Bau obat-obatan adalah salah satu hal yang Hanna benci, tentu saja selain harus tinggal lebih lama di rumah sakit. Ia melirik tangan kanannya yang kini telah dibalut oleh perban, rasa sakitnya baru terasa saat baru menyadari ada luka di tubuhnya. Memang aneh, ruangan putih itu terlihat lebih luas saat hanya ada dirinya dan Samir. Hanna melirik ke arah jam dinding, waktu telah menunjukkan pukul dua siang. "Ambilah," ucap Samir membuat Hanna menoleh. Sebuah piring kecil berisi potongan buah apel, Samir sodorkan kepadanya. Hanna menerima dengan ragu, kemudian menunduk. "Terima kasih," gumamnya. Hanna mulai mengambil sepotong apel, kemudian memasukkannya ke mulut. Mengunyah perlahan supaya tidak menghasilkan suara, ia mengedarkan pandangan. Mencari sesuatu yang dapet dirinya lakukan guna

