"Maaf, aku angkat telepon dulu," ujar Melati bangkit dan membuka jendela. Ia menahan napas sebentar, jemari menggenggam ponsel begitu kencang hingga nyaris terjatuh. Dengan ragu ia menekan tombol hijau. Suara dalam yang familiar langsung terdengar di telinganya. “Turun sekarang." Ucapan serupa perintah yang tidak bisa Melati bantah. Hanya satu kata, tapi cukup membuat bulu kuduknya berdiri. “Aku di luar.” Melati membeku. Pandangan langsng tertuju pada mobil mewah warna hitam metalik yang kacanya tak dapat ditembus pandang dari luar, sementara Wulan dan Unnik menatap penuh tanda tanya. "Ohhh. Baiklah!" Melati menutup telepon dan menarik napas berat. Lalu, berusaha untuk bersikap biasa saja. “Apa katanya?” bisik Wulan, tak sabar. Melati menelan ludah, suaranya hampir tak keluar. “

