Rafli gelisah. Telepon dari ayahnya membuat sesuatu di dalam hatinya memberontak.
"Pertunangan dengan siapa, Pa? Kenapa harus mendadak seperti ini?"
“Dengan Tasya. Anak sahabat ibumu. Sudah disepakati sejak kalian kecil. Kau tinggal datang dan resmikan.”
“Paaaa!” Rafli mencoba menahan nada kesal.
“Aku tidak bisa.”
“Kenapa?"
“Ada urusan penting di Jakarta.”
“Kau tak sedang bicara dengan rekan bisnis, Rafli. Ini keluarga dan kau tahu, nama Mahendra tidak bisa diwakili oleh alasan-alasan lemah.”
Rafli diam. Ia tidak bisa berkata ‘aku sudah menikah’. Karena itu ... tak pernah diumumkan, tak pernah dicatat juga tak pernah disetujui.
Melati... adalah rahasia yang ia simpan sendiri. Hanya keluarga Pak Basuki saja yang tahu. Orang tuanya, tidak!
“Rafli." Suara ayahnya semakin dingin.
“Jangan buat kami malu. Semua sudah disiapkan. Tasya sudah tahu dan keluarga besar akan hadir. Kalau kau tidak datang, kau tahu akibatnya.”
Klik.
Telepon terputus.
Rafli mendesah pelan, menatap langit-langit kamar. Kemudian ia melirik ke arah tangga bawah, ke kamar yang kini ditempati Melati.
Perempuan yang sedang mengandung anaknya. Perempuan yang tak pernah ia kenalkan pada siapa pun.
Dan malam itu, Rafli sadar, jika ia melangkah ke pertunangan, maka ia sedang mengkhianati bukan hanya Melati melainkan juga dirinya sendiri.
Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tak punya pilihan.
Rafli pergi tanpa memberi alasan, dan Melati tidak menaruh curiga.
Acara pertunangan disiarkan di TV, Melati melihat wajah Rafli berdiri di samping perempuan lain. Perempuan bernama Tasya Dwijaya cantik, seksi dan penuh pesona.
***
Rafli sudah berada di rumah, dan Melati menunggu, tapi bukan untuk marah. Dia hanya ingin mendengar alasan paling jujur, walau hatinya mungkin sudah retak.
Sudah lewat tengah malam ketika Rafli pulang ke rumah.
Langkahnya berat. Setelan jasnya masih rapi, tapi wajahnya lelah. Pintu utama dibuka pelan, dan cahaya remang dari lampu gantung menyambutnya dalam hening.
Tak ada suara, tak ada Melati. Ia kira semua orang sudah tidur, tapi ternyata tidak.
Di ruang tengah, lampu masih terang. Televisi menyala tanpa suara dan di depan layar, Melati duduk. Diam. Tidak bergerak, matanya menatap lurus dan pipinya basah.
Rafli berhenti di ambang pintu. Jantungnya berdetak tak beraturan.
Melati tahu.
Layar TV menampilkan potongan berita ulang acara pertunangan putra mahkota Mahendra Group, Rafli Mahendra, dengan Tasya Dwijaya.
Tampak mereka berdiri bersama, tersenyum ke arah kamera. Cincin disematkan disertai suara tepuk tangan tamu menggema.
Dan wajah Melati, hancur tanpa suara.
Beberapa jam sebelumnya, Melati sedang membaca buku saat suara TV di dapur menyala. Pak Basuki sedang menonton berita hiburan nasional. Ia tak sengaja mendengar nama yang sangat ia kenal.
“Rafli Mahendra, CEO muda Mahendra Group, resmi bertunangan dengan putri pengusaha minyak, Tasya Dwijaya.”
Melati menjatuhkan gelas di tangannya. Tubuhnya gemetar. Ia berjalan ke depan TV. Siaran langsungnya sudah selesai, tapi cuplikan-cuplikan masih berulang.
Senyum Rafli, wajah Tasya. Cincin berlian yang disematkan dan Flash kamera.
Pujian-pujian untuk pasangan ‘sempurna’ itu.
Melati tidak menangis saat itu juga. Ia hanya duduk. Mencoba bernapas, tapi sesak itu perlahan menutup dadanya.
Ia mengandung anak dari pria yang baru saja bertunangan di depan publik dengan perempuan lain.
Dan kini, pria itu pulang.
Masih dengan setelan yang sama seperti di layar tadi.
“Melati." Suara Rafli serak, hampir tak terdengar.
Perempuan itu menoleh perlahan. Tatapannya kosong, matanya bengkak. Tapi ia tidak membentak. Tidak juga menjerit.
“Sejak kapan kau pulang?” Suaranya lembut, nyaris seperti bisikan.
“Baru saja,” jawab Rafli lirih.
“Aku bisa jelaskan.”
Melati mengangguk.
“Silakan.”
Akan tetapi, Rafli justru terdiam. Ia tidak tahu harus memulai dari mana.
Melati menatap layar, lalu mematikannya. Ruangan sunyi seketika. Lalu ia berkata.
“Apa saya tidak cukup layak untuk diperkenalkan, Tuan Rafli?”
“Ini bukan tentang itu.”
“Oh.” Ia tersenyum kecil.
“Lalu tentang apa? Keluarga? Nama baik? Atau karena saya hanya istri yang disembunyikan?”
Rafli melangkah mendekat, tapi Melati berdiri.
“Berhenti,” katanya tenang.
“Jangan dekati saya malam ini. Saya sedang mencoba menjaga kewarasan saya.”
“Melati, ini semua—”
“Pertunangan itu ... bohong?” Ia menatap lurus padanya.
Rafli tidak bisa menjawab.
“Bukan?” Suara Melati goyah. Dia menggelengkan kepala.
“Jadi semua yang saya lihat tadi bukan ilusi? Itu benar?”
Rafli menunduk. Tangannya mengepal.
“Ayahku memaksaku. Aku tidak bisa menolak. Aku tidak pernah menyetujui itu, Melati. Aku hanya berdiri di sana.”
“Dan tersenyum.”
Rafli mengangkat kepala terkejut dengan jawaban Melati.
“Kau tersenyum, Tuan Rafli. Aku melihatnya sendiri.”
Air mata menetes dari sudut mata Melati.
“Kalau kau benar-benar ingin melindungiku kenapa aku harus tahu dari TV? Kenapa bukan dari mulutmu sendiri, Tuan?”
“Aku ingin menjagamu dari sakit.”
“Tapi kamu malah menusukku dari belakang.”
Hening panjang.
Melati menahan perutnya yang sedikit nyeri. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas.
“Aku tidak akan pergi,” katanya pelan.
“Karena aku tidak ingin anak ini hidup tanpa Ayah. Tapi aku juga tidak akan menunggu lagi.”
“Melati.”
“Aku sudah cukup diam. Sudah cukup mengerti. Sudah cukup sabar.”
Ia menatapnya untuk terakhir kali malam itu.
“Mulai besok, anggap saja... aku bukan lagi perempuan yang kau sembunyikan. Aku hanya Ibu dari anakmu. Itu saja.”
Dan malam itu, Melati masuk ke kamarnya.
Membiarkan Rafli berdiri di ruang tengah, sendirian.
Dikelilingi bayangan layar televisi yang tak bisa ia padamkan.
---
Pagi datang tanpa salam.
Cahaya matahari menembus sela tirai, memantul lembut ke dinding marmer. Rumah itu tetap hening. Terlalu hening. Seolah ikut menahan napas.
Rafli duduk di meja makan yang luas, sendiri. Secangkir kopi di depannya mengeluarkan asap tipis, tapi ia tak menyentuhnya. Tatapannya kosong, pikirannya berat.
Langkah kaki lembut terdengar dari arah kamar bawah. Melati mengenakan gaun tidur panjang berwarna biru muda. Rambutnya digerai seadanya, matanya sembab tapi tenang. Mendekat ke arah dapur.
Ia bukan lagi Melati yang dulu menunduk. Bukan juga yang memburu pengakuan. Perempuan itu kini berdiri dengan tenang, tapi dingin. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama merasakan kecewa, hingga tidak tahu lagi apa yang layak diperjuangkan.
Rafli berdiri. “Melati.”
Melati tidak langsung menjawab. Ia mengambil air putih, lalu duduk di ujung meja. Jauh darinya.
“Dengar dulu.” Rafli memulai, berjalan mendekat.
“Aku tahu aku salah. Tapi aku ingin kau tahu, aku tak pernah menginginkan pertunangan itu.”
Melati mengangkat alis pelan, seperti menahan senyum getir.
“Kalau tak ingin, kenapa tetap datang?”
“Karena aku tidak punya pilihan.”
“Kau selalu punya pilihan, Tuan.” Nada suaranya tetap lembut, tapi menyayat.
“Yang kau pilih hanyalah apa yang ingin kau jaga.”
Rafli duduk di hadapannya.
“Aku memilihmu, Melati. Tapi aku tidak cukup kuat untuk menolak perintah Ayahku. Aku dibesarkan di keluarga yang hanya mengerti dua katayl yaitu warisan dan nama baik.”
“Lalu, aku ini apa? Aib?”
“Tidak! Kau bukan itu.”
Melati menatapnya dalam.
Rafli melanjutkan, suaranya mulai goyah.
"Aku tidak pernah menginginkan wanita lain. Aku tidak mencintai Tasya. Aku bahkan tak menyentuhnya.”
“Tapi dunia melihat kalian seperti pasangan sempurna.”
“Aku akan batalkan semuanya.”
Melati menahan napas. “Dan kalau keluargamu memutuskan hubungan denganmu?”
Rafli terdiam.
“Kau lihat?” bisik Melati.
“Pada akhirnya, aku tetap di bawah prioritasmu.”
Air mata meluncur perlahan di pipi Rafli. Ia tidak tahu kapan terakhir kali menangis. Mungkin sejak ibu kandungnya meninggal.
Tapi pagi itu, ia menangis. Untuk Melati. Untuk bayi mereka. Untuk dirinya yang tak pernah tahu bagaimana cara melindungi keduanya tanpa kehilangan dunia yang lain.
Melati bangkit berdiri, lalu berkata pelan:
“Tuan tidak perlu memilih. Karena saya sudah memilih untuk tidak menunggu.”
Dan untuk kedua kalinya, Melati pergi meninggalkannya di ruangan itu bukan karena marah. Melainkan dia sudah belajar bahwa tidak semua luka harus diobati oleh orang yang membuatnya.
Kadang satu-satunya cara sembuh adalah dengan menjauh.