Ancaman

1090 Kata
Lampu neon merah dan biru berpendar di dinding klub malam, memantul di meja-meja kaca yang penuh botol minuman. Musik berdentum keras, membuat lantai bergetar, dan asap rokok tipis melayang di udara. Margaret duduk santai di sofa VIP, menyilangkan kaki, matanya tetap tajam menilai setiap gerak-gerik orang di sekitarnya. Tidak ada yang membuatnya terkejut di klub malam ini karena ia hidup di dunia seperti ini setiap hari. Namun, ada yang aneh dalam pandangannya saat seorang perempuan masuk ke klub, sendirian. Tasya, yang baru saja memasuki klub sendirian, terlihat berbeda. Dress merahnya kontras dengan keramaian, pipi merona, mata berkaca-kaca karena mabuk ringan. Ia mencoba menenangkan diri dengan memainkan ponselnya, mengetik pesan tanpa tujuan jelas. Tangannya gemetar sedikit, jari-jari memukul layar dengan ritme tidak beraturan. Ia kesal, marah dan benci dengan keadaan yang selalu menyudutkannya. Margaret mengamati gadis itu dari jarak dekat. Ia luwes menyapa, tidak menunjukkan sedikit pun rasa kagum atau kaget. “Eh, baru pertama kali ke sini, ya?” Suara Margaret lembut, sedikit menggoda, tapi tetap memikat perhatian Tasya. Tasya menoleh, tersenyum tipis. “Iya … cuma ingin sendiri sebentar.” Margaret tersenyum, matanya menari-nari penuh selidik. “Sendirian itu baik. Bisa santai, nggak terganggu orang lain. Tapi, kamu ini tampak sedikit gelisah. Hati-hati saja, Nak, orang di sini tidak selalu apa adanya. Kau perlu waspada." Tasya menggigit bibir bawahnya, menahan senyum kaku. “Ah, saya biasa saja. Hanya sedikit lelah. Pun, apa yang perlu saya takutkan dengan dunia seperti ini, hah? Tidak ada. Mereka bahkan yang akan takut saat tahu, siapa aku? ha ha ha." Margaret mencondongkan tubuh, menyilangkan tangan di atas lutut. Ikut tertawa renyah. Padahal dia sangat paham orang-orang seperti Tasya. “Lelah atau gelisah karena seseorang?” ucapnya dengan nada ringan, pura-pura bercanda tapi sebenarnya ingin melihat reaksi Tasya. Tasya mengangkat alis, bibirnya menegang. Ia menatap gelas di tangannya, meneguk sedikit minumannya, mencoba menyembunyikan perasaan yang mulai naik. Dalam hatinya, cemburu dan rasa curiga menggelayuti. Ia tidak ingin Margaret tahu identitasnya, tapi juga tidak bisa menahan rasa penasaran yang mendidih. Tasya melirik Margaret, merasakan tersinggung dengan ucapannya walaupun itu benar. Margaret tersenyum tipis, lalu dengan santai mulai berbicara, seolah menceritakan sebuah rahasia kepada teman lama. “Dulu, ada satu laki-laki yang sering mampir ke sini. Rafli namanya, kalau tidak salah. Tinggi, rapi, dan selalu tampak serius. Dia, sungguh mempesona karena sangat tampan meskipun dingin." Margaret membidik tepat sasaran. Sebenarnya dia juga tahu, siapa gadis itu. Tasya terpancing, mengernyit. "Tapi … terakhir aku melihatnya, ada seorang gadis kampung yang ikut bersamanya. Polos, ayu dan kelihatan masih sangat muda." Tasya menahan napasnya. Dadanya sesak, tangan yang memegang gelas bergetar. Tanpa sadar, matanya menatap Margaret dengan intens. Margaret menatap balik, tetap santai, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. Tasya masuk dalam jebakannya. Dalam benak Tasya, pertanyaan-pertanyaan berputar liar. Gadis kampung? Siapa dia? Apa Rafli yang dimaksudkan adalah Rafli tunangannya? Atau Rafli yang lain? ia menelan ludah, berusaha tetap tenang, tapi jelas api cemburu mulai membakar hatinya. Lalu, siapa gadis kampungan itu? Apakah? Margaret, dengan gayanya yang luwes, hanya tersenyum tipis. Ia tahu Tasya adalah tunangan Rafli, tapi ia menikmati permainan kecil ini, melihat reaksi gadis muda terhadap cerita yang ia dengar. Tasya menegakkan tubuhnya sedikit, menarik tangan yang memegang ponsel, dan dengan lembut memperlihatkan cincin yang berkilau di jari manisnya. "Apakah yang Anda maksudkan itu Rafli Putra Aryanto?" "Hmmm? Siapa itu?" "Oh, maksud saya tadi adalah Rafli Mahendra? Pewaris Mahendra Grup itu?" “Saya tunangan Rafli, Mami,” katanya mantap, suara sedikit bergetar tapi penuh kebanggaan. “Cincin ini, sudah ada di media dan hampir satu negara ini tahu siapa aku.” Margaret menatap cincin itu, matanya membesar. Ia tersenyum samar, menahan rasa terkejutnya yang dia buat. Untuk seorang Margaret mana mungkin kabar seperti itu tidak tahu sebab banyak tamu VIP-nya yang berasal dari orang-orang kalangan atas, orang berduit yang selalu merasa punya kuasa dan kesepian. Suasana di sekitar mereka seakan menegang meski musik masih berdentum. Margaret menelan ludah, matanya beralih ke Tasya. Ia ingin sekali bertanya lebih jauh, ingin membongkar siapa gadis kampung yang disebutnya tadi, tapi ia tahu harus berhati-hati. Baginya, ini adalah peluang besar untuk mendapatkan keuntungan, tapi dia tahu bagaimana Rafli. Kalau dia tahu, habislah riwayatnya. Tasya duduk tegap, napasnya sedikit terengah. Ia menahan rasa paniknya, mencoba menyembunyikan gejolak emosi yang berkecamuk di dalam d**a. Mata dan bibirnya menegaskan bagaikan perasaan cemburu, takut kehilangan, dan penasaran yang membara. Margaret tersenyum, suaranya tetap lembut tapi ada nada menyindir. “Hmm… jadi kamu tunangan Rafli. Menarik sekali. Salam kenal, ya. Aku Margaret! Rafli pasti tahu, kok." Margaret berdiri lagi. "Tunggu!" "Ya? Ada sesuatu?" tanya Margaret lembut. Tasya menelan ludah, jantungnya berdetak kencang. Bibirnya mengeras, matanya menyipit. Ia ingin bertanya soal gadis yang disebutkan tadi, tapi dia juga bingung bagaimana caranya, dia takut itu akan membuat persepsi lain. Apalagi orang seperti Margaret ini tidak bisa dipercaya. "Hallo?" "Oh iya, sorry." Margaret tersenyum tipis lagi, menatap Tasya. Ia menyesap minumannya, lalu meletakkan gelas di meja dengan gerakan anggun. “Okay, selamat bersenang-senang, Tasya." Tiba-tiba, suara sepatu yang tegas terdengar dari arah pintu masuk VIP. Semua mata, termasuk Margaret dan Tasya, menoleh hampir bersamaan. Seorang pria berjalan dengan langkah pasti. Jas hitam membalut tubuhnya, wajahnya serius, tatapan matanya tajam menyapu ruangan. Aura dominannya langsung terasa, membuat semua orang yang melihatnya menunduk sedikit. Tasya terkejut. Dadanya sesak, tubuhnya menegang. Ia tahu siapa pria itu. Rafli, bagaimana dia bisa tahu aku ada di tempat ini? Margaret menyipitkan mata, tersenyum samar. Ia bisa merasakan kegelisahan Tasya. Dan tepat ketika ia hendak melanjutkan kata-katanya, melontarkan pertanyaan yang bisa membuka rahasia gadis kampung itu, Rafli sudah berdiri di hadapan mereka. Detik itu, seluruh atmosfer klub seakan membeku. Musik tetap berdentum, lampu masih berpendar, tapi hanya mereka bertiga yang berada dalam medan ketegangan itu. Rafli menatap Tasya, matanya serius tapi lembut. Kemudian pandangannya berpindah ke Margaret, penuh arti. Margaret menelan ludah, menyadari kata-kata yang hendak ia ucapkan kini harus tertahan. Tasya mematung, cincin di jarinya berkilau di bawah lampu strobo, hatinya campur aduk antara lega, panik, dan cemburu yang belum padam. Semua gerakan terasa lambat, Margaret tidak jadi pergi, Tasya menahan napas saat Rafli melangkah lebih dekat, siap mengambil alih kendali situasi. Rafli berdiri di hadapan mereka berdua, jas hitamnya rapi, matanya tajam menatap Tasya. Tanpa kata, kehadirannya sudah cukup membuat klub malam terasa berbeda, seolah musik dan lampu neon kehilangan d******i mereka, digantikan oleh aura dominan Rafli. Tasya menunduk sedikit, jantungnya berdegup kencang. Setiap inci tubuhnya menegang, merasa kecil di hadapan Rafli. Ia tahu, pria itu bisa membaca setiap gerakannya. Panik dan cemburu bercampur menjadi satu, membuat tangan yang memegang gelas bergetar. "Tasya, " panggilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN