"Kayaknya mulai sekarang lo harus membiasakan diri untuk pulang jam 7 malam deh, Nye." ucap Nadin sambil membereskan barang-barangnya, dia akan pulang, sedangkan Anye disampingnya masih juga berkutat dengan pekerjaannya yang mengharuskan perempuan itu untuk lembur kembali.
"Kayaknya..."
"Nikmati aja lah, Nye. Kapan lagi kan ada lemburan. Yaudah, gue pulang duluan, ya. Bye, bye, cantik..."
"Hati-hati, Nad."
Kembali Anye berkutat dengan pekerjaannya dan seperti biasa yang lembur hanya dia seorang. Karena dia juga sudah lembur selama satu minggu ini, jadi dia mulai terbiasa dengan suasana sepi dan hening yang menemaninya. Pekerjaannya pun dia lakukan dengan santai, tak seperti sebelumnya dia buru-buru mengerjakannya.
Terdengar pintu yang terbuka yang seketika membuat Anye menoleh, terkejut saat melihat siapa orang yang berdiri disana yang seketika membuat Anye beranjak berdiri.
"Gue ganggu, gak?"
Anye refleks menggeleng, "Kenapa, Dim?"
Adimas tak langsung menjawab, dia melangkah mendekat pada Anye. "Lo lembur, ya?"
"Iya. Kenapa?"
"Ibu Anye!"
Adimas tak menjawab, namun seruan seseorang mengalihkan atensi mereka. Anya yang tiba-tiba datang langsung berlari menghampiri mereka, tersenyum lebar dan berdiri di hadapan Anye.
"Kamu kok ada disini lagi, sayang?" tanya Anye lembut pada Anya.
"Mau jemput ibu Anye!"
"Hah?" Anye terkejut, dia menatap Adimas meminta penjelasan.
Adimas berdehem, "Siang tadi dia kesini kan?"
"Iya. Tadi juga sempat ketemu sama gue."
"Kan, tadi siang ibu Anye sibuk. Makanya, Anya kesininya sekarang, mau jemput ibu sama ayah!"
Anye kembali menatap Adimas, meminta penjelasan lagi.
"Anya diantar sama supir kesini dan dia mau pulang bareng gue sama lo, Nye. Sorry banget."
Anye paham, dia terdiam untuk sesaat kemudian menatap Anya dan menarik kursi milik Nadin untuk dekat dengannya. "Anya sini, duduk disini." ucap Anye, dia langsung mengangkat Anya untuk duduk di sana.
"Lihat, kerjaan tante—"
"Ibu!"
Anye tersenyum kikuk, menatap Adimas yang hanya mengangguk pelan saja, Adimas juga bingung. Kemudian, dia kembali menatap Anya. "Iya, kerjaan ibu Anye lagi banyak sayang. Jadinya, belum bisa pulang sekarang." jelas Anye, berharap Anya mengerti,
"Terus, pulangnya kapan?"
"Nanti malam."
"Okey! Anya tungguin sampai malam!"
Anye terkejut, bukan itu maksudnya. "Tapi,—"
Anya langsung menatap ayahnya, "Iya kan, ayah?" tanya Anya, meminta persetujuan sang ayah yang masih berdiri di sana.
"Gak papa, Nye?"
"Ya, lo gakpapa nungguin?" tanya Anye tak enak, dia memang tak enak pada Adimas sebenarnya.
"Ya, gue gakpapa. Gue juga masih ada kerjaan."
"Yaudah, gakpapa."
Adimas mengangguk kikuk. "Yaudah, Anya ayo ikut ke ruangan ayah."
Anya menggeleng cepat, "Enggak mau, mau disini sama ibu."
"Udah, gak papa, Dim. Biar Anya sama gue aja." timpal Anye.
"Beneran?"
"Iya, gakpapa."
"Thank you, ya. Anya, jangan nakal, ya, duduk diam." ucap Adimas mengingatkan putrinya agak tak mengganggu, kasihan Anye.
"Iya, ayah..."
Kini, hanya ada Anye dan Anya. Balita tersebut duduk anteng di kursinya, menatap Anye dengan senyum lebarnya.
Anye menatap lekat Anya. "Udah makan?" tanya Anye lembut, dia mengusap lembut rambut panjang Anya.
"Udah."
"Anya mau makan sesuatu atau apa gitu sambil nunggu tante?"
"Ibu! Ibu Anye! Bukan tante." ucap Anya, ada nada merajuk sedikit dari ucapannya itu. "Anya mau makan cokelat boleh?"
Anye tersenyum lebar, dia beranjak dari duduknya kemudian mengangkat Anya untuk turun dari kursinya.
"Ikut tante, yuk!"
Anya menurut saja, meskipun raut bingung tak bisa hilang dari wajahnya. Dia mengikuti Anye yang menggandeng tangannya, membawanya entah kemana.
Ternyata, Anye membawa Anya ke mini market yang ada di kantornya, membawa gadis kecil itu ke jajaran buah-buahan.
"Anya sukanya buah apa?"
"Gak suka buah, sukanya cokelat." jawab Anya, dia meringis tak suka melihat deretan buah-buahan dihadapannya.
"Kalau cokelat gak tante beliin, kalau buah boleh pilih apa aja."
"Tapi, buah gak enak, cokelat enak."
"Kata siapa?" Anye mengambil buah potong semangka, anggur hijau dan buah naga. "Buah enak kok, enak banget malah."
"Enggak."
"Mau pembuktian?"
Anya nampak ragu, tak mengiyakan ataupun menolak.
"Ayo, kita beli ini dan kita buktikan kalau buah itu enak! Ayo!"
***
"Gimana? Enak kan?"
Anya mengangguk, di mulutnya penuh dengan semangka. "Karena disuapin ibu Anye, jadinya enak deh."
Anye tersenyum haru mendengar nya, dia mengusap lembut kepala Anya. "Sayang, mau disuapin tante atau enggak, buah-buahan emang enak."
Anya menggeleng, "No! Anya makan buah di rumah, gak seenak buah yang disuapin ibu Anye. Kalau disuapin ibu, buahnya enak banget. Jadinya, Anya cuma mau makan buah kalau disuapin ibu Anye!"
"Gak boleh gitu dong. Mau disuapin siapapun, harus mau. Tapi, kalau orang itu Anya kenal, ya. Kalau gak kenal, baru gak mau, Anya tolak."
"Oke, ibu Anye. Tapi, tetap aja, maunya sama ibu Anye."
Anye terkekeh. "Nya, manggilnya tante aja, ya. Jangan ibu, ah!"
Anya nampak sedih, "Kenapa? Kan ibu Anye, ibu aku."
"Sayang—"
"Kan, ayah sendiri kemarin yang bilang kalau ibu aku itu ibu Anye. Kenapa sekarang aku gak boleh panggil ibu Anye, ibu? Teman-teman aku, panggil ibunya ibu. Eh, enggak deh, mereka ada manggil mama, bunda." Anya nampak polos berbicara itu. "Oh, ibu Anye maunya dipanggil mama? Atau, bunda?"
"Bukan gitu, sayang. Tante kan—"
"Aahh... Ibu..."
Bibir Anya sudah bergetar, matanya juga mulai memerah membuat Anye cemas.
"Iya, iya, yaudah, iya. Manggil ibu Anye aja, gakpapa kok."
"Beneran?"
"Iya..."
"Yeay!"
***
"Nye, sorry, ya, Anya jadi ngerepotin lo."
Anye dan Adimas, mereka beriringan keluar dari kantor dengan Anya yang berada dalam gendongan Adimas. Anya tertidur pada akhirnya setelah menunggu Anye.
"Gak kok, Dim. Gak ngerepotin sama sekali. Anya pintar anaknya, disuruh diam jangan ganggu, beneran diam dan gak ganggu. Jadi, meskipun ada dia tadi, kerjaan gue tetap selesai hari ini. Bahkan lebih cepat selesai. Jadinya, tadi sempat main bentar sampai tidur tuh Anya, kecapean kali."
Adimas mengangguk, dia menatap putrinya yang terlelap. "Jarang loh Anya mau langsung dekat sama orang, dia biasanya agak pilih-pilih. Tapi, baru ketemu sama lo beberapa kali, dia udah dekat banget. Bahkan, sorry banget, ya, dia manggil lo ibu."
Anye mengangguk, "Yang harusnya minta maaf kan gua. Lo jadi keganggu, ya karena Anya manggil gue ibu. Tenang aja, Dim. Gue bakalan coba kasih Anya pengertian. Meskipun tadi udah sih, cuma dia malah mau nangis."
"Gue sih gakpapa, Nye."
Deg. Jantung Anye langsung berdebar tak karuan. Tak mau terlalu ambil perasaan, Anye menghilangkan rasa itu, mencoba bersikap biasa saja.
"Eh, Dim. Sini Anya nya sama gue aja. Lo ambil mobil sana."
"Berat loh."
"Enggak. Udah sini."
Tetap saja, Adimas akhirnya menyerahkan Anya pada Anye dimana balita tersebut langsung memeluk erat Anye, seakan pelukan Anye lebih nyaman baginya.
"Yaudah, ambil mobil dulu bentar, ya." ucap Adimas yang diangguki Anye, dia langsung bergegas pergi.
Tanpa mereka sadari, ada satu kamera yang mengarah pada mereka dan berhasil mengabadikan potret tersebut. Ucapkan selamat pada mereka untuk hari esok.