Melati menutup pintu lift dengan cepat, napasnya masih tersengal. Hatinya penuh campuran lega dan cemas setelah pertemuan singkat di depan lift dengan Rafli dan Tasya. Ia bergegas keluar rumah sakit dan mencari taksi di pinggir jalan, tangan menggenggam tas kecil erat-erat. Bayangan Rafli tadi sudah membuatnya paham dengan apa yang seharusnya dia lakukan. Lelaki itu tidak akan pernah berani mendekatinya di manapun dia berada. Jadi, untuk apa dia harus menyembunyikan kehamilannya itu? Toh, sekalipun di khalayak umum, dia tidak akan pernah mau mendekat terlebih lagi mengakui. Melati sadar, tapi dia tidak mungkin membuang anak dalam rahimnya kini, bagaimanapun dia adalah darah dagingnya meskipun ia hadir karena petaka. Begitu duduk di kursi penumpang, tubuhnya seakan runtuh. Napasnya ber

