Sebuah Alasan

1067 Kata
Dian berangkat bersama Lidia menggunakan mobil peninggalan orang tua mereka. Namun, karena lokasi perusahaan keduanya berbeda, juga Dian yang bangun kesiangan, Lidia pun menurunkan adiknya itu di persimpangan jalan. “Maaf ya adik yang paling gue sayang. Gue terpaksa nurunin lu di sini karena lu bangun kesiangan!” ejek Lidia seraya menjulurkan lidahnya. Lantas, ia kembali melajukan mobilnya setelah Dian keluar dari mobil. Dian mendelik sambil merutuk. Ocehan demi ocehan keluar dari mulutnya yang seksi. Namun, beruntung, setelah tadi sempat menelepon Dion, taksi yang dipesannya pun tiba di sana. Ia memasang senyum palsu begitu melihat Dion mencondongkan wajah ke arah jendela. “Abis lu, ya!” batin Dian seraya membuka pintu mobil. Ia masuk dan kemudian duduk di jok depan sembari menghela dan membuang napas panjang. Sengaja agar dirinya dapat dengan mudah menjangkau Dion. Memenangkan mata sejenak, Dian yang gemas akan Dion pun langsung menjambak temannya itu. Ia bahkan meracau, bicara banyak hal dengan tingkal kejelasan yang rendah sehingga Dion sama sekali tak memahami setiap ucapannya. Hanya saja, Dion tahu kalau Dian marah karena ciuman semalam. Dion meringis kesakitan, seraya refleksi meraih tangan Dian yang sibuk menjambak rambut sedikit panjangnya itu. “Sakit, An. Ya ampun. Lu kenapa, sih?” Dion pun pura-pura tak mengetahui apa pun. Barangkali, Dian marah karena hal lain. “Jan pura-pura bego lu!” Dian mengencangkan jambakannya. Ia bahkan memukul kepala juga punggung dan pundak Dion., tanpa menghentikan ocehannya yang kebolak-kebalik. Belum lagi keblibet karena terlalu cepat saat bicara. “Maksudnya apa, An. Jelasin dulu kan bisa?!” Dion masih saja berpura-pura. Berharap, Dian bukan sedang marah karena ulahnya malam tadi. Ia terpejam kuat, menahan nyeri. Namun, itu lebih ke menahan diri untuk tidak mengaku. “Ya, masa harus gue jelasin? Bukannya sudah jelas, semalam lu nganterin gue?” Dian melepas jambakannya barang sebentar. Sehingga begitu Dion hendak menghentikan tangannya, ia sudah kembali menjambak Dion. “Jangan coba-coba untuk menipu juga!” sambungnya, mengingatkan kalau dirinya akan melakukan apa pun termasuk menjedotkan kepala Dion ke setir. “Ya, jelasin biar gue paham. Kalau lu ngamuk nggak jelas, gue nggak paham tentunya!” balas Dion, lagi-lagi beralasan. Ia terlanjur takut sehingga tidak berani untuk mengaku. Ia bahkan meninggalkan Dian saat keluarga pihak perempuan mulai menanjak tanggal pernikahan. “Lu kenapa nyium gue hah? Berani lu sama gue hah? Kurang ajar emang! Bibir gue ini masih perawan. Nggak pernah gue biarain siapa pun nyium bibir gue, karena gue hanya akan memberikannya pada suami gue kelak.” Dian bicara panjang kali lebar, diiringi dengan tangis juga amarah. Kesal betul dirinya itu pada Dion yang sudah berani mencium tanpa izin. Namun, mengingat waktu terus berjalan, ia segera melepas jambakannya. Dian menghela napas panjang dan menghembuskannya segera dengan kasar. Kedua tangannya ia tepuk-tepuk seperti sudah menggenggam sebuah debu. Lantas, ia pun merapikan rambutnya yang sedikit berantakan sembari berlaga cantik dan manis. “Jalan buruan! Gue hampir kesiangan!” titah Dian pada Dion. Ia menoleh, melihat temannya yang baru saja berusaha untuk terlihat kembali baik. “Siap, An!” balas Dion. Ia langsung menghidupkan kembali mesin mobilnya itu. Lantas melaju cepat setelah mobilnya dapat dinyalakan. “Tapi, udah nggak marah kan?” tanya Dion. Ia terlihat malu dan penuh penyesalan. “Masih lah. Tapi gue simpan dulu buat nanti sepulang dari kantor. Gue bakal abisin lu nanti, ya. Liat aja!” balas Dian seraya melihat wajah orang-orang yang menyamar itu. “Alif berlumuran darah, begitu juga dengan rekannya yang lain. “Ampun, An. Gue ngaku kalau gitu. Lu nggak bakal apa-apain gue kan?” Dion merengek, meminta pertolongan pada Dion atau siapa saja. Kalian akan terkurung sekamarnya kalau memang begitu. “Lebai banget deh. Dikira gue Zombie Sampek bisa ngapa-ngapain lu heh?” singgung Dian seraya menatap sinis ke arah Dion. “Nyetir-nyetir aja. Jan banyak cincong. Tapi gue cuman mau mastiin sesuatu doang.” “Apa?” Dion tak sabar. Apa kiranya yang akan dikatakan Dian padanya. Ia fokus pada jalan dan juga kendaraan. Tapi, sesekali matanya melirik Dian. Temannya itu sedang bersandar dengan tenangnya. Dian menghela napas panjang. Kemudian menghembuskannya segera sembari berusaha mengontrol emosi. Ia memang marah. Itu kenapa tangannya langsung menyerang Dion. Namun, itu dilakukannya sampai ia merasa puas, sehingga buru-buru kembali duduk dengan tenang. “Apa yang membuatmu berani menciumku? Sumpah, aku nggak bisa inget semua, obrolan kita semalam.” Dian yang duduk bersandar dengan tenang itu menelengkan kepalanya ke arah Dion. Ia tersenyum sinis. “Jawablah!” “Um “ Dion kikuk, karena mengingat alasan dirinya mencium Dian sungguh karena hal sepele. “Aoa, ya?” ucapnya pura-pura. Ia berdeham-deham, seolah seperti sedang berpikir. “Jangan kebanyakan diem. Waktu kita nggak banyak.” Dian menatap lurus ke depan lagi. Kedua belah sudut bibirnya itu berhenti menyunggingkan. “Sebentar lagi gue sampai. Dan, gue mau denger jawabannya sebelum turun dari mobil “ “Karena lu bilang gue belok!” timpal Dion, setelah mengesampingkan rasa malunya. Sebenarnya, ia tak mau membahas itu. Tapi sialnya, Dian malah ingat kalau dirinya tekah mendaratkan ciuman. “Belok? Belok ke mana? Yang bener kamu, Dion. Masa, kamu berani nyium aku hanya aku nyuruh kamu belok?!” Dian langsung berkacak pinggang. Ia kembali menghadap Dion, dengan tatapan bak api menyala-nyala. “Ish! Bukan belok kiri apa kanan. Tapi belok itu loh, nggak normal.” Dion kembali menjelaskan. Namun, ia yang tadinya tegang seketika tertawa kecil. Lucu karena Dian justru berpikir yang lebih masuk di akal “Lah. Emang iya gue bilang gitu? Perasaan nggak, deh “ Dian langsung beralasan. Dan, rasa marahnya pun seketika sama berubah menjadi lucu. Ia tertawa melihat Dion tertawa. “Lu serius gue bilang gitu?” “Iya kah. Masa bohong? Coba aja lu inget-inget, apa yang ku katakan semalam. Jadi, ya karena itu lah gue berani mencium lu. Lu minta bukti dan mau menerima bukti dari gue.” Dion kembali menjelaskan. Semakin panjang, semakin lebar. Dian berdeham. Tak mengira, dan masih tak percaya dengan apa yang dikatakannya pada Dion semalam. Ia mabuk, dan membuat kekacauan. Namun, ia tak mengingat beberapa catatan kecil saja, karena lu menyembunyikannya. “Aaah, tau, ah. Diingat-ingat, dipikir-pikir, gue tetep nggak ingat! Tapi kalau memang begitu, gue minta maaf, ya. Gue lagi mabuk, dan lu tau itu. Orang mabuk kan emang suka aneh-aneh.” Dian menyengir, seraya menyeringai pada Dion yang menatapnya sekilas. “Nggak masalah. Aku senang malah, karena kita akhirnya dapat bertemu lagi,” balas Dion. Ia hampir sampai di tempat tujuan, sehingga laju mobil sedikit ia naikkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN