Ciuman Kedua

1012 Kata
Sri tersenyum dalam tarikan gandengan tangan Safka. Tersipu sampai kedua pipinya itu memerah karena malu juga terlalu senang. Perlakuan Safka, akhir-akhir ini memang membuatnya kerap merasa begitu berarti. Langkah kali Sri secepat langkah kaki lelaki di hadapannya. Hanya ketika menuruni satu per satu anak tangga saja, langkah keduanya memelan bahkan sampai bersampingan. Sri menundukkan wajahnya, melihat setiap langkah. Sedangkan Safka berulang kali melihat orang di sampingnya itu. “Malu-malu gitu, kenapa?” tanya Safka, iseng. Ia berdeham sambil tertawa kecil. “Kek baru pertama kali aja aku gandeng,” sambungnya. “Aih. Siapa yang malu-malu?” Akhirnya Sri pun mengangkat wajah. Ia menunjukkan ekspresinya yang semaksimal mungkin, ia buat santai dalam sekejap. Kedua mata yang berbinar itu melebar, kedua belah sudut bibirnya juga menyengir lebar. Ia tersenyum kikuk. “Masa?” Safka menggoda istrinya itu dengan menyenggol punggung Sri. Ia juga menggerakkan sebelah alis tebalnya. “Orang kelihatan banget kalau kamu malu-malu!” sambungnya seraya mengalihkan tatapan ke depan. Mereka hampir sampai di lantai bawah. Namun, mendengar dirinya diremehkan, Sri pun menghentikan langkah sampai membuat Safka ikut berhenti juga. Ia mematung sehingga Safka melihat ke arahnya lagi. “Kenapa?” Lelaki berpenampilan necis itu bertanya. Sri tak menjawab. Ia justru bertindak langsung dengan mendorong tubuh Safka sampai mengenai pagar pembatas tangga. Sri menarik tangannya dari cengkeraman Safka, kemudian meletakkan kedua tangannya itu di kedua belah sisi d**a suaminya itu. Sri menelan ludah dengan susah payah, seraya menatap tajam kedua mata Safka yang menunggu apa kiranya Sri akan berbuat. Barulah setelah meyakinkan diri, Sri pun mendekatkan bibirnya sehingga mengenai tepat di bibir Safka. Di sana, di bibir hitam kemerahan itu, Sri menggerakkan bibir juga lidahnya. Safka terkejut. Tak mengira kalau Sri akan melakukan hal di luar dugaan. Dari awal, ia pikir, Sri akan marah dan menamparnya. Akan tetapi lain, Sri justru mencium juga melumat bibirnya perlahan-lahan. Ia menelan ludahnya pula seketika. Lantas membalas ciuman itu, dengan gerakan sama lambat. “Tuhan.” Sri bergumam dalam hati. Ia baru saja menyadari apa yang dilakukannya. “Apa yang telah aku lakukan? Kenapa aku?” Kedua mata yang tadinya terpejam, seketika terbuka. Dan, ia tak mengira kalau tatapannya akan bertemu dengan tatapan Safka yang lembut. Sri kian terkejut, tapi bibirnya tidak berhenti. “Apa ini tandanya kamu sudah menerima kehadiranku dalam hidupmu?” Safka bicara dalam hati, seraya menatap kedua mata indah Sri. Istrinya itu terlihat gugup, tapi Safka tak ingin buru-buru melepas apa yang sedang mereka lakukan. Diraihnya kedua tangan Sri yang sedari tadi berpegang pada kedua sisi dadanya. Lantas, ia menaikkan kedua tangan itu sampai ke pundaknya sendiri, agar dirinya dapat dengan mudah memeluk tubuh mungil sang istri. Jantung Sri seketika berdebar. Rasa gugupnya kian bertambah. “Aku harus apa sekarang? Kenapa malah susah untuk menghentikan ini?” Sri membatin lagi, tanpa mengubah posisi tatap matanya. Ia masih melihat betapa Safka benar-benar membalas apa yang ia lakukan. “Kalau memang iya, apa sudah boleh?” Safka bertanya-tanya dalam hatinya. Karena penasaran, ia pun memeluk tubuh mungil itu segera seraya merapatkannya. Apa yang dilakukan Sri, berhasil membuatnya hilang kendali. Ia menginginkan sesuatu yang memang seharusnya sudah lakukan. Perlahan, Safka mendorong tubuh istrinya itu. Naik ke atas akan membutuhkan lebih banyak waktu. Itu kenapa, ia pun membawa Sri turun ke lantai bawah. Perasaan Sri kian berkecamuk. Ia akhirnya bingung sendiri karena tubuhnya tidak lagi dapat ia kendalikan sehingga diam saja saat Safka melakukan banyak hal. “Apa aku sudah menerimanya? Benarkah?” Sri bergumam lagi dalam hatinya. “Yakin, atau ini hanya karena Safka sudah terlalu banyak berbaikan hati? Ya, Allah ... aku bingung.” Sampai di lantai bawah, Safka membawa istrinya itu ke kamar tamu tanpa melepaskan ciuman mereka. Melangkah perlahan, perlahan sampai akhirnya mereka tiba di sana. Safka melepaskan ciumannya saat tiba di depan pintu kamar. Sri menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Sebelum berlanjut ke hal yang lebih serius, Safka ingin memastikannya sekali lagi. Namun, begitu ia melihat tatapan Sri, istrinya itu masih terlihat ragu. “Aku sayang kamu, Sri.” Safka pun menghela napas pelan dan mengembuskannya seraya menarik tubuh Sri ke dalam pelukannya. “Aku tidak akan melakukan apa pun sampai kamu benar-benar siap,” sambungnya, setelah berhasil meredam nafsu. “Tapi makasih, Sayang. Apa yang kamu lakukan barusan membuatku yakin, kalau kamu sudah bisa menerima kehadiranku dalam hidupmu.” Sri pun bernapas lega dalam pelukan suaminya itu. Ia memang sudah menerima kehadiran Safka. Tapi, untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar pelukan, ia masih belum bisa melakukannya dengan ikhlas. “Sekarang kita sarapan, ya?” Safka pun menarik diri sembari memegang kedua belah pundak Sri. Ia menatap istrinya itu sambil tersenyum. Lantas, ia menggandeng Sri sampai ke ruang makan. *** Dian menerima selembar kertas dari Lidia. Di sana tertera sebuah nomor tanpa nama. Namun, Dian tahu itu nomor siapa, sehingga dirinya langsung meraih ponsel di meja samping ranjang. Ia hendak meneleponnya setelah menyimpan nomor tersebut. “Mau ngapain?” tanya Lidia yang masih berada di hadapan Dian. Ia memelak pinggang karena merasa akan kesiangan. Meski dirinya berteman baik dengan pemilik perusahaan, tetap saja, Lidia tidak mau melawan aturan. “Nge save nomor. Abis itu telepon.” Dian menimpali kakaknya itu tanpa menoleh ataupun melihat Lidia. Tatap matanya fokus pada apa yang ia pegang. Selembar kertas dengan ponsel. “Jah! Udah siang ini. Gue bisa kesiangan, Diana! Dah cepetan mandi, ah!” titah Lidia seraya menarik tangan adiknya itu. Lantas, ia menyeret Dian sampai berdiri. “Astaga! Iya, iya, Kak. Bentar aku simpan HP dulu!” Dian menolak untuk diseret. “Ya, ampun!” sambungnya seraya melempar ponsel ke ranjang. Ia lantas berdecak sembari menatap tajam kakaknya itu. “Aku mau mandi ini. Kakak sana pergi, ah.” “Iya. Tapi awas aja kalau kamu malah tidur lagi. Udah jam enam loh ini. Tapi Kami malah baru bangun. Mana belum sarapan, kan?” Lidia, meski galak dan tegas, ia tetap memperhatikan isi perut adiknya itu agar tak kelaparan. “Nggak usah sarapan biarin. Ntar aja di kantor!” balas Dian, saking kesalnya. Lantas, ia menyambar handuk di balik pintu kamar sekalian menyuruh Lidia keluar lagi. “Dah, sana, ah!” titahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN