5. Sang CEO

1306 Kata
Potret Rafli di Mahendra Group Di balik kemeja putih dan jas hitam yang selalu rapi tanpa cela, Rafli Mahendra adalah sosok yang disegani sekaligus ditakuti. Di usianya yang belum genap tiga puluh, ia telah berhasil mengguncang dunia korporat dengan ekspansi Mahendra Group ke sektor teknologi dan pendidikan. Dari balik lantai tertinggi gedung kaca Mahendra Tower, setiap keputusan Rafli bisa membuat saham naik—atau menjatuhkan satu nama dari peta bisnis dalam semalam. Para direksi menyebutnya “si mesin dingin.” Tak ada senyum basa-basi, tak ada pertemuan tanpa angka. Dia tidak menerima tamu lebih dari 15 menit. Setiap kalimat harus tepat. Setiap file harus rapi. Satu kesalahan, satu langkah ke luar. “Aku tidak butuh bawahan yang pandai bicara. Aku butuh orang yang tahu bagaimana caranya diam dan bekerja,” katanya suatu kali, saat memecat kepala keuangan hanya karena laporan terlambat lima menit. Meski begitu, investor luar negeri mulai melirik Mahendra Group karena stabilitasnya. Dia bahkan dijuluki The Young Phantom oleh media bisnis Asia Tenggara. Belum pernah tampil dalam wawancara publik, tapi reputasinya sudah lebih bising dari iklan TV. Satu-satunya hal yang lebih tertutup dari laporan tahunan Mahendra Group … adalah kehidupan pribadi Rafli Mahendra. Langit Jakarta sore itu mulai redup, dan siluet gedung-gedung tinggi tercermin samar di kaca besar lantai 52 Mahendra Tower. Ruangan kerja Rafli nyaris sunyi, kecuali suara detak arloji mewah di dinding dan ketukan jari tangannya di meja kayu jati berwarna gelap. Beberapa eksekutif baru saja keluar dari ruang rapat setelah presentasi sengit tentang ekspansi cabang baru Mahendra EduTech di Bandung dan Surabaya. Proposal tebal berserakan di meja. Namun, tak satu pun disentuh Rafli. Matanya mengarah ke layar monitor berukuran besar, menampilkan grafik fluktuasi saham dan notifikasi masuk dari tim legal. Tapi sejak beberapa menit lalu, ia tak benar-benar membacanya. Tangannya menggenggam pena. Namun, tidak menulis. Dia merasa ... kosong. Biasanya, setelah satu hari penuh dengan strategi dan negosiasi, Rafli akan memerintahkan asistennya untuk mem-booking suite hotel atau terbang ke Bali. Atau mengurung diri di apartemen, tenggelam dalam laporan tahunan dan whiskey tanpa es. Namun hari ini ... ada rasa ingin pulang. Pulang? Ke banglo sunyi yang jarang ia kunjungi bahkan sebulan sekali? Itu bukan rutinitasnya. Tapi pikirannya kembali, tanpa kendali—pada seorang gadis. Melati. Wajahnya yang menunduk, cara dia menyembunyikan kemarahan di balik senyum kecil. Cara dia bicara sopan, meski matanya menolak untuk tunduk. Entah mengapa, semua hal yang paling dibencinya justru hadir dalam perempuan itu. Dan yang lebih menjengkelkan adalah semua yang dia larang, justru membuatnya semakin ingin tahu apakah gadis itu sudah melanggar hari ini. Rafli membuka sebuah aplikasi khusus di laptopnya bukan email kantor, bukan laporan keuangan. Tapi sistem pemantauan internal sekolah Mahendra High. Rekaman hari ini. Kamera kelas. Kamera kantin. Kamera lorong. Jarinya menggeser cepat, berhenti di satu detik di mana Iqbal, si ketua kelas mendekati Melati. Ekspresi Rafli mengeras. Rahangnya mengencang. Bocah sialan. Sudah aku beri catatan. Sudah aku beri pesan. Masih berani. Rafli menekan tombol interkom. “Asisten, panggil Pak Haryo.” “Sekarang, Pak Rafli?” “Sekarang.” Tak sampai lima menit, kepala keamanan Mahendra Tower masuk ke ruangannya dengan raut tegang. “Perketat pengawasan di Mahendra High. Rekam semua interaksi siswa bernama Iqbal Faisal. Dan mulai besok, pastikan Melati tidak keluar kelas selain untuk pulang. Buatkan jalur khusus.” Pak Haryo menelan ludah. “Baik, Pak.” Rafli kembali menatap monitor. Melati memang tidak tersenyum. Dia menolak ajakan Iqbal dengan cepat. Tapi sesuatu dalam dirinya tetap tidak tenang. Mungkinkah, dia mulai mencari celah? Atau justru mulai merasa sendirian? Ponselnya bergetar. “Direktur Mahendra Foundation ingin menjadwalkan ulang pertemuan.” Rafli mengetik cepat. Tunda. Sampai minggu depan. Rafli berdiri, membuka jas kerjanya dan menggantinya dengan coat abu gelap. Asistennya yang kebingungan sempat mengikuti dari belakang. “Pak Rafli, Bapak belum tandatangani berkas kerja sama dari Korea Selatan.” “Nanti.” “Jadwal malam ini—” “Batalkan semuanya. Aku pulang.” Asisten bernama Anindita itu membeku. Pulang? Biasanya Rafli hanya ke banglo itu sebulan sekali. Kadang bahkan sampai dua bulan. Tapi sekarang, tanpa alasan yang jelas, dia turun ke lobi, masuk mobil hitamnya, dan melesat ke arah timur Jakarta. Menuju rumah yang disebut banyak orang sebagai rumah simpanan, tapi baginya .... Tempat itu adalah sangkar, untuk gadis yang membuatnya kehilangan kendali. Dan di balik kemudi, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Rafli mengakui satu hal pada dirinya sendiri: Ia rindu! Tapi tidak tahu bagaimana cara mencintai tanpa merusak. Bahkan, dia tidak tahu bagaimanapun caranya menyampaikan rasa itu, bahwa dia ... ingin pulang. Mobil hitam berhenti perlahan di depan banglo dua lantai yang terletak di ujung jalanan sepi. Lampu luar rumah menyala, tapi suasananya tetap redup. Hening. Rafli langsung keluar sendiri, membiarkan angin malam menyapa jasnya. Suara langkah kakinya nyaris tak terdengar di atas batu kerikil halaman. Dia membuka pintu dengan kunci sendiri, sunyi, tanpa suara, seperti pencuri. Tapi ia bukan pencuri. Dia pemilik rumah ini. Pemilik setiap jengkal tembok dan ruang. Pemilik hidup Melati, setidaknya secara hukum. Langkahnya pelan menyusuri lorong. Tidak ada suara TV. Tidak ada musik. Hanya suara detik jam dan desir lembut AC. Lalu, saat melewati ruang belajar, ia berhenti. Pintu tidak tertutup rapat. Cahaya lampu redup menerobos keluar. Dari celah pintu, Rafli melihatnya. Melati duduk di pojok ruangan, di dekat jendela, mengenakan piyama biru muda dan selimut tipis menutupi lututnya. Rambutnya tergerai ke depan, menutupi sebagian wajah. Dia tidak menangis keras. Tidak terisak. Tidak menjerit. Hanya diam, sambil membiarkan air mata mengalir perlahan. Sesekali, tangannya menghapus pipinya. Lalu kembali menatap kosong ke luar jendela. Di depannya, sebuah buku terbuka. Entah apa isinya. Mungkin buku harian. Atau mungkin … hanya pelarian. Rafli berdiri mematung. Kakinya berat. Tangannya mengepal di balik kantong celana. Dia tidak tahu mengapa pandangan itu menusuk lebih dalam dari semua debat di ruang rapat Mahendra Group. Dia pernah melihat tangisan perempuan sebelumnya. Tangisan yang dimanipulasi. Tangisan untuk menarik simpati. Tangisan di bawah sorotan kamera dan hukum warisan. Tapi ini … bukan itu. Melati menangis sendirian. Tanpa pertunjukan. Tanpa permintaan maaf. Tanpa suara. Tangisan yang tidak meminta perhatian. Dan justru karena itulah, tangisan itu terasa lebih nyata. Lebih mengganggu. Rafli menarik napas pelan. Ingin pergi. Tapi kakinya menolak. Akhirnya, tangannya mengetuk pelan. Tok. Melati tersentak. Dia buru-buru menghapus pipinya, membalikkan halaman bukunya, dan berdiri tegak seperti sedang diinterogasi. “Tu-Tuan …” Rafli membuka pintu lebih lebar. Wajahnya masih dingin. Tapi matanya, agak goyah. “Kau menangis?” tanyanya, datar. Melati menggeleng cepat. “Tidak.” “Kau pikir aku bodoh?” Melati menunduk. “Maaf.” “Kenapa menangis?” Melati tidak menjawab. Rafli melangkah masuk. Sepasang sepatunya berhenti hanya beberapa langkah dari Melati. Dia menatap meja. Buku terbuka. Sebuah tulisan kecil masih terlihat: "Aku hanya ingin hidup seperti orang biasa. Aku ingin tertawa di kantin. Aku ingin mengobrol tanpa rasa takut." Rafli membaca cepat, lalu menutup bukunya perlahan. Melati menegang. “Kalau kau ingin seperti orang biasa, kenapa dulu menandatangani kontrak denganku?” Suara Rafli tenang, tapi ada luka kecil di ujungnya. Melati mengangkat wajahnya. “Mungkin karena saat itu, saya tidak tahu bahwa saya akan kehilangan semuanya. Bahkan kebebasan untuk sekadar menangis tanpa izin.” Rafli memejamkan mata sejenak. Dia merasa ingin marah. Tapi juga ingin duduk. Mendengar. Atau mungkin sekadar diam di ruangan yang sama. Dengan gadis ini. Namun, dia tidak diajarkan bagaimana caranya. Jadi, dia hanya berkata, “Besok, kau tidak perlu masuk sekolah.” Melati menatapnya, curiga. “Kenapa?” “Karena aku akan ada di rumah. Dan kau harus ada di sini.” Melati hampir bertanya kenapa, tapi dia urungkan. Rafli sudah melangkah keluar, meninggalkan ruangan. Namun sebelum pintu tertutup, ia sempat menoleh dan memberikan peringatan. “Kalau kau menangis lagi, jangan diam-diam. Aku benci kejutan.” Pintu tertutup. Melati terdiam. Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu, dia menangis bukan karena takut. Tapi karena bingung. Apakah ada cinta dalam penjara ini atau hanya ilusi yang nyaris menyerupainya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN