Seusai mendengar penjelasan Martha, aku menghadiahinya sekotak menu pilihan dari stan. Awalnya dia menolak, tetapi aku meyakinkan dirinya bahwa tidak masalah menerima makanan dari teman. “Kalau kau merasa tidak enak hati,” kataku. “Kau bisa mempromosikan makananku kepada suamimu.” Komentar yang akhirnya bisa menerbitkan senyum di wajah Martha. “Kau memang selalu seperti ini.” Kedua mata sembap dan hidung merah. Namun, selebihnya dia jauh lebih baik-baik saja. Kecuali, trauma yang ditinggalkan Elijah terhadap Martha. Luka itu akan menetap dan sulit terobati, bahkan oleh waktu sekalipun. Ck, ck, ck. Elijah itu! Padahal bisa saja dia memukul diri sendiri atau menyuruh orang lain memukul dirinya sampai jatuh tak sadarkan diri. Maka, tidak ada insiden apa pun! Kami berdua berpisah. Aku dan

