka, juga Dion yang telah berani menciumnya. Namun, baru saja Dian hendak beranjak bangun, pintu kamarnya terbuka lebar. Seorang perempuan bertubuh tinggi kurus berdiri di sana sambil memelak pinggang. “Udah bangun kamu? Gimana, enak abis mabuk semalam?” tanyanya, penuh dengan rasa nyinyir. Ia lantas melangkah, menghampiri Dian. “Usil aja terus kerjaannya. Kek kamu nggak pernah mabuk aja, Kak!” Ketus, Dian menimpali kakaknya itu. Barulah setelah itu ia beranjak bangun dari peraduan. Ia harus segera bersiap-siap agar tidak terlambat pergi ke kantor. “Ya, makanya gue nggak suka kalau lu minum-minum. Gue udah tau kayak gimana rasanya, epeknya, sebab akibatnya. Jadi lu tuh nggak usah lah minum-minum.” Wanita cantik berambut pendek itu, namanya Lidia. Ia lantas menjitak kepala adiknya itu. “Aw, Kak. Sakit!” Dian langsung mengusap kepala yang dijitak kakaknya itu. “Jitak balik, nih!” sambungnya, seraya siap menjitak Lidia. “Coba aja kalau berani. Ntar kualat lu!” singgung Lidia seraya bergegas pergi dari hadapan Dian. “Dah sana lu mandi. Jam segini baru bangun. Udah tau kantor tempat kita jalannya nggak searah. Butuh waktu kalau gue harus antar lu dulu. Eh, tapi, yang semalam nganterin lu itu si Dion ya? Temen yang nanya hampir mirip ma lu?” tanyanya sambil berbalik badan kembali. Ia sudah sampai di ambang pintu. “Iye! Ngapa emang?” tanya Dian. Ia masih mengusap kepalanya yang sakit. “Dia nitip nomor ponsel semalam. Katanya suruh kasih lu kalau lu dah eling.” “Dih!” *** Pagi-pagi sekali, Sri sudah berpenampilan rapi dan cantik. Ia mandi, bersiap dan kemudian membereskan tempat bekasnya tidur. Namun, mengingat kejadian semalam di mana Dian banyak sekali bicara sampai menyinggungnya, ada perasaan sedikit kesal yang akhirnya ia lampiaskan pada guling. Benda panjang, lembut nan empuk itu Sri banting ke ranjang “Baru tau ada cewek kayak gitu. Udah mah sok kenal, eh ujung-ujungnya ngehina. Dasar dudul!” Sri mengomel seraya merapikan guling terakhir, setelah membantingnya barusan. Namun, ujung-ujungnya oa ketawa karena semalam, Safka lebih bela padanya. Suaminya itu tidak menghiraukan keberadaan Dian. “Apanya yang dudul?” Tiba-tiba saja Safka bertanya. Ia baru saja membuka pintu barang sedikit, dan mencondongkan kepala sampai akhirnya mendengar kata terakhir yang diucapkan Sri. Tangannya lantas membentuk sebuah lambang bernama ‘Vis’. Sedangkan bibirnya menyengir lebar. “Ya, maaf kepo. Aku cuman mau ngajakin kamu sarapan,” katanya. “Sarapan. Kamu udah masak?” Sri pun menepuk-nepuk kedua tangan, sebagai tanda kalau dirinya baru saja selesai berbenah. Lantas ia segera menghampiri Safka. Safka pun membuat pintu yang dipegangnya oleh sebelum tangan sampai melebar. Tapi kakinya masih berdiam diri di tempat yang sama. Ia tidak masuk, dan membiarkan Sri yang keluar dari kamar. “Iya. Cuman nasi goreng, sih. Aku nggak bisa kerja kalau nggak sarapan dulu soalnya.” Safka menyengir lagi, begitu Sri sudah di depan mata. Ia menatap istrinya sampai lekat. Sebab Sri sudah begitu manis dan cantik, lebih dari biasanya. “Oh. Tapi kenapa nggak biarin aku yang bikin aja?” tanya Sri, tepat di hadapan suaminya itu. Ia menarik kedua belah bibirnya, sambil mendelik. Kesal karena selalu saja tidak diberi kesempatan untuk memasak makanan. “Kan, kamu punya pekerjaan lain. Masih ingat pembagiannya kan? Tapi, nggak apa-apa kalau kamu nggak bisa selalu beres-beres. Kerjain kalau senggang aja,” balas Safka. Ia mengedarkan pandangannya, ke sana-kemari untuk menghindari tatapan Sri yang sesekali tajam padanya. “Ah, iya. Ya, sudah. Kalau gitu aku nyuci dulu deh.” Sri pun hendak kembali, untuk mengambil baju kotor bekasnya dipakai kemarin. Namun, Safka menahannya dengan tarikan tangan. “Mau ke mana?” tanyanya, begitu Sri menoleh. Tampangnya sudah menunjukkan kekesalan. Sebab dirinya ditinggal jalan lebih dulu. “Ambil baju kotor, Om. Kan mau nyuci.” Sri terbatuk, usai menjawab. Safka pun telah melepaskan cengkeramannya pada baju Sri. “Nanti aja! Sekarang temenin aku sarapan ayo?” ajaknya seraya meraih jemari Sri. Lantas, ia menarik tangan halus itu seketika menuju lantai bawah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN