Beberapa hari telah berlalu, selama itu pula Atha tidak pernah absen untuk mengunjungi apartemen Queen, mengusik ketenangan dosen muda itu, menunggunya di kantor, bahkan sekarang menyepam pesan di akun i********: milik Queen.
Contohnya yah sekarang, lelaki itu terus saja mengirim pesan padahal pesannya yang kemarin saja belum di balas ataupun di baca. Atha juga tidak pernah absen menanyakan kenapa pesannya tidak di balas dan hanya di lihat padahal dia memiliki satu permintaan kecil. Yaitu nomer telepon sang dosen yang begitu sulit di dapatkan.
Pernah sekali Atha mendapatkan nomer telepon Queen namun, saat dia mulai melancarkan aksinya Queen malah membalas seperti ini.
Jangan menghubungi jika tidak penting.
Nomor ini hanya untuk menanyakan masalah materi yang belum dipahami, diluar itu tidak saya respon.
Dan benar saja, setelah balasan itu, dia mencoba untuk menyepam setelahnya malah nomer miliknya di blok. Yah, Atha sadar mungkin dia menganggu kegiatan Queen yang padat itu. Bahkan di hari minggu saja wanita tersebut masih berkerja untuk melihat perkembangan cafe dan restoran miliknya.
"Woi bro liat hp mulu lo, kenapa gak ada kemajuan yah?" Mendengar ejekan dari Raka, Atha langsung saja memandang tajam pemuda itu. Tatapannya beralih pada dua orang yang baru saja memasuki kantin kampus secara berbarengan.
Queen dan salah satu dosen pria di sini tengah duduk di salah satu bangku di kantin. Wajah wanita itu kontraks sekali dengan wajah si pria yang tersenyum.
"Wah Tha, lo nambah saingan tuh." Celetuk Raka.
Tumben makan di kantin, apa dia gak bawa bekal? Semenjak mengikuti Queen dan mengerecoki kehidupan wanita itu Atha sedikit tahu kebiasaan Queen ketika jam istirahat. Lebih suka di ruangan kerja dan memakan bekalnya, begitu terus dan sekarang saat wanita tersebut keluar sarangnya itu terasa aneh.
"Ho'oh saingan gue kuat gak yah ngadepin muka tembok bu Queen itu." Atha yakin si dosen pria itu tidak akan tahan dengan sikap cuek dari Queen telihat dari tadi hanya beberapa obrolan saja yang di dengar itu pun di mulai dari si pria dulu.
***
Atha dan Raka sama-sama mengatur napasnya, keduanya berdiri tepat di pintu kelas, mengalihkan atensi semua orang yang berada di sana.
"Kalian berdua telat 3 menit 10 detik." Ujar Queen sambil menatap tajam kedua pemuda itu. Atha menggaruk tengkuknya sedangkan Raka tersenyum tidak jelas.
"Kita gak bisa masuk nih, Bu?" tanya Atha berusaha untuk menego.
"Gak, kalian di larang masuk kelas saya dan sekarang keluar!" Usir Queen. Dia tidak menyukai orang yang tidak disiplin waktu, atau dalam kata lain tukang ngaret.
Keduanya mengangguk secara berbarengan. Atha berjalan dengan lesu menjauhi kelas, matanya menatap Queen yang tengah menerangkan materi hari ini dengan begitu serius. Kaca transparan memudahkan dirinya untuk melihat keseluruhan kelas.
"Coba sikapnya lemah lembut pasti makin sempurna." Ujar Atha yang mulai berkomentar.
"Kek gitu aja banyak yang naksir gimana lemah lembut." Raka juga ikut berkomentar. Menurutnya Sikap Queen yang tegas dan galak itu agar semua mahasiswa yang diajar memiliki tingkat disiplin yang tinggi.
Atha mengangguk setuju mendengar hal tersebut. Queen yang bersikap beda dari perempuan pada umumnya memang sedikit menarik perhatian. Tak jarang Atha melihat beberapa manusia sejenisnya memandang penuh minat ke arah Queen dan beberapa ada yang berani mengungkapkan sedangkan sebagian lagi hanya memendam.
"Tapi semuanya di tolak," Atha tertawa mengetahui fakta itu. Entah memikirkan perasaan orang yang di tolak atau tidak tapi, dia senang saat Queen menolak mereka semua.
"Termasuk lo." Kini giliran Raka yang tertawa. Dia ingat saat Atha menceritakan bagaimana awalnya dia di tolak saat ingin menjemput Queen atau memberi bekal pada perempuan itu. Semua di tolak mentah-mentah.
