Teka-teki

1146 Kata
Siang itu, ketika Rafli keluar untuk menerima telepon bisnis, Tasya melihat kesempatan. Ia menghampiri Pak Basuki yang sedang memotong beberapa bonsai di halaman depan. “Pak Basuki,” sapa Tasya ramah. Namun, tatapannya penuh ke hati-hatian, waspada. “Saya boleh tanya sesuatu, Pak?” Pak Basuki menghentikan gerakan dan meletakkan gunting di sisi kanan. Lalu, menatap Tasya dengan wajah yang penuh kekhawatiran. “Ada yang bisa dibantu, Non Tasya?” Tasya melangkah lebih dekat. “Ponakan Bapak yang tinggal di sini Melati, ya? Sudah lama?” Pak Basuki tercekat. Ia tahu, pertanyaan sederhana itu pasti akan dikatakan oleh tunangan majikannya. “Baru beberapa bulan, Nona. Dia memang seperti anak sendiri karena semenjak orang tuanya meninggal, ada bersama keluarga kami." Tasya menyipitkan mata. “Aneh ya, saya tidak pernah mendengar Bapak punya saudara yang bernama orang tuanya Melati. Dari pihak mana, Pak?” Keringat dingin mulai muncul di pelipis Pak Basuki. Ia menunduk, mencari jawaban aman. “Itu saudara jauh dari kampung istri, di Pekalongan, Non. Orang tuanya dulu yang punya pabrik kain di sana dan memang semenjak saya tinggal di Jakarta, jadi jarang ketemu." Belum sempat Tasya mendesak lebih jauh, suara langkah berat terdengar. Rafli muncul dari arah pintu, wajahnya dingin, tatapannya tajam ke arah Pak Basuki. “Pak Bas!” Suaranya berat, penuh tekanan. “Saya ada perlu dengan Bapak di dalam.” Pak Basuki langsung kaget, mengangguk cepat. “Iya, Den.” Ia buru-buru masuk ke dalam rumah, meninggalkan Tasya yang berdiri terpaku. Tasya mendengus kecil, matanya mengikuti punggung Rafli. “Kau cepat sekali bergerak, Rafli. Seolah sudah tahu apa yang kupikirkan,” gumamnya lirih. --- Di ruang belakang, Rafli menutup pintu rapat. Ia berdiri di depan Pak Basuki dengan wajah keras. “Pak, jangan sekali-sekali menjawab pertanyaan Tasya lebih dari yang perlu. Ingat, Melati tetap ponakanmu. Itu saja.” Pak Basuki menunduk. “Iya, Den. Maafkan saya tadi." Rafli menarik napas panjang, menahan gejolak di dadanya. Ia tahu Tasya tidak mudah dibodohi. Gerak-geriknya terlalu tajam, setiap celah bisa dimanfaatkannya. Sore itu, Tasya kembali mencoba mengorek. Ia menghampiri Rafli yang sedang duduk di ruang kerja, pura-pura menyerahkan dokumen. “Sayang." Suaranya lembut, tapi matanya tajam. "Aku ingin bicara soal Melati. Siapa dia sebenarnya? Jangan-jangan .... " “Cukup, Tasya.” Suara Rafli datar, tapi tegas. Ia menutup map dokumen dengan keras. “Jangan campuri urusan yang bukan hakmu.” Tasya terpaku sesaat, lalu tersenyum sinis. “Bukan hakku? Aku tunanganmu, Rafli. Aku berhak tahu siapa perempuan yang tinggal serumah denganmu.” Rafli menatapnya tajam, sorot matanya menusuk. “Hubungan kita hanya urusan bisnis. Jangan disalah artikan. Dan soal Melati, dia tinggal di rumahku karena Pak Basuki juga ada di sana, dia hanya membantu.Titik. Aku tidak mau dengar pertanyaan itu lagi. Kau mengerti?" "Tapi, Raf ... dia itu perempuan muda dan kau---!" "Aku kenapa?" "Kalian tinggal dalam satu rumah, apa itu namanya?" "Rumah ini tidak tiap hari aku datangi, biasanya dua bulan sekali dan belum tentu. Kenapa? Kau tetap curiga aku ada hubungan spesial dengannya?" "Raf...." Tasya tercekat. Rafli belum pernah berbicara setegas itu padanya. ia mencoba melembut. "Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu, 'kan?” “Tidak, ” potong Rafli cepat. “Aku punya terlalu banyak urusan penting untuk diladeni dengan rasa curigamu. Fokus saja pada kerjasama kita. Jangan buat hal-hal lain jadi masalah. Kalau kau masih saja tidak bisa menyeimbangkan urusan pekerjaan, baiklah. Biar nanti aku bicara dengan ayahmu saja." Wajah Tasya mengeras. Ia merasa dipermalukan. Tapi Rafli sudah berdiri, mengambil jasnya, lalu menatap Tasya untuk terakhir kali sebelum pergi. “Aku harap kau mengerti. Ada hal-hal yang lebih penting daripada rasa curigamu.” Sementara di kamar kecilnya, Melati mengelus perutnya yang masih rata. Ia bergumam pelan, hampir seperti doa. Sebuah do'a yang dia tidak tahu pantas apa tidak diucapkan karena suaminya tidak mencintai, tapi anak itu, bagaimana? Air matanya jatuh. Ia mencoba paham, Rafli mungkin terlihat keras di luar, tetapi semua itu dilakukan agar ia dan kandungan kecil ini tetap aman. Dia tidak mau Tasya terus mencurigainya walaupun itu benar. Tasya menatap bayangan dirinya di cermin. Genggaman tangannya erat, matanya berkaca-kaca bukan karena cemburu semata, melainkan karena harga dirinya diinjak. Dia merasa Rafli terlalu menutup diri. “Kalau kau tidak mau bicara? Aku sendiri yang akan bongkar semuanya.” Sejak awal berada di kampus hari itu, Tasya merasa ada yang aneh dengan Melati. Gadis itu terlalu tenang, terlalu misterius, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ingin diketahui orang lain. Dan yang lebih mencurigakan adalah ketika dia bertemu di rumah banglo milik tunangannya. Dia merasa sabgat tidak mungkin kalau semua ini hanya kebetulan saja. Hatinya, yang sudah terikat pada Rafli, tidak bisa menerima begitu saja kehadiran Melati, aapalagi kalau diperhatikan gadis itu memang cantik dan masih muda belia. Tasya membuka nama universitas yang dia datangi kemarin. Ia menemukan nama Melati dalam salah satu grup kampus, lalu menelusuri akun media sosialnya. Semua serba samar, seolah identitas itu sengaja dikaburkan. Namun, langkah Tasya ternyata tak secepat dugaan. Rafli mengetahui gerak-gerik itu lebih dulu. Ia membaca jejak panggilan di ponsel Tasya, juga mendengar dari salah seorang temannya bahwa Tasya mencari informasi tentang Melati. Pun, Tasya tidak tahu kalau semua akun sosial media milik Melati itu adalah miliknya sendiri. Dia yang meng-handle bahkan sampai di nomor teleponnya. Tidak ada pergerakan Melati yang tidak diawasi oleh Rafli. Siang harinya, Rafli mendatangi Tasya dengan wajah muram. Suaranya dingin, berbeda dari biasanya. “Apa maksudmu bergerak di belakangku?” tanyanya, menahan nada marah. Tasya terdiam. Ia tidak menyangka Rafli akan mengetahuinya secepat itu. “Aku hanya … hanya ingin tahu siapa sebenarnya Melati. Aku curiga dia menyembunyikan sesuatu dari kita.” Rafli mengepalkan tangannya. “Kau pikir aku tidak tahu? Kau kira aku membiarkanmu menyelidiki karena aku lengah? Tidak, Tasya. Justru karena aku tahu segalanya, aku tidak ingin kau ikut campur. Ini urusanku, bukan urusanmu.” “Bagaimana bisa bukan urusanku, Rafli?” Suara Tasya meninggi, matanya memerah menahan emosi. “Kau tunanganku sedangkan Melati, entah kenapa aku merasa dia punya hubungan denganmu. Aku tidak bisa tinggal diam!” Kata-kata itu membuat d**a Rafli semakin panas. Ia merasa harga dirinya disudutkan. Baginya, Tasya tidak percaya padanya, bahkan berani melangkah tanpa sepengetahuannya. “Kau salah besar, Tasya. Kau justru membuat semuanya semakin rumit,” ucap Rafli, menahan napas berat. “Aku sudah berusaha melindungimu dari masalah ini, tapi kau malah mencari masalah sendiri.” Tasya menggigit bibirnya. “Aku hanya ingin tahu kebenarannya yang ....” “Tasya!” Rafli membentak kali ini, membuat gadis itu terkejut. Matanya mulai berkaca-kaca. “Kalau kau terus ikut campur, jangan salahkan aku kalau pertunangan ini berakhir.” Ruangan mendadak hening. Tasya menunduk, tangannya bergetar. Ia tidak menyangka Rafli akan mengucapkan ancaman seperti itu. Tetapi hatinya tetap menolak mundur—ia yakin ada rahasia besar antara Rafli dan Melati yang belum terungkap. Rafli sendiri berbalik, menahan amarahnya yang hampir meledak. Dalam hati ia tahu, cepat atau lambat Tasya akan mengetahui kebenaran, tapi tidak dengan cara seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN