Atha menatap kedepan dengan pikiran yang berkelana kemana-mana. Dia sedang mengatur strategi untuk pendekatan selanjutnya, orang seperti Queen itu berbeda dari perempuan biasanya, Atha yakin bunga dan coklat tidak akan mempan. Atha pastikan kali ini dia tidak akan mendapatkan penolakan lagi.
Lamunannya buyar saat dia merasakan pukulan dari bola kertas, Atha menatap kearah Raka sebagai pelaku. Belum sempat Raka berucap, Atha kembali pada kegiatannya hingga dosen yang mengajar selesai mengerjakan tugasnya. Atha langsung membereskan peralatan belajarnya dan bergegas keluar.
"Eits! Bentar bro buru-buru amat?" Raka menatap Atha dari atas sampai bawah. Sedari kelas di mulai temannya ini tidak bisa fokus pada pelajaran.
Atha berdecak kesal. "Minggir, gue sibuk."
Raka menganggukkan kepalanya. Tahu kesibukkan yang di maksud Atha akhir-akhir ini, yaitu mencari keberadaan Vania. Dia pun menyingkir dari hadapan Atha dan mengikuti lelaki itu dari samping.
"Lo mau cari Vania kemana lagi?" tanya Raka.
"Gue gak nyari Vania." Balas Atha dengan santai membuat Raka terkejut, lelaki itu menarik tas gendong Atha dan menatap temannya dengan pandangan tanya.
"Ha?! Serius? Kok bisa? Baru dua minggu dan lo udah nyerah gitu aja?"
Atha menghela napas dan balik menatap Raka. "Dua minggu emang waktu sebentar buat gue nyari cewek yang udah lama di samping gue. Tapi, coba lo pikir, gue udah tanya temen-temennya, Amy sahabatnya, datengin rumahnya, bahkan sampe tanya ke saudaranya, sepupunya terus lo tau jawaban mereka apa?"
"Mereka kompak jawab gak tahu seakan Vania adalah gadis tertutup yang gak pernah berbagi masalah sekecil apapun. Sementara gue tau Vania kek apa, gadis itu sama kayak gue, periang dan gak bisa nyimpen masalah sendiri." Atha menepuk bahu Raka cukup kencang. Dia kesal karena temannya ini begitu sok tahu tentang kehidupannya.
"Kalo lo ada di posisi gue apa yang bakal lo lakuin, Ka? Gue udah coba hubungin dia bahkan sampe lacak nomer ponselnya tapi ... apa? Semua gak berguna! Gue tetep gak bisa nemuin dia dan sekarang apa gue salah kalo gue nyerah? salah kalo gue mencoba buka hati untuk wanita lain dan melupakan dia yang ninggalin gue gitu aja?"
Setelah mengatakan semua hal itu Atha dengan cepat melanjutkan jalannya yang tertunda. Meninggalkan Raka yang berdiam diri di tempat sambil menatap Atha yang berjalan semakin jauh dari hadapannya. Bukannya tidak tahu. Raka tahu seberapa keras usaha Atha untuk bisa menemui Vania, tapi dia tidak menyangka bahwa Atha begitu cepat melupakan Vania demi wanita yang di jodohkan dengan pria itu.
Raka mengidikkan bahunya acuh. "Gue harap apa yang lo ucapin bener, jangan sampe dosen itu cuman jadi pelampiasan lo doang dari perginya Vania."
***
Atha mencoba tersenyum untuk menghilangkan rasa kesal yang tidak kunjung hilang. Kakinya melangkah masuk kedalam sebuah gedung perkantoran. Dia berjalan kearah resepsionis yang berada di depan sana.
"Permisi apa ibu Queenza ada?" tanya Atha. Tempat ini adalah tempat Queen bekerjaan, statusnya menjadi CEO perusahaan hanya itu yang Atha tahu dari sang bunda.
"Sebelumnya apa Masnya sudah berbuat janji dengan ibu Queen?" tanya balik resepsionis tersebut.
Atha menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Belum, saya hanya ingin bertemu dan mengajak makan siang."
"Mohon maaf Mas, ibu Queen tidak biasa makan siang di luar. Beliau lebih sering beristirahat di ruang kerjanya."
"Kalau begitu apa bisa beritahu saja bahwa seorang bernama Atha datang mengunjunginya?"
Resepsionis itu tersenyum tidak enak lalu berkata, "maaf Mas saya tidak berani menganggu waktu istirahat ibu Queen."
"Oh ... oke, makasih," Atha berlalu dengan wajah lesunya. Dia gagal lagi siang ini. Jika begini terus maka Atha yakin tidak ada kemajuan, dalam diam Atha salut pada kepatuhan resepsionis itu.
Atha berjalan sambil bermain handphone menuju basement untuk mengecek jadwal kuliah yang terdapat kelas Queen nantinya. Baru saja Atha akan menaiki mobilnya, langkahnya terhenti kala melihat orang yang di carinya sedang berlalu begitu cepat Samapi tidak menyadari kehadirannya.
"Dia mau kemana?" Gumam Atha. Melihat bagaimana Queen berlalu sepertinya ada yang tidak beres. Melihat jam yang menunjukan waktu makan siang Atha ikut menyusul kemana Queen pergi, takut jika wanita itu telah memiliki pria lain secara dia juga setuju saat membahas pembatalan perjodohan itu.
Atha mengikuti Queen dengan selang satu kendaraan agar sang empu tidak menyadarinya. Setelah beberapa menit Atha akhirnya memarkin mobilnya cukup jauh dari mobil Queen. Dari kejauhan sini Atha melihat Queen yang langsung mengambil tablet yang di serahkan kearahnya dengan seorang pria yang berdiri di samping wanita itu dan sesekali berbicara.
"Apa yang mereka ucapkan?" Atha bertanya lagi pada dirinya sendiri. Queen begitu serius membaca tablet tersebut kemudian wanita itu memakai topi yang biasa di gunakan para pekerja bangunan.
Atha menatap sekeliling, ia baru sadar bahwa sekarang dirinya ada di lokasi pembangunan mall yang iklannya bertebaran di mana-mana.
"Apa ini salah satu proyeknya?" Masih dengan keterbingungannya Atha melihat Queen yang sudah membuka helm pengaman tersebut dan menyerah tablet yang di berikan pria tadi. Mereka sedikit berbincang dan setelahnya Queen kembali masuk dengan raut wajah yang tak bisa di baca.
***
Mungkin julukan stalker cocok untuk Atha saat ini. Semenjak pulang kuliah dan tidak memliki kegiatan lain dia terus saja mengikuti kemana Queen pergia. Stelah dari area pembangunan tersebut Queen kembali ke kantor, setelahnya pergi lagi menuju sebuah restoran, kampus, dan terakhir cafe.
Saat malam tiba dan Atha sudah melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim, kini ia kembali berada di basemen perusahaan dan memerhatikan mobil yang di bawa Queen. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan wanita itu baru keluar. Atha menguap sejenak dan menyalakan mesin mobil untuk mengikuti kemana Queen pergi kali ini.
Entah kenapa Atha bernapas lega kala Queen pulang ke apartemennya meski begitu tak urung Atha bertanya-tanya dalam hatinya mengapa wanita itu pulang sangat larut.
"Padet banget jadwalnya, kalo gini gimana bisa pdkt." Keluh Atha.
***
Besok paginya Atha datang kembali ke apartemen Queen, mengetuk beberapa kali pintu apartemen tersebut. Berusaha untuk tidak menimbulkan suara yang membuat penguhuni apartemen lainnya terganggu.
"Akhirnya, Assalamu'alaikum, selamat pagi Bu Queen!" Sapanya penuh semangat berbanding terbalik dengan Queen yang diam dan setia dengan eskpresi wajahnya yang datar.
"Wa'alaikumsalam." Queen berjalan mendahului Atha seperti kemarin setelah menutup pintu apartemennya.
"Ibu mau ke kantor apa ke kampus kali ini?" tanya Atha akan tetapi tak mendapatkan jawaban setelah beberapa detik menunggu.
"Kalo ibu ke kantor saya bisa antar nah kalo Ibu ke kampus kita bisa bareng, lumayan loh Bu irit bensin." Atha langsung menyamakan langkah kakinya saat merasa Queen mempercepat jalannya seperti kemarin. Dia tak ingin naik tangga darurat lagi dan membuat lututnya sakit Samapi sekarang.
"Oh iya, saya denger Ibu tuh gak suka istirahat di luar ruangan yah? Ibu suka bawa bekal atau gimana?" Atha tersenyum senang saat Queen menatap kearahnya saat akan memasuki lift sebentar lalu kembali menatap kedepan. Tidak masalah setidaknya Atha berhasil mengalihkan atensi Queen walau sebentar.
"Kamu bisa diam?" Itu tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan melainkan perintah dari seseorang yang merasa tidak nyaman atas tindakan dari orang lain.
"Kalo saya diam saya mati dong Bu," Atha menatap pantulan wajah Queen dari pintu lift, "saya baru sadar loh kalo Ibu tuh cantik juga ternyata."
"Saya juga baru sadar kamu berisik sekali." Balas Queen dan langsung menatap aneh ke arah Atha yang tertawa setelah dia berkata seperti itu.
"Ya, Bu?" tanya Atha, ia seperti mendengar Queen berbicara sesuatu tadi.
"Kamu berisik!" Sungut Queen dengan pandangan yang tak pernah berubah. Lurus kedepan. Sedangkan Atha yang mendengar itu mengangguk lalu lanjut berbicara hal random apa saja agar tidak merasa sunyi. lagi pula dia 'kan sedang melakukan pendekatan jadi yah wajar saja jika awalannya seperti ini.