Seminggu sudah berlalu dan hubungan Anye dengan Adimas masih sama, tak ada perubahan. Ditempat kerja pun mereka bersikap biasa seakan tak ada sesuatu yang baru saja terjadi pada mereka. Keadaan Anya gimana? Tidak tahu, Anye belum menemuinya lagi. Tapi, sepertinya sudah baik-baik saja.
"Nye, nanti kita makan siang di resto depan, yuk!"
"Gak tahu, Nad."
Nadin mengerucutkan bibirnya, dia melirik Anye yang nampak sibuk dengan laptopnya. Pekerjaan perempuan itu memang nampak banyak kali ini, sedang ada beberapa projek baru yang masuk sejak minggu kemarin, semenjak Anye lembur hari itu. Jadi, tak ayal jika Anye sedang sibuk-sibuknya.
"Nye, ada yang mau ketemu lo."
Anye dan Nadin menoleh, kening mereka mengerut bingung.
"Siapa?"
"Anak kecil sama susternya tadi. Mereka nunggu didepan."
"Hah?!"
Nadin terkejut, sedangkan Anye kebingungan.
"Udah, lo temuin dulu aja sana. Gue suruh nunggu di lobby itu mereka."
"Oke. Thank you, ya."
"Yu... "
Nadin langsung menatap Anye, meminta penjelasan yang langsung dibalas gelengan oleh Anye.
"Gak tahu gue." ucap Anye sambil beranjak hendak menemui orang tersebut.
Anye keluar untuk menemui orang tersebut, dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaannya dan langsung dibuat terdiam saat melihat siapa orangnya.
"Ibu..."
Semua mata sontak tertuju pada Anye saat balita cantik tersebut berseru dan berlari ke arah Anye, merentangkan tangannya meminta untuk dipeluk, mau tak mau Anye menyambut pelukan tersebut.
"Maaf, ya, mba. Tadi non Anya paksa saya buat kesini. Mbaknya pasti lagi sibuk, ya."
"Anya kan mau ketemu ibu, ncus." sahut Anya, dia masih memeluk Anye.
Anye terkekeh, "Gakpapa kok, mbak. Eh, yaudah, ayo kita di cafetaria aja."
"Yeay!"
Anye langsung menggandeng Anya untuk ikut bersama nya ke cafetaria, diikuti baby sitter alias mbak pengasuh balita tersebut. Mereka memesan minuman dan duduk di pojok cafetaria.
"Jadi, ada apa Anya datang kesini?" tanya Anye lembut, dia sedikit menunduk untuk sekedar menyejajarkan tubuhnya dengan gadis tersebut.
"Mau ketemu ibu Anye. Emangnya gak boleh?" tanya Anya polos, dia menaikkan kedua alisnya.
Anye terkekeh, "Boleh, sayang. Tapi emangnya udah bilang dulu? Sama ayah, sama nenek? Nanti mereka khawatir loh."
"Gak bilang."
Anye tersenyum tipis, dia mengusap lembut puncak kepala Anya. "Harusnya Anya bilang dulu, nanti dicariin gimana."
"Kan perginya sama ncus, jadi gak dicariin."
"Yaudah. Jadi, kenapa mau ketemu tante?"
"Tante? Ibu!"
Anye tersenyum kikuk pada suster Anya, dia kembali menatap balita tersebut. "Iya, ibu. Jadi, kenapa mau ketemu ibu Anye?"
"Gakpapa, mau main aja."
"Tapi, kan ibu Anye ini lagi kerja sayang, gak bisa main."
"Terus, bisanya kapan?"
"Weekend?"
Anya nampak bingung, "Weekend itu kapan?"
"Masih 5 hari lagi." jawab Anye sambil menunjukkan lima jarinya.
"Jadi, boleh ketemu ibu Anye nya kalau weekend aja, gitu?" Anye mengangguk, mengiyakan pertanyaan Anya.
"Oke. Weekend Anya kesini lagi buat ketemu ibu Anye." ucap Anya sambil beranjak berdiri. "Ayo, ncus kita pulang. Ibu, sini..."
Anye yang masih dibuat bingung hanya menurut saja saat Anya memintanya untuk mendekat dan satu kecupan mendarat di pipinya, hal baru yang langsung menggetarkan hatinya.
"Anya pulang dulu. Nanti weekend kita ketemu. Dadah ibu Anye..." ucap Anya sambil melambaikan tangannya, menarik susternya untuk pergi bersamanya.
Anye masih diposisi, dia melambaikan tangannya pelan. "Hati-hati, Anya." ucap Anye, dia menyentuh pipinya yang dicium Anya lalu tersenyum hangat.
***
Adimas mengerutkan keningnya melihat seorang anak kecil bersama seorang wanita dewasa, itu putrinya bersama susternya.
"Anya." gumam Adimas, dia cepat-cepat menghampiri mereka. "Anya!" seru Adimas.
"Ayah?"
Anya langsung melepaskan pegangan tangan susternya, kemudian berlari menghampiri ayahnya, dia kini berada gendongan ayahnya.
"Ayah kok disini? Ayah ketemu ibu Anye juga?"
Adimas terkejut mendengar putrinya memanggil Anye demikian. "Ibu Anye?"
"Iya, ibu Anye." Anya mengangguk cepat. "Tadi Anya abis ketemu ibu Anye, tapi ibunya lagi sibuk. Jadi, ketemuannya nanti aja kalau weekend, 5 hari lagi!" jelas Anya sambil menunjukkan 5 jari mungilnya.
