Melati menatap lembaran kertas yang dilemparkan Rafli ke atas meja. Tangannya gemetar. Bukan karena takut, tapi karena jengah. Lagi-lagi kontrak.
"Ini apa lagi, Tuan?" tanyanya pelan. Namun, nadanya tak bisa menyembunyikan kekesalan.
"Tambahan klausul," jawab Rafli dingin, menyilangkan kaki sambil tetap duduk.
"Mulai hari ini, kau tidak boleh dekat dengan laki-laki mana pun. Di kampus, di luar, atau bahkan di dalam rumah ini. Termasuk dosen."
Melati terkesiap.
"Tapi … saya harus belajar, bukan di dalam penjara."
"Aturannya sederhana. Kau tetap bisa belajar, tapi jaga jarak. Jangan membuatku kesal."
"Tuan Rafli … ini keterlaluan."
"Terserah kau mau menyebutnya apa." Rafli berdiri dan menyandarkan tubuhnya di dinding, menatap Melati dingin.
"Tapi aku sudah melanggar hidupku demi menikahimu. Minimal, kau bisa menjaga dirimu sesuai perjanjiannya."
Melati menarik napas dalam-dalam. "Menikahi saya? Itu karena Anda menghancurkan saya."
Rafli menyipitkan mata. "Jangan membuatku menyesal."
Melati mengeratkan jemarinya, menahan amarah dan air mata yang nyaris jatuh.
Dengan gemetar, ia membuka map cokelat itu dan mulai membaca.
Ada tiga lembar kontrak baru.
Halaman pertama menyatakan larangan berkontak fisik dengan lawan jenis kecuali dengan persetujuan tertulis dari suaminya.
Halaman kedua berisi pengawasan akademik dan sosialnya yang akan dikontrol melalui staf Rafli.
Halaman terakhir … adalah janji untuk tidak jatuh cinta pada siapa pun selama masa kontrak berlangsung.
Melati menatap halaman terakhir itu lama sekali.
"Ini lelucon?" tuturnya tertawa kecil.
"Aku serius," jawab Rafli, tanpa tersenyum.
"Saya tidak berniat jatuh cinta pada siapa pun. Termasuk Anda," desis Melati, menyodorkan pena.
Rafli terdiam sejenak. Ada ketegangan di rahangnya. "Bagus."
Melati menandatangani dengan cepat, lalu meletakkan map itu kembali di meja.
"Aku tidak melarangmu belajar, Melati. Tapi jaga jarak. Jangan membuatku kelihatan seperti suami bodoh.”
Melati menggertakkan gigi. "Saya bukan properti, Tuan."
Rafli tertawa pendek. “Oh, kau baru sadar? Bukankah kita memang sepakat bahwa seluruh dirimu milikku, tapi aku bukan siapa-siapamu?”
Melati terdiam. Ucapan itu menggores lebih dalam dari yang ia harapkan.
Larangan berkontak fisik dengan lawan jenis. Tidak boleh dekat secara emosional. Dilarang keluar rumah tanpa izin tertulis.
Melati mendongak.
“Tuan takut saya jatuh cinta pada orang lain, atau orang lain jatuh cinta pada saya?”
Rafli menatapnya tajam, tanpa jawaban.
Melati menandatangani. Bukan karena ia setuju, tapi karena ia tahu jika tidak, semua pintu bisa tertutup untuknya. Bahkan pintu untuk hidup.
Rafli mengambil kembali map itu tanpa ekspresi. “Kau boleh pergi.”
Melati melangkah pelan. Namun, sebelum ia membuka pintu, Rafli kembali bersuara.
“Oh ya, kalau kau bertanya kenapa aku bisa tahu semua gerak-gerikmu."
Ia bersandar santai. “Kampus itu milik Mahendra Group. Setiap sudutnya bisa kukendalikan. Aku bisa tahu siapa yang menoleh padamu, siapa yang mencoba mendekat. Jadi, jangan macam-macam.”
Melati mengangguk pelan, walau hatinya terasa dicekik.
“Baik, Tuan,” ucapnya sebelum menutup pintu.
Keesokan harinya.
Melati turun dari mobil hitam yang dikendarai Pak Basuki. Kampus favorit megah itu berdiri tenang, tapi hari ini terasa mencekam.
Beberapa anak yang melihatnya berbisik-bisik. Bukan hanya karena dia anak baru yang misterius, tapi juga karena sopir tua berjas gelap itu berdiri di gerbang seperti penjaga pribadi.
Begitu masuk kelas, semua mata memandang. Melati memilih duduk di bangku paling belakang, menunduk. Ia bahkan tak sempat memperhatikan dosennya.
“Iya, kamu, yang duduk paling belakang." Suara Pak Wahyu memanggilnya.
“Namanya siapa?”
“Melati, Pak,” sahutnya pelan.
Guru itu mengangguk. “Baik, Melati. Kalau ada yang kamu tidak pahami nanti, tanya saja.”
Melati mengangguk tanpa senyum. Ia bisa merasakan tatapan aneh dari teman-temannya. Salah satunya laki-laki jangkung dengan rambut agak ikal, menoleh berkali-kali.
Saat istirahat, cowok itu menghampirinya.
“Hai, aku Iqbal. Kamu duduk sendirian tadi. Mau ke kantin bareng?”
Melati belum sempat menjawab ketika dari balik lorong, seorang pria berseragam satpam muncul dan berdiri diam di ujung tangga.
Dia tidak berkata apa-apa.
Tapi Melati tahu. Itu bukan sekadar satpam. Itu adalah orang Rafli.
Melati menunduk dan menjawab cepat, “Maaf, aku nggak lapar. Makasih, ya.”
Iqbal bingung, tapi tidak memaksa.
Melati kembali duduk, pura-pura sibuk membaca, tapi jantungnya berdegup kencang. Aku tidak bebas, bahhkan untuk sekadar mengobrol.
Sepulang dari kampus, Melati berjalan masuk ke rumah besar yang masih asing baginya. Ia menemukan Pak Basuki di ruang tengah.
“Neng, gimana sekolahnya?”
“Baik, Pak.” Jawab Melati singkat, sambil tersenyum tipis.
Pak Basuki mengangguk, lalu pamit ke halaman.
Melati langsung menuju ruang belajar, tapi dia tidak bisa fokus karena banyak kejadian di kampus yang membuatnya tidak nyaman. Kalau seperti ini terus menerus, bagaimana dia bisa punya teman dekat? Dia juga butuh tempat untuk bercerita.
Melati yang tidak bisa tidur, berniat untuk turun ke ruangan bawah, tapi tiba-tiba Rafli berdiri di ambang pintu ruang belajar, tanpa mengetuk.
Melati mematung.
“Kau melanggar perjanjian,” ucap Rafli datar.
Melati menoleh. “Saya tidak bersentuhan dengan siapa pun.”
“Kau tidak perlu menyentuh. Senyum saja sudah cukup untuk membuatku muak.”
Suaranya tajam seperti belati.
Melati menahan emosi. “Saya tidak tersenyum.”
“Bagus. Jangan pernah tunjukkan wajah manis itu ke orang lain.”
Melati berdiri perlahan.
“Kenapa, Tuan?” tanyanya pelan. “Karena Anda takut saya diambil orang?”
Rafli mendekat. Tatapannya dingin, tapi menyorot sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
"Aku tidak takut. Aku hanya tidak suka kalau milikku disentuh orang lain."
“Kau tidak bisa memiliki hati seseorang hanya dengan kontrak,” bisik Melati.
Rafli tersenyum miring.
“Coba saja langgar. Kita lihat seberapa jauh kau bisa pergi sebelum aku runtuhkan semuanya.”
Melati menggertakkan gigi. Air matanya mengambang, tapi tak jatuh.
"Aku tidak suka dengan aturan seperti ini, Tuan Rafli. Anda terlalu mengekang dengan peraturan yang tidak masuk akal. Kalau setiap hari diawasi bagaimana aku bisa belajar dengan tenang?"
"Kalau kau tidak tenang, aku akan bawakan guru les ke rumah ini. Bagaimana?"
"Bukankah Anda akan mengizinkan aku pergi ke kampus, itu artinya aku juga punya privasi lain di sana. Aku butuh teman, butuh guru juga butuh suasana yang berbeda dari rumah ini. Aku hanya ingin sekolah bukan di penjara."
"Apa maumu sebenarnya? Aku sudah menikahimu, sudah membawamu ke kampus elit yang terjaga keamanannya. Mananya yang kurang? Dasar perempuan ja la ng."
Tangan Rafli melemparkan asbak ke arah dinding. Tangannya mengepal. Dia mendekati Melati dan berujar.
"Mulai sekarang, jangan pernah berpikir kau akan naik derajat hanya karena status 'istri rahasia'."
Melati menahan napas. Dunia seakan berhenti berputar.
Hari itu, ia tahu bahwa laki-laki ini tidak hanya mencuri malamnya. Akan tetapi, mencoba mencuri hidupnya sepenuhnya.