Meja makan itu kembali terisi lengkap, ketika Samir dan Kayla turut bergabung. Namun, kecanggungan tampaknya hanya berlaku untuk Hanna. Di saat yang lain justru terlihat menikmati makan malam kali ini, Hanna berulang kali tersedak kala tanpa sengaja bertatapan dengan sang papa maupun Kayla. Rasanya aneh, seolah-olah ruang makan ini diisi oleh orang-orang asing. Tumis kangkung dan ayam goreng itu masuk begitu saja ke perutnya tanpa sempat Hanna untuk menikmati, ia terdiam beberapa saat menunggu Samir dan Kayla beranjak pergi tanpa sepatah kata. Sania tengah menghela napas sewaktu Hanna melirik ke arahnya, terlihat ada beban di wajah yang masih terlihat cantik di usia tak muda lagi itu. “Apakah ada masalah?” Hanna memberanikan diri bertanya. “Kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya San

