Pagi hari yang cerah di hari minggu, Atha dengan semangat membara berlari mengelilingi kompleks perumahan tempatnya tinggal. Langkah kakinya terhenti kala matanya menangkap objek yang belum dia ganggu selama pagi ini.
"Lucu." Gumam Atha saat Melihat Queen yang tengah mengelus kucing liar dengan wajah datarnya lalu menaruh kucing itu di pangkuan dirinya.
Baru saja kakinya akan melangkah mendekat seorang perempuan lebih dulu menghentikannya. Dia mengerutkan dahinya saat perempuan itu berbicara dengan Queen dengan santai, yang lebih membuatnya heran adalah Queen menampilkan ekspresi kesal yang sangat menggemaskan, ekspresi yang tidak pernah dia lihat selama wanita itu mengajar atau selama dia dekat dengannya.
"Dia bisa kesel juga?" Gumam Atha.
Tepukan di bahunya membuat Atha mengalihkan pandangannya. Dia menerima botol minum yang di berikan sang adik.
"Loh teh Sri sama calon bini lu 'kan, A?" tanya Radit dengan wajah bertanya-tanya.
Oh, Atha ingat sekarang, perempuan yang di samping Queen itu adalah tetangga depan rumahnya yang punya anak satu. Sri Ulfa Wahyuni wanita 30 tahun itu sangat ramah pada siapapun, mungkin saja Queen dan tetangganya itu adalah teman lama yang sedang bermain, karena rumah Queen bukan berada di daerah sini juga mana mungkin wanita itu datang ke sini untuk berkunjung ke rumahnya.
"Samperin yuk!" Ajak Radit. Lelaki muda ini ingin sekali dekat dengan calon kakak iparnya, tidak sabar merasakan bagaimana rasanya mempunyai saudara perempuan.
Atha tersenyum penuh arti. Ini adalah kesempatan yang tak bisa diabaikan, dengan langkah lebar Atha menyusul Radit yang sudah berada jauh di depannya.
"Permisi, boleh gabung?" tanya Radit membuat kedua perempuan yang tengah mengobrol itu mengalihkan pandangannya.
Sri yang sudah mengenal siapa itu Radit dan juga Atha tentu saja membolehkannya. Wajahnya terlihat berseri-seri dan tatapan menggoda di layangkan ke arah Queen membuat perempuan itu sebisa mungkin untuk tidak terlihat kesal.
"Boleh dong masa enggak, yah 'kan Queen?" Queen tahu itu bukan sebuah pertanyaan yang meminta persetujuan melainkan sebaiknya dia mengangguk saja.
Atha melihat ke arah Queen, di lihat dari jarak jauh yang lumayan dekat ternyata wanita itu berkeringat sangat banyak. "Ini lagi pada istirahat yah?"
Sri mengangguk. "Iya tadi habis lari-lari kecil sama ngelakuin beberapa olah raga ringan."
"Oh yah, Radit baru tahu kalo Teh Queen rumahnya daerah sini juga." Ucap Radit membuka melanjutkan pembicaraan.
"Bukan, saya hanya bermain." Jawab Queen apa adanya. Lagi pula ini juga sedikit paksaan dari Sri yang membuatnya mau melepaskan diri dari pekerjaan yang ada.
Radit mengangguk, remaja itu baru saja akan ikut duduk di samping Queen namun lebih dulu Atha membuatnya duduk di samping Sri yang tengah memakan bakso amang-amang.
"Bang ketoprak satu!" Teriak Atha dengan menaikkan sedikit volume suaranya karena gerobak ketoprak yang ditunjuk tak begitu jauh, "Teh Sri, Bu Queen, sama lu Dit mau gak?" Sri dan Queen yang di tawari pun menggeleng sedangkan Radit mengangguk.
"Oke, yang satu gak pake toge yah Bang!"
"Oke Mas!" Sahut si tukang ketoprak.
"Tumben, A gak pake toge biasanya pake." Kata Radit yang merasa heran mengapa Atha memesan ketoprak berbeda dari biasanya.
Atha yang ditanya pun menjawab dengan santai. "Soalnya sudah together with Bu Queen!"
Mendengar itu Queen tersedak air minumnya sendiri. Dia melayangkan tatapan menusuk pada Atha, suara lelaki itu sungguh membuatnya malu apa lagi beberapa orang melihat ke arah sini.
"Acie Ibu salting sama kata-kata saya." Ujar Atha dengan percaya dirinya.
"Pelan-pelan, bisa 'kan." Ucap Sri sambil mengusap punggung Queen. Suasan seketika hening untuk beberapa saat, Radit berdehem untuk menghilangkan kecanggungan yang diakibatkan oleh Atha.
"Teh Sri Radit bingung deh kenapa yah kalo hujan harus sedianya payung sama jas hujan?" tanya Radit yang tidak menyukai suasan canggung ini.
Belum sempat Sri menjawab Atha lebih dulu menyela, "karena kalo sedianya mas kawin dan seperangkat alat sholat itu tugas gue buat, Bu Queen nanti."
Radit menggelengkan kepalanya, "Bisa ae si Aa."
Sementara Queen hanya diam sambil memainkan ponselnya dia sudah biasa saja mendegar hal tersebut. Ah, lebih tepatnya mencoba untuk biasa saja.
Sri yang melihat itu menggulum senyumnya lalu menatap ke arah Radit. "Dit," panggilnya membuat Radit yang sedang menerima ketoprak dari Abang penjualnya pun menoleh.
"Teteh mau tanya dong," ujar Sri.
"Apa tuh?" tanya Radit saat sudah menerima ketopraknya begitupun Atha.
"Kenapa yah kalo di pantun jarjit itu nomer dua dan tiga?" Radit mulai berpikir saat mendengar ucapan itu.
"Kenapa emangnya, Teh?" tanya Radit saat tak mendapatkan jawaban di otaknya.
"Karena nomer satunya itu, Bu Queen." Sahut Atha dengan cepat sebelum Sri kembali berucap.
Sri langsung tertawa mendengar itu. Dia melihat seberapa keras Atha mencoba membuat Queen tersenyum di pagi yang cerah ini.
Berdehem sejenak lalu Sri kembali berkata, "Teteh heran deh kenapa coba kalo di bahasa inggris ada perfect tense?"
"Enggak tahu, emang kenapa Teh?" Tanya Radit yang tahu maksud dari Sri, sedangkan Sri menatap Atha dengan senyum jahil saat lelaki itu sedang berpikir keras untuk membalas ucapannya.
"Yah, kalo perfect person itu cuman, Bu Queen lah!" Jawab Atha dengan percaya dirinya. Kali ini bukan hanya Sri yang tertawa bahkan Radit juga ikut tertawa di sela-sela kegiatan makannya.
Queen yang jengah dengan kelakuan Atha memilih berdiri dan pergi dari sini, namun belum juga melangkah tangannya sudah di tahan oleh Sri.
"Mau kemana?"
"Pulang, kakak juga cuman minta aku joging bareng gak lebih." Jawab Queen dengan nada ketus. Entah kenapa moodnya berubah menjadi buruk.
Sri tersenyum kecil, "tapi kamu udah janji sama kakak gak bakal kerja seharian ingat?"
Queen menngguk mendengar hal itu. Dia tak bisa berbohong mengingat Sri bisa mengetahui apa saja kegiatannya, dengan pelan Queen melepaskan gengaman tangan Sri dari pergelangan tangannya. "Queen pamit, Assalamu'alaikum Kak, Radit, Atha."
"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka secara kompak setelah itu Queen pergi tanpa melihat kebelakang.
"Terima kasih yah, buat kalian dan maaf atas sikap Queen." Ucap Sri dengan tulus, merasa tidak enak atas kelakukan wanita itu.
"Gak papa Teh, santai aja." Balas Radit.
Atha mengangguk. "Iya, santai aja Teh, oh yah by the way Queen itu saudara Teteh yah?"
Sri diam sejenak sebelum dia menjawab, "Iya,"
"Eh yang bener Teh?" tanya Atha dengan nada antusias demi meyakinkan dirinya, "saudara jauh apa Deket? Kok baru keliatan sih?"
"Eum ... itu–"
"Mama, sini!" Sri menghela napas panjang saat dia mendengar suara anaknya. Dia merasa menghilangkan beban berat di punggungnya.
"Atha, Radit, saya pamit ke anak sama suami saya dulu yah kalian lanjut makan saja." Ujar Sri yang mendapat anggukan dari Atha juga Radit.
"Gue baru tau teh Queen sama teh Sri saudaraan." Celetuk Radit.
Atha menelan makanannya lalu menyahut, "sama gue juga."
"Ngomong-ngomong gombalan lu boleh juga, A," kata Radit dengan nada mengejek ke arah Atha.
"Ya dong! lu juga sama teh Sri yang tiba-tiba kompak gitu kek tadi."
Radit yang mendengar itu hanya menaik turunkan bahunya acuh, dia menikmati kunyahannya, juga dirinya tidak tahu mengapa bisa satu pemikiran seperti itu dengan Sri tadi. Padahal dia sendiri sempat mikir tadi dan dia juga tidak tahu mengapa bisa kompak seperti itu di waktu yang sangat tepat menurutnya.