Delisa berlari-lari di taman rumah seraya memanggil-manggil nama sang papa, ketiganya sedang menikmati sore yang tidak terlalu panas ditambah hembusan angin yang segar dari perpohonan yang rindang.
Angga dan Bella tersenyum melihat antusias dari putrinya yang sibuk bermain.
“Mamaaa!” Delisa berteriak menunjukan berayun kencang di ayunan gantungnya.
“Ya. Jangan kencang-kencang kali nak” sahut Bella melihat putrinya bermain ayunan.
Di saat bersamaan suara ponsel Angga berdering lantas Angga membuka ponselnya melihat ada telepon masuk dari Dimas melirik sebentar kearah Bella.
“Sebentar ya!” ujar Angga yang kemudian menjauh dari Bella.
Bella yang saat itu hanya melihat Angga yang sudah menjauh darinya dengan sedikit tersenyum dan kembali melihat putrinya bermain.
“Hallo bro” sahut suara laki-laki dari dalam telepon.
“Ya hallo bro… Gimana apa cerita?” sahut Angga balik.
“Ya gini-gini aja lah bro masih bikin kopi hahaha... gimana bisnis elo lancar?” Dimas yang kembali bertanya pada Angga.
“Ya samalah gitu-gitu juga. Eh elo kapan-kapan ke Bandunglah main sini?” sahut Angga.
“Ya nantilah bro gue kabarin kalau gue kesana. Eh bro ada cerita ini…” ujar Dimas yang sejenak diam mengatur cara bicaranya. Angga tiba-tiba merasakan kecemasan, hatinya merasa tidak tenang.
“Trilya hamil bro, sumpah gue kasihan kali sama dia, mana dia diusir sama bokap nyokapnya, sekarang dia hamil nggak tau siapa bapaknya. Gimanalah coba nasib Trilya habis ini dengan anaknya…” kata Dimas yang berhenti.
Angga hanya terdiam mendengar kalimat yang keluar dari balik ponselnya hal buruk yang ia pikirkan selama ini betul-belul terdengar nyata.
“Hallo bro….? hallo bro elo dengar gue nggak?” ujar Dimas dari dalam telepon.
“Ya dengar gue…” jawab Angga dengan gelagapan.
“Ya itulah bro, eh elo ngomong-ngomong tau nggak siapa laki-laki berengsek yang hamilin Trilya. Siapa tau kita bisa bantu masalahnya?” tanya Dimas lagi.
“Nggak tau gue…” sahut Angga merasa bersalah dengan ucapannya sendiri.
“Eh tapi malam itu elo sama Trilya kan bro..? elo nggak tau Trilya balik sama siapa?” tanya Dimas balik.
“Nggak tau gue..” sahut Angga dengan kalimat yang sama.
“Oklah bro. Ya sudahlah lanjutlah lagi bro. Teker ya bro” ujar Dimas yang mengakhir teleponnya dengan Angga.
Angga masih berdiri mengambang jauh memikirkan kondisi Trilya, matanya mantap menatap tajam seolah seperti pergi jauh. Angga merasa tubuhnya membeku, hatinya berdebar-debar ia tidak tahu harus melakukan apa saat ini.
Bella yang kini sudah berada disamping Angga membuat suaminya itu kaget “kenapa mas? Dimas nelepon?” tanya Bella.
Angga dengan mukanya yang kaget melihat istrinya sudah ada disampingnya “aaah nggak, ccuma nanyain kabar” sahut Angga dengan terbata-bata.
“Kamu kenapa mas?” tanya Bella menatap wajah suaminya yang tiba-tiba begitu puncat setelah menerima telepon dari temannya.
Angga hanya menggeleng cepat dan membalikan badan berjalan menunjuk pintu rumahnya, ia meninggalkan Bella begitu saja dengan wajah yang heran.
Bella yang menatap kepergian Angga begitu saja dengan begitu bingung melihat kelakuan suaminya akhir-akhir ini. Bella berjalan mendekati putrinya kembali yang masih asik bermain diayunan.
Angga yang kini sudah berdiri balik pintu kamarnya berusaha menyenderkan kepalanya seolah ada jarak tidak kasat mata yang membentang luas dibola mata Angga. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran dan ia merasa tidak tahu harus berbuat apa untuk saat ini.
Angga berjalan menatap wajahnya begitu jelas dari meja kaca hias dikamarnya, dengan sekali gengaman tangan ia memukul wajahnya dibalik kaca ia merasa kesal dan kecewa dengan dirinya yang tidak berani berterus terang bahwa ialah pelaku sebenarnya.
Kucuran darah mengalir dari tangan Angga bahkan suara pukulan kacanya sampai terdengan keluar membuat Bella yang sedang duduk ditaman terkejut dan menatap kearah dalam rumahnya.
Delisa yang bahkan sedang asik bermain juga mendengarnya “ma itu suara apa” tanya Delisa dengan ketakutan.
“Mama juga nggak tau, coba mama liat dulu ya…” ujar Bella yang meninggalkan putrinya yang masih duduk di ayunan.
Bella yang berjalan cepat menuju kamarnya, ia mengira sumber suara itu memang dari dalam kamarnya, ternyata betul saja Angga yang sudah duduk tergeletak menundukan kepalanya dengan tangan yang berkucuran darah.
Bella yang kali itu melihat langsung berlari mendekati Angga sambil menatap mejanya yang sudah berantakan “mas kamu kenapa?” ujar Bella dengan suara yang begitu khawatir.
Angga hanya terduduk diam dan lemas menatap Bella yang langsung memegang tangan Angga “tangan kamu mas? Sebentar mas..” ujar Bella yang langsung berlari mengambil obat-obatan.
Tidak lama kemudian Bella mengambil tangan Angga, dengan cepat Bella membersihkan tangan Angga dengan alkohol dan menggulung tangan Angga dengan air.
“Mas kita kerumah sakit saja. Ini darahnya nggak mau berhenti” ujar Bella berusaha membangunkan Angga dan memopong Angga ke luar rumah.
Mbok Wati yang sedang memegang Delisa yang menangis histeris melihat sang papa. Bella terus berjalan dan melewati mereka berdua tanpa menjelaskan apa-apa pada putrinya.
Angga yang kini berada didalam mobil. Bella kembali kearah putrinya memegang pipi putrinya yang basah “sayang mama bawa papa berobat, Delisa doain papa cepat sembuh ya” ujar Bella menenangkan putrinya dan kembali kedalam mobil meninggalkan mereka berdua dengan begitu cepat.
Angga yang kini sedang diobati oleh suster-suster Rumah Sakit ditemani Bella yang sejak tadi berdiri disamping Angga.
“buk sudah selesai jaitannya ya, kami tinggal ya kalau perlu apa-apa panggil saja kami. Permisi buk…” ujar seorang suster tersenyum rama pada Bella.
Bella tersenyum dan menganggukan kepala menatap dua suster yang berjalan keluar ruangan itu. Bella menatap Angga yang masih terbaring lemas “mas mau minum?” tanya Bella dengan lembut pada Angga.
Angga menganggukan kepala dengan cepat Bella berbalik badan mencoba mencari segelas air untuk suaminya.
Angga menatap istrinya yang sangat ia cintai itu ia membayangkan bagaimana syoknya Bella jika tahu suaminya yang selama ini ia cintai, ia bangga-banggakan, ternyata sama seperti laki-laki berengsek bahkan tidak berani bertanggung jawab atas kesalahan yang telah ia perbuat.
“Mas ini minumnya…” ujar Bella yang sudah menyondorkan segelas air pada Angga “mas?” ujar Bella melihat Angga yang masih menatapnya begitu dalam.
“Aaaa ya..” jawab Angga gelagapan.
“Minum” Bella yang menyondorkan gelas minuman mendekat bibir Angga. Angga dengan segera meneguk air.
“Udah?” tanya Bella.
Angga menganggukan kepala “makasih..” ujar Angga melihat Bella.
Bella tersenyum manis mendengar ucapan Angga dan mencium kening suaminya dengan penuh kehangatan seolah Angga merasakan kehangatan dan ketenangan dari istrinya yang sangat ia cintai.
“Mas aku bayar administrasi dulu ya. Setelah itu kita pulang kasih Delisa pasti sudah nunggu kita” ujar Bella yang kemudian meninggalkan Angga yang masih terbaring.
Angga bergeming seraya menatap Bella. Wanita yang selalu mengisi hidupnya dengan penuh cinta, kesabaran, perjuangan, dan pengorbanan yang begitu tulus dan ikhlas untuk dirinya. Bagaimana jika laki-laki seperti dirinya telah menghancurkan istananya sendiri.
Angga merasa kesal pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia menceritakan ini semua pada Bella, Angga merasa tidak sanggup jika harus kehilangan wanita yang begitu sabar mencintainya dan putrinya.
Tapi bagaimana dengan nasib Trilya saat ini yang sedang mengandung anaknya, wanita itu harus menanggung sendirian kepahitan hidupnya jika ia bertahan mempertahankan egonya sendiri. Bagimana Trilya harus menghadapi orangtuanya, lingkungannya dan orang-orang disekitarnya.
“Aaaaaargh” teriak Angga membuat Bella yang baru saja sampai di depan pintu kamarnya langsung berlari melihat suaminya berteriak seperti orang marah.
“Mas? Kamu kenapa? Sakit yaaa….” Bella memeluk Angga dengan mata berkaca-kaca. Angga kembali terdiam melihat istrinya begitu panik melihat kondisi dirinya.
“Kita pulang sayang ya, bisa jalan sendiri” ujar Bella menatap Angga dengan penuh khawatir melihat kondisi suaminya.
“Bisa” ujar Angga singkat.
Tanpa bicara lagi Angga mulai turun dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu. Bella dengan sigap menjaga-jaga suaminya yang sudah berjalan terlebih dahulu satu langkah didepannya.
Tidak lama Angga masuk lebih dulu ke dalam mobil yang sudah terparkir didepan Rumah Sakit. Angga duduk didepan seraya memejamkan mata menenangkan diri kembali. Disusul dengan Bella yang kembali masuk ke dalam mobil.
***
Angga tersenyum hangat saat melihat malaikat kecilnya sudah berdiri menunggu kedatangannya dengan wajah cemberut. Delisa yang melihat sang Papa turun dari mobil sontak saja menangis histeris kembali.
“Huwaaaaa papa….” Delisa berjalan mengejar Angga. Ia memeluk Angga dan menenggelamkan wajahnya di d**a Angga.
“Delisa Papa nggak apa-apa, ini Papa udah sehat. Sini Liat Papa” kata Angga, seraya mengusap kepala putriya. Angga sudah merasa harus bisa mengatur emosinya agar putrinya merasa tenang.
“Papa kenapa berdarah-darah tadi. Delisa takut….” Delisa mendongakkan wajahnya, kedua mata dan ujung hidungnya memerah.
“Tadi Papa kesenggol meja kaca jadi tangan Papa berdarah. Ini tangan Papa sudah diobatin sekarang udah sehat lagi” sahut Angga.
“Ya nak. Papa udah sehat ini kok, yuk bawa Papa kedalam” ujar Bella mengajak Delisa dan Angga segera masuk karena harus sudah semakin malam.
Delisa yang kini ikut berbaring samping Angga, Bella sibuk memberekan piring-piring kotor sisa Angga makan dan kembali menemai mereka berdua yang sedang asik bercerita.
Bella tersenyum melirik Delisa “sayang udah jam berapa?” ujar Bella membulatkan matanya.
“Hmmmm…” Delisa yang langsung memanyunkan bibirnya dengan gemes “Delisa bobok sama Papa boleh” Delisa melirik Angga kemudian melirik Bella.
Bella dengan cepat menggelengkan kepalanya “Delisakan udah besar. Lagi pula kalau Delisa bobok disini nanti Papa nggak bisa istirahat. Delisa bobok kamar sendiri ya” kata Bella dengan lembut membujuk putrinya.
“Ya besok main sama Papa lagi ya” ujar Angga menambahkannya.
Delisa memanyunkan bibirnya tetapi tetap bangun dari ranjang sang Papa “Ok” jawab Delisa yang langsung mencium sang Papa dan menggandeng tangan Mamanya.
Angga yang menatap kepergian Bella dan Delisa penuh dengan rasa khawatir yang menghantuinya kembali. Angga mulai mengatur dirinya kembali ia merasa bahwa ia harus menceritakan semuanya pada Bella.
Angga mengerti kegundahan hatinya saat ini, namun ia menyakinkan bahwa dengan berbicara dengan Bella merupakan cara terbaik dalam permasalahannya kali ini, ia berharap Bella tidak mengetahuinya dari orang lain.
Tiba-tiba saja, pintu kamarnya terbuka Bella yang sudah kembali kekamar itu tersenyum melihat Angga yang masih menatapnya dengan pandangan kosong “sayang aku bersih-bersih dulu ya” Bella yang langsung masuk ke kamar mandi.
Tidak lama Bella keluar dari kamar mandi dan segera berbaring disamping Angga “mas kenapa belum tidur?” tanya Bella menatap Angga yang masih belum tertidur.
“Nggak apa-apa sayang. Mas belum ngantuk” jawab Angga menatap Bella tersenyum tipis.
Bella mengangguk “mas tadi sebenarnya kamu kenapa kok bisa sampai mukul kaca?” tanya Bella pada suaminya, Bella tahu bahwa suaminya berkata bohong pada putrinya tadi.
Angga tiba-tiba mengusap wajahnya dengan kasar, mendengar pertanyaan Bella seperti bingung harus menjelaskan apa pada wanita disampingnya pasalnya Bella tahu cara Angga berbohong seperti apa.
“Mas kamu kenapa? Apa yang mau kamu ceritakan ceritalah mas barang kali aku bisa bantu, setidaknya aku bisa tahu masalah kamu apa mas. Kalau kamu kayak gini terus aku juga bingung” ujar Bella memeluk suaminya dengan wajah sedih.
Angga tersenyum. Perlahan, ia mengikis jarak antara dirinya dan Bella. Wajah mereka semakin dekat, sehingga bibir keduanya saling menempel. Tiba-tiba Angga menjauh dari wajah istrinya itu dan kembali tersender diranjang kasurnya.
“Mas?” Bella menatap wajah Angga dengan bertanya-tanya.
“Sayang kamu tetap di samping maskan! Nggak bakalan ninggalin maskan?” tanya Angga seperti ketakutan menatap Bella.
Bella yang terkejut mendengar kalimat Angga langsung menggeserkan badan menatap Angga “mas kamu ngomong apa? Aku pasti selalu sama kamu mas. Aku dan Delisa selalu ada buat kamu. Jangan kayak gini dong mas aku sedih” ujar Bella yang langsung memeluk Angga dalam pelukannya.
Membuat keduanya larut dalam kesedihan malam itu “mas minta maaf ya sayang, belum bisa jadi imam yang baik buat kamu” ujar Angga kembali pada Bella.
Bella menggeleng dalam pelukan Angga “nggak mas, kamu selalu berusaha menjadi iman yang baik buat aku dan Delisa” jawab Bella.
“Terima kasih ya sayang selama ini selalu menemai mas, memberi semangat, menjaga rumah tangga kita, menjaga anak kita, selalu sabar mencintai mas dalam keadaan apapun. Mas berharap kamu akan selalu seperti itu apapun masalah yang akan kita hadapi nantinya” kata Angga menatap jauh seperti sudah tahu masalah apa yang akan terjadi dikehidupan rumah tangganya selanjutnya.
Bella hanya menganggukkan kepalanya tanpa tahu arah apa yang sedang Angga jelaskan dalam kalimatnya “mas istirahat yuk, kamu belum terlalu sehat. Jangan memikirkan hal-hal yang buruk. Kita berdoa yang baik-baik saja ya mas” ujar Bella.
‘Tapi kita harus siap dengan hal buruk yang sudah mas buat sendiri’ batin Angga yang mulai meluruskan badannya dan kembali memeluk Bella dan memejamkan matanya.
***
“Selamat pagi, tuan putri. Sudah cantik sekali anak Mama ini” sapa Bella dengan semangat melihat putrinya sudah duduk rapih dimeja makan dengan pakaian sekolahnya.
Delisa tersenyum manis menatap Bella yang masih sibuk menyiapkan sarapan pagi dimeja “Mah Papa udah sehat?” tanya Delisa.
“Sudah dong, liat ini udah sehat Papa” sahut Angga dengan semangat sambil berjalan mendekat putrinya.
Delisa yang langsung tersenyum bahagia menatap sang Papa yang sudah duduk disampingnya “liat tangan Papa?” ujar Delisa menarik tangan Angga dengan pelan.
Delisa sedikit memanyunkan bibirnya melihat perbanan tangan Angga “Papa lain kali hati-hati ya” ujar Delisa mengkhawatirkan Angga.
“Ya sayang” Angga mencium kening Delisa.
Bella yang melihat momen indah di pagi hari membuat hatinya begitu merasakan kebahagian yang luar biasa “ayok, ayo sarapan kita. Mama sudah buat nasi goreng kesukaan Delisa sama Papa. Siapa yang mau…?” ujar Bella dengan semangat.
“Delisa mah!” jawab Delisa cepat.
“Papa juga mau lah” sambut Angga dengan semangat menatap Delisa.
“Ya ya sini piringnya satu-satu” jawab Bella yang menyondorkan sendok yang sudah berisi nasi goreng favorit keduanya.
“Papa mau minta suapin Mamalah” Angga yang mulai menjulurkan lidah jailnya kearah Delisa.
“Aaargh Papa…. Delisa juga mau disuapin Mama” manyun Delisa dengan jidat yang berkerut.
“Nggak Mama suapin Papa” jawab Angga lagi.
Bella tertawa kecil melihat tingkah mereka yang seperti anak-anak berebut permen “Sudah-sudah sini biar Mama suapin dua duanya” ujar Bella yang langsung mengambil sesendok nasi yang sudah siap akan menyuapi mereka satu persatu.
Delisa dan Angga yang sekarang menikmati nasi goreng buatan Bella dengan bahagia.
Usai menyelesaikan sarapan keduanya Bella menatap suaminya dan putrinya yang sudah kenyang “terus siapa yang suapin Mama?” ujar Bella menatap keduanya.
Angga dan Delisa tersenyum berbarengan sambil menatap “Mama Delisa yang suapin sini…” Delisa langsung mengambil sendok dari tangan Bella dan memasuki satu sendok nasi ke mulut sang Mama.
“Papa juga maulah suapin Mama, sini…” balas Angga yang mengambil sendok dari tangan Delisa dan menyusupkan satu sendokan kearah mulut Bella.
“Papa ini kenapa sih ikut-ikut Delisa” protes Delisa.
“Papa kan sayang sama Mama, emang cuma Delisa saja yang sayang Mama!” balas Angga.
“Ok ok!” ujar Delisa kembali mengambil sesendok untuk Bella “Papa? Papa nggak akan nikah lagikan” tanya Delisa dengan begitu polos yang masih mengambil nasi goreng yang ada dipiring.
Tiba-tiba Angga yang mendengar ucapan Delisa terdiam dan langsung menatap Bella. Sama halnya dengan Bella yang terkejut mendengar pertanyaan putrinya, keduanya salah bertatap-tatapan.
Bella menghentikan kunyahan yang ada dimulutnya dan menelan paksa makana yang masih ada “sayang kenapa ngomong gitu sama Papa?” tanya Bella spontan.
Delisa melihat sang Mama dengan wajah yang datar tetapi mempunyai banyak arti didalam bola matanya “Delisa takut saja kayak Papanya Uci Mah” jawab Delisa menatap mata Bella “soalnya Papanya Uci kayak Papa sudah pergi-pergi keluar kota” jawab Delisa lagi.
Angga yang mendengar ucapan putrinya membuat napas dengan paksa. Angga menarik tubuh mungil putrinya menghadapnya, Angga dapat melihat sorotan mata yang begitu takut kehilangan sang Papanya “Ya nak, Papa janji! Papa tidak akan menikah selain dengan Mama Delisa. Papa sayang banget sama Mama sama Delisa. Papa itu keluar kota kerja cari uang buat Mama, buat Delisa bukan buat yang Delisa bilang tadi” penjelasan Angga meyakinkan putrinya.
Delisa menatap mata Angga dengan mantap “Janji Pah?” ujar Delisa mengeluarkan jari kelingkingnya yang begitu kecil.
Angga dan Bella tertawa melihat jari Delisa, tetapi Angga tetap memberikan kelingkingnya yang berukuran tiga kali lebih besar dari kelingkingnya “Janji sayang” jawab Angga.
“Ok sudah janji-janjinya waktunya anak Mama berangkat sekolah” ujar Bella yang memotong momen perjanjian sang putri dan sang Papa.
bersambung...