Tidak ada cara lain lagi. Rafli terpaksa memindahkan Melati ke rumah lain yang jauh darinya, tapi dekat dengan kampus. Bagaimanapun dia tidak mau ada yang tahu soal Melati menjadi istri simpanannya. Dia tidak mau urusan dengan Tasya akan jadi melebar hanya karena Melati.
Lampu sore masuk tipis melalui jendela mobil hitam yang melaju perlahan di jalan raya. Melati duduk di kursi penumpang, tangan menggenggam tasnya erat, mata menatap kosong ke luar jendela. Pikiran dan perasaannya bercampur aduk, bingung, takut, sekaligus penasaran.
Rafli menyetir di depan, wajahnya serius, matanya sesekali menatap kaca spion. Ia tidak banyak bicara, hanya fokus pada jalan. Melati merasakan ketegangan yang tidak biasa di mobil itu. Ia tahu, ada sesuatu yang akan terjadi, sesuatu yang sangat besar.
Setelah beberapa menit hening, Rafli akhirnya berbicara, suara rendah tapi tegas.
“Melati, tidak ada cara lain lagi. Aku harus memindahkanmu.”
Melati menoleh, alisnya mengernyit.
“Memindahkan? Maksudmu … kemana?”
Rafli menatap jalan, matanya tetap fokus, tapi nada suaranya tidak bisa disembunyikan.
“Ke rumah lain. Lebih jauh dariku, tapi dekat kampusmu. Kau tetap bisa beraktivitas normal, tapi semua orang tidak akan tahu tentang kita. Tentangmu menjadi istriku.”
Melati menelan ludah, dadanya sesak. Hatinya campur aduk antara lega karena Rafli masih peduli, tapi takut karena ia tidak mengerti sepenuhnya.
“Kenapa harus merahasiakan sejauh ini, Tuan Rafli?"
Rafli menegakkan tubuh sedikit, menepikan mobil di lampu merah. Tatapannya tajam, penuh otoritas.
“Kau tahu alasannya. Jika ada yang tahu, situasi bisa menjadi kacau. Aku tidak mau ada yang mencampuri urusan ini. Tidak mau ada yang menyakitimu, apalagi menyakiti reputasiku.”
Melati menunduk, bibirnya bergetar. Ia tahu Rafli serius, tapi hatinya tetap resah. Rasanya seperti terseret oleh arus yang tidak bisa ia kendalikan. Ia ingin menolak, ingin bertanya lebih banyak, tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan.
“Percayalah padaku. Ini untuk kebaikan kita berdua. Aku tidak akan membiarkan orang lain tahu tentangmu. Kau aman di tanganku.”
Melati tidak menjawab, napasnya masih tersengal. Ia mengangguk pelan. Hatinya campur aduk antara lega dan cemas. Padahal dalam hati dia tahu kalau semua ini hanya karena Tasya, tunangan Rafli.
Mobil kembali melaju, meninggalkan hiruk-pikuk kota. Lampu jalan berpendar di wajah mereka, seolah menyoroti ketegangan yang tak terlihat oleh orang lain. Melati menatap Rafli diam-diam, mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik mata tajam itu, muncul rasa sayang, otoritas, dan tekad untuk melindungi, sekaligus menjaga rahasia, hanya saja dia tetap tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima. Pasrah.
Rafli akhirnya memecahkan keheningan.
“Di rumah baru nanti, kau bisa tetap kuliah, tetap bertemu temanmu, tapi jangan sampai ada yang tahu siapa kau sebenarnya. Ini bukan untuk mengekangmu, tapi untuk menjaga semuanya tetap aman.”
Melati mengangguk lagi, menelan rasa takutnya. Ia tahu, pilihan itu tidak ada. Dunia baru sudah menanti, rumah baru, kehidupan yang baru, tapi tetap dalam bayang-bayang rahasia yang harus dijaga.
Lampu sore memudar menjadi jingga saat mereka tiba di kompleks rumah baru. Rumah sederhana tapi rapi, jauh dari hiruk-pikuk. Namun, cukup dekat dengan kampus. Rafli menepikan mobil, menoleh pada Melati.
“Kau akan baik-baik saja di sini. Aku akan memastikan semuanya. Percayalah padaku.”
Melati menatap rumah itu, dadanya berdebar. Sebuah babak baru dalam hidupnya dimulai, jauh dari rumah Rafli, tapi tetap di bawah perlindungannya. Ia menatap Rafli sekali lagi, mata mereka bertemu, penuh arti.
Rafli menghela napas panjang, memandang sekeliling. Keputusannya sudah jelas, bahwa Melati harus dijaga, tapi identitas mereka tetap menjadi rahasia.
Sore itu, rumah baru yang sederhana terasa begitu sunyi. Lampu hangat di ruang tamu memantul di dinding kosong, tapi tidak mampu mengusir rasa sepi yang menggerayangi Melati. Ia duduk di kursi dekat jendela, menatap langit jingga sambil memutar-mutar pena di tangan. Meskipun aman, tapi hatinya merasakan kekosongan yang luar biasa sekali. Biasanya ada Pak Basuki yang menemani.
***
Hati Melati terasa berat. Sudah beberapa minggu ia tinggal di rumah itu, jauh dari hiruk-pikuk rumah Rafli, jauh dari perhatian yang biasa ia rasakan. Meski Rafli menjanjikan bahwa ia aman dan dijaga, Melati merasakan kekosongan yang sulit dijelaskan. Ia ingin menghubungi Rafli, ingin mendengar suaranya, tapi rasa ada rasa takut, takut dianggap lemah atau mengganggu dan itu membuatnya menahan diri. Dia harus sadar siapa dirinya dan Rafli memilih semua ini mungkin hanya karena dia sedang hamil anaknya bukan karena cinta.
Dengan napas panjang, Melati membuka buku diary yang selalu ia bawa. Halaman kosong itu kini menjadi teman setia, tempat ia menuangkan semua rasa yang tak bisa diungkapkan. Pena bergerak, menuliskan kata-kata yang berasal dari hati yang sepi.
"Hari ini aku merasa sendiri. Begitu sepi, seolah dunia ini hanya menunggu aku terjatuh. Rasanya ingin menangis, tapi aku harus kuat. Aku tidak boleh merepotkan Rafli. Aku hanya berharap dia baik-baik saja, walau aku tidak tahu apa kabar darinya."
Beberapa halaman diisi dengan curahan hati yang serupa, ad cemburu yang terpendam, rindu yang membara, dan rasa takut kehilangan yang perlahan menyusup ke dalam hidupnya. Hari demi hari, rutinitasnya menjadi kosong, dan Melati belajar untuk menenangkan diri dengan menulis.
Bulan-bulan berlalu. Tidak ada kabar dari Rafli. Telepon tetap hening, pesan tidak dibalas. Melati mulai merasakan kepedihan yang menekan. Ia mencoba menerima kenyataan, tapi rasa sepi itu tetap mengganggunya.
Suatu pagi, Melati memutuskan untuk pergi ke klinik sendiri untuk pemeriksaan rutin. Ia ingin memastikan kesehatannya, sekaligus mengalihkan pikirannya dari kekosongan yang mendera. Dengan langkah pelan, ia meninggalkan rumah, membawa tas kecil dan diary di dalam tas.
Begitu ia tiba di depan rumah sakit, mata Melati menangkap sosok yang tak pernah ia duga akan ditemui di tempat umum ini. Rafli, tepat di sana, berdiri di depan pintu rumah sakit. Namun, bukan hanya dia yang membuat jantung Melati berdegup kencang. Di samping Rafli, ada Tasya, terlihat sedang berbicara dengan nada ringan tapi tegas.
Melati terhenti di trotoar, napasnya tercekat. Dunia seolah berhenti sesaat, detik itu ia merasa kecil, tersisih, tapi juga penasaran. Rafli dan Tasya, di depan matanya bagaimana bisa ini terjadi? Kenapa mereka ada di sini?
Tasya tertawa pelan, tapi pandangannya tersapu ke arah Melati. Rafli menoleh, matanya tajam, dan seketika Melati menyadari bahwa keberadaannya telah terlihat. Jantungnya berdetak kencang, campuran antara panik, cemburu, dan rasa takut.
Dunia yang ia kira aman selama tinggal di rumah baru ternyata tidak sesederhana itu. Melati langsung menguasai diri, berjalan melewati mereka berdua dengan pura-pura tidak melihat. Namun, ketika sampai di dalam lift, Tasya menatapnya tajam dan wajahnya sempat menampilkan rasa keterkejutan yang luar biasa ketika Melati memencet angka tiga.
Lantai tiga adalah klinik kandungan, mata itu menatap Melati dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tetapi, Tasya tidak berani bersuara. Pintu lift tertutup dan Melati menarik napas lega.
Beberapa bulan tidak ada kabar sama sekali dan rupanya Rafli masih bersama Tasya. Ucapan Rafli tentang pertunangan bisnis rasanya hanya pura-pura saja. Melati menggeleng pelan dan duduk di kursi panjang untuk menunggu namanya dipanggil.
Sementara ketika Tasya sedang diperiksa, Rafli coba mencari Melati dan dia tetap tidak bisa mendekatinya.
Melati terpaku di depan pintu saat melihat kelebat bayangan Rafli dari kejauhan, dia tidak berani mendekat, Melati tahu itu dan hari ini cukuplah sampai di sini saja pertemuan mereka. Melati berjalan pelan sampai tubuhnya hilang tertelan pintu lift.