“Kenapa, ya, Nye kita dikumpulin?."
Senin menjadi hari yang sangat disayangkan untuk beberapa orang, sebab harus kembali berkutat dengan pekerjaan setelah libur panjang. Namun, tidak untuk Anye kali ini. Dia sangat menantikan Senin ini, sangat diharapakan cepat-cepat datang sejak kemarin. Oleh sebab itu, disaat yang lain terlihat tak bersemangat justru berbeda dengan Anye yang terlihat begitu semangat, senyum lebar perempuan itu menjadi buktinya.
"Lo gak penasaran, Nye?"
Anye belum sempat menjawab, namun instruksi untuk semuanya berkumpul membuat mereka cepat-cepat berkumpul ditempat yang diberitahukan. Melihat sikap Anye yang begitu antusias membuat Nadin mengerutkan kening bingung, soalnya agak lain.
"Selamat pagi, semuanya. Terimakasih atas perhatiannya. Berhubung menanggapi tentang isu pengunduran diri saya dari perusahaan sudah tersebar, maka saya akan menjawab itu hari ini."
"Ya, benar. Bahwa saya, Rara Aninditha yang kalian ketahui sebagai bagian dari konsultan hukum di perusahaan dan sudah bekerja selama hampir 10 tahun lamanya, saya memang benar mengundurkan diri dari perusahaan."
Terdengar bisik-bisik, kegaduhan pun langsung tercipta.
"Tenang, tenang, ini gak ada kaitannya sama sekali dengan perusahaan. Jujur, saya senang bekerja disini, atasannya sangat care dengan karyawan, team work yang mantap banget, pokoknya saya gak pernah menyesal bekerja disini. Terbuktikan kalau saya bisa bertahan selama ini. Tapi, ya, namanya juga perempuan, kita pasti menikah, berkeluarga dan punya pasangan juga anak-anak. Tentunya akan ada prioritas lain lagi yang bertambah."
"Menang betul, suami tidak melarang saya untuk bekerja. Tapi, saya sebagai istri tentunya ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan suami juga anak-anak saya, apalagi saya sekarang sudah punya anak perempuan yang harus dikasih perhatian lebih. Jadi, itu salah satu alasan saya akhirnya memutuskan untuk keluar dari perusahaan."
"Apa nanti kalau gue nikah, gue juga harus berhenti kerja, Nye?" bisik Nadin, dia mengerucutkan bibirnya. "Gak mau, masih pengen kerja. Gue kan bercita-cita jadi wanita karir."
"Lo obrolin lagi lah sama Ilham, gue yakin kok dia pasti bakalan ngerti."
".... Dan, ketika saya keluar sudah pasti posisi saya kosong. Jadi, saya disini ingin memperkenalkan pada kalian semua orang yang akan menggantikan posisi saya di perusahaan ini. Oleh sebab itu juga kalian dikumpulkan disini."
Jantung Anye berdebar hebat, dia tak sabar melihat sosok itu yang akan muncul dan memperkenalkan diri.
"Silahkan, pak, masuk."
Dan, tepat saat seseorang tersebut masuk, pekikan dari beberapa kaum hawa mengisi ruang ini, tak tanggung-tanggung, mereka banyak mengeluarkan pujian yang dilontarkan. Nadin terbelalak, sedangkan Anye hanya tersenyum saja.
"Nye?" Nadin menoleh pada Anye, mengerutkan kening tak percaya melihat senyum Anye. "Gila! Lo banyak hutang penjelasan sama gue, Nye! Gak mau tahu!"
***
"Jadi?"
Baru saja Anye hendak menikmati makan siangnya, namun Nadin sudah lebih dulu melontarkan pertanyaan demikian.
Anye hanya menaikkan kedua alisnya, melanjutkan menikmati makanan di mulutnya saat ini.
Nadin mendengus pelan, "Lo belum jelasin apapun sama gua, ya! Tentang anaknya Dimas yang kok bisa kenal dan panggil lo tante baik, terus sekarang Dimas yang tiba-tiba ada di kantor kita. Dan, gue yakin banget kalau lo tuh udah tahu sebelumnya! Pokoknya jelasin sekarang, gak mau dinanti-nanti lagi!"
Anye tersenyum simpul, "Ceritanya panjang, Nad. Kalau gue jelasin sekarang bisa-bisa makan kita gak selesai-selesai dan kita jadi telat balik ke kantor."
"Ya, intinya aja lah Anye, sayang... Gue pasti langsung paham kok!" dengus Nadin, dia greget dengan Anye yang selalu saja ada alasan untuk tak menjawab pertanyaan darinya.
"Ya, intinya Anya—"
"Anya?" potong Nadin, dia nampak terkejut.
Anye mengangguk, "Nama anak Dimas, Anya."
"Kok bisa mirip sama lo sih?"
Anye menggeleng, mengedikkan bahunya. "Intinya tuh, gue gak sengaja nemuin dia yang lagi nangis di supermarket, terpisah sama neneknya dan gue tolongin. Itu kejadiannya dimana gue sama sekali gak tahu kalau Anya itu anak Dimas. Dan, gue dianterin pulang terus gak sengaja ketemu lagi juga, terus Dimas tahu tempat kerja gue dan dia kasih tahu gue kalau dia juga mau join di kantor kita. Udah."
Nadin ternganga, masih mencerna. Tiba-tiba selintas pikiran lewat di benaknya.
"Jangan bilang kalau sebenarnya lo tuh lagi dekat sama Dimas semenjak reuni kita kemarin, benar?" tuding Nadin, dia memicingkan matanya.
Anye diam dan itu sebagai jawaban iya menurut Nadin.
"Ya ampun, Nye... Kok bisa sih? Oh my God!" pekik Nadin, dia tersenyum lebar. "Benar kan feeling gue, Nye kalau lo sama Dimas tuh ada sesuatu. Fix sih ini mah—"
"Shutt... Jangan berisik, ah, Nad. Gak mau tahu pokoknya, lo jangan banyak ngomong tentang Dimas di kantor, apalagi pas ada dianya. Gue gak mau, ya, ada salah paham, heboh pasti kantor."
Nadin semakin melebarkan senyumnya, memicingkan matanya menggoda Anye. "Berarti benar kalau ada sesuatu?" Nadin menaikturunkan alisnya.
"Do'ain aja."
"Ah... Senang deh kalau tau itu hal baik. Dan, gue berdoa semoga emang yang terbaik, ya. Gak sabar deh dengar kabar bahagia dari lo."
Anye hanya tersenyum saja, dia pun mengharapkan demikian.
***
"Eh, Dim lo kerja disini gak ngasih tahu gue sih! Parah!"
Mereka berpapasan di lift, Anye dan Nadin yang baru selesai makan diluar sekaligus salat, sedangkan Adimas yang entah darimana.
"Anye aja lo kasih tahu, gue enggak. Pilih kasih nih." ucap Nadin, dia sebenarnya tengah menggoda Anye dan Adimas, Anye sih lebih tepatnya.
Anye diam, jadi salah tingkah.
"Itu juga gak sengaja karena abis anterin Anye kesini." jawab Adimas.
"Kesini? Lo nganterin Anye kesini? Ngapain? Kapan?"
Anye mencubit pelan lengan Nadin, tentunya dengan sembunyi-sembunyi, dia tersenyum pada Nadin yang kesakitan, senyuman penuh arti. Bertepatan dengan itu pula lift terbuka sesuai lantai tujuan mereka. Dia menatap Adimas kali ini, "Yaudah, ya, Dim, kita duluan. Yuk, Nad!" ajak Anye, tak menunggu jawaban Nadin, dirinya langsung saja menarik perempuan itu, meninggalkan Adimas yang hanya me
"Ih, pelan-pelan kek, Nye. Jatuh nanti gue, gimana sih."
"Lo kalau gak digituin makin-makin, Nad. Please lah... Jangan gitu, ih!"
Nadin terkekeh, "Ye... Siapa tahu makin lengket kalau gue gituin."
"Gak! Gak boleh kayak gitu lagi. Nanti heboh kalau sampai satu kantor menganggapnya lain."
"Ya, jelas bakalan heboh. Tapi, orang-orang kantor juga bakalan senang kok, mereka pasti juga bersyukur seorang Anye yang terkenal tak pernah takluk sama pria manapun, ternyata menjatuhkan hatinya pada—"
Anye langsung membekap mulut Nadin, bahaya kalau satu nama keluar dari mulut Nadin. Bahaya.
Nadin menepuk-nepuk tangan Anye, meminta perempuan itu melepaskan bekapannya.
"Awas, ya kalau kayak gitu lagi!"
Anye dan Nadin, mereka kembali ke tempat masing-masing dan mulai bersiap-siap lagi dengan pekerjaan mereka.
Hingga dering ponsel milik Anye mengalihkan atensi perempuan itu. Anye langsung mengangkat panggilan yang berasal dari kakak iparnya.
"Hallo, teh, assalamu'alaikum. Ada apa, teh?"
"Waalaikumsalam, Nye. Kamu lagi break kan ini?"
Anye mengangguk seakan teh Syilla ada dihadapannya. "Iya, teh. Bentar lagi masuk. Ada apa, teh?" tanya Anye lagi, pertanyaannya belum dijawab.
"Nanti pulang ngantor langsung ke toko, ya. Ada yang mau ketemu."
Anye mengerutkan keningnya, "Ketemu? Ketemu aku?" tanya Anye, dia bingung perihal siapa yang ingin menemuinya. Berasa orang penting aja.
"Iyalah, Nye, ketemu kamu. Kalau bukan kamu, teteh gak akan telpon sekarang dan minta kamu kesini pulang kerja."
Anye terkekeh pelan, "Iya, kan cuma memastikan."
"Datang, ya, Nye. Awas aja kalau enggak."
"Iya, iya, insyaallah."
"InsyaAllah nya harus iya, ya, jangan setengah-setengah. Penting pokoknya."
"Iya, iya, teh. Udah, ah, aku mau kerja.
Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Panggilan tersebut langsung terputus seketika, Anye menyimpan kembali ponselnya disamping laptopnya dan mulai berkutat dengan pekerjaannya tanpa mau ambil pusing atau bertanya-tanya siapa seseorang yang ingin menemuinya. Tak mungkin, Adimas kan? Pasalnya mereka sudah bertemu kali ini di kantor.
Entahlah siapa.