Atha terus saja mengetuk pintu apartemen Queen membuat sang pemilik berdecak kesal dan terpaksa membukakan pintu apartemen miliknya. Paginya yang tenang kini terusik dengan kehadiran seseorang yang sangat tidak dia inginkan.
"Assalamu'alaikum, pagi calon istri!" Senyum Atha begitu mengembang seakan dia adalah orang yang paling bahagia di muka bumi ini.
Berlawanan degan raut wajah Atha yang menampilkan raut bahagia, Queen menatap tanpa minat ke arah pemuda tersebut. "Wa'alaikumsalam, ada apa?"
"Jemput calon istri, mau ke kampus 'kan? Sekalian bareng." Ajak Atha untuk kesekian kalinya, meski begitu ia berharap bahwa Queen menerima ajakannya kali ini.
"Gak bisa." Tolak Queen.
"Kenapa gak bisa? Ibu gak mau irit bensin gitu?" Bujuknya yang tidak mau kalah.
Queen mendelik mendengar hal tersebut. "Saya gak semiskin itu buat beli bensin."
Atha mengangguk dirinya harus terbiasa dengan Queen dan segala penolakan dia wanita itu berikan. Bukan saya hanya mengandalkan ucapan manis, tapi membujuk Queen itu juga harus menggunakan akal sehat dan otak yang cerdas.
"Saya gak bilang Ibu miskin loh, saya cuman bilang supaya irit bensin, lumayan pertamina bisa buat manusia lain yang lebih membutuhkan." Ujar Atha sok bijak.
Queen yang sudah mulai malas meladeni Atha memilih diam, dia menutup pintu apartemennya dan berjalan mendahului Atha seperti biasanya tanpa banyak bicara. Atha sendiri pun juga ikut melangkah untuk bisa sejajar dengan Queen.
"Jadi Ibu terima ajakan saya buat berangkat bareng, kan Bu?"
"Tidak, saya menolaknya."
"Kalo gitu gimana pulang nanti saya jemput Ibu?" Tawar Atha yang tidak mendapatkan jawaban dari Queen karena memang wanita itu sudah malas untuk mengobrol lebih lanjut.
***
Atha menatap kearah depan, memerhatikan wajah wanita yang tidak pernah tersenyum itu sekalipun memiliki anak didik yang baik dan penurut. Dia benar-benar sosok yang pelit akan senyum, bukan sekali dua kali Atha melihat tapi berkali-kali bahkan semua mahasiswa yang diajarnya pun tahu seperti apa dia.
"Ssssttt, Tha lu merhatiin materinya apa yang jelasin materinya." Bisik Raka yang menatap Atha heran sebab jika kelas lain Atha tidak pernah sefokus ini.
Atha tersenyum simpul dan membalas, "Dua-duanya lah."
Seakan tak percaya Raka pun bertanya lagi, "Masa? Waktu kelasnya pak Adam aja lu gak kek gini, jujur aja deh gak usah bohong sama gue."
Suara decakan keluar dari bibir Atha, pemuda itu melihat Raka yang tengah menatap jail kearahnya. "Bacot sia lah," umpatnya kasar, "Diem ajalah nanti kena marah nyaho lu."
Raka sendiri terkekeh, senang sekali menjaili Atha apa lagi saat pria itu menahan kekesalan sangat menyengakan baginya. Saat asik tertawa kecil sebuah spidol melayang ke arahnya dan tak lama sebuah penghapus mengenai Atha yang berada di sampingnya.
"Kalian berdua keluar dari kelas saya sekarang!!" Atha dan Raka kembali terkejut saat suara tegas penuh penekanan itu membuat mereka terdiam seketika.
"Tap–"
"Keluar atau saya beri kalian menjelaskan materi kali ini?" Queen menatap tajam pada dua orang pria yang mengobrol di kelasnya, apa lagi pada Raka yang hendak membuat alasan, padahal sudah sering dia menegur mereka tapi ada saja yang melakukan hal sama.
Atha menghela napasnya begitu pula Raka. Keduanya keluar dari kelas Queen dengan perasaan sama, sama-sama sedih bedanya Atha yang sedih karena tak dapat memerhatikan Queen sedangkan Raka sedih karena melewatkan materi untuk kesekian kalinya. Dia takut nilainya terancam, padahal dirinya sudah mencoba untuk belajar lebih giat, mulutnya saja yang tak bisa diam hingga mengajak Atha berbicara.
"Lu si ah, keluar kan gue." Protes Atha, mungkin jika dulu Atha sangat senang karena keluar dari kelas Queen kalau sekarang malah berkebalikan. Atha ingin membuat citra baik dihadapan Queen, dia mau menjadi Atha versi terbaru yang bisa membuat perempuan es batu itu terpikat.
"Yeuh biasanya juga lu seneng." Balas Raka yang tak mau disalahkan.
"Itu 'kan dulu kalo sekarang mah beda lagi anaknya bapak Yusuf!"
***
Balik lagi ke Queen yang sekarang sudah menyambungkan infokus pada laptopnya hingga terpampang jelasin materi yang dia bawakan. Menjelaskan kembali apa mengenai materi kali ini yang tadi sempat tertunda.
Queen yang tadinya hanya diam di tempat kini berjalan menyusuri setiap meja dan kursi mahasiswanya. Matanya menjelajah ke sisi ruangan kelas sementara bibirnya terus menjelaskan materi yang ada di depan.
Remot kecil berbentuk pulpen menjadi pengatur jarak jauh yang memudahkan Queen untuk mengganti halaman yang berada di layar laptopnya. Beberapa saat kemudian tidak ada hal yang membuatnya kesal selain Atha dan Raka tadi, semua berjalan normal hingga dia membagikan tugas kelompok untuk materi kali ini.
"Bu, kenapa harus ada kelompok? Kenapa gak tugas mandiri aja?" Queen menatap seorang mahasiswa perempuan di tengah ruangan.
Dari belakang, Queen menjawab, "Biar saya bisa menilai kekompakan dalam berkelompok, kalau sendiri itu nanti ada lagi tugasnya."
"Tapi Bu, kalo tugas kelompok suka ada aja yang gak kerja dan cuman numpang nama doang." Sahut yang lainnya.
"Gampang, tulis namanya dan kasih ke saya tanpa sepengetahuan dia sisanya biar saya yang urus, bereskan?" Balas Queen. Sambil berjalan maju dan membereskan peralatannya.
"Tapi, kalo semisal dia tahu dan ngancem gimana Bu? Kan ada aja yang kayak gitu apa lagi negara kita mengandung sistem kasta dimana yang bawah selalu di tindas dan yang atas semena-mena." Ujar mahasiswa pria yang ikut protes adanya kegiatan kelompok ini.
Queen menghentikan pergerakannya saat membereskan barang-barangnya dan memandang lurus kehadapan lawan bicara kemudian menyeringai, membuat semua yang berada dalam kelas itu terdiam seketika.
"Curhat? Atau pengalaman pribadi?" Tanya Queen dengan nada sarkas. "Tegas adalah salah satu cara agar kalian tidak di tindas, kalo kalian bersikap tegas dan masih dikucilkan diam dan melawan lah secara perlahan."
Queen menatap satu persatu mahasiswanya. "Secara sadar atau tidak dari dulu manusia selalu memakai sistem kasta dan hukum rimba hanya saja banyak pembaruan yang tidak di sadari, jadi kembali ke diri sendiri. Saya tidak mau mendengar protes kalian lagi tentang kegiatan kelompok dan ini, jika masih ada yang protes siap-siap nilai kalian terancam."
Setelah berkata seperti itu Queen melangkah pergi saat semua barang-barangnya sudah dia kemasi. Meninggalkan suasan tegang yang jelas sekali terlihat.
Di luar kelas Atha bertepuk tangan pelan dan tersenyum saat Queen berada di hadapannya. "Wah Ibu hebat! Baru kali ini saya denger Ibu bicara sepanjang itu, biasanya hanya satu atau dua kata saja paling banyak empat kalimat."
Queen terus berjalan tegak bersikap seakan dia tak mendengar ucapan Atha. Masih banyak pekerjaan yang harus dia urus dan itu mengharuskan ia untuk menghemat energi, bagi Queen mengobrol dengan Atha sama saja membuang energinya secara cuma-cuma.