Keputusan

1030 Kata
Rafli berdiri di hadapan mereka berdua, jas hitamnya rapi, matanya tajam menatap Tasya. Tanpa kata, kehadirannya sudah cukup membuat klub malam terasa berbeda, seolah musik dan lampu neon kehilangan d******i mereka, digantikan oleh aura dominan Rafli. Tasya menunduk sedikit, jantungnya berdegup kencang. Setiap inci tubuhnya menegang, merasa kecil di hadapan Rafli. Ia tahu, pria itu bisa membaca setiap gerakannya. Panik dan cemburu bercampur menjadi satu, membuat tangan yang memegang gelas bergetar. Margaret duduk santai, tetap tersenyum tipis, tapi matanya tak lepas dari interaksi itu. Ia menahan diri, menelan kata-kata yang bisa memicu ketegangan lebih jauh. Ia tahu, jika Rafli marah atau kecewa, tidak ada yang bisa menghentikannya, apalagi soal gadis kampung yang pernah disebut Margaret. Rafli menghela napas pelan, suaranya rendah. Namun, jelas terdengar di antara dentuman musik. “Tasya,” panggilnya. Kedua matanya tidak lepas dari gadis itu. “Apa kau baik-baik saja?” Tasya menelan ludah. Suaranya serak ketika menjawab, “Iya … saya baik, Rafli.” Ia mencoba tersenyum, tapi senyum itu terasa dipaksakan. Karena rasa takut tidak dapat dihilangkan. Rafli melangkah lebih dekat, menatap mata Tasya dalam-dalam. “Apa yang kau cari di sini, hah? Apakah kau masih tidak percaya padaku?" Tasya diam, meskipun tidak melengkung atau marah, tapi Ia tahu sorot mata Rafli sudah menjelaskan segalanya. Dalam hati ingin sekali mengatakan apa yang ia dengar tadi, tapi tidak berani bersuara. Rafli melanjutkan, nadanya lebih tegas. “Aku ingin kau tetap tenang malam ini. Jangan biarkan siapa pun mengganggu pikiranmu. Kau … kau tahu aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Itu pun kalau kau masih ingin menjadi tunanganku." Tasya menunduk, menahan napas. Kata-kata itu menenangkan sekaligus membuatnya semakin frustasi. Ia ingin menangis karena cemburu, marah karena Margaret seolah tahu sesuatu, tapi juga merasa lega karena Rafli hadir tepat di saat kritis. Margaret menahan senyum. Ia tahu posisinya saat ini terlalu berbahaya untuk membocorkan rahasia. Tapi di matanya, permainan ini baru saja dimulai. Ia menegakkan tubuh, menatap Rafli, lalu mencondongkan kepala sedikit, seolah ingin mengatakan aku tahu apa yang kau tidak tahu. Rafli menatap Margaret, sorot matanya tajam. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang hendak keluar dari mulut Margaret, tapi ia juga tahu cara mengendalikan situasi. Ia tidak bergerak terburu-buru, hanya berdiri tegap, menguasai seluruh ruang dengan aura tenang, tapi mematikan. Tasya menahan napas, hatinya campur aduk. Di satu sisi ia merasa aman karena Rafli ada di sisinya, tapi di sisi lain, rasa cemburu itu membakar dirinya, bagaimana bisa Rafli memiliki sejarah dengan gadis kampung itu? Di tempat seperti ini? Margaret, dengan senyum tipisnya, seolah ingin menyalakan kembali api cemburu itu, tapi tertahan karena kehadiran Rafli. Rafli mengulurkan tangannya. “Jangan biarkan siapa pun, apalagi Margaret, mengacaukan pikiranmu. Apakah kau masih percaya padaku?” katanya. Tatapannya lembut tapi tegas, memberi sinyal bahwa ia siap menutup semua gangguan di sekitar. Tasya mengangguk, matanya berkaca-kaca. Ia menggenggam tangan Rafli, merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sejak masuk klub malam ini. Tapi di balik rasa lega itu, rasa penasaran tentang gadis kampung yang disebut Margaret tetap berputar di kepalanya. Margaret meneguk minuman pelan, menatap dua orang itu. Ia tahu, malam ini ia belum kalah, tapi juga belum menang. Rahasia gadis kampung itu masih tersimpan, dan ia akan menunggu momen yang tepat dengan bayangan lembaran uang bisa dia dapatkan dengan mudah. Lampu neon berpendar, musik berdentum, dan asap rokok masih melayang. Tapi di sofa VIP itu, ketegangan terasa lebih nyata daripada dentuman musik apapun. Margaret duduk tenang, Tasya menggenggam tangan Rafli, dan Rafli tetap menguasai seluruh ruang dengan tatapan tajamnya, siap menghadapi siapa pun yang berani mengacaukan dunianya. Rafli menegaskan keputusannya di depan Tasya, memberi ultimatum, kalau Tasya tetap tidak percaya padanya, dia akan membatalkan pernikahan. Rafli menatap Tasya, tatapannya begitu tajam hingga seolah menembus pikirannya. Musik dan lampu neon di klub malam seakan memudar dari kesadaran mereka, menyisakan hanya dua orang yaitu Rafli dan Tasya. "Kita pulang sekarang." Tasya tidak berani menolak, hanya menurut saat tangannya dibawa keluar dari ruangan pengap itu dan Margaret hanya tersenyum penuh intrik. Dia sedang menunggu waktu yang tepat. Sesampainya di banglo, Rafli langsung melanjutkannya ucapannya tadi. “Tasya,” suaranya rendah, tegas, membuat gadis itu menunduk. “Kalau kau masih meragukan aku, jika kau terus curiga dan tidak percaya padaku, aku tidak akan menunggu lebih lama lagi. Aku akan membatalkan pertunangan ini.” Kata-katanya menusuk bagaikan belati, dadanya sesak dan bibirnya tertutup rapat. Rafli tahu, inilah saatnya untuk melepaskan Tasya. "Hanya karena gadis kampung itu? Siapa dia, Rafli? Apakah benar dia Melati? Ponakan Pak Basuki yang kau simpan di rumah ini?" Tasya tetap tidak berani menatap Rafli langsung. Setiap inci tubuhnya menegang, dan rasa cemburu yang selama ini membara kini berpadu dengan rasa takut kehilangan. “Aku memberimu kesempatan untuk percaya. Jika tidak, semua orang baik keluarga besarku, juga keluarga besarmu, teman, bahkan media akan tahu keputusan ini. Dan aku tidak main-main.” Tasya menelan ludah, bibirnya bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia tahu ini momen penting. Rafli menuntut kejujuran dan kepercayaan darinya. Tidak ada lagi jalan tengah. Rafli menarik napas panjang, menegaskan setiap kata yang keluar. “Aku serius, Tasya. Aku memilihmu karena menghormati keputusan orang tua kita, tapi aku tidak bisa menunggu seseorang yang tidak yakin padaku. Aku bukan sedang mengancammu, ini keputusan. Jika kau tidak percaya, aku akan berhenti. Di depan semua orang.” Tasya akhirnya menatap Rafli, suara serak. Namun, tegas. “Aku-- aku percaya padamu, Rafli. Aku hanya takut kehilanganmu.” Rafli mengangguk singkat, matanya lembut, tapi tetap tegas. “Itu cukup. Jangan biarkan orang lain merusak apa yang kita miliki. Kau paham maksudku, Tasya?” "Iii---ya, tapi .... " Masih ada kalimat yang menggantung di sana. Rafli melonggarkan dasi. "Katakan sejujurnya padaku, Rafli. Apakah gadis itu Melati?" Rafli mendengus kasar. Kenapa harus nama itu yang ia dengar lagi? Kali ini Rafli meraih ponselnya. "Aku paham apa maumu, Tasya. Dan, akan aku kabulkan." Rafli cepat menekan nomor telepon milik ayahnya kemudian berlanjut menghubungi orang tua Tasya. "Rafli.... " "Sudah aku katakan padamu berulang kali, aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Tapi, kau masih tidak percaya. Silakan keluar dari rumahku dan sampai ketemu besok dengan keluarga kita." "Tidak, tidak mau!" "Pak Basuki, antarkan Tasya pulang sekarang." Pak Basuki berjalan tegas dan membawa Tasya yang masih berbau alkohol itu keluar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN