Ketiga manusia yang berada di dalam rumah itu seperti patung. Tegang dan sama-sama bingung. Apalagi Melati yang tidak tahu kalau Rafli akan membawa Tasya datang ke rumahnya.
"Oh, maaf, Den. Saya baru saja dari rumah Tuan Besar. Ohh ... ayo, Melati, kita pulang dulu."
Melati langsung menjawab iya dan masuk ke kamar untuk membawa tas. Pak Basuki menggandeng tangan Melati melewati Rafli dan Tasya.
Hening.
Mungkin hanya pikiran mereka yang saling menebak-nebak, tidak jauh dengan apa yang dipikirkan Melati saat ini, dia duduk di teras rumah Pak Basuki, di depan kolam ikan.
"Neng," sapa Pak Basuki pelan, duduk di sisinya.
"Oh iya, Pak." Melati tersenyum sebentar.
"Maaf, ya."
"Iya." Melati menjawab cepat karena sudah paham dengan apa yang dimaksudkan Pak Basuki. Kata maaf karena hal tadi, di rumah Rafli.
Dia juga tidak tahu, semenjak melihat Rafli bertunangan dengan Tasya di layar kaca televisi, ada yang lain dirasakannya. Dia meyakinkan hatinya sendiri untuk tidak mengatakan bahwa dia jatuh cinta. Akan tetapi, gejolak cemburu itu jelas dia rasakan. Dan, malam ini apakah mereka akan tidur bersama?
"Saya juga tidak tahu kalau Den Rafli secepat itu bertunangan. Oh iya tadi Bibi ada buatkan rujak. Ayo, kita ke dapur."
Rujak?
Serta merta Melati menghambur ke dapur dan menikmati rujak buatan istri Pak Basuki.
Tapi di dalam hati, rasa getir itu semakin jelas. Sejak melihat berita pertunangan Rafli dengan Tasya di televisi, ia sudah menyiapkan diri. Ia tahu posisinya hanya sebagai rahasia yang disembunyikan. Namun, saat berhadapan langsung seperti tadi, luka itu semakin nyata.
Ia menggigit bibir, menahan air mata. Aku ini apa? Istri yang disembunyikan, atau hanya pelengkap di balik layar?
Sementara itu, di banglo, Tasya duduk di ruang tamu dengan wajah datar, tapi tatapannya tajam.
“Siapa dia, Rafli?” tanyanya akhirnya.
Rafli menarik napas, mencoba tenang.
“Anak asuh Pak Basuki. Tinggal sementara saja.”
“Anak asuh?” Tasya mengulang pelan, bibirnya tersenyum kecut.
“Caramu menatapnya tadi di kampus dan barusan, itu bukan tatapan biasa, Rafli.”
Rafli tercekat. Ia mencoba mengalihkan.
“Kau terlalu berpikir jauh. Dia hanya gadis yang butuh tempat tinggal.”
Tasya tidak menjawab, tapi matanya penuh kecurigaan. Nalurinya berkata ada sesuatu yang ditutup-tutupi. Entah apa itu.
Malam itu, Melati berbaring di ranjang kecil di rumah Pak Basuki. Matanya tak juga terpejam. Kata-kata Tasya terus terngiang. Apakah malam ini mereka akan tidur bersama sebagai pasangan sah?
Perasaan sakit itu menusuk. Ia tahu sejak awal pernikahannya dengan Rafli adalah rahasia. Tidak ada pesta, tidak ada pengakuan. Hanya akad singkat, saksi seadanya, dan surat kontrak yang membuatnya terasa rapuh.
Dan malam ini, rahasia itu semakin terancam. Karena Tasya mulai mencium sesuatu. Tasya akhirnya memutuskan untuk tidak pulang.
“Aku capek, Rafli. Lagi pula besok pagi kita ada janji meeting dengan Papa. Biar aku tidur di sini saja, ya," rengeknya.
Rafli menelan ludah. Ia tidak bisa menolak, meski jelas kegelisahan terpampang di wajahnya. Tasya sengaja mengucapkannya keras-keras, seakan ingin menandai bahwa rumah ini juga miliknya kelak.
"Hmmm. Kau tidur di kamarku, aku mau tidur di kamar sebelah." Kamar yang dimaksudkan Rafli adalah bekas kamarnya Melati di lantai atas.
***
Pagi datang dengan sinar matahari yang menyelinap lewat tirai jendela. Melati baru saja turun dari kamar, hendak membantu Bibi menyiapkan sarapan di dapur, ketika langkahnya terhenti di ruang makan.
“Oh, pagi, Melati, ya?” suaranya lembut tapi penuh arti.
Melati terdiam sebentar, lalu tersenyum sopan. “Iya, Mbak. Selamat pagi.”
Rafli juga duduk di meja yang sama. Kapan mereka datang? kata hati Melati bingung. Ada ketegangan yang tiba-tiba terasa di udara.
Tasya menoleh ke arah Rafli, lalu kembali menatap Melati. “Mel, boleh tolong bikinkan sarapan untukku? Aku ingin sesuatu yang ringan saja seperti omelet, mungkin, atau roti bakar. Kamu bisa, 'kan?”
Melati tercekat. Itu bukan sekadar permintaan biasa. Sebuah cara halus untuk menempatkan dirinya lebih rendah di hadapan Rafli.
Rafli buru-buru menyela. “Tasya, biar Bibi saja yang menyiapkan. Melati pasti buru-buru ke kampus hari ini."
Namun, Tasya mengangkat tangannya, memotong kalimat Rafli.
“Ah, masa sih ponakan Pak Basuki tidak bisa menyiapkan sarapan sederhana? Aku cuma ingin melihat caranya, itu saja, Sayang."
Melati menunduk, menahan gejolak di dadanya. Ia tahu posisi dirinya tidak boleh goyah.
“Baik, Mbak. Saya buatkan sekarang.”
Tasya tersenyum tipis, lalu melirik sekilas ke arah Rafli yang gelisah. Hatinya puas. Ia ingin membuktikan sesuatu bahwa perempuan itu bukan sekadar ponakan, ada sesuatu yang lebih, dan ia akan menemukannya.
Di dapur, tangan Melati sedikit gemetar saat memecahkan telur. Bibi memperhatikan diam-diam, lalu berbisik, “Sabar, Neng."
Air mata hampir jatuh dari sudut mata Melati. Ia mengangguk pelan. Aku istri sahnya, tapi di depan dunia, aku hanya ponakan Pak Basuki.
Aroma omelet keju dan roti bakar memenuhi ruang makan. Melati menata piring dengan hati-hati, berusaha menutupi getar di tangannya. Sementara itu, Tasya duduk bersila di kursi makan, menatap setiap gerakan Melati dengan senyum samar, senyum yang membuat suasana jadi tidak nyaman.
“Silakan, Mbak,” ucap Melati lirih, meletakkan sarapan di depan Tasya.
“Hmmm, sekalian buatkan aku teh tawar panas, ya.” Tasya meraih garpu, mencicipi sedikit omelet itu.
Hening sesaat. Lalu ia menoleh pada Rafli dengan ekspresi yang dibuat-buat.
"Hei, cepattt!"
"Oh iya---iya, Mbak."
“Rafli, ternyata ponakan Pak Basuki pintar juga, ya. Rasanya cukup enak. Lebih baik daripada masakan koki hotel, menurutku.”
Rafli yang duduk di ujung meja hanya mengangguk kaku.
“Syukurlah kalau cocok.”
"Ini, Mbak."
Melati meletakkan teh panas di atas cangkir.
"Ambilkan aku air putih hangat."
"Iya."
Melati hanya menurut dan berdiri di sisi kanan Tasya seperti menunggu sang majikan memerintah lagi.
Tasya meneguk air putihnya pelan, lalu menatap Melati dengan tatapan menelisik.
“Kamu belajar masak dari mana, Mel? Rasanya rapi sekali, seperti orang yang terbiasa mengurus rumah tangga."
Pertanyaan itu membuat Melati tercekat. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu maksud Tasya bukan sekadar basa-basi.
“Saya … belajar dari Bibi,” jawabnya cepat. “Sesekali membantu di dapur.”
“Oh, begitu?” Tasya tersenyum miring, lalu kembali melirik Rafli.
“Bagus juga kalau ada yang bisa urus rumah. Jadi nanti kalau aku sering menginap, tidak perlu repot, 'kan? Kau bisa memasak dan membantu mencicil pakaian. Rumah pasti akan bersih semua."
Rafli mengangkat wajah, sorot matanya seolah ingin menghentikan pembicaraan itu. Tapi Tasya sengaja menekankan kata “sering menginap”, membuat Melati menunduk makin dalam. Semakin tahu diri.
Beberapa menit kemudian, Tasya bersandar santai, memainkan garpu di tangannya. “Rafli, aku betah sekali di sini. Rumah Pak Basuki sejuk. Rasanya tenang, mungkin aku akan sering ke rumah ini lagu. Siapa tahu nanti aku bisa belajar masak juga dari Melati.”
Ucapan itu seperti pisau bermata dua. Di telinga Rafli, itu terdengar seperti ancaman terselubung. Sedangkan bagi Melati, ucapan itu menegaskan satu hal yaitu Tasya tidak akan berhenti sampai menemukan siapa dia sebenarnya.
Di dapur, setelah beres membereskan piring, Melati duduk sebentar, mencoba menenangkan diri. Tapi hatinya berkecamuk. Ia sadar betul, rahasia pernikahannya dengan Rafli semakin rapuh. Tatapan Tasya bukan sekadar rasa ingin tahu melainkan itu tatapan seorang perempuan yang mencium adanya persaingan.
Sementara itu, di ruang tamu, Tasya tersenyum kecil, membolak-balik layar ponselnya. Sambil memperhatikan Melati yang sibuk membantu Bibi dan Pak Basuki. Kemudian bersiap ke kampus.
Setelah Melati pergi, Rafli dan Tasya langsung menuju ke kantor pusat Mahendra Grup karena orang tua mereka sudah menunggu.
Tasya melirik ke arah Rafli.Dalam hati, ia berbisik, Aku akan tahu siapa sebenarnya perempuan itu, Rafli. Dan kalau tebakan hatiku benar. Aku akan membuat perhitungan dengannya.