Atha menoyor kepala Raka. "Cabut lah yuk! Gak usah gosipin calon bini gue."
Raka mendelik mendengar hal barusan. "Asli, lo percaya diri banget."
Atha merangkul Raka dan pergi menjauh dari kelas mereka. "Harus dong! Kan semua berawal dari kepercayaan diri toh kita udah di jodohkan."
"Tapi, lo berdua sama-sama nolak."
"Yah awalnya emang gitu, beda lagi kalo sekarang. Gue udah gak nolak."
"Iya lo yang udah gak nolak tapi dia? Emang udah Nerima kayak lo?" Kekeh Raka yang langsung membuat Atha diam. Hem, Raka itu kalau bicara selalu benar dan sesuai keadaan, ucapan jujur ini benar-benar membuat Atha kesal.
***
Langit mendung di sertai dengan angin kencang, Atha tersenyum sangat tampan, suasana hatinya berbanding terbalik dengan cuaca sore ini. Atha menatap kearah perempuan yang tengah duduk di kursi Cafe dekat kaca dengan langkah senang Atha berjalan kearah sang wanita dan duduk dengan tegap saat berada di depannya.
"Assalamu'alaikum, Bu Queen, ada apa nih? Kok Ibu ajak saya ketemuan? Apa Ibu udah menerima perjodohan ini juga?" Atha langsung menyerobot pertanyaan pada Queen yang tengah meminum ice americano.
Queen menyerahkan amplop coklat pada Atha dan berkata, "Itu adalah alamat di mana Vania tinggal sekarang."
Kalimat singkat itu membuat Atha melunturkan senyumnya, lalu tertawa canggung. Vania, hampir dua bulan dia tak mendengar nama itu lagi dan sekarang wanita yang sedang dia dekati berkata hal yang membuatnya tidak tahu harus percaya atau tidak.
Queen menatap Atha. Lelaki itu tak ada niat untuk bertanya lebih lanjut begitupun dirinya yang tak ingin menjelaskan lebih rinci.
"Ibu jangan bercanda deh." Ujar Atha setelah sekian lama terdiam.
"Apa tampang saya bercanda?" Tidak. Tampang Queen selalu saja serius dalam kondisi apapun, Atha dapat melihatnya itu namun, dia saja yang notabennya orang terdekat Vania sejak lama tidak menemukan gadis itu apa lagi Queen yang hanya sebatas dosen dan baru bertemu sekali atau dua kali.
"Vania ada di sana, kalau saya berbohong kita bisa ke sana bareng-bareng, gadis itu sedang melakukan perawatan." Jelas Queen yang semakin membuat Atha tidak percaya. Ayolah Atha ini kenal Vania sangat lama, perawatan apa yang di maksud? Wajah atau apa?
"Leukimia, Vania menderita penyakit mematikan tersebut." Atha tersedak air liurnya sendiri. Leukimia? Serius? Tidak, itu tidak mungkin. Vania selama ini di kenal sebagai gadis sehat dan bugar, makanannya tidak di pilih-pilih seperti, orang sakit pada umumnya.
"Bercanda Ibu gak lucu." Atha bangkit dari duduknya tanpa membuka amplop coklat itu. Dia memandang Queen dengan penuh permusuhan.
Baru saja berbalik Atha mendengar Queen berbicara kembali. "Kamu bisa susul dia atau tetap melanjutkan kegiatan bodoh selama ini dengan syarat sekali kamu masuk, kamu gak akan bisa keluar secara mudah, begitupun sebaliknya."
"... Athaya Putra Syahreza," Queen mengabsen nama itu dengan penuh penekanan, "berhenti melakukan tindakan gila itu sebelum saya muak dengan semua ini. Berhenti memberi saya bekal atau menyepam pesan di akun sosial media saya. Ambil amplop itu dan cari gadis itu lalu pergi dari kehidupan saya selamanya!"
Atha berbalik menatap perempuan yang menatapnya marah. Atha menatap Queen dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia ingin percaya tapi sisi lain dalam dirinya menolaknya.
"Kamu hanya memiliki satu kesempatan."
Atha tersenyum miring, sampai kapanpun dia tidak akan percaya bahwa Vania menderita penyakit itu. Jika benar maka gadis tersebut akan menceritakannya tapi, ini? Vania sama sekali tidak bilang apa-apa.