Jarum jam itu terasa berjalan lambat, setiap detiknya bagai satu jam untuk Bara. Pria itu mencoba fokus pada pekerjaannya, tetapi justru ponsel yang berada di atas meja itu berulang kali diketuknya dan berhasil mengganggu. Bara menghela napas panjang, kemudian bersandar pada kursi kerjanya. Melirik ke arah laptop yang kini menampilkan deretan huruf, padahal dia sengaja bekerja lebih pagi agar dapat menyelesaikannya pada waktu makan siang. Namun, sepertinya semua itu percuma karena kini justru pikirannya berada di tempat lain. Bara mendongak, memandang langit-langit ruangan dengan ingatan melambung jauh. Meskipun hanya sekadar menemani Hanna menemui Kayla, Bara melirik ke arah paper bag yang berada di bawah meja. Paper bag itu berisi beberapa pasmina yang sengaja dirinya beli, entah apa

