OBROLAN DUA SAHABAT

1766 Kata
Delisa yang kini sudah masuk duluan ke dalam mobil tersenyum menatap Angga dari balik kaca “Dadaaa Papa Delisa sekolah dulu ya…” teriak Delisa dari dalam mobil. “Ok sayang pinter-pinter ya sekolahnya” ujar Angga dengan meleparkan senyuman pada Delisa. Bella yang sudah berada disamping Angga mencium tangan suaminya “mas aku pergi dulu ya. Kamu betul tidak kekantor dulukan hari ini?” tanya Bella. “Ya sayang mas istirahat dulu dirumah” ujar Angga mengelus kepala istrinya itu. “Baiklah aku berangkat dulu ya” ujar Bella yang kemudian masuk kedalam mobil. Angga terus melemparkan senyuman pada mereka berdua, tidak lama mobil Bella berjalan menjauhi Angga. *** Angga berjalan mendekat kearah kamarnya kembali. Dengan niat ingin mengistirahatkan sejenak beban yang ada dipikirannya. Tidak lama ponsel Angga berbunyi, Angga melirik ponselnya dan mengambilnya. “Hallo” sahut Angga. “Broo dimana men? Sudah jam berapa ini” ujar Rian seperti suara terburu-buru dari balik ponsel. Angga menepuk jidatnya baru mengingat pasalnya ia tidak memberi kabar pada kawannya bahwa ia tidak masuk hari ini “sorry-sorry gue hari ini nggak masuk” ujar Angga dengan rasa bersalah. Angga bergeming. Ia menghela napas panjang dari balik ponsel “Lah kenapa nggak ngabari? Hari ini elo ada rapat sama Pak Sandi men” jawab Angga dengan nada meninggi. “Betul-betul minta maaf gue, gue lupa ngabarin gue lagi sakit. Bisa tolong elo cancel dulu ya” sahut Angga lagi. “Oklah….” Rian menjawab pasrah “elo sakit apa bro?” tanya Rian lagi. Angga memandang tangannya yang masih digulung dengan perban “bisa kemarin gue mau mencoba kekuatan tangan gue dengan kaca, ternyata tangan gue yang hancur” jawab Angga tertawa. “Wah!! parah lu” jawab Rian dengan syok “terus gimana hasilnya bro?” “Ya hasilnya tangan gue dijaitlah bro, apalagi coba” jawab Angga dengan santai. Rian terkekeh. “Gila sih itu men, lu sih cari mati namanya. Memang ada masalah apa bro sampai elo mau coba adrenalin seperti itu?” Angga kembali melemparkan tanya. “Udah gue bilang gue cuma mau mencoba kekuatan tangan gue” kata Angga. Rian terdiam sejenak ia mengetahui temannya bukan seseorang yang pemarah, jika ia melakukan ini berarti ada sesuatu hal besar yang sedang ia tutupi “Oklah bro. Nanti kalau kerjaan gue selesai gue kesana. Udah dulu ya gue ketemu klayen dulu men” jawab Rian mematikan ponselnya. Angga yang masih memegang ponselnya seperti sedang memikirkan sesuatu. Angga mendongakan kepala, pikirannya tertuju pada Rian. Rian merupakan teman kerjanya selama ia berkarir, Rian pasti tahu betul diri dia seperti apa. Ia merasa sepertinya Rian orang yang tepat saat ini untuk bisa ia ajak kerja sama dalam masalahnya saat ini. Walaupun ini bukan masalah kerjaan yang selama ini Rian bantu. Ini merupakan masalah lain diluar pekerjaan, ia merasa jika Rian mengetahuinya setidaknya Angga bisa mendapatkan sedikit masukan. Angga kini tiba-tiba mengambil kaos baju dari dalam lemari lantas keluar kamar terburu-buru menuju pintu luar. Mbok Wati yang sedang mengepel lantai ruang TV berhenti melihat Angga yang terus berjalan dengan cepat kearah mobilnya. Tidak lama Angga langsung membawa laju mobilnya itu meninggalkan rumahnya begitu saja. Mbok Wati yang langsung berlari kearah pintu luar menatap kepergian tuan rumahnya dengan wajah sedikit bingung dan khawatir dengan kondisi Angga yang belum sehat itu. Angga yang kini sedang mengendari mobil menatap jalan dengan pandangan yang begitu tajam. Mobil yang ia bawa menuju jalan biasa yang setiap hari ia laluin menuju kantor. Betul saja ternyata Angga menuju kekantor untuk bertemu dengan teman kerjanya itu. Angga yang kini sudah sampai dihalaman kantornya yang langsung turun dan berjalan memasukin lorong kantornya membuat semua orang menatapnya dengan bingung, pasalnya Angga tidak menyadari dirinya yang hanya memakai sendal ditambah dengan celana pendeknya dan kaos polosnya. Tetapi bos pemilik perusahaan tersebut tetap melewati setiap karyawannya tanpa peduli mereka memandangnya seperti apa. Rian yang pagi itu sedang sibuk dengan klayennya dikejutkan dengan kedatangan bosnya itu yang langsung masuk kedalam ruangannya. “Eh maaf-maaf pak” jawab Angga yang sudah masuk kedalam ruangan Rian dan kembali keluar lagi. Rian dan klayennya yang memasang muka bengong melihat Angga yang tiba-tiba sudah sampai dikantor dengan pakai seperti itu hanya saling menatap dan kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Angga kini sudah duduk diruangannya menunggu Rian yang masih bersama klayennya di ruangannya. Angga betul tak merasa risi karena keadaannya saat ini. Ia hanya betul bertemu Rian saat ini dan memecahkan masalahnya. Sekitar sejam Angga sudah menunggu. Tidak lama Rian masuk kedalam ruangannya tanpa mengetuk pintu ruangan Angga lagi. “Gila lu, main nyelonong-nyelonong aja” ujar Rian yang langsung membanting pintu, menyadarkan Angga yang sedang bersender di kursinya yang cukup besar itu. Angga segera berdeham. Lantas, berdiri mendekati Rian “maaf-maaf gue nggak tahu” kata Angga. Rian melirik dengan heran melihat Angga dari kepala sampai kaki. Tidak lama Rian tertawa “elo kenapa bro” ujar Rian menuju seluruh penampilan Angga. Angga menatap tubuhnya sedangan seketika baru menyadari lantas terdiam lemas melirik Rian. Rian seketika diam melihat wajah Angga yang begitu datar “ok men sorry. Terus ada apa ini elo tiba-tiba datang tadi bilangnya elo sakit, sekarang elo kekantor dengan pakaian kayak gini” tanya Rian menuju pakaian Angga. Angga kembali menarik kursi yanga ada didekatnya dan langsung duduk dengan wajah yang pasrah bahkan Angga tidak tahu harus memulai pembicaraannya dari mana. Rian memperhatikan wajah temannya sudah menebak ada sesuatu hal besar yang terjadi pada kawan yang selama lima tahun ini ia kenal. Rian ikut menarik kursi mendekatin kursi Angga dengan tatapan yang begitu serius. “Bro?” ujar Rian dengan mata yang penuh tanda tanya. Angga melirik kembali wajah Rian, kemudian kembali menudukkan kepalanya merasa malu dengan apa yang akan ia ceritakan setelah ini. Rian memukul-mukul pundak Angga memberikan semangat pada kawannya walaupun ia tidak tahu apa yang akan Angga ceritakan setelah ini. “Gue bingung mau cerita sama siapa. Gue punya percaya sama elo saat ini, cuma elo yang bisa bantu gue” Angga menatap mata Rian dengan pandangan menerawang jauh. Rian menatap Angga dengan penuh pertanyaan besar, jantungnya mendadak berdebar seperti ada sebuah pukulan yang membuat jantungnya berdebar kencang. Ia hanya bisa diam, tak mampu berkata apa-apa sebab Angga masih mengatur diri untuk bercerita pada dia. “Ingat sebulan yang lalu gue ke Surabaya?” ujar Angga kembali “disana gue ketemu teman-teman kuliah gue, salah satunya Trilya!” ujar Angga menghentikan ucapannya ketika menyebut nama wanita tersebut. “Gue ngobrol sama dia, sampai dia mabok gue juga mabok. Gue saat itu posisinya masih setengah sadar. Gue bawak dia ke Hotel tempat gue menginap pikir gue sampai dia sadar. Tapi ternyata…..” Angga menangis. Air matanya terus saja mengalir tanpa ia sadari, Angga menyesali perbuatannnya saat itu. Rian yang mendengar memegang pundak Angga dan memukul-mukulnya pelan seperti sudah mengerti apa akhir cerita Angga. “Bella tahu men ?” tanya Rian kemudian memandang Angga dengan simpatik. Angga menggeleng “Gue nggak sanggup mau ngasih tahu Bella. Gue yakin Bella akan kecewa sama gue, gue juga nggak mau sampai kehilangan Bella, elo tahukan dialah wanita yang membuat gue semangat sampai saat ini” ujar Angga dengan penuh emosi. “Gue tahu itu. Tapi cepat atau lambat Bella pasti akan tahu. Jadi saran gue dari pada Bella tahu dengan sendirinya mending elo yang ngasih tahu dia” ujar Rian menatap Angga dengan tajam. Angga hanya diam seperti belum siap untuk semua hal itu. Rian menarik napas dengan paksa menatap langit-langit ruangan Angga. “Men dengar gue. Kalau Bella tahu dari orang lain atau bukan dari mulut elo semuanya akan bikin masalah elo buruk. Gue yakin istri elo akan jauh percaya kata-kata elo ketimbang orang lain” kata Rian meyakinkan Angga. Angga hanya menuduk. Rian berdiri dari kursinya dan membalikan badannya kearah jendela kaca luar yang tumbus pandang dengan pemandangan kota Bandung yang cukup indah itu “Cewek itu gimana?” tanya Rian membelakangi Angga. Angga yang mendengar kalimat Rian berusaha mendongakkan kepalanya dan kembali membungkukan lagi badannya “Dia hamil” suara Angga yang menghilang. Tetap terdengar jelas sekali oleh Rian. Rian memejamkan matanya dengan paksa dan menarik napasnya berusaha memahami kondisi kawannya saat ini “Huuufh… apa yang akan elo lakuin sekarang?” tanya Rian tanpa melihat Angga. “Gue nggak tahu” jawab Angga singkat. Rian yang mendengar jawaban Angga sedikit emosi dan membalikan badannya melihat kawannya seperti laki-laki pecundang “terus elo mau berdiam diri saja gitu. Berharap masalah elo hilang gitu aja, rumah tangga elo kembali seperti dulu. Wanita itu melanjutkan hidupnya begitu saja tanpa mencari elo! s**t men!” Rian memberi tinjuan ke lengan Angga dengan keras. Angga tak melawan sama sekali. Rian berjalan menuju meja kerja Angga lantas menghempaskan semua kertas-kertas yang ada dimeja kerja Angga. Angga tetap diam menatap kertas-kertas berhamburan dilantai. “Percuma elo bisa punya perusahaan kayak gini men, bisa kasih makan banyak keluarga disini. Tapi elo nggak bisa bertanggung jawab atas perbuatan elo sendiri! Apa elo nggak mikirkan gimana nasib wanita itu dengan anak yang dia kandung saat ini. Bagaimana saat ini ia menghadapi keluarganya, lingkungannya, pendapat orang tentang anaknya. Gila elo men” Rian yang begitu marah melihat sikap Angga yang hanya berdiam diri hanya untuk mempertahankan kebahagiannya sendiri. Angga semakin menudukan badannya dengan kedua tangannya yang memegang kepalanya. Angga merasa apa yang dikatakan Rian ada benarnya laki-laki macam apa ia membiarkan wanita itu menanggung sendiri nasibnya. Tetapi ia tidak mau kehilangan Bella dan Delisa jika ia menikahkan Trilya. “Ginilah bro! Elo pikirkan baik-baiklah, gue hanya bisa memberi elo saran selebihnya semua keputusan gue serahkan di elo. Gue yakin elo laki-laki yang bertanggung jawab dan gue juga yakin istri elo punya hati yang begitu besar” ujar Rian merendahkan suaranya. “Gue nggak bisa membayangkan aja jika Bella tahu ini semua” jawab Angga menatap Rian dengan wajah frustasi. “Men? Sekarang nggak ada waktunya elo membayangkan seperti itu semua sudah terjadi. Yang ada sekarang gimana elo selesaikan masalah elo dengan wanita itu dan elo jelaskan dengan Bella” ujar Rian menatap Angga dengan yakin. Rian berjalan mendekat Angga berusaha menegakan badan kawannya “men ada anak elo yang sedang Trilya kandung. Bagaimana pun masalahnya anak elo nggak salah apa-apa, dan dia seharusnya tidak menanggung kesalahan bapak ibunya. Pergilah cari Trilya, temui dia. Gue yakin saat ini dia sangat membutuhkan elo” ujar Rian menatap Angga dengan penuh harapan. “Bella gimana?” tanya Angga kembali. Mempertanyakan istri yang sangat ia cintai. Rian menarik napas dengan paksa “Anggap ini menjadi takdirnya” jawab Rian juga tidak tahu apa jawabannya itu benar atau tidak. Yang jelas ia juga mungkin jika diposisi Angga akan merasakan hal yang sama bingung, stres, frustasi. bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN