TRILYA HAMIL?

2620 Kata
Angga menatap Bella yang menangis dibawah kakinya membuat dirinya semakin bersalah. Pasalnya Bella dan Delisa tidak salah apa-apa tetapi jadi korban dari perbuatannya. Kini Angga memeluk Bella yang sedang menangis “Maafkan mas ya sayang. Mas lagi pusing dengan kerjaan…. mas harap kamu bisa paham ya” ujar Angga sembari berbohong pada istrinya. Keduanya kini sudah kembali naik ke atas kasur. Bella yang kini mulai membaringkan tubuhnya di samping Angga. Angga mulai mengatur diri agar tidak menolak lagi sadaran Bella seperti sebulan sebelumnya. Bella yang sudah mulai memeramkan matanya terbangun kembali ketika mendengar gumangan Angga. “Sayang?” ujar Angga sedikit ragu memanggil istrinya. “Ya mas?” sahut Bella. Angga mencoba memberanikan diri “kamu bisa nggak maafkan yang namanya penghianatan? Tanya Angga dengan suara sedikit bergetar. Bella yang sontak mendengar pertanyaan Angga langsung mendongak menatap suaminya dengan tatapan terkejut “Maksud kamu apa mas?” tanya Bella balik. Angga yang sontak menatap muka istrinya dengan rasa takut akan terjadi perperangan kembali malam ini “nggak ada temanku dia hianati istrinya terus udah punya anak. Itu makanya aku tanya kamu sayang” penjelasan Angga mengelak. Bella kembali bersender di bahu Angga “Ooh…” Singkat Bella mengatur napasnya seperti berpikir “Kalau aku ya mas, untuk memaafkan mungkin bisaa… hmmmm tapi untuk membangun rumah tangganya itu ya nggak mungkin” jawabnya. Angga yang mendengar ucapan Bella semakin bulat tidak ingin menceritakan kejadiannya saat di Surabaya waktu itu. Angga akan memulai kehidupannya seperti normal biasanya karena setelah sebulan yang lalu juga Trilya tidak pernah mencarinya. Dan Angga berharap Trilya tidak akan mengganggu kehidupannya setelah ini. Angga juga tidak memikirkan nasib Trilya setelah kejadian malam itu. *** Trilya yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap tespek berwarna biru bergaris dua, ia menyenderkan tubuhnya ke dinding kamarnya dengan tubuh yang lemas dan pucat. Trilya merasa pagi ini tubuhnya tidak sehat. Kepalanya begitu pening dan setiap apa yang dilihatnya berputar-putar, Trilya yang menatap tespek bergaris dua semakin membuatnya lemas dan menangis menyesali apa yang telah terjadi. Ia memutuskan untuk tidak mencari dan menghubungi Angga, karena Trilya tau itu hanya akan membuat semuanya semakin buruk. Cukuplah perkataan Angga terakhir kalinya membuatnya sakit ia tidak mau lagi menyakitkan dirinya dengan mencari-cari laki-laki tersebut dan merusak rumah tangga Angga. Trilya menatap jam dinding yang sudah pukul enam lewat dua puluh menit. Trilya lantas bersiap-siap berangkat bekerja menghapus semua kesedihannya dan terus meneruskan hidupnya kembali. Bu Nia, tetangga Trilya melewati rumah Trilya seraya menenteng banyak barang belanjaan. Ia baru saja belanja di toko sebelah. Melihat Trilya keluar kosannya dengan wajah pucat, membuat hatinya merasa iba. “Rya… kamu sakit ya” bu Nia bertanya seraya berdiri di depan jalan. “Nggak bu” jawab Trilya dengan datar sambil sibuk dengan motornya. Bu Nia hanya menatap Triya dengan iba. Trilya menganggukan kepalanya seraya berpamitan untuk berangkat kerja. Bu Nia hanya menatap kepergian gadis itu dengan perasaan sepertinya gadis itu sedang sakit pasalnya wajahnya betul-betul pucat. Setibanya di kantor Trilya berjalan menyusuri lorong kantornya, Trilya merasakan kepalanya yang betul-betul sangat pusing. Membuat dirinya yang baru sampai di meja kerjanya hanya tergeletak berdiam diri. “Ryaaa” Teriak dari seorang teman kantor Trilya. Trilya sontak berjingkat dan langsung mengusap dadanya karena kaget mendengar teriakan dari Nana. Ia mendengkus sebal. “Na bisa nggak usah teriak-teriak” gerutu Trilya yang kembali lemas lagi. Nana menatap Trilya dengan wajahnya yang begitu pucat kayak orang mayat hidup “elo kenapa yaa?” tanya Nana. “Gue nggak papa, plis jangan ganggu dulu gue ! ok!ok …. pergi-pergi” pinta Trilya yang mendorong paksa kawannya untuk menjauh. Nana yang sudah memiliki jarak dengan kawannya itu menatap Trilya dengan bingung pasalnya Trilya hampir sebulan ini matanya begitu sembab, sekarang lebih parah pucatnya. Trilya yang merasakan tubuhnya kini betul-betul begitu lemas membuat ia tidak bisa bergerak dengan baik. Trilya berjalan ke arah kamar mandi belum sampai ke kamar mandi ia merasa seisi ruangan sangat gelap. Trilya jatuh pingsan. “Ryaaaaaaa” Nana yang sejak tadi memperhatikan temannya berteriak melihat Trilya jatuh tergeletak di lantai. Akhirnya Trilya di larikan kerumah sakit, sepanjang jalan Nana berusaha menghubungin keluarga Trilya. Sesampai di rumah sakit Trilya langsung di tangani oleh dokter-dokter yang ada. Trilya yang belum sadar diri itu membuat kedua orang tuanya cemas sedangkan ibu Sukma dan pak Ratno sudah sampai ke rumah sakit sejak tadi di temani Nana yang setia menunggu perkembangan temannya. Setelah lebih dari tiga puluh menit, dokter yang menangani Trilya keluar mendatangi pak Ratno yang terlihat sangat gelisa “Bapak ibu yang tenang ya, saya tau kalian semua khawatir” Dokter tersenyum. “Sebenarnya anak bapak tidak sakit” ujar Dokter. Pak Ratno dan ibu Sukma saling bertatapan dengan muka yang tidak mengerti maksud dari penjelasan dokter “nggak sakit gimana dok? Orang anak saya sampai nggak sadarkan diri gitu” ujar pak Ratno dengan kesal. “Ya pak sabar pak, sakit yang anak bapak derita itu adalah hal biasa yang dirasakan setiap calon ibu yang sedang hamil di trimester pertama” jelas Dokter. Nana yang mendengar penjelasan dari Dokter bahwa temannya sedang hamil hanya melongo, bagaimana bisa temannya hamil sedangkan Trilya belum menikah bahkan saat ini ia sedang tidak dekat dengan siapa-siapa. Pak Ratno melongo mencoba mencerna ucapan Dokter tersebut. Sedangkan ibu Sukma tidak bisa berkata-kata, sang Dokter tersenyum bahagia mengabarkan kabar bahagia tetapi untuk keluarga mereka itu bukan hal yang membahagiakan. Putrinya hamil sedangkan mereka tidak tau siapa bapak dari anak yang saat ini Trilya kandung. “Baiklah saya pamit dulu” ia segera melangkah pergi. Ibu Sukma yang sekarang terduduk lemas di lantai rumah sakit, ia merasa telah di tampar akan berita kehamilan Trilya. Nana menghampiri ibu Sukma yang sudah berlinangan air mata “tega…. tega sekali Ryaaa memalukan keluarga na” ujar ibu Sukma dengan air mata kemarahannya. Pak Ratno seperti tidak bisa menahan amarahnya lagi ia berjalan cepat memasuki ruang yang terlihat putrinya sedang terbaring lemas “PRAAK” tamparan melayang di pipi Trilya yang masih berbaring lemas. Trilya menangis sera memegang pipinya setelah menerima tamparan dari sang ayah. “Dasar anak tak tau diri” marah pak Ratno dengan mukanya yang begitu merah ditambah dengan amarahnya yang tidak bisa tertahankan lagi. “Nggak bisa jaga nama keluarga, cuma bisa bikin malu keluarga aja kamu selama ini yaa” pak Ratno yang menunjuk-nunjuk muka Trilya. Trilya hanya menangis tersedu-sedu sambil menundukkan kepalanya, Nana yang mendengar itu langsung masuk dan memilihan amarah sang ayah terhadap putrinya. “Siapa bapaknya bilang! Bilang ryaaaa” teriak pak Ratno yang sekarang menarik rambut Trilya. “Ssaakit pah…. sakit” sahut Trilya memohon ampun dengan pak Ratno. Nana yang tidak tega melihat temannya berlari kearah bapak dan anak tersebut “pak sudah pak, Ryaa lagi sakit” ujar Nana. Pak Ratno melepas tangannya dari rambut Trilya, lantas pak Ratno melangkah menjauhi kasur Trilya “Jangan berani-berani kamu menginjakan kaki kamu lagi kerumah! Ingat itu mulai hari ini saya tidak mempunyai anak yang bernama Trilya!” tegas pak Ratno yang langsung meninggalkan ruang kamar Trilya. Trilya yang mendengar ucapan sang ayah semakin menangis kencang, Nana hanya bisa memeluk erat kawannya itu dalam pelukannya. Perasaan Trilya saat ini betul-betul sangat hancur. Nana yang memahamin kondisi temannya tidak menanyakan dulu hal-hal tersebut ia berusaha menenangkan Trilya dan memberikan semangat. Nana yang menemani Trilya sudah sekian jam, memandang wajah temannya yang sudah terlelap dalam tidurnya karena dikasih obat penenang oleh suster. Ia penasaran siapa laki-laki berengsek yang sudah membuat temannya ini menerima nasib seburuk ini, Nana melayang jauh mencurigai Rio mantan kekasih Trilya yang meninggalkan Trilya saat hari pernikahan mereka. Nana kembali menggeleng merasa tidak yakin, pasalnya sejak kegagalan pernikahan temannya itu Trilya masih terlihat baik-baik saja bahkan pernikahan gagal sekitar tiga bulan yang lalu sedangkan Trilya hamil berjalan empat minggu. Lalu laki-laki mana selama sebulan terakhir ini yang dekat dengan Trilya, pasalnya Trilya selalu cerita apapun kepada Nana jika ia dekat dengan seseorang. Nana yang sangat penasaran mengambil ponselnya didalam tas hitamnya lantas berjalan keluar pintu. “Hallo…?” Nana yang kini sudah berdiri diluar ruangan Trilya menelepon seseorang dengan suara yang sedikit pelan. “Ya hallo na, ada apa naa..?” sahut suara laki-laki dari dalam ponsel Nana. “Hmmmmm mas? Lagi dimana?” tanya Nana dengan Nada sedikit bingung ingin melangsungkan pertanyaan ataua tidak, Nana yang saat ini sedang menelepon Dimas mantan kekasihnya Trilya sekaligus teman mereka berdua. Nana berharap Dimas bisa membantu sedikit permasalahan temannya itu. “Biasa di cafe…” sahut Dimas dari dalam ponsel. “Gue bisa ketemu loe, ada yang mau gue ceritakan penting…” ujar Nana. “Bisa, loe dimanaa?” sahut Dimas. “Gue di Rumah Sakit Bhakti…?” jawab Nana yang belum selesai di potong Dimas. “Lah siapa yang sakit?” tanya Dimas penasaran “Nanti gue cerita yang penting loe bisa kesini sekarang gue tunggu dekat kantin rumah sakitlah yaa mas. Gimana?” ujar Nana. “Ok sip-sip. Otw gue” sahut Dimas sekaligus mengakhiri perbincangan mereka di telepon. Nana kembali masuk ke dalam ruangan Trilya yang masih tertidur. Nana kembali duduk setengah bersandar, merasa beban temannya juga ia tanggung saat ini seperti terkurung dalam satu kondisi dimana tidak ada pilihan lain selain harus memberi kekuatan pada Trilya. Tak berselang lama, ponsel Nana berbunyi menandakan ada pesan masuk “Gue udah di kantin” pesan Dimas. Lantas Nana beranjak dari duduknya sejenak melihat Trilya yang terbaring lemas, Nana merapihkan sejenak selimut dan meninggalkan Trilya menuju kearah kantin Rumah Sakit. Dimas yang sudah duduk di meja kantin rumah sakit yang tidak terlalu ramai itu ditemani dengan minuman es teh di hadapannya sambil melihat sekelilingnnya menunggu kehadiran temannya itu. Nana yang dari kejauhan sudah melambai Dimas, Dimas kembali melambai kearah temannya itu, tidak lama Nana sudah berdiri tepat dihadapannya dengan muka yang tidak bisa dikatakan pertemuan bahagian karena akan ada kabar yang tidak enak yang akan Dimas dengar setelah ini. Nana yang kini sudah duduk tepat di hadapan Dimas dengan sedikit mengatur nafasnya menatap Dimas dengan pandangan kosong. “Ini udah gue pesankan minum” jawab Dimas dengan menyondorkan segelas air. Nana yang sejenak menatap gelas dan kembali menatap Dimas, Dimas membulatkan matanya kearah Nana yang hanya diam seribu bahasa membuat Dimas bingung. “Hey….” Dimas membuyarkan lamunan Nana “Ada apa?” tanya Dimas kembali Nana mengatur nafasnya “Trilya hamil” ujar Nana dengan nada lemas. Dimas yang syok mendengar kalimat yang begitu singkat, tetapi sangat jelas menurut Dimas untuk pertanyaan selanjutnya arahnya akan kemana, membuat Dimas menatap Nana dalam diam keduanya kini diam bersama seolah apa yang akan mereka lalukan untuk membantu temannya itu. Nana menggelengkan kepalanya dan kembali membuka suaranya “bokapnya ngusil dia pas tau anaknya hamil, dan yang bikin gue sedih kondisi….” ujar Nana tak terselesaikan karena isak tangisnya kini tak bisa ia tahan lagi. Dimas menganggukkan kepala dan memukul pundak Nana memahami perasaannya melihat sahabatnya hari ini, Dimas menarik nafasnya dengan paksa dan menatap sekelilingnya mencari solusi apa yang terbaik buat Trilya. Dimas kembali menatap Nana “Loe udah tanya Trilya siapa bapaknya” tanya Dimas dengan mantap. Nana menggeleng lemas “Gue nggak tega untuk saat ini mempertanyakan siapa ayah dari anak yang dia kandung. Dan sepertinya Trilya untuk saat ini tak mau cerita apa-apa soalnya pas bokapnya nanya dia hanya diam” kata Nana. “Ya sih, biarkan Trilya tenang dululah na… terus kata dokter apa?” Dimas kembali bertanya. “mmmmm…. Dokter bilang Trilya sudah mengandung selama empat minggu” sahut Nana singkat. “Masalahnya gue nggak tau Trilya dekat sama siapa sebulan terakhir ini” jawab Dimas sedikit emosi tidak bisa memecahkan masalahnya. Nana kembali lemas mendengar jawaban Dimas juga tidak mengetahui laki-laki berengsek itu siapa, Keduanya kini terdiam kembali menerka-nerka sebulan terakhir Trilya bertemu dengan siapa saja. Dimas yang masih memegangi jidatnya membulatkan matanya kearah Nana, membuat Nana menatapnya menunggu jawaban dari Dimas “Gue terakhir bareng sama Trilya pas reunian, Trilya ngobrol sama Angga malam itu sambil minum. Ah tapi nggak mungkin Angga dia udah punya keluarga” kata Dimas yang kembali lemas dengan kalimatnya sendiri seperti tidak menemukan jawaban. “Angga?” tanya Nana kembali pada Dimas. “Ya Angga Wijaya loe! Kawan tongkrongan gue… masak lupa sih” tanya Dimas kesal. “Oooooo….” sahut Nana yang baru mengingat teman kampusnya “Tapi nggak mungkin dia mas, ngpain juga kawan kita kayak gitu” ujar Nana tidak yakin perlakunya Angga. “Coba nanti gue hubungi Angga. Soalnya malam itu Trilya mabok kali berdua bareng Angga. Sejak itu Trilya nggak pernah mau ngumpul lagi” kata Dimas. “Loe nuduh Angga?” tanya Nana dengan mata yang membulat. “Gila aja loe, gue nuduh Angga! Gue mau nanya Trilya malam itu setelah acara pergi sama siapa lagi. Barang kali dia tau kan na, ya barang kali kita menemukan jawabannya apalgi kejadian reunian itu sebulan yang lalu” ujar Dimas Nana menganggukan kepalanya menyetujui kalimat Dimas yang meyakinkan itu seperti masuk di akalnya. Pasalnya Trilya berubah sekitar sebulanan ini, mungkin saja ada sedikit cahaya harapan untuk bisa membantu sahabatnya itu. Tidak selang beberapa lama keduanya sudah berdiri di depan pintu kamar Trilya. Dimas melirik sejenak dari sela pintu melihat Trilya yang terbaring lemas di atas ranjang Rumah Sakit mengingat nasib yang sedang Trilya tanggung sangat besar saat ini. Dimas mengedipkan matanya seraya memberi isyarat untuk Nana bahwa ia harus pergi sekarang, Nana hanya membalas dengan menganggukan kepala lantas Dimas segera pergi menyusuri lorong Rumah Sakit. Nana yang kini masuk kembali kedalam kamar Trilya, melihat temannya itu sudah sadarkan diri “loe udah bangun?” ujar Nana mempercepat langkahnya mendekat Trilya. Trilya hanya menganggukan kepalanya dengan lemas. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan serba putih. Aroma antiseptik dan obat-obatan tercium sangat menyengat oleh indranya. “Kenapa?” tanya Nana yang sudah duduk disamping Trilya. “Kenapa gue nggak suka kali bau ini na…” ujar Trilya seperti menahan mualnya. Nana tersenyum mendengar ujaran Trilya “Bawaan mungkin itu” ujar Nana mengingatkan kembali Trilya atas kehamilannya. Tiba-tiba Trilya sontak saja matanya mulai berkaca-kaca dengan cepat sambil memukul-mukul perutnya dengan histeris, Nana berusaha menahan tangan Trilya dan menenangkan sahabatnya itu. “Ryaa… udah dong! Ada gue?” ujar Nana membulatkan matanya menatap Trilya “gue akan temanin loe, loe nggak sendiria, dengarin gue” kata Nana dengan memegang kuat kedua tangan sahabatnya itu. Trilya hanya menangis menundukan kepalanya “dengar gue ya, anak loe nggak salah apa-apa, jangan bikin kesalahan untuk kedua kalinya lagi, gue tau ini berat buat loe tapi loe harus kuat Rya nggak ada pilihan lain…” kata Nana Trilya yang mendengarkan kata-kata Nana berusaha mendongakan kepalanya dengan mata yang penuh dengan linangan air mata “Tapi na… bokap gue aja….” sahut Trilya yang dipotong langsung oleh Nana. Nana menghapus air mata yang basah dipipi Trilya “gue tau Ryaa! Bokap elo ngusir elo, bahkan nyokap elo juga nggak mau anggap elo anak! Gue tau, tapi ada gue! Gue bakal temanin elo, gue bakalan cari bapaknya” sahut Nana. Trilya yang mendengar kalimat terakhir Nana sontak langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kencang seperti menolak bantuan Nana “pelis nggak usah na…! Gue mohon jangan kasih tau dia gue hamil” ujar Trilya memohon pada sahabatnya itu. Nana yang mendengar penolakan temannya itu seperti heran “Kenapa Rya..! gini sekarang elo kasih tau gue siapa bapak anak ini” jawab Nana dengan penuh emosi mengingat nasib temannya. “Nggak na! Gue nggak mau ketemu laki-laki itu lagi, dia udah punya keluarga na, gue nggak mungkin ngancurin rumah tangga orang. Nggak mungkin gue bisa hidup dari hasil duri yang gue ciptakan sendiri, ini murni kesalahan gue na…” jawab Trilya yang semakin kencang menangis didepan Nana. Nana memeluk kuat Trilya berusaha menenangkan kembali, ia seperti tidak sanggup lagi ingin mencari tau siapa laki-laki berengsek itu melihat kondisi Trilya yang sangat memperhatikan saat ini. bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN