Gelap dan sunyi, dua hal itu yang terasa saat Amira tiba di rumah. Dia mengernyit sebelum menyalakan sakelar lampu, seketika ruangan menjadi terang. Waktu yang telah menunjukkan pukul delapan malam, membuatnya mengedarkan pandangan. “Bara?!” panggilnya. Tak ada sahutan, seolah mobil hitam yang terparkir rapi di dalam garasi mobil itu berjalan sendiri ke rumah. Amira mendengus dengan pemikirannya sendiri, langkahnya semakin dalam memasuki rumah. Dia terperanjat begitu lampu dapur menyala, dan seseorang telah duduk tenang di sana. Amira mengelus dadanya dan sempat merasakan degup jantungnya berdetak kencang, Bara tampak duduk diam di kursi meja makan. Sama sekali tidak terkejut dengan lampu yang tiba-tiba menyala, ketukan jari pada meja terdengar begitu jelas kala Amira melangkah masuk.

