"Dim, tenang, ya bawa mobilnya, gak usah ngebut-ngebut yang penting kita selamat dan sampai ke rumah sakit. Anya juga pasti udah ditangani sama dokter di sana."
Adimas lupa jika dirinya membawa Anye.
Akibat rasa cemas Adimas setelah mendapat kabar jika putrinya masuk rumah sakit membuatnya jadi seperti ini—membawa mobil seperti kesetanan demi bisa cepat sampai di tujuan dan melupakan Anye yang ada disampingnya.
Kini laju mobil Adimas lebih pelan dari sebelumnya, sudah kembali normal setelah Anye mengingatkannya.
"Sorry, ya, Nye. Gue jadi bawa lo ke rumah sakit juga."
"Gakpapa kok. Gue juga sekalian mau lihat keadaan Anya." jawab Anye. "Emangnya demamnya sejak kapan?"
Adimas menggeleng, "Gue juga gak tahu, Nye. Tadi pagi gak kenapa-napa kok pas gue antar ke rumah Mama. Kenapa tiba-tiba demam, mana sampai masuk rumah sakit lagi."
"Ya, semoga aja Anya gak kenapa-napa."
"Iya, semoga aja."
Mereka sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka beriringan masuk menuju ruang dimana Anya ada didalamnya. Dan, mereka langsung masuk saat menemukan ruangan yang sebelumnya sudah diberitahu bu Martha juga resepsionis rumah sakit sebelumnya.
"Mas, Anye."
Adimas langsung menghampiri Anya yang terbaring di rumah sakit, tengah tertidur pulas. Wajah pucat nya juga selang infus yang terpasang di tangan mungilnya membuat miris siapa saja yang melihatnya. Kasihan balita itu.
"Pagi tadi Anya gak kenapa-napa, Ma. Kok tiba-tiba sekarang demam." Adimas menggenggam lembut tangan mungil Anya yang terbebas dari infus, mengusapnya pelan dan dia kecup.
"Pagi Anya emang gak kenapa-napa, tiba-tiba pas lagi main sama temen-temen nya, dia nyamperin Mama dan langsung meluk gitu. Eh, pas dicek ternyata suhunya tinggi. Udah Mama kasih obat biasanya juga, tapi gak turun-turun. Yaudah, Mama bawa aja ke rumah sakit, udah mendingan sekarang suhunya."
Adimas hanya mengangguk saja, tak menanggapi lagi. Dia hanya fokus pada putrinya kini.
Sedangkan, bu Martha kini beralih pada Anye yang langsung tersenyum tipis dan mengangguk sopan.
"Mama cari minum dulu kalau begitu,"
"Iya, Ma."
Bu Martha langsung melenggang pergi, namun dia menarik tangan Anye untuk ikut bersamanya. Akhirnya, mereka beriringan menuju cafetaria rumah sakit untuk mencari minuman.
"Maaf, ya, jadi buat kamu ikut kesini juga." ucap bu Martha, dia melirik Anye disampingnya. "Jadi ganggu waktu kamu sama Dimas."
Anye dengan cepat menggeleng, "Enggak kok, tan. Aku tadi kebetulan lembur, ketemu Dimas gak sengaja di kantor. Jadinya pulang bareng." jelas Anye. "Yang harusnya minta maaf itu aku, tan. Maaf, ya jadi lama sampai rumah sakitnya karena harus muter balik dulu."
"Gak papa. Toh, Anya juga udah di tanganin sama dokter tadi." Mereka sampai di cafetaria. "Kamu mau minum apa, Nye?" tanya bu Martha.
"Gak usah, tante."
"Gak papa, biar sekalian."
"Yaudah, apa aja, tan."
"Oke."
Bu Martha memesan minuman untuk mereka, tak lupa juga untuk Adimas. Sembari menunggu, mereka duduk di sofa yang disediakan di cafetaria ini.
"Tadi itu, mereka lagi pada main, main kayak biasanya. Lari-larian, ketawa-ketawa. Eh, tiba-tiba Anya nyamperin saya, badannya lemas dan langsung nangis di pelukan saya."
Anye diam saja.
"Sebelumnya saya mau minta maaf sama kamu, Nye."
Anye mengerutkan keningnya, "Minta maaf kenapa, tante?"
"Maaf karena sejak awal saya gak jujur sama kakak kamu, saya gak kasih tahu dia kalau anak saya ini duda, duda anak satu lagi."
Benar kata teh Syilla, sejak awal dia memang tidak tahu dan tak berniat membohongi Anye sama sekali.
"Bukan bermaksud apa-apa, cuma saya pikir mungkin hal kayak gitu bisa dibicarakan lagi kalau misalnya kalian udah dekat. Jadi, saya gak ngasih tahu sejak awal deh."
"Gakpapa kok, tante."
"Terus gimana, Nye? Kamu mau melanjutkan hubungan kamu dengan anak saya?"
Anye diam, nampak bimbang. Ucapan Adimas masih melekat jelas di benaknya. "Aku gak tahu."
"Apa karena status Adimas yang seorang duda dengan anak satu?"
Anye cepat-cepat menggeleng, "Bukan karena hal itu kok, tante. Saya juga gak mempermasalahkan itu."
"Terus?"
Anye diam, dia tak mungkin menjelaskan bagaimana secara tidak langsung bahwasanya hari itu dipertemuan pertama mereka, Adimas sendiri yang secara tidak langsung menolak perjodohan ini.
"Maaf, pesanan atas nama bu Martha."
Bu Martha segera menyahut. "Iya, saya." ucap Bu Martha sambil beranjak mengambil pesanannya.
"Ayo, Nye, kita kembali ke sana."
"Iya. Biar saya bawain, tante."
"Terimakasih."
Mereka beriringan kembali menuju kamar rawat Anya, tak ada obrolan sepanjang jalan. Hingga mereka pun sampai dan langsung dibuat mematung melihat Anya yang tengah meraung-raung, menangis dalam dekapan Adimas. Namun, satu hal yang membuat mereka terdiam saat ucapan terlontar dari mulut kecil itu.
"Anya mau Ibu, ayah..."
Hati siapa yang tak tersentuh karena hal itu?
***
"Sorry, ya, Nye, jadinya lo harus pulang malam."
"Gakpapa. Lagian, seharusnya lo gak perlu anterin gue. Gue bisa naik taksi, Dim."
Pada akhirnya, Adimas tetap memaksa untuk mengantarkan Anye pulang, itupun lebih larut dari seharusnya sebab harus menenangkan Anya yang menangis tak ada henti. Beruntungnya tangisan balita itu bisa terhenti saat kalimat janji sebagai penenang terlontar dari mulut Adimas.
"Sorry juga, Nye. Lo jadi kebawa-bawa. Gue janji, setelah Anya sembuh gue bakalan kasih dia pengertian. Jadi, lo gak perlu terlalu ambil pusing soal omongan gue tadi."
"Omongan yang mana, Dim?"
Adimas tersentak, dia melirik Anye sekilas. "Soal lo yang bakalan jadi ibu buat Anya." ucap Adimas, dia memang asal bicara tadi pada Anya, itupun karena dia melihat Anye. "Gue bakalan cari cara buat Anya ngerti."
"Gue gak papa kok, Dim."
Adimas lagi-lagi dibuat terkejut, "Gakpapa?"
"Iya, gakpapa."
"Nye, lo lagi dekat sama cowok?"
Anye menggeleng, "Kenapa?"
"Kalau seadanya kita terima aja perjodohan ini, gimana?"
Anye terkejut, apalagi saat Adimas menepikan mobilnya dan langsung menatap lekat Anye.
"Gue tahu, gue sendiri yang bilang kalau sampai kita terima perjodohan ini, lo yang bakalan kecewa. Tapi, sekarang gue bakalan yakini lo kalau gue akan berusaha untuk gak bikin lo kecewa, Nye."
Anye tak menanggapi Adimas.
"Gue tahu, mungkin ini kedengaran egois dan gue maksa banget. Tapi, gue mohon, Nye, kalau lo bisa, tolong terima perjodohan ini."
"Kenapa?" tanya Anye, "Kenapa lo takut bikin gue kecewa, Dim?"
Adimas tak menyangka jika pertanyaan Anye kesitu.
"Emangnya apa yang bakalan lo lakuin kalau sampai kita jadi menikah. Hal apa yang akan bikin gue kecewa?"
Adimas belum juga menjawabnya.
"Dim?"
Adimas menghela napas kasar, dia menatap Anye. "Kanaya, gue belum bisa lupain dia, Nye."
Benar, dugaan Anye selama ini benar.
"Gue takut lo kecewa, Nye. Gue takut lo gak bahagia."