Pagi ini Rafli sudah memerintahkan pada Pak Basuki dan semua orang-orangnya untuk tidak lagi membuat penjagaan untuk Melati.
Entah kenapa semenjak melihat gadis itu menangis dan memintanya untuk diperlakukan sebagai manusia pada umumnya. Rafli membebaskan Melati, tapi tentunya dengan harga yang harus dia bayar sendiri yaitu Rafli tetap menyadap semua alat-alat komunikasi yang ada. Melati pun menyetujui hal itu karena memang dia tidak memiliki niat untuk berkhianat.
Karena kegiatan calon mahasiswa baru terlalu padat. Melati yang masih memakai seragam sekolah, hanya tiduran di atas sofa, tapi kemudian dia terlelap.
"Waktunya makan, ke mana tuh anak?" gerutu Rafli meletakkan sendok di meja.
Pak Basuki sedang di luar karena mendadak bos besar alias ayahnya Pak Mahendra menelepon dan mengharuskannya hadir.
Rafli paling tidak suka jadwal yang tidak sesuai. Dia menaiki tangga menuju kamar Melati yang tidak terkunci.
Perlahan-lahan menarik handle pintu. Dia ingin sekali membangunkan, tapi tidak tega. Sepertinya gadis ini sangat kelelahan buktinya sepatunya pun masih dia pakai.
Rafli menggeleng dan kembali turun. Dia pun tidak jadi makan. Tidak mungkin dia akan melahap makanan sendiri sementara ada orang lain yang masih tidur dalam keadaan lapar.
Hari sudah berganti senja, Melati terbangun karena mendengar suara petir. Ruangan gelap karena mendung dan dia belum menyalakan lampu.
Melati bergegas mandi, salat dan langsung turun mencari Pak Basuki. Namun, justru orang lain yang dia temukan. Si kulkas itu.
Keduanya agak canggung, tapi Rafli tetap bergaya sok coll di hadapan Melati.
"Biasakan melakukan aktivitas sesuai jadwal. Jangan seenak jidatmu sendiri," ucap Rafli yang masih menghadap ke layar televisi. Melati hanya mengangguk tidak berani menoleh.
"Bukankah Pak Basuki sudah memberitahu jadwal makan di rumah ini?"
Melati hanya mengangguk, dia merasakan tidak memiliki ruang untuknya bebas bergerak. Di sekolah seharian dikerjai kakak senior dan di rumah diomeli si empunya rumah yang super angkuh.
"Kamu itu bisu apa budeg, sih?"
Melati tidak jadi melangkah, dia menoleh lagi. Rupanya ceramah belum selesai.
Seumur hidup baru dua orang yang berlaku kasar padanya, Bi Lastri dan lelaki ini.
Belum sempat Melati menjawab, daun pintu terbuka.
Pak Basuki masuk di saat yang tepat. Namun, Melati tidak seperti biasanya menyambut hangat kedatangan itu karena ada Rafli.
"Neng Melati sudah makan?" tanya Pak Basuki membawa beberapa bungkus
makanan yang dipesan oleh Rafli.
"Sudah, Pak. Baru saja, saya ke kamar dulu, ya."
Rafli tersentak dan menoleh mendengar jawaban dari Melati. Dia berulang kali bertanya dan tidak dijawab sepatah pun.
Sementara dengan Pak Basuki dia bisa menjawab dengan lancar. Pak Basuki tahu saat ini kondisi Melati sedang tidak baik, pasti tadi tuannya itu sudah memperlakukan dia kasar.
"Apa yang terjadi? Aden memarahinya?" tanya Pak Basuki setelah beberapa menit.
Lelaki itu duduk di samping Rafli seperti biasanya, mereka melewatkan sore dengan bermain catur.
Rafli masih enggan menjawab, tapi orang tua ini sudah mengerti.
"Jangan terlalu kasar dengan perempuan apalagi dia memiliki masa lalu yang kurang
baik." Penuturan Pak Basuki memang masuk akal hanya saja keegoisan Rafli belum bisa menerima hal itu. Baginya, Melati adalah perempuan sial yang telah menjebak hidupnya.
"Aku mau keluar, ajak dia makan."
Rafli tidak jadi bermain catur, dia memilih untuk pergi saja daripada harus bersitegang ketika melihat wajah Melati yang memelas itu.
Pak Basuki mengetuk pelan pintu kamar, tapi tidak ada sahutan. Melati sengaja tidak membuka pintu. Sesak di dadanya tidak dapat dia tahan, akhirnya dia tertidur lagi dalam keadaan perut kosong.
"Belum tidur, Pak?" tanya Rafli begitu melihat Pak Basuki sedang memotong bonsainya.
"Belum ngantuk, Den. Mau nengokin anak-anak dulu kasihan kalau kelaparan." Rafli tahu maksud ucapan Pak Basuki sebab ikan peliharaan dan semua tanaman di rumah ini adalah anak-anak manjanya Pak Basuki.
Namun, begitu melihat bungkusan yang ada di meja makan, Rafli kembali menghampiri Pak Basuki.
"Tidak mau makan?"
"Mungkin sudah tidur, dia kelelahan karena ospek di kampus apalagi ini menjadi hari spesial untuknya."
"Spesial? Kenapa?"
"Aden tidak tahu?" Rafli menggeleng cepat.
Pak Basuki meletakkan makanan ikan dan menatap Rafli.
"Neng Melati ulang tahun."
Rafli menelan ludah, dia merasa bersalah telah membuat hari bahagia Melati menjadi sesuatu yang tidak nyaman.
"Ya sudah, aku ke kamar dulu."
Rafli menaiki tangga dan berhenti tepat di depan pintu kamar. Dia mencoba mendorong gagang pintu, tapi rupanya terkunci.
Lelaki bertubuh atletis ini menarik napas panjang dan kembali ke kamarnya. Dia hanya duduk termangu, tidak dapat tidur. Aneh memang, hari kemarin otaknya dipenuhi dengan keputusasaan sebab gagal dalam memiliki cinta pertama, tapi sekarang perasaan sakit itu telah digantikan dengan segunung emosi yang tak terkendali.
'Persetan dengan semuanya, toh gue nggak salah. Siapa suruh diem aja kayak patung? Bisanya geleng kepala doang, apa dia pikir gue ini guru TK? Yang harus ngajarin dia setiap hari? Kurang kerjaan bener.' Rafli terus menggerutu dalam hati.
Perempuan memang makhluk yang
penuh teka-teki dan menyebalkan.
***
Melati sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Seperti hari kemarin dia memasak nasi goreng dan telor mata sapi. Karena dia tahu, tuannya ada di rumah. Dia menyiapkan tiga buah piring yang berisi sarapan dan segelas air putih.
Rafli yang baru saja selesai mandi, terkejut ketika indera penciumannya menangkap aroma wangi dari lantai bawah. Setelah memakai dasi dan jas, dia pun segera turun. Rupanya gadis yang memakai seragam itu sedang sibuk menyiapkan sarapan.
Pak Basuki yang sudah duduk memberikan isyarat padanya agar diam dan duduk saja. Begitu Bunga menoleh, dia sangat terkejut melihat Rafli sudah berada satu meja dengan Pak Basuki.
"Duduklah, Neng. Kita sarapan bersama."
"Iya, Pak." Melati duduk tanpa berani menatap ke arah Rafli yang berhadapan dengannya.
"Singkirkan nasi ini, aku tidak pernah sarapan nasi goreng."
"Cobalah dulu, Den. Masakannya enak."
Rafli menoleh ke arah Pak Basuki yang tetap tenang. Sementara Melati sudah menyingkirkan sepiring nasi goreng tadi.
"Apa Tuan perlu sesuatu?" Kali ini Melati memberanikan diri. Dia tidak ingin dikatakan bisu dan tuli lagi.
"Aku tidak biasa dilayani saat makan, aku bisa menyiapkannya sendiri." Rafli membuka suara.
Melati kembali duduk dan menyendok nasi. Satu suapan masuk ke mulutnya. Entah kenapa, nasi yang dikunyah sangat sulit untuk dia telan.
"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk memasak. Jadi, jauhkan dirimu dari dapur."
"Baiklah." Melati menjawab dan langsung meletakkan sendoknya, lalu meneguk segelas air putih hangat.
"Pak, hari ini ada pembekalan untuk calon mahasiswa baru, jadi harus datang lebih awal dari biasanya." Bunga mengucapkan kalimat itu dengan hati-hati sekali, dia tidak ingin salah lagi.
Rafli yang sudah menyiapkan s**u kedelai hangat tertegun sejenak. Dia hapal betul kegiatan di kampus itu, tidak akan maju atau pun mundur dari waktu yang ditentukan.
Bagaimana mungkin Melati membuat alasan seperti itu? Dan dia hanya mengisi perutnya dengan satu suapan saja padahal
dari semalam dia tidak makan. Semenakutkan itukah dirinya?
"Habiskan dulu sarapannya, Neng. Coba liat piring ini, udah habis semuanya," ujar Pak Basuki, tapi Melati tetap menggeleng.
"Saya takut terlambat, Pak. Nanti kena hukuman lagi." Melati menjawab cepat dan sudah berdiri.
"Permisi." Melati menundukkan kepalanya sedikit lalu berjalan keluar. Rafli menyuruh Pak Basuki untuk segera mengantarkan ke sekolah.
Melihatnya saja, dia tidak mau. Itu yang dirasakan oleh Rafli saat ini. Muak!!!
"Pak," teriak Rafli mengejar Pak Basuki yang masih berdiri di tepi kolam karena melihat ikannya ada yang mati.
Bunga yang berdiri di samping Pak Basuki langsung mundur beberapa langkah. Dan hal itu membuat Rafli terdiam beberapa saat.