"Sus?"
"Maaf, pak. Tadi sepulang dari belajar non Anya minta pergi kesini, soalnya waktu itu pernah gak sengaja ketemu mbak Anye di cafe depan dan ngasih tahu kalau kerjanya disini. Eh, non Anya malah maksa pergi kesini."
Adimas mengangguk, mengerti. Dia menatap putrinya. "Gak boleh kayak gitu, ya, sayang. Pulang belajar harus langsung pulang ke rumah, jangan kemana-mana dulu."
Anya mengangguk polos. "Ayah kok disini? Ayah juga mau ketemu ibu Anye, ya? Gak bisa ayah, harus weekend aja, gak bisa sekarang."
Adimas tersenyum, "Ayah kan kerjanya disini."
Anya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, bola matanya membulat sempurna. "Apa? Ayah kerja disini? Bareng ibu Anye? Beneran, yah?" tanya Anya terus memastikan.
Adimas mengangguk yang membuat Anya tersenyum senang. "Iya..."
"Yes!"
Adimas mengerutkan keningnya, "Yes?"
"Akhirnya, ayah sama ibu sama-sama, kerjanya bareng, jadinya gak terpisahkan deh."
Adimas hanya bisa memaklumi saja, "Sayang, lain kali gak boleh, ya tiba-tiba datang ke tempat kerja nya tante Anye, nanti—"
"Ibu Anye, ayah... Bukan, tante." keluh Anya, dia mengerucutkan bibirnya.
Adimas menghela napas kasar, dia mengangguk. "Iya, ibu Anye. Ya? Lain kali gak boleh kayak gini, oke?"
Anya mengangguk, menjawab dengan lemas teguran ayahnya itu. "Heem."
Adimas hanya mengusap lembut saja puncak kepala Anya. "Yaudah, sekarang Anya pulang, ya sama, Sus."
"Okey! Tapi, nanti Anya jemput ayah pulang, ya? Biar jemput ibu Anye juga."
"Anya—"
"Ya? Please ayah..."
Adimas menghela napas kasar, "Iya. Yaudah, sana gih pulang."
"Oke, bye, bye ayah."
"Permisi, ya, pak."
Adimas mengangguk, "Hati-hati, ya, Sus. Saya titip Anya."
"Iya, pak. Mari."
Adimas hanya menatap kepergian Anya dengan baby sitter nya, dia hanya bisa menggeleng heran. Memikirkan bagaimana reaksi Anye saat Anya memanggilnya dengan sebutan ibu. Apa perempuan itu terganggu?
***
"Nye, anak kecil siapa?" tanya Nadin pada Anye di hadapannya, mereka akhirnya benar-benar pergi ke restoran seperti biasa untuk makan siang. "Masa anak-anak tadi pada langsung heboh, katanya ada anak kecil yang tiba-tiba lari, nyamperin lo dan manggil lo ibu. Siapa coba?" Nadin mengerutkan kening heran.
Anye mengambil potongan ayamnya, mencocolkannya pada sambal, kemudian dia satukan dengan nasi putih pulen yang masih hangat. "Anak Dimas," jawab Anye sebelum kemudian mendaratkan makanan tersebut di mulutnya.
Nadin terkejut. "Jadi, seriusan yang nemuin lo anak Dimas? Kok dia bisa tahu sih lo kerja disini?"
"Kan waktu itu pernah ketemu, Din, di cafe depan itu. Yang waktu kita pulang dari sini, beli es krim itu loh."
Nadin ingat, "Eh, sumpah gak nyangka tahu. Tapi, tunggu dulu deh. Kok anak Dimas manggil lo ibu? Gimana coba ceritanya?" tanya Nadin, dia semakin bingung sebab Anye belum menjelaskan satupun segala hal yang jadi pertanyaan Nadin selama ini.
"Please lah, Nye. Jelasin lah!" ucap Nadin cepat sebelum Anye enggan menjawab pertanyaannya.
Anye terdiam sesaat, dia memang tak berniat menyembunyikan apapun dari Nadin. Toh, bagaimanapun Nadin sudah dia anggap sangat dekat, sudah seperti saudaranya sendiri. Jadi, dia akan menjelaskan pada Nadin apa yang sebenarnya sudah terjadi.
"Gue dijodohin, Nad sama Dimas."
Seketika Nadin menyemburkan nasi di mulutnya, beruntungnya tak kena apapun karena dia dengan cepat menutup mulutnya. Dia bahkan tersedak karena ucapan yang dilontarkan Anye. Bola matanya terbelalak, terkejut mendengarnya.
"Minum, minum." ucap Anye sambil menyerahkan minuman milik perempuan itu.
Nadin minum, namun atensinya tak lepas dari Anye. "Nye, serius?"
Anye mengangguk. "Panjang, Nad ceritanya. Nanti deh kalau ada waktu luang, gue jelasin semuanya sama lo dari awal sampai ya, tadi, penyebab Anya panggil gue ibu."
Nadin masih termenung, masih tak percaya dengan fakta yang didengarnya.
Kalau ditanya, Nadin bahagia mendengarnya? Tentu, saja! Tentu saja dia bahagia mendengar sahabatnya hampir berhasil mendapatkan kebahagiannya.
Tapi, sekarang Nadin masih bertanya-tanya. Bagaimana awalnya?