Rafli tidak langsung pulang melainkan mencari teman lamanya, Edward. Yang dulu pernah menangani Melati saat dia pingsan di kampus dan dia baru tahu kalau istri yang dia sembunyikan itu sudah hamil 4 minggu. Rafli berdiri sejenak di depan gedung rumah sakit swasta itu, dia mengingat bahwa Edward sendiri yang membuka rumah sakit ini. Langkah kakinya ragu, seolah ada beban tak terlihat yang menahannya untuk melangkah masuk. Ia tahu, sekali lagi bertemu Edward berarti harus berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tak siap ia jawab. Tapi dorongan rasa ingin tahu lebih kuat daripada egonya. Ia butuh penjelasan. Apalagi itu soal anaknya, bayi yang berada dalam kandungan Melati. Nama itu menempel di kepalanya seperti bayangan yang tak bisa diusir. Setiap kali ia menutup mata, wajah

