Enak-Enak Apa Belum?

1045 Kata
Sepulang dari mengantar Dian, Dion gelisah karena takut kalau apa yang dilakukannya semalam akan dapat diingat oleh Dian. Ia juga gelisah karena Dian belum juga menelepon, padahal ia sudah menitipkan nomor pribadinya pada Lidia. Seperti biasa, Dion yang tak lain adalah seorang sopir taksi online itu pun sudah stand by di tempat kerja. Ia menunggu pelanggan, sekaligus menunggu telepon atau pesan dari Dian. Gadis yang tak lain teman semasa SMA-nya itu belum juga menghubunginya. Padahal, hari sudah beranjak siang. Di parkiran, Dion duduk bersandar di kursi kayu bersama teman-teman satu profesinya. Namun, apa yang diobrolkan mereka sama sekali tidak masuk ke kepala Dion. Sebab, meski dirinya bersama orang-orang tersebut, hatinya justru ada di tempat lain. “Bengong aja, Bang. Lagi mikirin apa?” tanya Leo, salah satu sopir taksi online juga. Ia baru saja datang membawa nampan berisi lima gelas kopi. Seperti biasa, di mana-mana, anak baru yang kalau usianya di bawah para senior, mereka akan melewati masa penjajahan terlebih dahulu. Begitu juga dengan Leo. Ia yang baru satu bulan bekerja sebagai sopir taksi online, sampai sekarang masih dimanfaatkan oleh para senior. “Ahaha. Nggak mikirin apa-apa gue. Cuma kesel aja nungguin kopi lama datangnya,” timpal Dion seraya meninju pelan pundak Leo, sambil tertawa kecil. Lantas, diraihnya kopi yang ia pesan tadi dalam nampan yang masih dipegang Leo. Dion berbohong. Namun, ia tak mungkin jujur juga jika yang mengganggu pikirannya adalah masalah ciuman semalam. Leo atau siapa saja sudah pasti akan menertawakannya. Sebab di mana-mana, lelaki tidak akan pernah mau pusing dengan hal seperti itu. Kebanyakan dari mereka justru akan berlaku bodo amat, seandainya wanita yang dikencani tak menerima ciumannya. “Ahaha. Maaf, Bang. Kebetulan, tadi memang antre. Di warung lagi banyak yang beli kopi sama gorengan.” Leo pun beranjak, beralih memberikan kopi pada yang lain. Lantas, ia kembali dan duduk di samping kanan Dion. “Abang udah sarapan?” tanyanya lagi. Dion menggelengkan kepala. Ia belum sarapan apa pun, kecuali kopi yang baru saja diseruputnya. “Kalau lu? Udah sarapan apa belum?” tanyanya, seraya menyikut juniornya itu. Dion tertawa lagi. “Udah. Tadi sarapan bubur dulu gue. Baru deh ngopi di sini. Tapi, Bang. Boleh nggak gue curhat? Jujur, gue lagi pusing sih.” Leo pun memegang gelas kopinya dengan kedua tangan. Posisi kedua kaki terbuka sehingga saat ia menunduk, tangannya sedikit jatuh di antara kedua kaki. “Kalau mau curhat ya curhat aja. Ngapain meski nanya?” Dion menyikut pundak Leo kembali. Namun, kali ini tidak diiringi tawa karena Dion langsung mencicipi kopinya lagi. Ia berdeham. Kopinya masih panas. “Kayaknya nggak mungkin kalau ngomong di sini. Malu gue, banyak orang.” Leo berbisik lagi. Ia menoleh, melihat Dion. Temannya itu adalah yang paling muda setelah ia sendiri, jika dibandingkan dengan para senior lain yang kebanyakan adalah bapak-bapak. Bahkan, mereka sudah mempunyai beberapa cucu. Itu kenapa, Leo hanya merasa dekat dengan Dion saja. Meski, yang lain benar-benar menganggapnya keluarga. “Ok. Mau di mana kalau gitu?” Dion pun balas melihat Leo. Ia menyunggingkan senyuman, tanda sebagai orang yang ramah pada siapa saja. Jangankan pada sesepuh, terhadap anak muda pun ia tak pernah berlaku sombong. “Di sana aja gimana, Bang?” tanya Leo seraya menunjuk kursi yang lain. Hanya saja, di sana sedikit panas karena matahari pagi langsung menyorot tanpa ada halangan. “Ya, sudah kalau gitu. Ayo!” Dion langsung berdiri. Lantas, ia berjalan lebih dahulu setelah sebelumnya pamit untuk pindah posisi duduk. Ia mengedarkannya pandangan. Hari kian terasa hangat. Tapi, Dian belum juga menghubunginya. “Jadi, apa?” Dion langsung bertanya. Penasaran betul dirinya, sekaligus ingin menghilangkan gelisahnya saat menunggu pesan dari Dian. “Gue kan punya pacar, Bang.” Leo pun masih merasa ragu. Namun, ia merasa perlu untuk bicara agar hati dan perasaannya tidak lagi terbebani. Atau, paling tidak, dirinya akan menemukan keyakinan atas apa yang dialaminya. “Iya, gue tau. Yang lu pernah bawa ke mari kan?” Dion tertawa kecil mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu. “Orang tuh kalau pacaran ya paling nggak ke mall kek. Ini malah ke parkiran taksi.” Dion langsung meledek Leo. Sengaja, ingin mengetes amarah Leo juga. “Hehe. Gue nggak punya modal banyak soalnya. Kerja juga baru mau sebulan. Jadi, ya belum berani bawa cewek ke tempat-tempat bagus.” Leo tertawa, menyadari kekonyolannya itu. Apa yang dikatakan Dion jelas benar adanya. Ia tidak tersinggung sama sekali. “Ahaha. Bercanda aja gue. Terus, apa yang bikin pusing?” tanya Dion. Ia menyeruput kopinya lagi, sebelum kemudian melihat Leo. Anak itu kembali menundukkan kepala sehingga terlihat bingung. “Ngomong aja nggak apa-apa. Gue aman insya Allah.” “Orang tuanya minta kejelasan, Bang. Kalau nggak, pacar gue mau dikawini sama lelaki lain. Sedangkan gue, kerja aja baru nyari pengalaman.” Leo sedikit merasa sedih saat menjelaskan apa yang mengganggu pikirannya. Ia bahkan sedang menahan air mata yang mulai terasa hangat di kelopak. “Ya, ampun. Kalau itu sih, gue yakin bakal bingung juga. Tapi, memangnya udah berapa lama lu hubungan sama itu cewek?” Dion pun melempar gelas kopinya ke dalam tong sampah yang ada di samping kursi kayu. “Udah lebih dari setahun, Bang. Gue udah sayang banget sama dia.” Dion pun sama. Kopi yang masih tersisa itu, ia buang bersamaan dengan gelasnya ke dalam tong sampah. “Lah, pantas orang tuanya minta penjelasan. Kalian udah pacaran lama. Tapi, cewek lu sayang ma lu juga nggak?” Dion menyikut pundak temannya itu, agar lekas menjawab. “Iyalah, Bang. Kalau nggak, masa dia mau bertahan sampai selama ini?” tanya Leo, yang memang benar adanya. Ia tak menampik hal itu. “Dia tahu kondisi lu kayak gimana juga, kan?” tanya Dion kembali. Ia tergelak pelan. “Gue udah kek detektif aja nanya-nanya kayak gini. Lu, sih!” ucapnya parau. “Tau, Bang. Tapi kan tetep aja. Gue bingung ngadepin orang tuanya.” Leo menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia merasa sedikit lega setelah bercerita. Namun, dirinya belum menemukan titik terang untuk masalahnya. “Iya juga, sih. Kalau begitu, nggak ada cara lain selain hanya berdoa. Lu minta sering-sering deh sama Allah, biar rezeki sama urusan lu lancar semua.” Dion menepuk pundak Leo, pelan dan penuh kasih sayang. “Tapi, lu sama pacar lu itu belum ngelakuin hal yang enak-enak pan?” tanyanya, ingin memastikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN