Episode 8

1248 Kata
Seperti apa yang diminta Syilla siang tadi, sore menjelang malam ini Anye sudah sampai di toko kue milik kakak iparnya. Anye segera membayar ongkos ojek online yang mengantarnya, kemudian berjalan masuk dan langsung menemukan kakaknya yang tengah duduk seorang diri. Toko kue ini milik teh Syilla, bisnis kue kering dan basah yang awalnya dijalankan seorang diri sejak menjalin rumah tangga hingga sampai akhirnya teh Syilla mampu mempekerjakan 2 orang karyawan. Malam ini tak terlalu ramai toko, namun dilihat dari beberapa etalase terlihat sudah banyak kue-kue yang sold out. "Teh," Anye langsung menyalami teh Syilla, kemudian duduk disampingnya. Dia menengak-nengok, mencari seseorang yang kemungkinan adalah orang yang akan menemuinya. Paham dengan gerak-gerik Anye membuat teh Syilla berucap, "Belum datang, tadi ada urusan mendadak katanya. Tapi, bentar lagi juga datang kok, udah di jalan." Anye mengangguk, dia mengerutkan keningnya. "Emangnya siapa sih, teh yang mau ketemu aku?" tanya Anye penasaran. "Ada lah, nanti kamu juga tahu. Eh, udah salat belum?" Anye menggeleng. "Yaudah, sana salat dulu." Anye mengangguk, dia beranjak berdiri. "Yaudah teh, aku ikut salat disini, ya." "Iya." *** Anye selesai dengan ibadahnya, dia keluar hendak menemui kakaknya kembali. Namun, dia justru dikejutkan saat seseorang tiba-tiba menghampiri. "Loh, Anya? Kamu disini sama siapa?" tanya Anye cemas, dia menunduk untuk lebih dekat pada Anya. Anya tersenyum lebar, dia memutar tubuhnya sambil menunjuk neneknya—bu Martha yang tengah memperhatikan mereka di sana dengan senyuman. Anye membalas senyum itu, kemudian mengajak Anya untuk menghampiri neneknya itu. "Tadi dikira salah liat, tapi ternyata emang beneran kamu, Nye. Makanya, Anya langsung lari samperin kamu deh." jelas bu Martha. Anye tersenyum. "Mau duduk dekat tante baik." ucap Anya sambil mendusel-dusel untuk duduk dekat Anye. "Eh, udah sini dekat nenek aja. Kamu itu, kasihan tantenya." Anye tersenyum, dia menggeleng pelan. "Gakpapa kok, bu." ucap Anye, dia juga tak keberatan saat Anya ternyata ingin duduk di pangkuannya. "Bu Martha lagi mau beli kue apa disini?" tanya Anye, dia membukakan bungkusan cokelat payung yang disodorkan Anya padanya. "Sebenarnya gak mau beli apa-apa, udah ada janji aja sama orang disini." Anye berohria, dia mengangguk-angguk. "Duh, nanti gimana dong kalau orangnya datang. Aku ada disini." "Gakpapa, santai aja dulu. Belum ada juga." jawab bu Martha, dia menepuk-nepuk pelan paha Anye. "Kamu sendiri lagi beli apa disini? Anya, itu jangan belepotan makannya, nanti kena baju tantenya itu, kotor." ucap Bu Martha melihat cucunya yang makan begitu belepotan. Anye terkekeh, dia membersihkan pipi Anya yang sedikit belepotan karena cokelat tersebut. "Aku juga lagi mau ketemu orang, gak lagi beli disini." jawab Anye. "Eh, kamu mau ketemu orang? Yaudah, Anya sini sayang sama nenek, itu tantenya mau ketemu sama temannya." "Gakpapa, bu, santai aja. Orangnya juga belum datang, sama. Gakpapa kok." "Anye, Bu Martha, kalian udah saling kenal?" Mereka menoleh ke sumber suara, teh Syilla berdiri di hadapan mereka dengan raut terkejutnya sebelum kemudian tersenyum lebar karena senang. Sedangkan, mereka saling mengerutkan kening bingung. "Jadi, kamu adiknya, Syilla, Nye?" Anye menoleh pada bu Martha, mengangguk. "Iya, teh Syilla, istri Aa aku." jawab Anye, dia sedikit linglung. "Ya ampun... Jadi, ternyata yang mau jadi calon mantu saya tuh, kamu, Nye. Ya allah... Gak salah pilih ini mah berarti." ucap bu Martha senang, sedangkan Anye masih terkejut. Oke, dia tahu jika dirinya memang dijodohkan dengan Adimas, namun dia tak menyangka jika orang yang akan bertemu dengannya hari ini adalah bu Martha, terlebih sepertinya bu Martha juga baru tahu jika dirinya lah yang dijodohkan dengan putranya. "Beda tahu, Nye sama foto yang ditunjukkan Syilla. Kamu lebih cantik. Makanya, saya gak ngeh kalau ternyata kamu orangnya." Anye tersipu malu. "Tapi, ini siapa, ya, bu Martha?" tanya teh Syilla yang seketika membuat raut wajah bu Martha berubah seketika. Anye yang melihat perubahan itu tahu karena sepertinya ada disinformasi dan mungkin kesalahpahaman akan terjadi. *** "Nye... Demi Allah, teteh gak tahu kalau ternyata anak bu Martha itu seorang duda. Ya Allah, Nye, kalau teteh tahu, teteh gak mungkin menjodohkan kamu sama duda. Masih banyak laki-laki lajang diluar sana, gak harus duda. Jadi, kamu berhak untuk menolak perjodohan ini, Nye." Anye dan teh Syilla saat ini tengah berada dijalan pulang menuju kosan Anye dengan perempuan itu yang mengendarai mobil milik teh Syilla. "Nye, kamu marah sama teteh?" tanya teh Syilla, wajar sebenarnya jika Anye marah. Tapi, jujur saja jika Syilla benar-benar tidak tahu perihal status duda yang dimiliki anak bu Martha. "Enggak kok, teh. Lagian aku juga tahu, teteh gak mungkin sengaja banget jodohkan aku sama cowok yang udah jadi duda." "Maaf, ya, Nye." "Teteh mau tahu satu hal lagi, gak? Mungkin ini juga bakalan bikin teteh kaget kali." Teh Syilla mengerutkan keningnya, "Apa?" "Anak bu Martha itu teman Anye teh, teman pas SMA." Teh Syilla terkejut tentunya, "Teman kamu?" Anye mengangguk. "Jadi, teman kamu udah jadi duda anak satu di usianya yang sekarang?" Lagi-lagi Anye mengangguk. "Istrinya meninggal, teh pas melahirkan Anya, anak kecil tadi." Segala prasangka menyelimuti pikirannya saat ini, ketakutan dan kemungkinan besar pun sudah terbayang di benaknya. "Terus, jadinya gimana, Nye? Kamu masih mau lanjut atau udah langsung berhenti aja karena dia duda? Kalau saran teteh sih, pas udah tahu dia duda, ditinggal istrinya meninggal lagi, mending kamu gak lanjut deh, Nye. Mending kita cari yang masih lajang aja. Masih banyak kok." Anye terkekeh, "Teh, teh, Anye udah kayak apa aja. Emangnya Anye se-gak laku itu apa sampai-sampai dijodohin sana-sini, udah ada cadangannya aja kalau yang satunya gagal." "Bukan gitu maksudnya, Nye. Yaudah deh, sekarang teteh serahin semuanya sama kamu, terserah kamu, Nye." "Iya, teh. Gak tahu juga aku." *** "Anya rewel gak, Mah?" tanya Adimas saat dia menjemput putrinya di rumah orangtuanya. Memang demikian, setiap pagi dia akan mengantar anaknya kesini, lebih seringnya sih Anya disini, sedangkan dia di apartment nya. Padahal orangtuanya sudah meminta dia untuk pulang saja ke rumah, tinggal lagi bersama mereka. Namun, Adimas menolak, dia enggan. Kenangan Kanaya masih terlalu banyak di apartemen tersebut, tak tega kalau harus ditinggalkan apalagi di serahkan pada orang lain. Alhasil, demikian. "Enggak kok, Anya mana pernah rewel." "Syukur deh, Ma. Oh, iya, Papa masih berapa hari di Surabaya?" tanya Adimas, Papanya berasa di luar kota sedang melakukan dinas dari perusahaan. "Lusa juga udah balik." Adimas mengangguk-angguk, dia kembali menikmati makan malamnya. "Kamu kok gak cerita sama Mama kalau ternyata perempuan yang Mama jodohin sama kamu itu, teman kamu." Adimas mendongak, dia menaikkan kedua alisnya. "Aku pikir Mama udah tahu, makanya Mama jodohin aku sama dia. Jadi, aku gak bilang apa-apa." "Enggak, Mas. Mama gak tahu. Mama tadi aja baru ketemu dia, kaget, ternyata dia Anye." "Mama beneran gak tahu?" Bu Martha berdecak pelan, "Enggak, sumpah, Mas." "Aku pikir tahu." Bu Martha tersenyum lebar, dia senang memikirkan jika Anye yang akan menjadi menantunya. "Gimana, langsung cocok kan, Mas? Dia baik kan? Kelihatan sih. Jadinya, gimana? Dilanjut kan?" "Aku gak mau, Ma." Bu Martha terkejut, "Loh, kenapa? Anye gak baik atau kurang apa? Mas, dia itu kelihatannya baik tahu, dia juga sayang kayaknya sama Anya, buktinya Anya langsung nempel sama dia. Cocok dia jadi istri kamu, ibu sambung Anya juga. Kurangnya apa coba?" "Anye gak kurang apa-apa, Ma. Aku juga tahu kok, dari dulu sampai sekarang dia gak berubah, dia masih sama, masih baik. Tapi, aku gak mau buat dia menderita karena harus nikah sama aku yang seorang duda ini, duda anak satu lagi. Aku gak mau ngebebanin dia, Ma." Bu Martha terdiam, dia jadi memikirkan kesitu juga. "Iya, sih. Tapi, Mama yakin kok kalau dia gak akan merasa terbebani." Adimas tak menyahut lagi. "Apa gak mau dicoba dulu, Mas? Dijalanin aja dulu?" "Gak tahu, Ma."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN