Episode 9

1155 Kata
"Ampun deh anak-anak, Nye." Anye mengerutkan kening bingung saat Nadin tiba-tiba berucap demikian, dia menatap heran Nadin yang tak hentinya menggeleng sambil berdecak. "Ngapa sih, Nad?" tanya Anye, dia terkekeh sambil terus melanjutkan pekerjaannya. "Itu loh, Nye. Masa anak-anak udah heboh banget tentang Dimas, padahal Dimas baru ada seminggu loh di kantor. Tapi, mereka udah tahu banyak info tentang Dimas." Anye menaikkan kedua alisnya. "Gue dengar tadi di toilet, mereka lagi pada gosipin Dimas yang kata mereka tuh Duda keren, tampan, mapan, rupawan, pokoknya... masih banyak banget tuh sebutan mereka buat Dimas. Dan, yang lebih gilanya lagi..." Anye menunggu apa yang akan dilanjutkan Nadin, dia penasaran terlebih kali ini ekspresi Nadin terlihat benar-benar tak percaya. "Mereka nawarin gue buat join di grup ciwi-ciwi penggemar Dimas." ucap Nadin shock, Anye tertawa seketika, geli dibuatnya. "Dih, sorry nih ye, gue punya kali nomor pribadi Dimas. Gak harus ikut join sama mereka." "Ada-ada aja sih." "Iya, ada-ada aja emang anak-anak kantor sini tuh. Ajaib pokoknya." Anye terkekeh. "Dan, gue gak mau tahu, ya, Nye. Lo harus gercep, lo gak boleh kalah satset sama yang lainnya. Lo juga harus mepetin Dimas pokoknya." Anye berhenti tertawa, "Apa sih?" "Nye, jangan lupa berkasnya ditunggu Mba Mei seperempat jam lagi." Anye menoleh pada tekan kerjanya yang mengingatkan dirinya akan satu hal, dia mengangguk sambil mengacuhkan jempolnya. "Makasih, Nu udah diingetin." "Yoi!" Anye langsung mempersiapkan berkas-berkas yang dimaksud, setelah terkumpul semua dia berniat menyerahkan berkas ini sekarang juga! "Ke mba Mei dulu, ya." "Iya..." Anye menunggu lift, hendak mengantarkan berkas tersebut pada mba Mei yang ruang kerjanya berada satu tingkat diatasnya. Dan, saat lift terbuka tak serta merta membuat Anye bergegas masuk kedalamnya. Alasannya satu, seseorang yang ada didalam sana. Anye justru diam, ragu untuk melangkah. Gugup sudah jelas Anye rasakan sejak melihat keberadaan Adimas disini, namun dia akan tetap profesional dan bersikap biasa saja. Tak mau terlalu menunjukkan sifat malu-malunya. "Hai, Dim." sapa Anye, dia tersenyum lebar sambil melangkah masuk. "Hai, Nye. Mau kemana?" tanya Adimas saat Anye sudah berdiri disampingnya. "Mau ketemu mba Mei. Lo sendiri darimana?" "Abis ketemu pak Brata." Anye mengangguk-angguk, dia tak lagi mengeluarkan suaranya lagi begitupun Adimas. Kini suasana canggung tiba-tiba menyelimuti mereka. Dan, penyebab nya satu sebenarnya, perjodohan diantara mereka yang entah akan bagaimana akhirnya karena tak ada keputusan akhir sebenarnya dari pertemuan mereka terakhir kali. Hanya satu lantai, namun saat berada di situasi seperti ini rasanya lift berjalan begitu lamban. Dan, saat lift terbuka rasanya Anye bisa bernapas lega sekarang. Anye menoleh pada Adimas, "Duluan, ya, Dim." ucap Anye yang diangguki Adimas, dia cepat-cepat berlalu sambil merutuki diri dalam hati. Begitupun Adimas yang langsung menghela napas kasar saat pintu lift tertutup, dia menggeleng heran. "Jadi awkward gini sih? Tck." decak Adimas. *** "Nye, 2 menit lagi loh. Dan, lo masih asik main keyboard? Yang benar aja?" Anye langsung melemparkan tatapan tajamnya mendengar godaan Nadin, padahal Nadin tahu jika dirinya terpaksa lembur hari ini sebab ada pekerjaan mendadak yang mengharuskannya bekerja ekstra, tak ada waktu kalau sampai dikerjakan di rumah sebab berkas yang dia kerjakan harus selesai sebelum jam 7 malam. Nadin tersenyum lebar, dia menyampirkan shoulder bag di bahu kanannya. "Becanda sayangku..." "Nyebelin!" Nadin melirik jam dipergelangan tangannya, "... 10, 9, 8, 7, 6, 5..." "Berisik, Nad..." "Teng!" seru Nadin saat jam panjang berhenti diangka dua belas, jam 5 sore tepat saat ini. Dia langsung beranjak berdiri. "Selamat pulang, selamat beristirahat." Anye memutar bola matanya jengah, dia langsung mendengus saat Nadin menghadiahkan kecupan singkat di pelipisnya. "Semangat lembutnya, sayang... Gak sabar deh di traktir nanti weekend. Bye, bye, Anye sayang... Mau pulang dijemput ayang." ucap Nadin sambil berlalu pergi, melambaikan tangan pada Anye yang mendengus kesal. "Teman laknat emang." gerutu Anye, dia mengedarkan pandangannya memastikan siapa saja yang ikut lembur bersamanya. Namun, di ruangan yang biasanya diisi 15 orang ini, hanya tersisa dirinya saja. "Sumpah nih, gue doang?" tanya Anye tak percaya, dia meraung pelan. "Ih... Buru-buru, ah! Biar cepat selesai." Dengan mode kilat, Anye kembali melanjutkan pekerjaannya. Dan, tepat saat pukul 18.50 berkas yang dia kerjakan, selesai juga membuatnya langsung menghela napas lega seketika. Dia cepat-cepat mengirimkan soft file tersebut ke email atasannya agar bisa segera di proses, agar tak terlambat juga lebih tepatnya. Anye merenggangkan otot-otot tubuhnya, "Selesai juga... Tinggal pulang deh." ucap Anye sambil bergegas membereskan barang-barangnya, dia ingin langsung cepat-cepat pulang dan merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya itu. Dengan sedikit sempoyongan akibat badannya yang terasa pegal-pegal, Anye berjalan keluar, menuju lift untuk pergi kebawah. Namun, sepertinya memang ada sesuatu antara lift dan dirinya, juga Adimas lebih tepatnya. Lagi-lagi mereka dipertemukan disini. "Loh, belum pulang, Nye?" "Ada kerjaan dadakan, jadinya lembur deh." "Sendirian?" Anye mengangguk. "Lo juga lembur?" "Enggak sih, gue ini balik lagi ke kantor soalnya ada yang ketinggalan." Anye berohria, dia mengeluarkan ponselnya untuk berpura-pura sibuk padahal dia sendiri hanya menggulirkan asal ponselnya tak jelas. "Pulang sama siapa, Nye?" "O-jol?" "Sama gue aja, yuk! Sekalian, daripada sama ojol." Anye menggeleng cepat, "Gak usah lah, ngerepotin nanti." "Kalau ngerepotin, gue gak akan nawarin. Udahlah, sama gue aja, gakpapa kok." "Enggak, ah. Gue naik ojol aja." Adimas berdecak pelan, "Masih aja sama kayak dulu, Nye. Gak berubah." ucap Adimas yang berhasil membuat Anye menatapnya dengan kening mengerut bingung. Adimas mengangguk, "Iya, kayak dulu. Ingat, gak? Kalau setiap kita abis kumpul, entah itu kita nugas atau sekedar hangout, lo gak pernah mau kalau dianterin pulang, nolak mulu." Anye terkekeh pelan, dia memang demikian sejak dahulu. "Gak mau ngerepotin aja." "Enggak ngerepotin lah, Nye. Orang sekalian juga." "Gak usah lah, gakpapa." "Nye," "Iya?" "Janganlah karena perjodohan antara kita ini, kita jadi canggung gini. Biasa aja lah, kayak biasa." Anye mengusap tengkuknya yang tak gatal, ini akibat grogi saja. Dia tersenyum kikuk, "Orang biasa aja kok. Ya, biasa." balas Anye, dia terkekeh. "Yaudah, kalau gitu pulangnya bareng gue. Ya?" Mau tak mau, Anye pun mengangguk, mengiyakan tawaran—ah, paksaan dari Adimas sebenarnya. "Iya, deh." Akhirnya mereka beriringan keluar dari gedung, Anye menunggu didepan lobby saja, sedangkan Adimas mengambil mobilnya di parkiran. Tak lama, Adimas datang dengan mobilnya membuat Anye segera masuk ke mobil pria itu. "Makasih, ya, Dim, jadi ngerepotin." "Ya Allah, Nye... Kita aja belum keluar ke jalan raya, lo udah bilang makasih mulu." Anye terkekeh saja. Obrolan mereka mengalir begitu saja, membicarakan masa-masa sekolah yang masih mereka ingat, membicarakan kebodohan dan kecurangan yang sering kali mereka lakukan. Hingga ponsel milik Adimas berdering membuat obrolan mereka terputus seketika. "Tolong angkatin telponnya dong, Nye." Anye gelagapan, dia terkejut sambil menunjuk dirinya untuk memastikan permintaan Adimas itu. "Gue?" "Iya, itu video call soalnya." Anye mengangguk kaku, dia menatap layar ponsel Adimas yang menunjukkan keterangan Mama di sana. Bu Martha yang menelpon. "Loh, Anye?" Keterkejutan itu langsung terlontar saat panggilan tersebut Anye angkat. Anye tersenyum kikuk, dia segera mengarahkan kamera ponsel itu agar bisa menangkap dirinya juga Adimas. "Iya, tante. Aku lagi sama Dimas." "Ada apa, Ma?" Hening sesaat sebelum kemudian kecemasan terlihat jelas di wajah bu Martha. "Ke rumah sakit sekarang, Anya disini, demamnya tinggi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN