Pagi itu kampus terasa lebih ramai dari biasanya. Udara segar bercampur aroma kopi dari kantin dekat gerbang, dan suara langkah mahasiswa beradu dengan tawa yang memenuhi koridor. Di antara kerumunan itu, Melati berjalan pelan, menatap sekeliling seolah berusaha menghafal kembali setiap sudut yang telah lama ia tinggalkan.
Hampir dua bulan ia menghilang, dan kini ia kembali dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat. Tidak ada yang tahu di mana ia tinggal, apalagi apa yang sebenarnya terjadi padanya.
“Mel! Ya Tuhan, beneran kamu!”
Suara nyaring itu membuat beberapa mahasiswa menoleh. Unnik berlari kecil mendekat, wajahnya berbinar. Wulan menyusul dari belakang, menenteng map tebal.
“Kita kira kamu pindah kampus,” ujar Wulan sambil memeluknya singkat.
Melati tersenyum tipis. “Nggak, cuma … sempat sakit aja dan memang tidak boleh kerang dulu."
Mereka bertukar pandang, jelas penasaran. Namun, sejak awal kuliah Melati memang menjaga jarak dalam urusan pribadi. Baik Unnik maupun Wulan tidak pernah tahu alamat rumahnya, apalagi latar belakang keluarganya. Meskipun bisa dibilang semenjak ospek, mereka jadi akrab sampai sekarang.
“Eh, kamu tau nggak? Hari ini kampus heboh banget,” kata Unnik, suaranya direndahkan.
“Mahendra Grup datang buat peresmian gedung baru.”
Nama itu membuat napas Melati sedikit tercekat. Mahendra Grup. Perusahaan yang dipimpin oleh lelaki yang diam-diam menjadi suaminya. Lelaki yang kini, di mata publik, bertunangan dengan wanita lain.
“Katanya CEO-nya, Rafli Mahendra, ganteng banget kalau dilihat langsung,” timpal Wulan dengan nada antusias.
“Hari ini dia bintang tamu utama. Semua orang nggak sabar lihat.”
Melati hanya mengangguk datar. “Oh, gitu.”
“Gitu doang?” Unnik mengerling. “Respon kamu kayak nggak tertarik.”
Melati hanya tersenyum samar dan mengalihkan pembicaraan ke jadwal kuliah.
"Kita masih sekolah, ngapain juga tertarik sama yang lebih dewasa gitu."
"Ihhh, tapi ini lain, Mel. Pak Rafli itu ganteng dan penuh pesona," sahut Unnik yang lebih heboh dari mahasiswa yang lain. Melati tidak menyahut.
***
Taman kampus penuh dekorasi. Spanduk besar bertuliskan Peresmian Gedung Riset Mahendra Grup membentang di gerbang utama. Wartawan lalu-lalang, kamera berkedip, dan mahasiswa berkerumun untuk mendapatkan tempat terbaik melihat acara.
Dari kejauhan, rombongan pria berjas hitam berjalan rapi. Di tengahnya, Rafli. Jas biru tua membungkus tubuhnya, kemeja putihnya licin tanpa lipatan. Senyum tipis terukir di wajahnya ketika menyalami para dosen senior. Sorot matanya menyapu kerumunan, lalu berhenti pada sosok di kejauhan yaitu Melati.
Hanya sepersekian detik. Namun, cukup untuk membuat d**a Melati terasa sesak. Ia buru-buru berpaling, pura-pura sibuk melihat Unnik yang sedang memotret suasana.
“Eh, Mel, itu dia!” bisik Wulan dengan mata berbinar.
“Asli, ganteng banget! Tapin… tadi dia kayak ngeliatin kamu, deh.”
Melati hanya terkekeh singkat. “Kamu halu, mana ada kayak begitu."
Acara berlangsung meriah. Rafli berdiri di podium, suaranya tenang dan berwibawa, membicarakan komitmen Mahendra Grup untuk mendukung pendidikan. Melati duduk di barisan belakang. Namun, setiap kalimatnya terdengar seakan diarahkan padanya.
Begitu acara selesai, mahasiswa berbondong-bondong maju untuk berfoto. Melati memilih menjauh, berjalan menuju gedung perpustakaan.
Namun langkahnya terhenti ketika suara berat memanggil namanya.
“Melati.”
Suara itu membuatnya berhenti. Rafli berdiri hanya beberapa langkah darinya. Wajahnya tetap tenang, tapi matanya penuh ketegangan.
“Kamu sengaja tidak bilang kalau hari ini ada acara di kampus kamu?” Suaranya rendah, tegas.
Melati menatapnya datar. “Aku baru tahu pagi ini dari Unnik. Aku pikir tidak masalah, kita kan bisa pura-pura tidak saling kenal, Pak Rafli."
Rafli menghela napas, rahangnya mengeras.
“Masalahnya, satu foto saja yang memuat kita di frame yang sama bisa menghancurkan semua rencana, kamu mikir sampai ke situ tidak?" Kali ini suaranya penuh penekanan.
Melati mengangkat dagu. “ Aku tidak akan mendekatimu. Aku cuma mau mulai kuliah saja."
“Itu bukan cuma soal jarak, Bodoh. Wartawan bisa membuat gosip dari apa pun. Kalau nama kamu mulai dihubungkan dengan aku itu artinya .... "
“Maka semua orang tahu aku istri kamu, benar begitu, Pak Rafli?" Suaranya lirih tapi tajam.
“Dan itu yang paling kamu takutkan, kan?” lanjut Melati tidak kalah tegas.
Tatapan Rafli mengeras. “Aku cuma tidak mau kamu jadi sasaran.”
"Tidak perlu khawatir, aku cukup tahu diri tentang siapa aku ini, Pak Rafli. Gadis bodoh yang kau sebutkan tadi."
"Kauu---."
Langkah kaki terdengar dari arah koridor. Tasya muncul, gaun merah mudanya kontras dengan tembok abu-abu. Senyumnya tipis, matanya penuh selidik.
“Ohhh ... jadi ini alasan kamu ninggalin meja tamu tadi, Sayang?” tanyanya pada Rafli dengan nada manis yang menusuk. Tasya langsung menggamit lengan Rafli mesra.
Melati menunduk, mencoba melewati mereka tanpa kata. Saat itulah ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal muncul di layar.
“Istri rahasia CEO? Cantik juga. Berapa lama kamu pikir bisa menyembunyikannya?”
Melati membeku. Jari-jarinya mencengkeram ponsel. Rafli melihat perubahan ekspresinya, dan matanya menyipit, menyadari sesuatu yang buruk baru saja dimulai, tapi dia tidak bisa memanggil Melati lagi karena ada Tasya di sampingnya.
"Kita kembali ke ruangan, Sayang."
Suara panggilan itu masuk ke telinga Melati yang masih berdiri tidak jauh dari mereka.
"Siapa gadis itu? Kamu kenal dia?"
"Tentu saja kenal, dia saudaranya Pak Basuki."
"Pak Basuki siapa?"
"Pak Basuki itu dulunya sopir pribadi Kakek, kemudian turun ke Papa lalu sekarang turun lagi ke aku. Begitu .... "
"Kuliah di sini juga?"
"Hmmm."
"Dari keluarga kalian yang men-support semuanya?"
"Ayo, masuk. Kita sudah ditunggu."
Rafli menggandeng tangan Tasya penuh cinta karena banyak pasang mata dan kamera wartawan yang menyorot ke arah mereka, dia juga tidak mau kalau keluarga melihatnya tidak sepenuhnya melindungi dan mencintai Tasya.
Rafli dan Tasya adalah mantan mahasiswa terpopuler dulu di kampus milik Mahendra grup ini, hanya saja Rafli sudah mempunyai kekasih bernama Kassandra, jadi tidak melirik ke arah Tasya yang sudah dari kecil dijodohkan keluarganya. Untuk Tasya sendiri, ini adalah momen yang spesial untuk mengenalkan pada dunia bahwa Rafli Mahendra adalah calon suaminya, mereka sudah bertunangan minggu yang lalu dan disaksikan semua media juga dua keluarga besar mereka.
Hal itu yang membuat Rafli tidak bisa bergerak bebas, setiap langkahnya seperti diawasi oleh mata-mata dan yang paling dia takutkan adalah soal Melati.
"Sayang, aku mau ikut kamu pulang."
"Tapi aku mampir di banglo sebentar bukan ke kantor."
"Iyaaa, aku tahu, kok."
Rafli tercekat. Akan tetapi, dia tidak bisa menolak. Toh, dia sudah mengatakan kalau Melati adalah saudara Pak Basuki jadi kalaupun bertemu di rumah nanti, Tasya tidak akan curiga dan tangan Rafli cepat mengirim pesan untuk Pak Basuki. Namun, Melati ternyata sudah pulang lebih dulu karena badannya masih lemas.
Tepat di saat mereka melangkah masuk ke ruangan, Melati keluar dari kamarnya.